
Kamar Mayat
Tidak ada jalan keluar lagi. Mau atau tidak, ia harus menerobos kerumunan orang misterius itu. Sambil berlari, Udin berteriak sekencang yang ia mampu. Ia berharap ada seseorang di luar sana yang mendengarnya.
Sayangnya, Udin tidak bisa menerobos orang-orang yang berpakaian medis itu. Kedua lengannya di cengkaram oleh empat orang yang entah siapa. Ia pun tak berani menatap wajah mereka.
Kamera Udin jatuh di lantai. Sementara dirinya justru diseret paksa oleh segerombolan orang tersebut. Ia berteriak. Jemarinya mencoba mencakar lantai, tapi itu sia-sia. Tubuhnya tetap diseret entah dibawa ke mana.
Masih di malam yang sama, dua lelaki yang wajahnya ditutupi cupluk hitam mengendap masuk ke dalam rumah sakit. Sudah jelas mereka adalah orang-orang bodoh yang berani mencuri barang di rumah sakit itu. Keduanya sama-sama berbadan kurus-tinggi. Mereka membawa tas yang di dalamnya ada sebuah karung besar untuk mengangkut barang.
“Ron... Roni!” desis Daman.
“Apa?” Daman menoleh ke temannya.
“Gila ini rumah sakit. Pasti banyak banget barang berharganya.”
“Iya, Ron. Mana nggak ada penjaganya lagi. Makin bebas kita malingnya.”
“Tapi, Man. Katanya, ini rumah sakit angker banget.”
“Halah, jangan percaya sama begituan. Setan yang harusnya takut sama kita. Lihat aja kalau ada penampakan, gua tonjok sekalian setannya,” kata Daman dengan sombong.
Mereka bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Dengan terburu-buru dan serakah, mereka memasukkan barang-barang yang sekiranya masih laku dijual. Kemudian mereka naik ke lantai dua. Roni dan Daman berpencar menyisir setiap ruangan.
Cahaya senter milik Roni tidak sengaja menyorot sebuah kamera yang tergeletak di lantai. Roni menoleh ke sekeliling. Ia curiga ada seseorang di gedung ini. Ia menghamiri kamera itu, tampak masih menyala dan sedang merekam.
Ia mencoba mengutak-atik hendak memutar ulang apa saja yang telah direkam kamera itu. Tapi, dia ternyata tidak bisa mengoperasikannya. Saat Roni sedang memijat sembarang tombol kamera, tiba-tiba dari layar kamera yang masih merekam itu menangkap anak perempuan yang berdiri di hadapannya.
“Bangsat! Ngagetin aja!”
Anak itu menangis. Dari perawakannya, ia sepertinya berumur lima tahunan. Rambutnya sebahu dan berponi. Ia mengenakan baju warna pink dan celana cokelat. Sementara sandalnya bermotif tokoh kartun Dora.
Roni curiga. Jangan-jangan anak kecil itu setan. Pelan-pelan ia mendekatinya. Disentuhnya pundak anak itu. Ternyata pundaknya memang bisa disentuh. Roni mengembuskan napas lega. Ini pasti anak yang nyasar, pikir Roni.
“Kamu kok malam-malam ada di sini?”
“Ibuku...,” katanya sambil menangis.
“Ibumu ke mana?”
__ADS_1
Anak kecil itu tidak menjawab. Ia hanya mengulang kata 'ibuku' berkali-kali. Itu membuat Roni bingung harus berbuat apa. Pikirnya, anak ini tidak mungkin setan karena tubuhnya dapat ia sentuh.
Tapi yang menjadi pikirannya, entah bagaimana anak itu bisa ada di gedung ini. Roni tidak mau ambil pusing. Tanpa memedulikannya, Roni masuk ke ruang operasi meninggalkan bocah perempuan itu. Ia lalu memilah barang yang sekiranya berharga untuk dijual.
Sementara itu, Daman yang sedang berada di ruangan dokter gigi menjarah barang-barang yang ada di sana. Dia bahkan mengambil monitor komputer beserta CPU-nya. Karung yang dibawa Daman sudah hampir penuh. Ia berdecak kesal, padahal masih banyak barang-barang yang ingin ia bawa.
Setelah karungnya penuh, ujung karung itu diikat dengan tali. Ia lalu memikulnya di bahu. Namun, saat hendak keluar ruangan, sebuah gigi jatuh dari langit-langit menimpa kepalanya. Daman mendongak ke atas. Ia menurunkan karung dari bahunya ke lantai.
Diperhatikanya sebuah lubang di langit-langit ruangan itu. Lagi, dua gigi geraham jatuh menimpa wajah Daman. Tidak lama berselang, banyak sekali gigi yang jatuh berhamburan dari atas.
Daman berteriak ketakutan. Namun, ketakutan itu justru kian bertambah. Ia melihat sesosok mengerikan merayap di dinding. Sosok itu mendekatinya perlahan. Sialnya, tidak ada jalan keluar. Pintu terkunci rapat dengan sendirinya.
“Roni!”
Teriakan Daman melengking dan memantul terdengar dari ruangan itu. Setelahnya, suara Daman lenyap tidak terdengar lagi.Roni keluar dari ruang operasi lalu melewati anak kecil tadi. Anak itu masih menangis, Roni tidak peduli dengannya. Beberapa kali, anak itu minta tolong, tapi Roni tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia menyeret karung yang sudah penuh oleh barang-barang curian.
“Daman!” keluar dari koridor itu, ia menoleh ke kanan. Arah Daman berpisah dengannya barusan.
Tidak ada jawaban sema sekali. Roni lalu berjalan gontai, ia sepertinya kesulitan menyeret karung itu. Di dadanya terselempang kamera hasil yang masih merekam.
“Man... Daman! Di mana lu?”
Dari kejauhan, terdengar suara brankar yang didorong mendekat. Roni maju beberapa langkah mendekati koridor yang menjadi sumber suara tersebut. Cahaya senter ia sorotkan ke lorong koridor, di sana ia melihat sebuah brankar yang didorong oleh dua orang lelaki berpakaian medis. Semakin medekat wajah lelaki yang terbaring di atas brankar terlihat semakin jelas.
“Ah, sial,” decak Roni.
Tadinya Roni akan memecahkan jendela itu, tapi ternyata ada tralis besi yang terpasang di dalamnya.
Dengan sekuat tenaga, ia membenturkan tabung ke pintu itu. Akhirnya pintu itu berhasil didobrak. Tidak ada siapa-siapa di dalam, hanya ada brankar-brankar tua yang berjajar rapi. Roni mengarahkan cahaya senter ke segala arah sambil memanggil nama temannya itu.
Di sudut kanan ruangan, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Itu sebuah lubang di lantai berbentuk segi empat seperti lubang septic tank, ia mendekati lubang itu perlahan dan hati-hati. Semakin dekat, suara sayup orang minta tolong semakin terdengar dari dalam lubang itu. Bukan hanya satu orang, tapi terdengar banyak suara meminta tolong.
Ketika Roni mengarahkan cahaya senter ke dalam lubang tersebut, terlihat wajah-wajah manusia mendongak ke arahnya. Mereka adalah Tono dan istrinya, Udin, juga Daman. Wajah mereka terlihat sangat pucat, sambil menangis mereka meminta tolong pada Roni.
Lubang itu cukup dalam, satu-satunya cara untuk mengeluarkan mereka adalah dengan tali. Ia harus mencari tali terlebih dahulu lalu menarik mereka satu persatu keluar dari lubang. Roni mengeluarkan tali tampar dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa untuk persediaan. Ia hanya akan mengeluarkan Daman dari dalam lubang itu.
“Daman lu dulu yang naik!” teriaknya dari atas.
Tali diulur perlahan ke dalam lubang, lengan kanan Roni masih memegangi senter. Daman meraih tali, sekuat tenaga Roni menarik tubuh Daman. Akan tetapi, tali itu seperti ada yang menarik dengan kencang dari dalam lubang membuat tubuh Roni tersungkur lalu masuk ke dalam lubang. Cahaya senter yang ikut masuk perlahan meredup dan padam, suara mereka tidak lagi terdengar.
__ADS_1
Suara langkah sepatu terdengar mendekati lubang. Itu dokter Arwani, setelah melongokkan kepala ke dalam lubang, ia lalu melangkah keluar ruangan. Ditemukannya sebuah kamera yang masih merekam, dokter Arwani membawanya masuk ke dalam kamar mayat. Pintu perlahan ia tutup kembali, kamera tadi ia letakkan di atas brankar.
Layar kamera itu tiba-tiba kusut lalu merekam lagi, sesaat kemudian kusut lagi. Sampai akhirnya kamera itu tidak lagi merekam, tetapi menampilkan sebuah kejadian-kejadian di masa lalu. Tentang rumah sakit ini. Yang tentu saja masih menyimpan banyak rahasia.
Roni keluar dari ruang operasi lalu melewati anak kecil tadi. Anak itu masih menangis, Roni tidak peduli dengannya. Beberapa kali, anak itu minta tolong, tapi Roni tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia menyeret karung yang sudah penuh oleh barang-barang curian.
“Daman!” keluar dari koridor itu, ia menoleh ke kanan. Arah Daman berpisah dengannya barusan.
Tidak ada jawaban sema sekali. Roni lalu berjalan gontai, ia sepertinya kesulitan menyeret karung itu. Di dadanya terselempang kamera hasil yang masih merekam.
“Man... Daman! Di mana lu?”
Dari kejauhan, terdengar suara brankar yang didorong mendekat. Roni maju beberapa langkah mendekati koridor yang menjadi sumber suara tersebut. Cahaya senter ia sorotkan ke lorong koridor, di sana ia melihat sebuah brankar yang didorong oleh dua orang lelaki berpakaian medis. Semakin medekat wajah lelaki yang terbaring di atas brankar terlihat semakin jelas.
Itu adalah Daman. Brankar itu berbelok kiri menuju kamar mayat. Karung yang ia seret dibiarkan begitu saja, Roni lari mengejar brankar yang masuk ke dalam kamar mayat. Pintunya terkunci dengan sangat rapat, dengan sekuat tenaga Roni mendobrak pintu itu. Namun, tetap tidak bisa.
Buru-buru ia mencari sesuatu untuk mendobrak pintu. Kamera yang masih terselempang di dadanya, ia letakkan di letakkan di lantai. Segera lari ke ruangan sebelah, untungnya ia menemukan sebuah tabung pemadam api. Sebelum sampai di depan pintu, ia berhenti dan mendongak pada jendela kamar mayat.
“Ah, sial,” decak Roni.
Tadinya Roni akan memecahkan jendela itu, tapi ternyata ada tralis besi yang terpasang di dalamnya.
Dengan sekuat tenaga, ia membenturkan tabung ke pintu itu. Akhirnya pintu itu berhasil didobrak. Tidak ada siapa-siapa di dalam, hanya ada brankar-brankar tua yang berjajar rapi. Roni mengarahkan cahaya senter ke segala arah sambil memanggil nama temannya itu.
Di sudut kanan ruangan, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Itu sebuah lubang di lantai berbentuk segi empat seperti lubang septic tank, ia mendekati lubang itu perlahan dan hati-hati. Semakin dekat, suara sayup orang minta tolong semakin terdengar dari dalam lubang itu. Bukan hanya satu orang, tapi terdengar banyak suara meminta tolong.
Ketika Roni mengarahkan cahaya senter ke dalam lubang tersebut, terlihat wajah-wajah manusia mendongak ke arahnya. Mereka adalah Tono dan istrinya, Udin, juga Daman. Wajah mereka terlihat sangat pucat, sambil menangis mereka meminta tolong pada Roni.
Lubang itu cukup dalam, satu-satunya cara untuk mengeluarkan mereka adalah dengan tali. Ia harus mencari tali terlebih dahulu lalu menarik mereka satu persatu keluar dari lubang. Roni mengeluarkan tali tampar dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa untuk persediaan. Ia hanya akan mengeluarkan Daman dari dalam lubang itu.
“Daman lu dulu yang naik!” teriaknya dari atas.
Tali diulur perlahan ke dalam lubang, lengan kanan Roni masih memegangi senter. Daman meraih tali, sekuat tenaga Roni menarik tubuh Daman. Akan tetapi, tali itu seperti ada yang menarik dengan kencang dari dalam lubang membuat tubuh Roni tersungkur lalu masuk ke dalam lubang. Cahaya senter yang ikut masuk perlahan meredup dan padam, suara mereka tidak lagi terdengar.
Suara langkah sepatu terdengar mendekati lubang. Itu dokter Arwani, setelah melongokkan kepala ke dalam lubang, ia lalu melangkah keluar ruangan. Ditemukannya sebuah kamera yang masih merekam, dokter Arwani membawanya masuk ke dalam kamar mayat. Pintu perlahan ia tutup kembali, kamera tadi ia letakkan di atas brankar.
Layar kamera itu tiba-tiba kusut lalu merekam lagi, sesaat kemudian kusut lagi. Sampai akhirnya kamera itu tidak lagi merekam, tetapi menampilkan sebuah kejadian-kejadian di masa lalu. Tentang rumah sakit ini. Yang tentu saja masih menyimpan banyak rahasia.
Nantikan cerita Bekas Rumah Sakit selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
__ADS_1