
Satu Lubang untuk Tiga Mayat
Aku Heri. Dari dulu aku tinggal bersama bapakku di rumah ini, sedangkan ibu meninggal saat aku masih kecil. Aku ini seorang pelukis, tapi berbeda dengan pelukis lainnya.
Aku suka sekali melukis orang yang sudah mati. Aku yakin kalau bakat melukis ini kudapatkan dari bapak. Sebab, dia juga seorang pelukis andal.
Bapak juga suka melukis mayat. Koleksi lukisan di kamar itu adalah orang-orang yang sudah bapak bunuh. Mayatnya lalu dia kubur di bawah lantai. Setelah bapak meninggal karena gantung diri, akulah yang melanjutkan bapak menjadi seorang pelukis mayat.
Mula-mula aku sering mencuri mayat orang yang baru meninggal. Kudandani mayat itu agar terlihat rapi, lalu kulukis wajahnya. Sayangnya, jarang sekali ada orang yang meninggal di kawasan ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk membunuh seperti yang dilakukan bapakku.
Yang kubunuh tentunya bukan warga sini, tapi orang-orang yang menyewa rumahku. Kubantai mereka semua untuk dijadikan model luksian. Dan, kalau rumahku tidak ada yang menyewa, biasanya aku membunuh padangang keliling yang melintas di depan rumah. Kubujuk mereka untuk masuk rumah lalu kucekik lehernya dari belakang dengan kabel.
Tapi kali ini ada yang tidak biasa. Anak yang sedang kusekap di ruang bawah tanah itu mirip sekali dengan anakku yang sudah meninggal. Aku tidak tega kalau harus membunuhnya. Dia akan kuangkat sebagai anak.
Sejak pertama kali melihat anak itu, aku langsung bertekad untuk membunuh orang tuanya. Tujuannya, tidak lain dan tidak bukan agar aku bisa memiliki anaknya.
Sebenarnya, dulu aku tinggal jauh dari kota ini. Aku pernah bekerja sebagai tukang pos dan punya kehidupan yang sempurna. Aku punya istri cantik juga anak yang pintar. Namun, semua itu berubah, saat satu per satu keluargaku meninggal.
Istriku mati kecelakaan di tol Cipali, sedangkan anakku terkena kanker. Sejak saat itulah aku kembali ke rumah bapak dan tinggal bersamanya.
Setiap bulannya ada saja yang membeli lukisan bapak. Mereka tidak pernah tahu kalau sosok lukisan itu adalah orang-orang yang kami bunuh. Belum ada yang tahu soal pembunuhan ini. Aku lupa berapa jumlah orang yang telah kami bunuh. Sebagian dari mereka kami dikubur di halaman belakang.
Setelah mengambil cat, aku kembali ke ruang bawah tanah. Kasihan anakku ditinggal sendirian. Pasti dia takut melihat jasad tanpa kepala di hadapannya. Sesampainya di ruang bawah tanah, kulihat anakku terkapar tidak sadarkan diri. Ada jasad tanpa kepala berdiri di depan anakku.
“Bapak jangan nakut-nakutin anakku dong!” bentakku. Aku tahu pasti roh bapakku yang masuk ke dalam jasad itu.
Seketika jasad itu lunglai dan terkapar begitu saja. Segera kuhampiri anakku. Satu per satu kulepas tali yang mengikat tangan dan kakinya. Lalu kubaringkan dia di atas kardus. Aku masih bisa merasakan denyut nadinya. Untung saja dia masih hidup.
Oh, ya, hampir saja lupa. Aku masih punya kerjaan. Mayat-mayat ini harus dikubur. Takutnya nanti ketahuan sama warga. Segera kuambil tali tampar di sudut ruangan lalu mengikatkannya pada jasad itu. Kutarik pelan-pelan jasadnya dari atas permukaan. Lalu kuseret ke halaman belakang.
“Di mana ya?” gumamku sambil menggaruk-garuk kepala.
Aku lupa lahan sebelah mana yang belum ada mayatnya. Halaman belakang rumahku memang cukup luas. Tapi, seingatku lahan ini sudah terisi penuh oleh mayat.
Daripada bingung, kuraih cangkul lalu menggali tanah di sudut pagar. Namun, cangkulku menghantam benda keras dan ternyata lahan itu sudah diisi mayat. Aku pun berdecak kesal, lalu menimbun kembali mayat tersebut.
Kuseret jasad tanpa kepala ke sudut sebelah kanan, tepatnya di bawah pohon pisang. Semoga saja belum ada mayat yang dikubur di sini. Kuhantamkan kembali cangkulku. Sampai kedalaman satu meter lahan itu masih bersih, belum ada mayatnya. Aku menyeka keringat di dahi.
Kemudian kumasukkan mayat lelaki itu ke dalam lubang beserta kepalanya. Aku juga mengambil dua mayat lainnya yang tak lain adalah kedua orang tua Jason. Aku mengubur mereka dalam satu lubang. Di atas permukaannya, kutimbun dengan rerumputan.
Masih ada satu masalah lagi. Mobil si lelaki yang kupenggal kepalanya masih terparkir di depan rumah. Aku bingung harus kuapakan mobil itu. Ah, nanti saja biar kupikirkan besok. Terpenting malam ini aku harus membersihkan bercak yang berceceran darah di rumahku.
Keesokan paginya ada seseorang yang mengetuk pintu. Siapa pagi-pagi begini ganggu orang tidur? Dengan kesal kubuka pintu itu. Tampaklah dua orang lelaki di hadapanku. Salah satu dari mereka menyapaku sambil tersenyum ramah.
“Dengan Pak Heri?”
“Iya saya sendiri, ada apa ya?” tanyaku balik.
“Kami mau beli lukisan bapak. Saya dengar bapak adalah pelukis hebat di kawasan ini.”
“Oh, ya, silakan masuk,” aku mempersilakan mereka masuk.
Mereka berdua pun masuk sambil melihat-lihat rumahku.
“Lukisannya di kamar ini, Pak,” kataku sambil membuka pintu kamar.
Mereka masuk ke galeriku. Wajah mereka tampak terkagum-kagum melihat koleksi lukisanku. Dan tiba-tiba saja mereka menginjak keramik yang belum sempat kusemen lagi.
“Wah keramiknya rusak ya, Pak?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, itu belum sempat aku pebaiki, Pak. Mau beli lukisan yang mana ya?”
Mereka tampak bingung.
“Tolong!”
“Suara siapa itu, Pak?”
__ADS_1
Sial, itu pasti Jason. Suaranya terdengar sayup sampai ke kamar ini.
Pembunuhan di Pagi Hari
“Itu ada yang minta tolong,” kata lelaki kurus.
“Siapa ya?” aku pura-pura tidak tahu.
“Suaranya dari arah sini,” lelaki berambut keriting keluar dari kamar dan menunjuk dapur.
“Iya, benar dari dapur,” aku membenarkan.
“Saya udah seminggu nggak di rumah, Pak. Ada urusan di luar kota. Jangan-jangan ada orang yang masuk rumah saya ya,” kataku. Wajah mereka sama sekali tidak curiga.
“Coba kita cek,” ajak lelaki kurus.
Kami pun beranjak ke dapur. Sialnya aku lupa menutup tripleks itu dengan keramik.
“Suaranya dari bawah sini,” lelaki kurus menunjuk tripleks itu.
“Ada ruang bawah tanah ya, Pak?” tanya lelaki keriting. Tampaknya dia mulai curiga.
“Ada, Pak. Coba aja kita cek yuk. Satu orang ikut saya ke dalam,” ujarku. Aku membuka tripleks itu.
Lelaki kurus masuk bersamaku ke dalam lubang itu. Sesampainya di ruang bawah tanah, aku mengikutinya dari belakang.
“Tolong!” Jason menangis sambil minta tolong.
“Ada anak kecil, Pak Heri!” saat lelaki kurus itu menoleh ke arahku, kuhantam dia dengan sebuah linggis.
Seketika dia terkapar. Kedua matanya melotot. Napasnya tercekat di tenggorokan, dia sekarat. Tubuhnya bergerak-gerak seperti kecoa yang baru saja dibunuh.
“Tolong…!” mendengar bunyi pukulan itu, Jason semakin berteriak.
Aku tersenyum tipis sambil menyeka darah yang barusan muncrat ke dahiku. Aku mendongak ke atas tangga. Tinggal satu orang lagi di sana. Kudengar dia memanggil-manggil temannya. Segera aku naik ke permukaan.
Dia pun buru-buru turun ke bawah. Aku sudah menunggunya dan siap menghantam kepalanya dengan linggis.
“Mana anak kecilnya?” tanya dia sambil menoleh ke arahku.
Sialnya saat kuhantamkan linggis itu, dia berhasil menghindar lalu menerjang tubuhku. Kami pun sama-sama terjungkal.
“Bangsat! Apa-apaan ini?” bentaknya, sambil merangkul tubuhku dengan sangat kuat. Sementara itu, Jason terus berteriak minta tolong.
Aku mengamuk. Tangan kananku menggapai-gapai linggis yang tergeletak tak jauh dariku. Dengan susah-payah, aku berhasil meraih linggis itu. Lalu, dalam posisi terbaring kupiting leher belakangnya. Dia tampak kesulitan bernapas.
“Mati kau!” teriakku sambil tertawa.
Keringat membasahi wajahku. Sekuat tenaga kucapit leher belakangnya. Lalu dia menghantam telingaku dengan tinjunya. Seketika saja telinga kananku berdengung. Dia berhasil melepas linggis itu. Beberapa kali lelaki itu menghantam wajahku dengan tinjunya.
Kini linggis itu ada di tangannya. Saat dia akan menghantamku dengan ujung linggis, aku berhasil menghidar lalu kutendang perutnya. Lelaki itu terjungkal. Segera kuraih linggis dan menancapkan ujung linggis tepat di perutnya. Dia sekarat dan tewas seketika.
Sementara temannya dari tadi masih sekarat. Dia menatapku, tubuhnya kaku seperti orang yang kena stroke. Aku jongkok dan menatap wajahnya yang seperti menahan sakit. Bibirnya bergetar. Aku tahu dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa. Aku tidak mau membunuhnya, biarkan dia merasakan sakitnya sekarat.
“Kita selamat, Jason. Ayah sudah membunuh mereka semua,” aku menghampiri Jason yang meringkuk di sudut ruangan sambil menangis.
“Ayo kita pindah ke kamar,” kutarik lengannya. Tapi, tampaknya anakku itu tidak bisa berdiri. Dia terlihat lemas dan pucat. Ah, iya dia belum makan dari kemarin.
“Tunggu di sini ya. Ayah mau cari makanan dulu buat kamu.”
Aku naik ke permukaan. Lubang itu kututup kembali dengan tripleks dan kutindih dengan lemari agar Jason tidak kabur. Aku akan masak mi instan buat Jason. Kasihan sekali anakku itu. Pasti dia kelaparan.
Oh iya, hari ini aku juga akan melukis. Ada dua mayat baru yang bisa kujadikan model. Tampaknya karyaku akan sangat bagus. Hahaha... bukankah selama ini karyaku memang selalu bagus?
Upaya Melarikan Diri
Menu pagi ini adalah Mie instan dan telur mata sapi. Kuputar lagu 'Di Wajahmu Kulihat Bulan' karya Ismail Marzuki. Lagu itu mengingatkanku pada masa-masa indah bersama istri tercinta. Setelah semuanya matang, kubawa makanan itu ke ruang bawah tanah. Dengan hati-hati aku menuruni tangga agar makanannya tidak tumpah.
__ADS_1
Saat hendak menyuapi Jason, tiba-tiba kudengar ada yang mengetuk pintu sambil memanggil namaku. Sialan! Siapa lagi sih? Banyak sekali tamu pagi ini! Kuletakkan makanan di hadapan Jason yang masih meringkuk di sudut kamar. Tubuhnya menggigil, wajahnya juga pucat. Kasihan sekali anakku itu.
Segera aku naik ke permukaan. Dari balik jendela kulihat seorang lelaki berpakaian dinas. Mungkin saja dia petugas dari kecamatan. Sebisa mungkin kupasang wajah ramah lalu kubuka pintu. Lelaki itu tersenyum ramah padaku. Dia mengenakan papan nama bertuliskan 'Asep' segera kusapa dia.
"Selamat pagi Pak Asep. Ada perlu apa ya?" tanyaku sambil tersenyum.
Dahinya seketika berkerut, dia seperti melihat sesuatu yang aneh pada diriku.
"Di wajah bapak ada darah tuh," dia menunjuk wajahku.
"Oh... hahaha tadi habis potong ayam. Hari ini saya masak ayam Pak," aku mengusap wajahku dengan lengan baju.
"Oh begitu. Maap mengganggu waktunya Pak Heri. Perkenalkan saya Burhan. Kedatangan saya ke sini mau tanya soal rumah bapak," ujarnya.
"Tanya apa ya Pak?"
"Rumah bapak ada yang sewa ya?"
"Kemarin sih ada, tapi sekarang orang yang sewa rumahku sudah pindah. Kenapa ya Pak?" tanyaku lagi.
"Jadi gini Pak Heri. Ada saudaraku yang mau sewa rumah bapak," kata lelaki itu.
"Hm..., begitu ya. Masuk aja dulu Pak biar enak ngobrolnya," aku mempersilakannya duduk di atas sofa.
"Kira-kira mau sewa berapa lama Pak?"
"Kurang lebih setahun lah."
"Boleh Pak, kira-kira kapan mau mulai sewanya?" tanyaku.
"Minggu depan. Saudaraku sudah berkeluarga dan punya dua anak. Oya harga sewanya berapa buat setahun Pak?"
"15 juta, Pak," jawabku.
"Baik nanti akan saya infokan ke saudara saya ya Pak," katanya.
"Iya Pak. Sebentar ya," aku mengambil secarik kertas dan pulpen lalu menulis nomor teleponku di kertas itu dan menyerahkannya.
"Ini nomor teleponku Pak. Hubungi saya saja ya," kataku.
"Baik Pak. Kalau gitu saya pamit ya," katanya sambil beranjak keluar rumah.
Aku mengantarnya sampai depan pintu. Sebelum dia pergi, lelaki itu sempat mengomentari mobil yang terparkir di halaman rumahku.
"Wah Pak Heri punya mobil berplat nomor Bandung ya," dia memperhatikan mobil itu.
"Oh iya, itu baru saya beli beberapa minggu lalu dari orang Bandung."
"Keren mobilnya Pak," katanya sambil menyalakan mesin motor.
Aku hanya tersenyum, kalau saja tadi dia berani macam-macam pasti sudah kubunuh. Setelah itu aku kembali ke ruang bawah tanah. Sayangnya Jason tidak mau makan, tubuhnya semakin lamas. Aku khawatir dia sakit.
"Kamu sakit ya Nak?" aku menyentuh keningnya.
Jason tidak menjawab, kedua matanya menatapku. Tatapan itu tajam seperti hendak membunuhku.
"Ayah bilang makan! Kalau kamu nggak makan, nanti kamu mati!" aku menjejali mulutnya. Dia malah menangis.
Karena tidak tega, aku pun kembali melunak.
"Maapkan ayah ya. Ayah nggak mau kamu sakit," kataku sambil mengelus ramputnya. Dia tetap menangis.
Oh aku lupa, lelaki yang barusan kuhantam kepalanya, apakah dia sudah mati? Aku cek lelaki yang terkapar di lantai, tampaknya dia masih hidup. Dadanya turun naik, dia masih sekarat. Ah ia, aku punya ide. Selama ini aku hanya melukis orang yang sudah mati dan belum pernah melukis yang sedang sekarat. Ini akan jadi pengalaman pertamaku.
Kusandarkan lelaki itu pada dinding, kedua matanya berkedip-kedip. Semoga saja dia nggak keburu mati. Perlahan aku mulai melukis wajahnya. Kepala lelaki itu miring seperti orang yang terkena penyakit stroke.
Saat sedang melukis, tiba-tiba ada seseorang yang menghantam kepalaku dari belakang dengan benda karas. Seketika aku terkapar di lantai. Sesaat sebelum tak sadarkan diri, kulihat Jason menaiki tangga. Sialan ternyata dia hanya pura-pura l
__ADS_1
Kisah horor Kontrakan Angker selanjutnya.