Hantu Villa

Hantu Villa
Misteri 096 Part 1


__ADS_3

Sudut pandang Bastian


Sore ini, di tahun akhir masa sekolah di mana aku sedang duduk santai di belakang rumah, sehabis pulang membantu Bapak berjualan sembako yang menjadi aktivitas baruku. Sembari menunggu hasil pendaptaranku ke salah satu universitas di kota kembang.


Sebagaimana harapan Ibu yang harus melanjutkan jenjang pendidikanku, karena aku ingat betul “selagi ibu dan bapak masih bisa mengusahakan tugas adek dan kak Salsa harus mengenyam pendidikan yang cukup, bahkan lebih,".


Walau keluargaku terbilang cukup, bahkan lebih, tapi kesederhaan adalah hal yang diajarkan dalam keluarga, kepadaku. Ibu adalah salah satu pengajar senior di salah satu Sekolah Dasar (SD) di kota ini dan Bapak berjualan sembako, lama sekali bahkan semenjak aku kecil sudah berjualan.


“Bas, bagaimana hasil pendaftaranmu itu sudah ada kabar dari guru BK?,” ucap Ibu, sambil duduk di sampingku dan membuyarkan lamunanku tentang bagaiman nantinya akan berpindah jika benar-benar keterima di mana sama satu universitas dengan kakaku.


“Eh Ibu, besok Bastian ke sekolah sepertinya besok bakalan ada kabar hasil pendaftaran, semoga aja sesuai dengan jurusan yang aku mau bu,” jawabku.


“Mudah-mudahan yah keterima, semalam Ibu dan Bapak sudah bicara panjang dan setuju, jika nantinya kamu keterima, karena otomatis akan menjadi biaya double dengan kak Salsa, dari mulai kebutuhan kalian berdua, dari yang terkecil sampai biaya kuliah, biar lebih sedikit mengurangi gimana kalau nanti Bastian dan kak Salsa tinggal di rumah bekas nenek saja,” ucap Ibu menjelaskan dengan perlahan.


“Loh, rumah nenek bukanya mau di jual yah bu?, emang belum ada yang mau beli?,” tanyaku, karena sebelumnya sudah lama sekali, Ibu pernah bercerita tentang rencana penjualan rumah itu.


“Tau sendiri Bas, Haman dan Yayan dua kakak Ibu juga pengenya gitu, tapi beberapa kali ada orang yang tertarik tapi gagal terus membelinya, ini itulah alasanya,” jawab Ibu.


“Yasudah aku setuju aja Bu, kak Salsa bagaimana apa dia juga mau?,” tanyaku.


“Barusan siang di sekolah ibu telepon dan dia setuju saja, apalagi kan lumayan uang kos untuk kalian berdua bisa jadi uang jajan, terus Bastian bisa jagain kak Salsa jugakan,” jawab Ibu, sambil mengelus kepalaku dan tersenyum.


Aku hanya mengangguk saja, karena memang aku juga tahu berapa penghasilan Ibu dan juga Bapak apalagi sudah beberapa minggu ini aku yang mengitung pemasukan toko sembako dan pengeluaran, memang hal yang ibu sampaikan barusan adalah hal yang paling masuk akal, untuk mengurangi beban keluarga“Malam ini Ibu mau menghubungi dulu mang Yaya biar menyiapkan rumah dan segala keperluan di dalam rumah yah,” ucap Ibu, yang berarti sudah setuju dengan apa yang Ibu tawarkan kepadaku.


Setelah obrolan singkat sore ini, aku langsung teringat tentang bagaimana rumah nenek tersebut, walau sudah lama sekali, semenjak nenek meninggal ketika aku berusia 3 tahun, tepatnya tahun 1997 aku tidak pernah kesana lagi, hanya cerita-cerita singkat dari Ibu saja yang sedikit demi sedikit membuat ingatanku tentang rumah itu.


Karena sejak kecil, sampai Nenek meninggal aku diurus dan tinggal di rumah itu. Akan tetapi, itu sudah sangat lama dan untuk mengingat ke usia 3 tahun adalah hal yang sangat sulit sekali.


Sampai malam hari tiba, aku tidak ada obrolan dengan Ibu maupun Bapak, hanya saja ketika aku mau keluar dari kamar untuk membuat kopi menuju dapur aku mendengar obrolan bapak dan Ibu di ruang tamu.


“Apa tidak apa-apa bu, kalau mereka berdua tinggal di sana?,” tanya Bapak, seperti ada kecemasan yang aku lihat dari raut wajahnya.


“Sudahlah pak akan baik-baik saja, hanya itu pilihanya, apalagi kondisi keuangan kita sedang seperti inikan pak,” jawab Ibu, sangat benar-benar meyakinkan Bapak karena ketidaksengajaan aku mendengar hal itu, aku seolah-olah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan dan berjalan santai saja seperti biasanya menuju dapur, dan langsung membuat kopi.


Selesai, aku berjalan kembali sambil menghampir Ibu dan Bapak.


“Kenapa memang pak, kalau Bastian dan kak Salsa tinggal di rumah nenek itu?,” tanyaku dengan nada sangat datar sekali.


“Tidak apa-apa Bas, bapak hanya khawatir saja kalian berdua yang harus mengurus semuanya apalagi kan rumah harus di rawat yah pak,” ucap Ibu dengan seperti memaksakan jawaban, walau memang aku merasa juga cukup masuk akal jawaban dari ibu.


“Iya benar Bas, oiyah mang Yaya mulai besok mempersiapkan rumah, biar nanti kepindahan kamu tidak dadakan yah,” ucap Bapak dengan tenang sekali.


Setelah itu, aku kembali ke kamar dan menghabiskan banyak waktu dengan hanya bermain game saja, sampai ngantuk benar-benar datang menghampiriku, entah kenapa mungkin karena lelah, baru saja jam 22:00 sudah beberapa hari ini, menjadi jam tidur baruku.


Pagi ini sesuai rencanaku, setelah seperti biasa bapak memang sangat pagi sekali pasti sudah berangkat ke toko, dan Ibu berangkat duluan sebelum aku berangkat. Jadi tidak pernah ada pagi yang sempurna menghabiskan sarapan bersama, adalah sisi lain keluargaku yang menurutku unik, sudah sibuk semenjak pagi.


Setelah sedikit matahari mulai meninggi pagi ini dan setelah menghubungi guru BK memberitau bahwa aku akan datang ke sekolah, aku segera berangkat menuju sekolah mengunakan sepeda motor tuaku, benar saja ketika sampai di sekolah banyak teman-teman satu angkatanku yang sama menunggu hasil pendaftraran.


“Alhamdulillah, ibu pasti senang mendengar kabar ini,” ucapku dalam hati, setelah melihat surat yang sudah ibu Bk print dan aku baca dengan teliti walau masih tahap pendaftaran, yang berarti bisa mengikuti tes di Universitas yang sama dengan kak Salsa bahkan sesuai dengan jurusan yang aku inginkan.


Langsung saja aku menuju toko sebelum hari ini benar-benar matahari sangat tinggi, sampai di toko dan langsung memberi tahu bapak tentang kabar baik ini.


“Nahkan!, walau bapaknya tidak sekolah tinggi anak bapak dua-duanya bisa,” ucap Bapak, sambil memeluk aku dengan begitu bangganya.

__ADS_1


“Minggu-minggu ini sepertinya Bastian harus segera pindahan pak, biar adaptasi dulu dengan rumah dan segala lingkungan, andai kata tidak keterima ketika sudah ikut seleksi di kampus itu, kalau sudah di sana palingan dengan kak Salsa nanti dibantu pak,” ucapku, sambil duduk di meja kasir, yang akan mengantikan bapak hari ini untuk beristirahat.


Bapak tidak langsung menjawab apa yang aku bicarakan ada sedikit lamunan dengan apa yang barusan aku bicaran “Apa ada yang salah,” ucapku dalam hati.


"Pak gimana malah melamun lagi,” ucapku, sambil menepuk lengan Bapak.


“Oh iya Bas, bisa memang benar begitu lebih baik, sesuai barusan pagi bapak telepon kak Salsa juga menyarankan hal sama dengan kamu,” jawab Bapak.


Walau ada sedikit kenjanggalan dengan kejadian obrolan semalam tentang kecemasan Bapak, tapi kecemasan ini seperti ada hal lain yang sedikit menggoyahkan diriku juga, walau aku tidak benar-benar mengerti dengan perasaan yang aku rasakan saat ini.


“Nanti sore, bapak telepon mang Yaya 4 hari lagi hari Sabtu, Minggu ini, sambil mengkondisikan kak Salsa biar barengan pindah ke rumah nenek yah,” ucap bapak.


Selanjutnya aku menghubungi Ibu di jam istirahat mengajarnya, dan sontak membuat ibu sangat bahagia dengan kabar yang aku berikan, dan ibu sangat senang, beberapa kali mengucapkan selamat, walau masih keterima pendaftaran saja.


“Apa bahagia bisa sesederhana hal seperti ini,” ucapku dalam hati, setelah mengakhiri obrolan dengan Ibu.


Menghabiskan waktu dengan membantu bapak sedikit meringankan dan memberikan waktu istirahat yang lebih untuk bapak, dan tidak jarang aku berbalas pesan dengan kak Salsa.


“Cie lulusan tahun 2012 yang mau jadi anak kampus nih,” pesan dari kak Salsa.


“Haha kak nanti ajak aku keliling yah biar tau,” balasku dengan cepat.


“Tesnya berhasilin dulu masuk bloon, udah pengen main aja adik satu ini, eh serius kita tinggal di rumah nenek?,” balas kak Salsa.


“Iyalah ibu dan bapak emang belum kasih tau kak?,” balasku.


“Yaudah sih, kalau memang kamu keterima memang bakalan beda gedung kampus dengan kakak, kakak yang lebih deket Bas dengan kampus, apalagi jurusan kamu kan beda gedungnya tidak apa-apa emang, dari rumah nenek sih, nanti suruh paketin aja motor tuamu itu mayan irit uang hahaha,” balas kak Salsa.


“Aku kirain kenapa, yaudah hal itu gampang kak, kirain kakak gak mau tinggal di rumah Nenek,” balasku dengan cepat.


Setelah mengakhiri obrolan melalui pesan dengan kak Salsa, aku sudah membayangkan kesuruan yang akan terjadi, apalagi aku dan kak Salsa sudah tidak seperti adik dan kakak, sudah seperti teman dekat, semuanya aku ceritakan, bahkan lebih dekat sekali.


Empat hari berlalu dengan sibuk, aku, Ibu dan Bapak mempersiapkan semuanya, begitu juga dengan mang Yaya yang sudah aku tahu dari cerita ibu emang orang kepercayaan Nenek dulu, walau usianya sedikit lebih tua dari Ibu dan Bapak tapi dari cerita Ibu, mang Yaya orang yang masih keliatan muda, karena memang orangnya dengan pribadi yang sangat ramah dan juga senang becanda.


Setelah semuanya siap, semua barang-barangku terpisah dengan mobil satunya lagi yang dikendarai oleh temanya Bapak, yang nantinya sesuai rencana akan menjemput pindahan juga dari kosanya kak Salsa. Sementara aku, Ibu dan Bapak satu mobil yang Bapak kendarai.


Perjalan menuju kota di mana aku akan belajar segalanya, lumayan memakan waktu yang sangat lama walau perjalan menggunakan jalur tol, yang biasanya normal sekitar 3 jam karena akhir pekan mungkin akan sedikit ngaret, karena padatnya jalur ini. Bahkan dengan mobil satunya lagi sudah terpisah, hanya berkomunikasi via telepon saja.


Di sepajang perjalan Ibu dan Bapak tidak sama sekali bercerita tentang rumah, hanya bercerita tentang mang Yaya, yang selama ini memang Ibu dan dua kakak laki-lakinya yang membayar patungan untuk mang Yaya untuk selalu mengurus rumah tersebut, apalagi memang mang Yaya dari dulu asli daerah itu.


Aku hanya bisa tertawa saja dengan cerita kekonyolan mang Yaya dan semakin tidak sabar untuk sampai di rumah tersebut, apalagi mendengar kabar kalau mobil satunya lagi sudah keluar tol dan masuk ke dalam kota yang beda beberapa menit saja dengan mobil Bapak.


Tidak begitu lama, sudah keluar tol dan masuk ke dalam kota, menikmati macet adalah hal utama yang aku rasakan tidak jauh berbeda sekali dengan di mana lokasi rumahku berada, jadi ini bukan hal baru, hanya meneruskan saja soal kemacetan.


Setelah hampir satu jam lebih, akhirnya mobil sudah berhenti di depan rumah. Pandangan pertamu mengatakan “Rumah tua jaman dulu banget,” ucapku dalam hati, dan tidak lama mang Yaya keluar, benar saja ketika turun dan bersalam jelas keliatan orangnya pribadi sangat hangat.


Setelah itu, bapak memasukan mobil yang gerbangnya dibukakan oleh mang Yaya.


“Lama yah teteh enggak kesini, usia rumah ini dua kali lipat dari usia kita hehe,” ucap mang Yaya.


“Lama sekali, biasa mang masing-masing tahu sendiri dua kakak teteh aja kan sibuk dan beda kota juga jadinya begini,” jawab Ibu sambil berjalan duduk di teras depan.


Aku yang melihat sekeliling hanya kagum saja dengan bangunan seperti ini, masih terawat bahkan catnya keliatan baru, mungkin mang Yaya menyiapkan untuku dan kak Salsa sampai segininya.

__ADS_1


Kekagumanku tidak berakhir hanya melihat bagunannya saja dan luasnya, apalagi melihat tanaman-tamanan yang terawat segar yang berada sekarang tepat di pandanganku, ketika aku sedang duduk menambah keyakinanku bahwa memang rumah ini benar-benar terawat, walau seperti mang Yaya bilang usianya sudah dua kali lipat dari usia Ibu dan mang Yaya.


“Mang halaman belakang juga sama terawatnya seperti ini?,” tanyaku sambil kembali berdiri melihat sekitar rumah.


“Sama Bas, yah gak ada kerjaan lagi amang tiap hari mengurus rumah ini,” jawab mang Yaya sambil tersenyum.


Aku mendengarkan obrolan seru antara Bapak dan mang Yaya, sementara Ibu terlihat olehku bahkan pertama kalinya melamun sambil menghadap ke atap bagunan di samping rumah Nenek, bahkan beberapa kali aku tanya tidak sama sekali menjawab.


“Bu tumben ngelamun kenapa?,” tanyaku ketiga kalinya, sambil menepuk lengan Ibu.


“Oh enggak Bas, Ibu sedang bernostalgia saja jadi ingat masa-masa ibu di sini dengan kakek dan nenek,” jawab ibu dengan terbata-bata, seperti memberikan jawaban yang terpaksa walau masih masuk akal.


“Ada apa emang dengan rumah sebelah bu?,” tanyaku, karena sebelumnya melihat pandangan Ibu kepada rumah itu benar-benar membuat aku bertanya seperti itu, bahkan obrolan Bapak dan mang Yaya sampai berhenti atas apa yang aku tanyakan kepada Ibu.


Hal itu membuat aku juga kaget “apa ada yang salah dengan yang aku tanyakan,” ucapku dalam hati.


Hampir beberapa detik saja tiba-tiba suasana hening, aku yang merasa makin aneh, padahal yang aku tanyakan adalah hal yang paling biasa.


“Rumah sebelah sama Bas, ada atapnya sama dengan rumah ini,” jawab mang Yaya sambil tertawa.


Jawaban itu juga diiyakan oleh Bapak dan Ibu, sambil mereka berdua senyum-senyum, walau bagiku kalimat yang mang Yaya ucapkan tidak sama sekali lucu, aku ikut tersenyum saja menutupi rasa ketidakpuasanku atas apa yang aku tanyakan kepada Ibu.


Tidak lama mobil yang membawa barang-barangku dan barang-barang kak Salsa tiba terlihat dari sorot lampu yang terlihat berbelok ke arah gerbang rumah.


“Lama juga yah untung berangkat tadi siang, jadi sore begini sudah bisa bongkar,” ucap Bapak sambil berdiri dan memarkiri mobil yang baru datang itu.


Bapak dan mang Yaya sibuk menurunkan langsung satu persatu barang-barang, sementara aku baru melihat kak Salsa lagi setelah hampir tiga bulan tidak pernah pulang ke rumah dan langsung saja ketemu kembali di rumah nenek ini.


Ibu dan kak Salsa langsung mengobrol soal kuliah dan banyak hal. Sementara mang Yaya dan Bapak mulai memasukan semua barang dibantu dengan temanya Bapak.


Aku hanya duduk di ruang tamu rumah, melihat beberapa foto yang masih terpampang rapih, sangat rapih bahkan jauh lebih rapih dengan yang ada di rumahku, terlihat foto-foto lama jaman dulu sekali. Barang-barang aku dan kak Salsa menumpuk di ruangan kedua rumah ini.


Ada enam kamar di rumah ini, dua kamar aku dan kak Salsa saling berhadapan dan tiga kamar lainnya kosong, satu kamar sekarang di jadikan mushola oleh mang Yaya, sangat-sangat nyaman sekali, “Seperti kembali ke 30 tahun ke belakang dengan ruangan-ruangan seperti ini,” ucapku dalam hati.


Ibu membantu kak Salsa menata kembali kamarnya, sementara aku dan Bapak merapihkan kamarku, mang Yaya dan temanya Ayah memasangkan Tv yang sengaja aku bawa dari kamarku yang di rumah, semua berkerja sama agar cepat beres, karena rencananya Bapak dan Ibu tidak akan menginap, apalagi Bapak esok harinya harus kembali berjualan.


Karena kamarku tidak terlalu banyak barang seperti kak Salsa, jendela kamarku berdapan ke arah tembok yang menjadi pemisah dengan rumah sebelah yang sebelumnya aku tanyakan kepada ibu itu, sementara kamar kak Salsa berhadapan denganku langsung.


Sudah hampir 3 jam membereskan semuanya, dan tidak terasa adzan magrib berkumandang tepat sekali semua aktivitas beres-beres selesai.


Aku dan kak Salsa tidak ada abisnya becanda-becanda begitu juga dengan mang Yaya, yang membuat tidak jarang mengundang tawa Ibu, Bapak dan temanya.


“Bas, kakak, Ibu malam ini juga pulang lagi, kalian yang nyaman di sini yah, urusan semuanya tanyain aja sama mang Yaya yah,” ucap Ibu yang kemudian melaksanakan Ibadah sebelum pulang.


“Aman, nanti amang yang kasih tahu aturan di rumah ini, kaya sekolah biasa ada aturanya,” jawab mang Yaya dengan becanda.


“Yehh… sekolah kuliah mang,” jawab kak Salsa sambil tertawa.


Karena memang raut wajah dan tutur kata mang Yaya terbilang humoris sekali, selalu bisa membuat suasana kembali ceria begitu saja, yang membuat aku sedikit tidak khawatir dengan selanjutnya akan tinggal di rumah ini.


“Iya mang maklumin kalau anak-anak seperti ini yah,” sahut Bapak dengan nada serius.


“Tenang pak, amang sudah biasa lagiankan amang tidak punya anak, pasti akan amang anggap seperti anak sendiri,” jawab mang Yaya meyakinkan Bapak.

__ADS_1


Tidak lama setelah Bapak, Ibu dan temannya selesai siap-siap setelah melaksanakan Ibadah mereka pamit pulang dengan pesan-pesan dari Ibu untuku dan kak Salsa yang sangat banyak, satu persatu aku dengarkan baik-baik. Karena selebihnya, aku tahu itu hanya sebatas rasa khawatir saja yang ibu ucapkan.


Bersambung


__ADS_2