
“Sorry Bas, salahku awalnya,” jawab Anton tidak enak.
“Gaklah awalnya juga ada hal aneh, kebetulan kamu alamin, harusnya aku tidak membawa kamu ke rumah, jadinya kan seperti ini, sialan emang rumah itu,” jawabku emosi karena tidak tenang.
“Slow Bas,” ucap Anton menenangkan.
“Ton, kalau aku gak tinggal di rumah itu, kuliahku bisa jadi berhenti, tapi rumah seperti itu, lagian itu orang siapa coba segala imbasnya padaku dan kakaku Ton, keluargaku sedang tidak baik dalam kondisi ekonomi Ton,” jawabku menuangkan kekesalan.
Setelah mengobrol soal kuliah dan tidak masuknya lagi aku dan Anton, Anton pamit pulang dan janji akan main lagi ke sini, walau aku merasa tidak enak juga diam di rumah kak Nenah karena hanya sebatas teman kak Salsa saja.
Aku hanya menghabiskan waktu di luar duduk sambil berpikir, semoga kak Salsa menghubungi ibu hari ini, sedang santai-santainya merokok dari pemberian Anton.
“Bas, Salsa demam tinggi banget tiba-tiba lemas gitu,” ucap Silvi, keluar dari pintu rumah.
Segera aku masuk ke dalam, dan benar kak Salsa sedang menggigil di ruang tengah rumah kak Nenah, segera Silvi dan kak Nenah membenarkan posisi tidur kak Salsa.
“Masih pengaruh kejadian semalam ini,” ucap Silvi.
“Aku bilang Ibu jangan?,” tanya kak Nenah.
“Jangan kak, aku telepon orang rumah dulu,” ucapku.
Tanpa pikir panjang aku menghubungi Ibu di luar rumah, dan melihat kak Salsa sedan diurus oleh Silvi dan kak Nenah.
Berkali-kali tidak diangkat, ketika sadar, “pasti sedang mengajar” ucapku, segera aku menghubungi Bapak.
“Iya Bas, kenapa tumben telepon biasanya juga chat-chat aja,” ucap Bapak.
“Pak, kak Salsa sakit, kejadian di rumah banyak yang aneh, sekarang aku dan kak Salsa di rumah temenya kak Nenah. Bastian gak mau tau, Bapak sama Ibu kesini yah,” ucapku dengan tidak tenang.
“Iya-iya bapak jemput Ibu dulu, jaga dulu kakak kamu yah, pasti sekarang sore juga bapak kesitu, kirimkan alamat lengkap rumah Nenah yah,” jawab Bapak sama paniknya denganku.
Segera aku copy alamat yang sebelumnya di kirim ke Anton dan sudah aku kirimkan ke kontak bapak, segera aku masuk ke dalam rumah, dan kak Salsa sudah tertidur. Keringat di badanya bercucuran sangat banyak sekali. Aku, hanya duduk diam di samping kak Salsa.
“Kak tidak apa-apa nanti ke sini orang tuaku yah,” ucapku perlahan.
Aku kak Nenah dan Silvi saling bercerita masing-masing yang terasa janggal di rumah bekas peninggalan neneku itu, dan aku mengiyahkan apa yang mereka katakan.
Tidak lama ada tlp dari ibu masuk,
“Bas, ibu sudah di jalan ini, tunggu yah Bas, maafkan ibu bas,” ucap ibu sambil menangis.
“Aku tidak pernah tau soal itu bu?,” ucapku menjawab dengan pelan.
“Sama kakakmu juga (Salsa) tidak pernah tau hal ini, hari itu keadaan keluarga kita sedang tidak baik dan kamu juga tau sendiri ekonomi keluarga kita tidak lekas membaik, solusinya kamu tetap kuliah tahun ini dan kakakmu tinggal di sini, begitukan. Ibu hubungi mang Yaya karena masa lalu itu Ibu pikir dengan waktu 18 tahun lamanya sudah benar-benar berlalu, kenyataanya tidak Bas, buktinya sumpah serapah dan dendam itu masih terjadi,” ucap Ibu mengelap kedua matanya yang sudah dibasahi oleh air mata.
“Sudah, ibu tidak kuat, ibu masih ingat kejadian itu, sakit sekali, dari sebuah kejadian kita memang hanya bisa menerima, kamu ikut pulang dulu, selanjutnya kita obrolkan di rumah saja,” ucap Ibu dan dengan tiba-tiba, benar-benar di luar nalarku, suara keras itu menghantam pintu yang terbuat dari besi itu sangat keras
“brakkk,”
Sontak membuatku kaget dan tentunya juga Ibu, apalagi kondisi dan suasana sedang dalam seperti ini, ibu hanya mengangguk berkali-kali dan mengajaku untuk masuk ke dalam rumah.
Aku tidak berani sama sekali bertanya tentang apapun, apalagi raut wajah dari Ibu yang tidak biasanya, terkesan bukan hanya kaget, tapi seperti mengetahui sesuatu yang tidak baik akan datang, langkahnya menuju dalam rumah sangat cepat.
Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam saja, apalagi barusan Ibu baru menjelaskan sedikit dengan masih banyak pertanyaan dan penjelesan yang sangat ingin aku ketahui.
__ADS_1
“Pak ayo malam ini juga kita pulang, bawa Salsa ke mobil, Bas bawa perlengkapan kamu dan kak Salsa seadanya dulu saja yang diperlukan, urusanya lainya nanti saja diurus di rumah,” ucap Ibu dengan nada yang tegas, dan ini baru pertama kali bahkan aku mendengar nada bicara Ibu bisa seperti itu
“Tapi teh, Salsa masih dalam kondisi seperti ini, baiknya bermalam dulu di sini sambil mamang coba terus sembuhin dulu,” Sahut mang Yaya.
Aku yang langsung bergegas dengan cepat hanya membawa laptop dan alat-alatku juga kak Salsa seperlunya saja mendengar hal itu, langsung menoleh ke arah Ibu. Dan ibu bahkan tidak ada jawaban sama sekali.
“Coba teh pikirkan dulu baik-baik, kasian juga kondisi Salsa, semuanya sudah berakhir teh, kejadian itu sudah lama tidak mungkin terjadi lagi,” ucap mang Yaya dengan gemetar.
“Tau apa mamang soal kejadian itu?, ku anaknya, aku yang tau sebenarnya yang terjadi, keluarga hanya menerima, aku yang tidak pernah sama sekali terima tau hal-halnya, dan harus ingat dulu sebelum Ibu pergi, siapa hah yang mengerusnya terbaring di sini!?,” jawab Ibu sambil meneteskan air mata.
Bahkan aku tidak mengerti sama sekali yang dikatakan Ibu dan mang Yaya, tapi sepintas apa yang sebelumnya Ibu bicarakan barusan di belakang sudah membuat aku paham, bahwa ini ada kejadian masa lalu yang benar-benar perlu aku tau.
Bapak yang mendengar ucapan Ibu seperti itu, langsung mengangkat badan kak Salsa yang dalam kondisi menatap kosong ke arah atap, matanya terbuka, tapi ekspresi yang ada dalam dirinya seperti hilang.
Mang Yaya hanya tertunduk dengan apa yang barusan Ibu bicarakan, dan tidak berani lagi menatap Ibu.
“Ini bukan salah saya teh,” ucap mang Yaya dengan perlahan.
Aku langsung mengikuti langkah Ibu dan Bapak, bodohnya aku masih saja sempat menitipkan si kukut kepada mang Yaya dan memberikan kuncinya, walau aku tau betul mang Yaya tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Aku duduk di depan, sementara kak Salsa menyender kepada pundak Ibu, dengan kondisi yang masih sama, sama sekali tidak ada gerak, tidak ada apapun kecuali tatapan kosong.
“Mang saya pamit dulu,” ucap Bapak.
Mang Yaya hanya tertunduk dengan jawaban yang sangat pelan, mengantarkan sampai depan halaman rumah, sementara aku melihat Ibu dari spion tengah mobil bagian depan menatap kosong seperti banyak hal yang Ibu pendam.
“Pak, sesuai rencana kita,” ucap Ibu.
“Mau kemana Bu?,” tanyaku.
“Bas, kita ke rumah kakek Bambang dulu, kakek Bambang dulu teman dekatnya kakek kamu, panjang sekali umurnya, sampai saat ini beliau masih sehat dan ingatanya masih bagus juga, Ibu minta maaf kenapa tadi Ibu lama sampai ke rumah Nenah, ibu berkunjung dulu ke rumah kakek Bambang, dan alhamdulilah walau sudah hampir belasan taun tidak bertemu masih ingat,” jawab Ibu menjelaskan.
Tidak jarang aku memastikan keadaan kak Salsa yang masih tidak berubah, dan Ibu terlihat menahan air mata yang ingin segera turun menyapa kedua pipinya tersebut. Dan aku cukup tau diri tidak berbicara apapun, bahkan aku paham Bapak menyimpan apapun yang ingin dibicarakan begitupun sama denganku juga Ibu.
“Maafkan Ibu Bas,” tiba-tiba ucap Ibu.
Segera aku menoleh ke arah belakang, dan terlihat air matanya jatuh begitu saja. Dan beruntungnya jalanan tidak padat, sehingga Bapak sedikit memacu mobil untuk segera sampai ke rumah kakek Bambang.
“Ibu yang salah, tidak mendengarkan omongan Bapak, Ibu percaya sama mang Yaya, sebelum Ibu putuskan kamu tinggal di rumah itu, ibu sudah bicara panjang dengan mang Yaya dan mang Yaya berhasil meyakinkan Ibu; Teh semuanya bakalan baik-baik saja,” ucap Ibu perlahan.
Bapak hanya mengangguk, mendengarkan sebuah pengakuan dari Ibu.
“Tapi kenyataanya, dan Ibu percaya sekarang hal-hal dulu yang selalu Bapak wanti-wanti soal kak Salsa akhirnya terjadi, setelah 20 tahun waktu yang berlalu. Tidak tau dosa siapa, tapi Ibu yakin Nenek kamu tidak bersalah dan tidak pernah memiliki rasa yang dibanggakan dengan kelahiran kak Salsa pada saat itu pada keluarga Dirman,” jawab Ibu.
“Dirman siapa bu?,” tanyaku langsung.
“Dirman pemilik rumah kosong di sebelah itu Bas, yang ada pintu penghubung dengan rumah Nenek kamu,” jawab Bapak.
“Rumah nomor 096?,” ucapku.
“Kamu tau nomor itu?,” tanya Ibu sangat heran dan baru saja aku akan menjawab, tiba-tiba kak Salsa tertawa sangat menakutkan, seperti pada film-film horror yang sebelumnya pernah aku dengar, dan baru kali ini aku mendengarnya langsung.
Bulu pundaku berdiri dengan begitu saja dan benar-benar menakutkan apalagi dengan muka tanpa ekspresi hanya matanya yang melolot seperti ingin lepas.
“Sebentar lagi sampai tahan dulu yah Kak,” ucap Bapak dengan gemetar.
__ADS_1
Ibu hanya kembali meneteskan air matanya, yang mulai tidak ada hentinya mengalir begitu saja. Dalam kondisi seperti ini aku dan pikiranku yakin, sesuatu yang aneh dengan semua ini akan Balaka aku ketahui.
Masih aku sempatkan untuk mengecek hp ku, pesan masuk dari Nenah, dan Silvi sangat penjang sekali, tapi aku lebih tertarik dengan pesan dari kak Nenah karna ada kalimat
“Benar bas, itu rumahnya,”
Segera aku klik pesan itu dan aku baca perlahan, dan benar saja.
“Kata Ibuku setelah aku cerita semuanya, benar Bas kalau kamu masih ingat di pertemuan kita pertama dengan Salsa aku pernah bilang di jalan itu dulu pernah ada kejadian yang melegenda soal kejadian yang aku sebutkan itu, itu benar samping sebelah rumah nenek kamu, kalau rumah nenek kamu 097 berarti rumah itu 096, benar bas itu rumahnya,” isi pesan kak Nenah.
Aku hanya menarik nafas dalam-dalam, seolah tidak percaya dengan semua yang sudah berlalu, tapi aku hidup dalam kenyataan dan kondisi saat ini yang sedang aku alami. “benar-benar ini ada sebuah tragedi masa lalu” ucapku dalam hati.
Tidak terasa, bahkan hampir satu jam perjalanan, aku melihat Bapak sudah membelokan ke salah satu rumah sama besarnya dengan rumah Neneku, yang berada di samping jalan utama, bahkan tidak terlalu jauh dari pintu keluar Tol.
Langsung saja, seorang wanita seumuran dengan Ibuku membukakan pintu gerbang, ketika aku melihat ke jam yang terpasang di layar monitor mobil “tidak terasa sudah hampir tengah malam,” ucapku.
Ketika lampu mobil menyorot ke arah depan rumah, terlihat lelaki tua dengan rambut yang dari kejauhan sudah memutih berdiri dan tersenyum ketika Bapak keluar dari mobil dan langsung memangku kak Salsa, tapi anehnya, aku melihat kak Salsa dengan wajahnya mengerut, dan benar saja langsung teriak sangat kencang!.
Bapak langsung saja berjalan dengan cepat, dan aku semakin khawatir dengan kondisi kak Salsa. Segera turun dengan Ibu yang dipegang oleh wanita yang membukakan gerbang, karena telihat langkah ibu sangat perlahan, dan aku yakin wanita itu kalau bukan anak kakek Bambang mungkin pekerja rumah tangga di sini.
Aku berjalan bareng dengan Ibu, ketika masuk kak Salsa sudah terduduk di kursi ruangan tengah di rumah ini, dan tidak terlihat keberadaan kakek Bambang.
Aku dan Ibu juga Bapak sudah duduk menunggu kakek Bambang datang, dan tidak lama dibarengi wanita yang sebelumnya membantu Ibu berjalan datang, dengan membawakan air minum.
“Lama sekali teteh tidak berkunjung ke sini, dulu sama seperti Bapaknya teteh Suherman, memang harus selalu saya yang datang ke rumah itu, berapa lama yah? 1997 kalau tidak salah saya terakhir kesana ikut mengantarkan Nenek ke tempat peristirahatan terakhir,” ucap kakek Bambang, sambil duduk dan membakar rokoknya.
“Iya kek, teteh tidak tau lagi harus datang dan minta tolong ke siapa, tidak tau kenapa, beberapa hari ke belakang teteh mimpi ngasih minum kopi ke Bapak (kakeknya Bastian) ini dan kek Kakek yang sedang duduk di halaman belakang,” jawab Ibu.
“Sudah besar-besar yah Bastian sama Salsa ini, padahal hari di mana kalian lahir, kakek tidak pernah absen datang loh hehe,” ucap kakek Bambang.
Aku hanya terseyum saja mendengarkan begitu hangat ucapan dari kakek Bambang, beda dengan kak Salsa yang tiba-tiba selalu berekspresi seperti menunjukan ketidaknyamanan berada di rumah ini.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
“heeeemmm... hemmmm,” tidak jarang erangan keluar dari mulut kak Salsa tanpa ekspresi dan tatapanya yang masih saja kosong.
“Sudah biarkan saja, aman kok baik-baik saja semuanya,” sahut kakek, sambil berpindah duduk di sebelah kak Salsa.
Kakek Bambang langsung segera mengelus-elus kepala kak Salsa berkali-kali sambil tersenyum, dan aku hanya menyaksikan saja, begitu juga dengan Ibu juga Bapak
“Andai kedekatan dulu dengan keluarga Dirman tidak sampai segitunya, mungkin kejadian itu tidak perlu tersangka untuk dijadikan kambing hitam. Nek Suherman terlalu baik, bunuh diri itu bakalan tetap terjadi andai kata Nek Suherman mencengahnyapun, itu sudah takdir, sudah bukan lagi cara manusia yang berkerja itu cara tuhan yang berkerja sebagaimana mestinya, tapi sayang kejadian itu, harus Nek Suherman yang menjadi kambing hitam,” ucap kakek Bambang dengan perlahan, dan tidak hentinya mengusap-usap rambut kak Salsa, yang masih saja mengeluarkan suara erangan.
Aku memperhatikan dengan jelas dan baik-baik apa yang dikatakan kakek Bambang, walau pertemuan ini yang pertama bagiku, tapi melihat Ibu dan Ayah sebegitu dekatnya.
“Kek, aku yang mendengar sebenarnya kenapa,” ucap Ibu, sambil meneteskan air mata.“Jawaban teteh akan sama dengan saya, itulah kenapa saya selalu menganggap teteh dan bapak sampai sekarang seperti anak saya, walau saya tidak semuda dulu segalanya,” jawab Kakek Bambang.
Aku melihat jam di ruangan tengah ini sudah hampir jam 01:00 dini hari, dan semenjak sore kak Salsa masih saja seperti ini, bahkan aku benar-benar khawatir dengan keadaanya, apalagi ingat omongan Silvi bahwa itu sepenuhnya bukan kak Salsa, melainkan mahluk lain.
“Teteh taukan, kehamilan teteh mengandung Salsa adalah kebahagian keluarga besar teteh apalagi kakak-kakak teteh belum mempunyai anak dari istrinya masing-masing. Kebahagiaan untuk keluarga teteh tidak sama dengan yang dirasakan Keluarga Dirman teh, mereka hanya memiliki satu anak perempuan, mempunyai keturunan adalah impian dari sebuah keluarga teh, tapi sayangnya persekutuan itulah yang menyebakan sampai seperti sekarang,” ucap kakek Bambang, perlahan dan sambil tersenyum.
Bapak tidak berkata apapun sama denganku, hanya diam dan mendengarkan dengan baik.
“Kenapa haru dan selalu kepada keluarga teteh kek, ini bukan salah keluarga teteh sepenuhnya kek,” ucap Ibu sambil meneteskan air mata.
Obrolan malam ini, mungkin sebelumnya tidak pernah aku pikirkan sama sekali, apalagi ini adalah hal pertama aku harus dan keadaan sendiri yang membuatnya harus seperti ini, mengetahuinya.
__ADS_1
Kakek Bambang hanya diam tidak menjawab dan terlihat memejamkan mata, lalu mengusap rambut kak berkali-berkali dengan sedikit menggunakan tenaga.
“Aku ingin anak ini, hihihi anak ini sudah aku tunggu kembali hihih lucu sekali maniss,” ucap kak Salsa untuk pertama kalinya setelah