Hantu Villa

Hantu Villa
Bekas Rumah Sakit Tamat


__ADS_3

Pencarian


Belakangan ini, Aini selalu bermimpi didatangi sosok lelaki yang bernama Arwani. Anehnya ia bukan hanya melihat dokter Arwani dalam mimpi itu, tapi juga ibunya. Aini yakin kalau mimpi itu bukanlah sekadar bunga tidur, tapi merupakan sebuah petunjuk. Lagi pula, dokter Arwani pernah menyelamatkannya dari lubang setan itu. Siapa tahu, dokter itu juga bisa membantu Aini menemukan Angga.


"Bu, Aini mau tanya?"


Aini membuka obrolan, ia dan ibunya sendang memasak di dapur.


"Iya, Nak. Oya si Angga sudah ketemu?"


"Belum, Bu. Justru itu aku mau tanya, apakah ibu kenal sama dokter Arwani?"


Bu Hani yang dari tadi sibuk memotong bawang merah tiba-tiba berhenti. Ia mengembuskan napas berat seperti ingin mengatakan sesuatu. Pisau yang ia pegang diletakkan di atas meja. Ia lalu menyentuh pundak Aini dan menatapnya.


“Mungkin ini saatnya kamu tahu yang sebenarnya.”


Bu Hani menceritakan semuanya. Tentang ibu dan ayah kandungnya Aini. Selama ini yang Aini tahu ayahnya sudah meninggal dari sejak ia kecil. Awalnya, Aini tidak percaya kalau dokter Arwani adalah ayah kandungnya, akan tetapi Bu Hani menunjukkan sebuah berkas yang tidak lain adalah kartu keluarga milik dokter Arwani. Di sana tertulis juga nama Aini. Selain itu, ia juga menunjukkan foto-foto lawas keluarga dokter Arwani. Melihat bukti-bukti itu, tangis Aini pecah.


Ia pergi dari hadapan Bu Hani. Segera Aini menyalakan mesin motor lalu tancap gas menuju rumah sakit yang sudah ditutup. Bu Hani tidak sempat mengejar, ia hanya bisa berteriak memanggil Aini yang kian menjauh.


Aini tidak mempedulikan Bu Hani, ia tetap melaju dengan sepeda motornya sambil terisak menangis. Setibanya di rumah sakit, ia bertemu dengan Bu Ruslah yang pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit itu.


“Kamu mau ke mana, Mbak?”


“Cari Angga, Bu.”


“Belum ketemu juga, ya?” dahi Bu Ruslah berkerut.


“Belum, Bu.”


Bu Ruslah tertunduk, ia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


“Begini, Mungkin saya bisa bantu.”


“Serius, Bu.”


Bu Ruslah mengangguk.


“Saya yakin Angga diculik setan rumah sakit ini,” lanjutnya.


“Terus sekarang saya harus bagaimana, Bu?”


“Ikut saya ke rumah. Suami saya seorang dukun, dia pasti bisa bantu masalahmu.”


Tanpa menolak, Aini langsung pergi bersama Bu Ruslah. Rumahnya cukup jauh, sekitar satu setengah jam dari rumah sakit. Sempat tiga kali terjebak macet, Aini akhirnya sampai di rumah Bu Ruslah. Rumahnya sangat sederhana, dindingnya terbuat dari triplek dan lantainya sudah banyak yang pecah.


“Nah Mbak. Ini rumah saya. Maaf berantakan.”


“Ah, nggak apa-apa, Bu. Suami ibu di mana, ya?”


“Oh, dia di kamar. Mari sini, Mbak,” Bu Ruslah menarik lengan Aini untuk masuk ke dalam kamar.


Aini sempat terkejut melihat kondisi suami Bu Ruslah. Lelaki itu terbaring di atas kasur butut dengan keadaan tanpa tangan dan kaki. Ternyata suami Bu Ruslah itu cacat, sebisa mungkin Aini berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


“Ayah, ini ada tamu yang mau ketemu,” sapa Bu Ruslah dengan ramah pada suaminya.


Ia membantu suaminya untuk bangun, tubuh itu ia sandarkan pada dinding triplek. Suasana kamar semakin pengap dan panas, Bu Ruslah menyadari itu. Ia lalu membuka jendela kamar agar Aini tidak kepanasan.


“Mohon maaf, Mbak. Rumah saya memang panas.”


“Oh, nggak apa-apa Bu.”


“Kenalkan ini Pak Sidik suami saya. Dia sudah biasa bantu orang, Mbak. Suami saya ini walau cacat, tapi punya kekuatan gaib.”


Aini mengangguk saja, apa salahnya dicoba.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan, Bu?”


Bu Ruslah menjelaskan apa yang sedang terjadi pada pacarnya Aini. Sesekali Pak Sidik mengangguk.


“Pacarmu itu masih hidup, tapi sekarang ada di alam jin.”


“Dia masuk ke lubang setan, Pak,” potong Aini.


“Iya, itu pintu masuk ke alam jin.”


“Tapi, kamu tenang saja. Dia masih bisa diselamatkan. Ruslah, tolong ambilkan kembang dan lima buah sarung di dalam lemari.”


“Ini, Yah,” tanpa dibacakan mantra apa pun, lelaki itu menyuruh istrinya untuk menyerahkan kembang itu pada Aini.


“Nanti malam kau taburkan kembang ini di kamar mayat.”


Aini menerima kembang yang dibungkus dengan plastik transparan, Pak Sidik lalu menyuruh istrinya untuk menyobek-nyobek kain sarung dan menguntainya menjadi tali.


“Ba... baik, Pak," kata Aini. Ia menurut saja.


Setelah selesai, Aini pamit. Ia menyerahkan uang 200 ribu rupiah, tapi ditolak. Pak Sidik bilang, kalau Angga sudah berhasil ditemukan baru Aini boleh memberinya imbalan.


Tepat jam 12 malam, Aini dan Bu Ruslah mengendap masuk ke halaman rumah sakit dengan membawa kembang tujuh rupa dan tali yang terbuat dari kain sarung. Mereka berhasil mencungkil pintu kamar mayat. Saat menaburkan kembang tujuh rupa, tidak ada mantra yang Aini baca.


Ajaibnya setelah selesai tabur bunga, mereka melihat lantai di hadapannya bergerak seperti genangan air. Dan perlahan membentuk lubang segi empat, Bu Ruslah dan Aini segera memasukkan kain itu ke dalam lubang. Beberapa saat kemudian, tali itu kencang seperti ada yang menariknya dari dasar lubang.


“Tarik yang kuat, Mbak!” pinta Bu Ruslah, ia berada di posisi paling depan dekat dengan lubang.


Aini berteriak, mengeluarkan semua kemampuannya. Namun, tarikan dari dalam lubang terlalu kuat membuat Bu Ruslah tersungkur dan masuk ke dalam lubang.


“Bu Ruslah!” teriak Aini.


Keringat membasahi wajah Aini. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Aini menarik tali itu, kedua kakinya sempoyongan. Lalu ia juga terseret dan masuk ke dalam lubang. Tidak sampai ke dasar lubang, tubuh Aini tersentak, kakinya seperti berpijak pada pundak seseorang.


“Bertahanlah, Nak!” itu suara dokter Arwani.


Ia berdiri sambil meringis menahan tubuh Aini. Di sekeliling dokter Arwani banyak makhluk aneh menyeramkan. Mereka bertaring dan berambut gondrong acak-acakan. Jelas makhluk-makhluk itu adalah setan jahat penghuni rumah sakit. Wajah Arwani diraba-raba oleh makhluk di dalam lubang, kuku mereka hitam dan panjang.


“Ayah....”


Desis Aini sambil memandangi dokter Arwani yang kesulitan menopang tubuhnya. Aini menangis ketakutan.

__ADS_1


"Aku takut, Yah...," kata Aini. Air matanya menetes jatuh ke pipi dokter Arwani.


Dia Ada di Dalam


Aini menggapai-gapai permukaan lantai, tapi tidak bisa. Jaraknya jauh, ia tidak sanggup meraihnya. Dokter Arwani pun tidak bisa mendorong anaknya keluar sebab tubuhnya digerayangi makhluk mengerikan di dalam lubang.


Sesaat kemudian terdengar suara rauman dari dalam lubang, membuat Aini menjerit ketakutan. Hanya bertahan sepuluh menit, tubuh dokter Arwani perlahan terjerembab ke dalam lubang seperti dilahap lumpur hidup. Aini pun kian masuk ke dalam.


Untungnya... saat Aini sudah putus harapan, saat lengan kanannya menggapai-gapai sembarang arah, ada seseorang dari atas lubang yang mencengkram lengan Aini. Dia adalah ibu angkatnya sendiri, Bu Hani.


Dari awal, Bu Hani sudah curiga kalau anaknya pasti pergi ke gedung bekas rumah sakit yang dulu menjadi tempat ayahnya bekerja. Jadi saat tahu anaknya tidak kunjung pulang, ia memberanikan diri masuk ke halaman rumah sakit. Bu Hani sempat menelusuri beberapa ruangan hingga akhirnya ia melihat sebuah cahaya senter yang menyala di kamar mayat.


Aini berhasil ditarik dari dalam lubang, tapi Bu Ruslah tidak selamat. Sambil menangis, Aini dipaksa keluar dari kamar mayat. Ia sudah coba berontak dan ingin kembali ke lubang itu untuk menyelamatkan Bu Ruslah, namun tenaganya sudah habis. Mereka berdua berhasil keluar sana. Setelah mereka pergi, pintu kamar mayat tertutup sendiri dengan keras, seperti ada orang yang membanting daun pintunya. Senter masih menyala, tergeletak begitu saja di lantai. Lubang menganga, mengeluarkan suara raungan. Di dalamnya gelap gulita, raungan itu semakin lama semakin terdengar seperti tangisan manusia.


Bukan. Tentunya bukan hanya tangisan satu orang saja, tapi puluhan, ratusan, ah atau bahkan ribuan orang. Mereka seperti sedang disiksa, dipukuli dengan batu, atau mungkin saja diguyur dengan timah mendidih.


Lubang itu tidak berujung, semakin masuk ke dalam semakin pengap. Bau amis menyengat, membuat siapa pun yang menciumnya akan muntah. Semakin dalam, semakin terdengar suara manusia meminta ampun. Ada yang memohon minta dikembalikan ke dunia dan berjanji akan berbuat baik.


Ada yang memohon minta diberi kesempatan untuk hidup kembali dan berjanji tidak akan mencurangi orang lain. Lubang itu, apa sebenarnya? Semakin masuk ke dalam, ada sebuah cahaya temaram. Samar terlihat melayang ribuan kapas yang digulung kecil-kecil, dapat dijumpai juga berlembar-lembar kain putih, jas pria, gaun wanita, butiran abu, melayang perlahan seperti sedang berada dalam ruang nol gravitasi.


Apa kalian ingin tahu lebih dalam lagi tentang lubang ini? Baiklah, tiga puluh meter dari gumpalan kapas, terlihat ribuan tangan menggapai-gapai, meminta tolong. Tapi, tak akan ada yang bisa menolong mereka, termasuk kalian.


Dari kedalaman yang sudah tidak terukur lagi. Sayup terdengar suara rintihan ribuan manusia. Sekarang dengarkan baik-baik, runcingkan telinga kalian dan dengarkanlah rintihan itu.


"Tolong kami...."


Lubang tersebut lalu tertutup perlahan. Cahaya senter padam seketika. Keesokan harinya, saat Aini dan keluarga Angga membawa polisi, lubangnya sudah menghilang, entah ke mana. Orang-orang yang menghilang tidak pernah ditemukan lagi dan dianggap sudah meninggal.


Keluarga Angga mengikhlaskan kepergian anaknya, sedangkan Pak Sidik, dukun itu menderita seorang diri. Tidak ada lagi yang bisa diandalkan dari perdukunan, para pelanggannya satu persatu meninggalkan Pak Sidik. Ia lalu mati kelaparan di dalam kontrakannya.


Beberapa Tahun Berikutnya


Layar kamera udin mati. Dokter Arwani melangkah ke luar ruangan. Ia terus berjalan ke lobi rumah sakit, di depan lobi ada Angga dan Bu Ruslah duduk di kursi roda sambil mendongak ke langit malam. Terkadang mereka berdua seperti anak kecil, berjalan ke sana ke mari dengan kursi rodanya, tidak jarang sampai ada manusia yang memergoki dua kursi roda yang berjalan sendiri.


Dokter Arwani menoleh ke arah kamar mayat, ada suara teriakan dari sana. Tidak ada yang bisa ia perbuat, di rumah sakit itu dokter Arwani hanya makhluk halus kasta rendah yang tidak punya kuasa apa pun. Semenjak lubang itu dikancing, para setan di rumah sakit menjadi semakin buas. Hanya orang bodoh yang berani masuk ke rumah sakit itu tengah malam.


Semetara di malam yang sama, Aini terbangun tengah malam. Ia menoleh ke ranjang bayi di sebelahnya. Bayi itu menangis, Aini lalu membangunkan suaminya. Bukan untuk minta dibantu mengganti popok, tapi Aini hanya ingin ditemani saja. Sekarang ia menjadi sangat penakut.


"Mas Dipa. Mas? Bangun, Mas," Aini mengguncangkan tubuh suaminya.


"Iya, Mah. Kenapa?"


"Temani aku."


"Ganti popok?"


"Iya, Mas."


Dengan wajah sangat mengantuk, Dipa bangun lalu duduk sambil setengah terpejam di atas tempat tidurnya. Aini dengan cekatan mengganti popok anaknya.


Setelah selesai, ia kembali ke tempat tidurnya. Dipa memeluk tubuh Aini dari belakang. Yang dipeluk tidak membalikkan badan, kedua mata Aini masih terbelalak. Ia baru saja bermimpi didatangi dokter Arwani.


Selang beberapa menit, ia tak kunjung bisa tidur. Terdengar suara keranjang bayi berderit seperti ada yang mengayunkannya. Aini bangun, samar-samar ia melihat sosok seorang lelaki sedang bermain dengan anaknya. Aini memicingkan mata, itu jelas sosok ayahnya sendiri. Dokter Arwani, dia ada di dalam kamar Aini.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2