Hantu Villa

Hantu Villa
Kontrakan Angker Part 2


__ADS_3

Saat itu sedang melamun di depan jendela, tiba-tiba kudengar suara pintu yang seakan dibanting. Suara itu berasal dari kamar yang penuh dengan lukisan. Kulihat pintu kamar itu terbuka lebar. Aku menelan ludah sendiri. Walau dipenuhi rasa takut, kudekati kamar itu dengan hati-hati.


Tidak ada siapa-siapa di dalam. Orang-orang asing yang kulihat semalam seolah tidak meninggalkan jejak apa pun. Tapi tunggu dulu, ada sebuah lukisan yang menarik perhatianku. Di dinding dekat jendela kamar ada lukisan wajah seorang lelaki yang sangat kukenal. Tidak salah lagi itu lukisan wajah ayahku.


Segera kuambil kursi di dapur. Aku naik ke atas kursi untuk mengambil lukisan wajah ayah. Kuperhatikan dari dekat lukisannya. Ini benar-benar lukisan wajah ayahku. Siapa yang melakukan ini?


Kubawa lukisan itu ke dalam kamarku. Tak lama berselang, ponselku berdering. Di layar ponsel muncul nama ibuku. Ternyata ayah masih menyimpan nomor ibu.


"Ibu?"


"Kamu di mana Jason? Kamu pindah rumah ya? Kok ayah kamu nggak bilang sama ibu?" tanya ibu yang langsung menodongku dengan pertanyaan.


"Iya, Bu, kami pindah rumah. Jason kira Ibu tahu soal ini."


"Ayah kamu nggak bilang sama sekali. Kamu di mana sekarang? Bisa kasih tahu ibu lokasinya? Ayahmu ibu telepon nggak aktif."


Aku loncat dari tempat tidur lalu berjalan ke jendela. Aku tidak tahu pasti alamat rumah ini. Tapi di depan rumahku ada gapura yang bertuliskan perumahan Griya Indah. Kusebutkan nama perumahan itu kepada ibu.


"Oh, iya ibu tahu perumahan itu. Kamu jangan ke mana-mana sebelum ibu datang ya," timpalnya.


"Iya, Bu. Ayah juga sampai sekarang belum pulang."


"Pergi ke mana ayahmu?"


"Nggak tahu, Bu."


"Ya sudah ibu ke sana sekarang," telepon pun ditutup.


Ibu beberapa kali meneleponku untuk menanyakan rumah mana yang kami sewa hingga akhirnya dia berhasil menemukan lokasi rumah ini. Ibu datang bersama suami barunya. Jelas aku tidak suka dengan lelaki itu. Walaupun dia tampak ramah, tapi tetap saja aku tidak suka melihat ibu bersama lelaki lain.


"Sejak kapan ayahmu pergi?" tanya Ibu. Kami duduk di ruang tamu.


"Dari semalam, Bu."


"Udah ibu bilang, kamu ikut ibu saja. Kalau sama ayah jadi telantar kayak gini kan," kata ibu dengan wajahnya yang terlihat kesal.


Lelaki di sampingnya mengangguk-angguk, "Om senang kalau kamu mau ikut dengan kami. Om udah beli video game buat kamu di rumah. Om juga mau nyekolahin kamu di sekolah favorit biar tambah pinter," kata lelaki gemuk itu sambil tersenyum.


Aku tidak menanggapinya dan hanya tertunduk. Mau bagaimana pun aku tidak akan pernah mau ikut sama ibu. Kasihan ayah, dia pasti sedih kalau ditinggal sendirian.


Ibu mengecek setiap ruangan rumah, "Rumah ini nggak layak Jason. Kumuh banget. Emang ayahmu udah nggak mampu bayar sewa rumah yang kemarin ya?"


"Iya, Bu. Kata ayah harga sewanya semakin tinggi."


"Ya harusnya ayahmu kerja lebih keras lagi biar bisa bayar sewanya. Gimana sih...," ibu berdecak kesal.


"Hari ini kamu ikut ibu aja yuk. Nanti kalau ayah udah pulang, ibu antarkan lagi ke sini," ibu merangkul pundakku.


"Nggak, Bu. Kata ayah, aku nggak boleh keluar rumah sebelum dia pulang."


Ibu mengembuskan napas berat. Dia menoleh ke suaminya.


"Ya sudah begini saja, ibu bakal nemenin kamu di sini sampai ayah pulang."


Aku mengangguk dan melirik ke arah lelaki gemuk itu dengan tatapan benci.


"Kamu mau nunggu di sini juga?" tanya ibu kepada suaminya.


"Oh, nggak. Aku masih ada kerjaan. Kebetulan hari ini ada pengiriman emas ke tokoku," jawab lelaki itu.


"Jason kapanpun kamu mau, Om siap jadi ayah kedua buat kamu," katanya sambil mengelus kepalaku.


Aku diam saja. Enak saja mau jadi ayah keduaku. Aku nggak mau punya ayah gemuk dan botak kayak dia. Aku masih berharap ibu dan ayah bisa bersama lagi kayak dulu.


"Ya sudah aku pamit ya. Telepon aku kalau ayahnya Jason udah pulang. Nanti aku jemput kamu," tambah lelaki itu.


Aku semakin cemas karena sampai malam tiba ayah belum juga pulang. Ibu beberapa kali menghubungi ayah, tapi nomornya tetap tidak aktif. Ibu juga sudah menelepon kantor ayah dan kata pihak kantor, ayah hari ini tidak masuk kerja tanpa izin. Aku pun semakin cemas.

__ADS_1


Sudah larut malam dan ayah tidak kunjung pulang. Akhirnya aku dan ibu ketiduran di kamar ayah. Tengah malam, lagi-lagi aku terbangun. Aku kaget karena ibu tidak ada di kamar. Apakah dia sudah dijemput? Kalau benar, tega sekali ibu ninggalin aku sendirian.


Kuraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur lalu mencari nomor telepon ibuku. Aku akan menghubunginya, tapi saat telepon tersambung, kudengar sebuah ponsel berbunyi. Itu ponselnya ibu yang tergeletak di atas lantai. Berarti ibuku belum pergi. Mungkin saja dia ke toilet.


"Bu?" aku melangkah keluar kamar sambil memanggil ibu.


Kulihat pintu kamar yang penuh dengan lukisan itu terbuka sedikit. Aku juga mendengar seseorang sedang bernyanyi. Entah lagu apa yang ia nyanyikan, suaranya sayup dan tidak terlalu jelas. Pelan-pelan kudekati kamar itu.


Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat. Di dalam kamar itu ada seorang lelaki yang sedang melukis figur ibuku. Tepat di hadapan lelaki itu, ibuku diikat di atas kursi. Wajah ibu penuh darah seperti habis dipukul dengan benda tumpul.


Selain itu, ada pisau yang menancap di dada kiri ibu. Dapat kupastikan kalau ibu memang sudah tewas. Lelaki yang tidak dapat kulihat dengan jelas wajahnya itu masih bernyanyi sambil sesekali melihat wajah ibu. Dengan piawai, dia melukis figur ibuku di atas kanvasnya.


Aku ingin berteriak saat menyaksikan apa yang tengah aku lihat saat itu. Tapi lidahku kelu. Tubuhku gemetar, tapi sulit untuk bergerak.


Siapa lelaki itu? Dan, apa yang harus kulakukan sekarang?


Kontrakan Angker: Keluargaku Dibantai (Part 5) (5)


Tampaknya dia tidak mendengar teriakanku. Atau mungkin dia pura-pura tidak mendengarnya. Aku lari menjauh dari kamar itu, mencoba untuk kabur dari rumah. Sialnya pintu susah sekali dibuka, ada yang sengaja menguncinya.


"Tolong!" teriakku sambil memutar handle pintu, berharap ada seseorang di luar sana yang mendengarku.


"Berisik!" bentak lelaki itu dari dalam kamar.


Wajahku berkeringat, napasku terengah-engah. Aku terkejut saat melihat Pak Heri muncul dari dalam kamar. Tangan kirinya mengenggam kuas, sedangkan tangan kanannya menggenggam tali tampar. Dia mendekatiku dengan wajah kesal.


"Jangan berisik nanti ada yang dengar," desisnya.


"Tolong!" aku tetap berteriak, tapi sepertinya tidak ada seorang pun yang dapat mendengarku.


Pak Heri mengikat kedua tangan dan kakiku lalu menyeretku ke dalam kamar. Ia mengambil kursi lipat dan mendudukkanku di samping mayat ibu. Tubuhku juga diikat, mulutku dilakban. Aku menangis ketakutan sambil menoleh pada ibuku yang sudah tidak bernyawa.


Lalu Pak Heri berjalan ke sudut ruangan, dia menyingkirkan tumpukan lukisan dan membongkar keramik lantai itu satu per satu. Aku tidak tahu apa yang sedang ia cari, sesekali Pak Heri menyeka keringat di dahinya.


Setelah keramik di sudut ruangan itu dibongkar, ia lalu menggali tanah tanpa alat apa pun. Dia hanya menggunakan kedua tangannya. Dari dalam tanah itu, dia menarik sebuah lengan manusia dan memaksanya keluar.


"Nakal banget sih kamu," katanya sambil menarikku kembali ke posisi awal.


Pak Heri membariskan kami. Dia juga membenarkan posisi ayah, tangan ayah diletakkan di atas lahunan ibu, sedangkan kepala ibu ditundukkan ke arah ayah sehingga terlihat sedang bermesraan. Dia juga membetulkan posisiku agar menghadap ke ibu.


"Nah kalau begini kan enak posisinya. Kamu jangan bergerak ya. Mau saya lukis dulu."


Dia kembali ke tempat duduknya lalu mengganti kanvasnya dengan yang baru. Setelah lukisan itu selesai, Pak Heri menunjukkannya padaku. Aku tertunduk karena tidak sanggup melihat lukisan mengerikan itu.


"Nah kita pajang di sini ya," ujar Pak Heri.


"Kau tahu Jason, sebagian lukisan ini adalah karya bapakku. Kami memang gemar melukis orang mati," katanya sambil membetulkan posisi lukisannya agar presisi.


Kemudian Pak Heri menghampiriku, dia merogoh sesuatu dari celana pendeknya.


"Lihat ini, Jason," dia menunjukkan foto anak kecil seumuranku. Foto itu hitam putih dan sudah lusuh.


"Kau mirip sekali dengan anakku yang sudah meninggal. Jangan khawatir, aku akan merawatmu seperti anakku sendiri."


Aku menggelengkan kepala sambil terus melenguh. Tak lama kemudian ada seseorang mengetuk pintu. Dia memanggil-manggil nama ibuku. Aku kenal suaranya, itu suami baru ibuku. Mendengar suara itu, Pak Heri panik. Dia membuka ikatan tali di kursiku.


Dengan terburu-buru Pak Heri langsung menggotongku ke dapur. Dia membuka triplek yang menutupi lubang bawah tanah dan tanpa pikir panjang lagi dia langsung melempar tubuhku ke dalam lubang itu.


Kepalaku membentur lantai sampai berdarah, tapi aku masih dalam keadaan sadar. Tali yang mengikat kaki dan tanganku sangat kuat mumbuatku tidak bisa berkutik sama sekali. Tidak ada yang bisa kuperbuat selain berdoa semoga ada seseorang yang bisa menyelamatkanku.


Dari atas kudengar triplek itu dibuka kembali. Ada benda yang dijatuhkan dari sana. Aku mengaduh kesakitan karena benda itu menimpah punggungku. Dan... saat kulihat ternyata itu adalah kepala suami barunya ibuku. Aku tidak ingat siapa namanya, tapi jelas sekali aku kenal wajah itu.


Aku menjerit sekuat tenaga, suaraku tertahan di tenggorokan. Sesaat setelah kepala itu jatuh, Pak Heri juga menjatuhkan bagian tubuhnya. Tubuh itu berdebam dan hampir saja menimpahku.


Malam ini bagaikan mimpi buruk, aku tidak menyangka kalau Pak Heri adalah dalang dari semua ini. Tapi kenapa dia berbuat seperti ini? Apakah semua lukasan itu adalah orang yang pernah ia bunuh?


Sesaat kemudian, kudengar ada seseorang yang menuruni tangga. Itu pasti Pak Heri, aku meringsut mencari tempat untuk bersembunyi. Sambil menuruni tangga, Pak Heri bersiul. Sesekali dia juga memanggil namaku.

__ADS_1


"Jason...."


"Jason ayah datang."


Suara itu sangat mengerikan bagiku.


Diangkat Anak oleh Psikopat


Pak Heri mencariku sambil bersiul. Aku menahan tangis dan bersembunyi di balik tumpukan kardus. Dia memanggil namaku. Suaranya sangat mengerikan.


Tidak butuh waktu lama bagi Pak Heri untuk menemukan persembunyianku. Dia langsung membuka lakban yang menyegel mulutku. Seketika aku berteriak sekuat tenaga. Dia malah tertawa dan menarik kakiku lalu menyandarkan tubuhku ke dinding.


"Jason, mulai saat ini kamu jadi anakku ya. Dan, ruangan ini jadi kamar kamu sekarang," kata Pak Heri.


Aku menolak. Aku pun meludahi wajahnya.


"Aku nggak mau jadi anakmu. Dasar pembunuh!"


Namun, dia tidak marah. Pak Heri malah tertawa terbahak-bahak.


"Saat pertama lihat kamu, aku langsung teringat anakku. Dan, satu-satunya cara biar kamu menjadi anakku adalah membunuh orang tuamu. Maafkan aku ya! Jangan khawatir kamu pasti lebih bahagia jadi anakku. Lagipula, semenjak ayahku meninggal gantung diri, rumah ini jadi milikku. Jadi kamu bebas tinggal di sini selamanya."


"Nggak mau... tolong, Pak, keluarkan aku dari sini," aku nangis lagi. Aku tidak menyangka kalau kontrakan ini menjadi malapetaka bagi keluargaku.


"Jangan nangis dong! Kan ada ayah di sini. Kamu lapar ya? Sebentar ayah carikan makanan dulu," katanya sambil mengecup keningku.


Dia naik ke permukaan. Tidak lama kemudian Pak Heri kembali dengan membawa kantong plastik hitam, entah apa isinya.


"Nah, ini ayah bawa makanan buat kamu," dia menunjukkan isi plastik hitam itu.


Aku langsung mual ingin muntah, bahkan saat belum melihat isinya. Aku mencium bau menyengat. Ternyata, di dalam plastik itu ada genangan telur busuk. Entah dari mana dia mendapatkannya. Pak Heri memasukkan telunjuknya ke dalam plastik lalu mengaduk-aduk telur busuk itu.


"Ini enak," katanya sambil menjilati telunjuknya.


"Tolong! Jangan, Pak! Aku nggak mau!" teriakku sambil menangis.


"Ini enak kok. Buka mulut kamu," dia memegang kepalaku, memaksaku agar memakan telur busuk itu.


Aku mengibaskan plastik itu dengan kepalaku sendiri. Seketika saja plastik jatuh dan telurnya acak-acakan di lantai. Lagi-lagi Pak Heri tidak marah. Dia malah tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau. Nanti ayah carikan makanan yang lebih enak lagi ya. Sekarang ayah mau melukis dulu."


Dia naik ke permukaan dan kembali membawa peralatan lukis. Dia lalu menyeret kursi lipat yang tergeletak di sudut ruangan. Yang bikin aku bergidik ngeri yaitu Pak Heri mendudukkan jasad suami ibuku yang sudah tak berkepala.


"Ini bakal jadi karya seni yang hebat. Tubuh tanpa kepala hahaha...," dia tertawa terbahak-bahak dan mulai melukis.


"Kau lihat ayahmu ini melukis. Siapa tahu kelak kamu jadi seniman andal seperti ayah," kata Pak Heri sambil menoleh kepadaku. Dia tersenyum ramah.


Aku tidak menjawab. Tapi air mataku terus menetes. Tubuhku kini bergetar kedinginan. Kepalaku juga terasa sakit. Darah membasahi wajahku. Benturan tadi sangat keras. Aku heran kenapa aku masih bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti ini.


"Aduh catnya habis nih padahal belum selesai. Ayah mau ambil catnya dulu ya. Tolong jaga lukisan ayah," pinta Pak Heri. Dia lalu naik lagi ke permukaan.


Mayat lelaki tanpa kepala yang duduk di hadapanku benar-benar menakutkan. Ini adalah momen paling horor dalam hidupku. Ditambah lagi ruangan ini yang begitu hening. Aku hanya mendengar suara tangisku sendiri yang tertahan dan sesenggukan.


Semakin lama ruangan ini semakin mengerikan. Kucoba memejamkan mata agar tidak terus-terusan melihat jasad tanpa kepala di hadapanku.


Tak lama kemudian kudengar suara kursi berderit. Saat membuka mata, jasad tanpa kepala itu berdiri di hadapanku! Aku berteriak sekeras mungkin lalu meringsut untuk menjauh dari jasad yang tiba-tiba hidup kembali. Sialnya, jasad itu malah mendekatiku.


Dari kejauhan aku juga melihat kepalanya menggelinding ke arahku. Aku benar-benar takut. Tapi, tali yang mengikat tangan dan kakiku begitu kuat dan tidak bisa dilepas.


Kepala itu kini benar-benar ada di hadapanku. Matanya perlahan terbuka. Bibirnya kemudian tersenyum dan mulai terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Jason, ayo kita main!" lirihnya.


Aku berteriak minta tolong. Namun, tak ada seorang pun yang bisa mendengarku. Rasanya aku mau mati saja menyusul kedua orang tuaku.


Nantikan cerita horor Kontrakan Angker selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2