
Akhirnya mataku perlahan ingin beristirahat, segera aku bangun dan mengunci semua pintu yang ada, dan kembali lagi tiduran di sofa. Perlahan mata terpejam dengan begitu saja dan dengan tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan “bruk,” membangunkan aku yang baru saja terlelap “arrghhh” ucapku, sambil melihat jam yang ada di hp “jam 1” ucapku.
Terlihat kak Salsa berjalan dengan muka pucat dan badan yang sangat terlihat lelah sekali, bahkan jalanya sangat-sangat perlahan seperti orang yang benar-benar lelah, apalagi beberapa bagian rambutnya tidak rapih sama sekali. Pandanganya hanya ke bawah.
“Kak, tumben jam segini baru pulang,” tanyaku masih dalam kondisi mengantuk.
Kak Salsa hanya menganguk dan terus berjalan, tanpa menjawab sama sekali, aku yang melihat bagian samping muka kak Salsa yang semakin pucat, sama sekali tidak curiga
“Kelelahan kali,” ucapku.
Segera aku berdiri dan melihat kak Salsa sedang berdiri di depan cermin kamarnya yang besar.
“Kak aku pindah ke kamar yah, nanti pagi aku bangunin kalau mau berangkat,” ucapku, sambil berjalan ke kamar.
Sama sekali tidak ada jawaban, kak Salsa tetap mematung begitu saja.
“Kenapa kali, aneh,” ucapku ketika terbaring di kasur kamar, dan mencoba untuk kembali tertidur walaupun tercium bau bunga pertama kali yang aku rasakan sangat wangi sekali, walaupun beberapa kali bulu pundak beridiri bergitu saja.
“Arrrghhh…” ucapku, sambil menutup muka dengan bantal karena benar-benar sudah sangat mengantuk.
Pagi harinya, aku terbangun oleh telepon berkali-kali dari kak Salsa dan Silvi ketika melihat ke notif ke Hp.
“Tumben ada di rumah kok telepon sih” ucapku, kemudian terbangun.
Melihat grup kelas, ternyata hari ini kosong dan hanya tugas saja yang semakin menumpuk, segera aku mengabari Anton dan akan berkunjung ke rumahnya, dan Anton hanya menjawab “iyah”
Ketika bangun, aku sudah melihat kak Salsa tidak ada di kamarnya “Rajin sekali udah berangkat lagi, mungkin tadi telepon aku mau kasih tau kali,” ucapku, langsung mandi dan melakukan persiapan untuk keluar, mengunjungi rumah Anton.
Sambil menunggu mesin si kukut panas, aku menerima pesan dari Silvi.
“Bas, kayanya harus ketemu deh hari ini,” chat Silvi.
“Ayo Vi, lagian aku kosong dan sekalian mau ke rumah Anton, ikut aja yu,” balasku cepat.
Tidak lama aku janjian dengan Silvi di salah satu jalan yang terdapat toko besar, dan langsung saja aku berangkat, baru saja berbelok ke arah rumah-rumah sebelah, aku kaget dengan apa yang barusan aku liat.
“Kok mang Yaya baru keluar dari rumah itu?,” ucapku sambil memperhatikan dan memastikan bahwa itu benar-benar mang Yaya.
Entah kenapa, pikiranku jadi kemana-kemena, sepanjang jalan menemui Silvi membuat penasaran dan cocokologi dari informasi-informasi yang sebelumnya sudah aku abaikan karena kesibukan perkuliahan, kini perlahan hadir kembali dengan sendirinya.
Tidak lama setelah sedikit kemacetan normal di kota ini, aku sudah berada tepat di parkiran toko buku ini dan segera telepon Sivi bahwa aku sudah menunggunya.
Terlihat Silvi dengan khas kecantikanya berjalan menghampiri aku dengan wajah yang tidak biasa, seperti ada kecemasan.
“Bas, banyak yang mau aku bicarakn sama kamu,” ucap Sivi.
“Setelah dari rumah Anton kita cari tempat makan Vi,” ucapku sambil memberikan helm yang biasa kak Salsa gunakan.
Segera aku menuju rumah Anton dengan Silvi yang aku bonceng di perjalanan Silvi tidak bicara apapun, sementara aku masih mempertanyakan apa yang di lalukan mang Yaya.
“Bas kamu baik-baik sajakan?,” tanya Silvi yang sedikit tidak jelas karena suara angin.
“Hah gimana Vi?,” tanyaku.
“Kamu baik-baik sajakan Bastian,” ucap Silvi sedikit keras.
“Kenapa emang, ciehhh udah mulai khawatir nih,” jawabku sambil becanda.
“Ihh… seriuss loh,” jawab Silvi sambil menepuk pundaku, terlihat kesal.
Tidak lama sampelah ke rumah Anton, segera aku turun.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja Vi, walaupun setelah obrolan kita pertama pas kamu nginap di rumah, dua bulan lebih ke belakang, rasa-rasa aneh sekarang datang lagi,” ucapku sambil melepaskan helm di kepala Silvi.
Silvi tidak menjawab dan untuk pertama kalinya dia langsung memegang tanganku, dengan hangatnya tanpa bicara apapun. Segera aku dan Silvi mengucapkan salam di depan rumah Anton, dan memang ini kali kedua aku datang setelah pertama mengantarkanya pulang karena tidak membawa motornya ke kampus.
Tidak lama Ibunya Anton keluar, dan bilang kalau Anton dari semalam demam sangat tinggi dan beberapa kali dalam tidurnya ngigo yang aneh-aneh dan kadang-kadang mengelus perutnya dan langsung sekali malam barusan tertawa seperti wanita.
Silvi langsung kembali memegang tanganku dengan sangat erat, ketika melihat langsung kondisi Anton, Anton terbangun dengan kehadiranku.
“Eh Bas, sorry yah Bas… oh ini cewe yang sering diceritakan,” ucap Anton.
Segera aku mengenalkan Silvi, dan Anton beberapa kali aku tanya tidak tau kenapa jawabanya selalu “baik-baik saja,”
“Ton gara-gara pulang dari rumah aku bukan?,” tanyaku yang kelima kali, mungkin karna merasa bersalah dengan sakitnya Anton yang membuat Ibunya sampai khawatir sekali.
“Iyah,” ucapnya sangat pelan, ketika Ibunya keluar dari kamar Anton
“Kenapa Ton?, aku kan mandi, sementara kemarin kamu duduk di belakang,” jawabku.
“Bas, rumah itu sebelah kamu, aku penasaran setelah ada suara yang keras menghantam pintu besi itu, aku penasaran siapa yang melempar dengan begitu keras, lalu aku bangkit dan menghampiri pintu itu, ada sedikit celah kan Bas, diantara pintu dan penopangnya itu, setelah aku intip,” jawab Anton dengan gemeteran dan keringatnya mulai turun di wajahnya.
“Euhhhh… sakit,” ucap Anton, sambil menahan perutnya dengan sangat kuat
“Sudah Ton, kalau masih sakit jangan dipaksakan, kasian,” sahut Silvi dengan muka cemasnya sambil terus memegang tanganku dengan erat.
“Aku lihat, wanita dengan perut besar berambut sangat panjang menyamping sedang mengelus perutnya Bas, dan ketika melihat ke arahku tersenyum… aku kaget dan langsung pergi saking kagetnya, padahal itu dari celah yang sangat kecil yang tidak masuk akal,” ucap Anton sambil keluar air matanya.
“Mungkin suara yang Anton dengar sama halnya aku dan kak Salsa pernah dengar juga,” ucapku dalam hati.
Karena rasa bersalah, aku terus meminta maaf pada Anton akan tetapi Anton merasa itu kesalahanya saja, dan Anton tetap percaya sakitnya bukan karena hal itu. Karena siang ini Anton dan Ibunya akan pergi ke dokter sekedar memeriksa dan meminta obat. Aku dan Silvi pamit langsung.
Di perjalanan menuju tempat makan tidak ada pembicaraan apapun dengan Silvi “ada yang tidak beres” ucapku. Sampai di tempat makan Silvi masih menunjukan muka rasa khawatirnya.
Setelah memesan makanan, aku langsung menanyakan pada Silvi kalau kemarin apa bareng dengan kakaku.
“Enggak pulang Bas nginep di rumahnya Andin, kenapa gitu,” jawab Silvi.
“Kak Salsa pulangnya larut malam banget tau Vi,” ucapku dengan santainya.
“Hah! Maksudnya?!,” bentak Silvi dengan kagetnya.
“Iyah pulang malem banget, kenapa jadi bentak aku sih,” ucapku sambil becanda.
“Gila!, semalem Salsa gak pulang Bas!, Salsa sama kita bahkan tadi juga belum pulang tau di rumah Andi,” jawab Silvi dengan tegas.
Deg!, aku terdiam beberapa detik, dan kembali mengingat yang semalaman berjalan siapa, sementara aku melihatnya dengan jelas, kalau apa yang dikatakan Silvi benar, lantas yang semalam berdiri mematung di depan kaca kamar kak Salsa?.
“Kamu enggak becanda kan Vi?,” tanyaku dengan perlahan.
“Aku yang harusnya nanya itu ke kamu Bas,” jawab Silvi.
Segera aku ceritakan kejadian semalam kepulangan kak Salsa semalam itu, dan Silvi hanya mengangguk saja, dan menyarankan aku untuk telepon kak Salsa kalau tidak percaya, setelah aku selesai cerita dengan sangat detail sekali kepada Silvi, tiba-tiba Silvi hanya menjawab.
“Sepertinya benar, rumah 096 itu,” jawab Silvi dengan perlahan dengan tatapan kosong.
Silvi dengan tatapan kosong seperti kejadian sebelumnya di rumahku, pada waktu pertama berjumpa dengan ekspresi muka yang sama, sangat datar, menyebutkan “Rumah 096” menambah kaget lagi dengan apa yang dikatakan Silvi.
“Maksudnya Vi?, benar gimana, apa itu rumah dengan nomor 096?,” tanyaku dengan menatapnya, karna apa yang Silvi ucapkan tidak membuat sama sekali aku mengerti.
Silvi tidak langsung menjawab, apalagi kebetulan yang mengantarkan makanan sampai di meja dan mempersilahakan untuk menikmati makanan yang aku dan Silvi pesan.
“Vi, jelasin tolong, aku benar-benar tidak paham, rumah dengan nomor apa itu?,” tanyaku memelas dengan menatapnya.
__ADS_1
“Bas, dengerin aku yah, aku cuman takut di antara benar dan salah. Apalagi ini berakaitan dengan kepercayaan saja apa yang akan aku kasih tau ke kamu,” ucap Silvi dengan perlahan.
Aku hanya mengangguk dan menungggu apa yang selanjutnya Silvi akan katakan saja.
“Salsa, Nenah dan aku semalam membahas rumah itu, dan Salsa (kakak kamu) percaya dengan apa yang aku katakan, apalagi apa yang aku katakan sesuai dengan yang Salsa alami, dan itu juga alasan aku tidak mau menginap di rumah kamu lagi malam kemarin. Yang awalnya akan menginap di rumah kamu, Salsa hanya mengiyahkan, tapi sama seperti kamu; asal tidak mengganggukan?, kenyataanya Bas, melihat temen kamu (Anton) itu, jelaskan,” ucap Silvi sambil melahap pesanan makanannya.
“Lalu apa kak Salsa pernah mengalami hal sama denganku?,” tanyaku.
“Iya, beberapa minggu lalu, sama dengan Anton, kak Salsa sangat penasaran dengan gerbang itu, ketika Salsa cerita; dia sedang memasak mie malam-malam di dapur, ketika Salsa liat ke arah pintu besi itu, di atas temboknya, terdapat wanita yang sedang duduk, berambut panjang, dan kakinya mengayunkan berkali-kali,” Jawab Silvi, perlahan.
“Tembok itu sangat tinggi Vi, aku saja harus sampai mengerahkan kepalaku ke atas untuk melihat jelas ke arah itu,” jawabku sambil kembali mengingat posisi rumah.
“Apa Aton melihat sosok wanita itu dari lubang antara celah pintu yang besar?, dan aku mendengarkan wanita menangis dari rumah itu apa dari tembok yang tembus pandang?, kan tidak Bastian,” ucap Silvi menjelaskan.Memang benar apa yang dikatakan Silvi, sangat benar, semuanya di luar logika yang aku pikirkan semata.
“Aku tau, kamu sangat khawatir bukan dengan beberapa kejadiam yang sudah dialami kamu, dan Salsa apalagi sekarang temanmu dan aku juga sudah mengalami keanehan?. Pilihanya ada dua Bas, kita mengetahuinya untuk segera memperbaiki semuanya atau kita membiarkanya dan kejadian-kejadian lainya siap datang perlahan mengahampiri,” jawab Silvi dengan sangat tenang.
“Maksudnya kamu menakuti aku Vi?,” tanyaku sedikit nada tinggi.
“Bukan, karena Salsa yang menyuruhku menyampaikan hal ini, dan Salsa sudah bicara banyak soal ini, mang Yaya dan segala penasaran kamu, tapi Salsa tidak tega jika hal ini malah mengganggu ketenangan kedua orang tua kamu, apalagi nantinya soal kuliah begitu Bas,” Jawab Silvi.
Aku paham sekali, dengan apa yang diucapkan Silvi, “berarti kak Salsa juga merasakan dan melihat hal yang sama,” ucapku dalam hati.
“Soal rumah 096, aku mimpi Bas semalam, kak Salsa keluar dari rumah sebelah kamu, dengan pakaian yang sangat rapih, putih dengan celana rok yang sangat rapih juga berwana hitam, dalam keadaan hamil berjalanan dari rumah sebelah kamu, tapi ketika aku keluar dari rumah kamu, menyapa Salsa, dia tidak menjawab hanya mematung dengan menatap aku sambil menangis, kemudian, dia kembali berjalan, tidak tau kenapa aku berjalan ke depan rumah itu, lalu aku ingat betul, melihat nomor rumah 096 di belakang pohon beringin besar, pas di samping pintu," ucap Silvi menjelaskan.
Aku mendengarkanya dengan jelas, semua yang Silvi ucapkan kaitanya sama dengan apa yang pernah aku ketahui. Hanya soal nomor rumah saja 096, beberapa kali pikiranku mengingat satu persatu apapun yang aku ingat, yang aku rasakan janggal.
“Kenapa jadi kamu yang melamun Bas?,” tanya Silvi.
“Vi nomor rumahku 097,” ucapku perlahan.
“Iya Salsa dan Nenah juga memberitauku, untuk memastikan saja mimpi itu, kejadianya sama dengan cerita kamu semalam Bas, sikap Salsa yang kamu liat dengan apa yang ada di dalam mimpiku, walaupun tidak sama percis tapi mirip gerak dan lainnya bukan?,” tanya Silvi.
“Iya benar juga Vi,” jawabku dengan keringat mulai turun.
Yang aku takutkan bukan apa-apa, hanya ketidakbaikan serta kedepanya tidak mau sampai pada orang tuaku saja. Apalagi kepercayaan dari kedua orang tuaku yang terpikirkan setelah obrolan ini.
“Tenang Bas, semuanya akan baik-baik saja, saranku dan liat saja nanti Salsa juga akan bicara sama dengan apa yang akan aku bicarakan sekarang; tanyakan pada mang Yaya sudah hanya itu saja, selanjutnya jika sudah, yah sudah saja anggap saja ini ada hal yang memang kalian harus terima apapun itu,” jawab Silvi sambil memegang tanganku.
Karena dari wajah serta cara duduku yang sudah tidak tenang, karena hal-hal yang belum terjadi apalagi, rumah itu benar secara cerita mimpi Silvi adalah rumah nomor 096.
Silvi tetap membuatku agar tenang, dan menjelaskan semuanya akan baik-baik saja, tapi Silvi juga khawatir yang sama denganku, takutnya terjadi hal-hal yang lainnya di luar apapun yang tidak aku harapkan, aku belum telepon sama sekali kak Salsa.
Selesai menghabiskan makan dengan Silvi segera aku mengantarnya untuk pulang, sepanjang perjalanan Silvi hanya bilang.
“Jangan sungkan Bas, kalau ada apa-apa di rumah langsung chat atau telepon aku aja,” aku hanya menjawab dengan beberapa anggukan kepala saja yang berarti setuju.
Sampai di rumah Silvi, segera aku sempatkan untuk telepon kak Salsa.
“Kak mau pulang bareng?,” ucapku di telepon.
“Kakak udah di rumah Bas, langsung pulang aja yah,” jawab kak Salsa singkat.
Segera aku berpamitan dengan Silvi, wajah cemasnya sangat jelas, kemudian tersenyum manis, dan tetap meyakinkan aku “bakalan baik-baik saja”.
Segera aku memacu si kukut untuk menuju rumah, dengan banyak sekali pikiran yang melintas di kepalaku. Beberapa pertanyaan yang ada masih belum tanpa jawaban. Tiba sampai sebelum rumah, aku berhenti tepat di depan rumah yang baru saja Silvi obrolkan lewat mimpinya itu.
Segera aku standarkan si kukut, tepat di depan gerbang besi rumah sebelahku ini. Perlahan aku berjalan, memperhatikan rumah yang sebelumnya belum pernah aku liat, sama tuanya bagunanan dengan rumahku.
“Sebelah mana yang di maksud Silvi?, tidak ada sama sekali pohon beringin,” ucapku dalam hati.
Aku ingat, dekat pintu ada nomor, Silvi mengucapkan hal itu, segera mataku mengarah kedua pintu yang lumayan besar itu, tidak ada sama sekali sebuah nomor rumah. Hanya saja aku melihat, seperti sebuah cat yang menimpa dengan ukuran kotak berwana abu-abu, sementara cat lainya berwarna putih, dan dari kejauhan seperti bekas lubang paku yang sudah tercopot. “apa itu bekas nomor rumah 096
__ADS_1
Bersambung....