
Sore itu semua petugas puskesmas sudah pulang. Pak Sukra memberikan kunci puskesmas kepadaku. Malam ini aku mau menginap saja di puskesmas. Kebetulan ada hal yang mau kukerjakan. Aku akan menyusun rancangan penyuluhan terhadap masyarakat tentang pentingnya keselamatan saat bersalin.
Lebih dari itu, jujur saja aku masih trauma kalau harus pulang ke rumah Dinda. Ada yang tak beres sama mboknya. Dan, aku yakin bidan yang pernah tinggal di rumah Dinda juga mengalami hal yang sama.
Selepas magrib kututup gerbang puskesmas lalu mengunci pintu rapat-rapat. Aku mulai bekerja menyusun rancangan dan materi untuk penyuluhan. Selang beberapa saat ada yang mengetuk pintu. Sepertinya ada yang mau berobat. Segera aku beranjak dari tempat duduk dan langsung membukakan pintu.
Di depanku berdiri seorang perempuan berbaju daster yang sedang hamil tua. Dia memegangi kandungannya sambil meringis kesakitan.
“Tolong aku, Bu!” katanya dengan suara yang tertahan.
“Ya ampun…! Silakan masuk, Bu,” kataku.
Jelas saja aku kaget dan langsung membawanya ke ruang rawat. Dia mengaduh kesakitan, ketubannya sudah pecah. Belum sempat kutangani, jabang bayi dalam perutnya malah keluar duluan. Wanita itu terengah-engah. Keringat membasahi wajahnya.
Bayi itu menangis dengan kencang dan saat hendak kupotong tali ari-arinya. Tiba-tiba saja bayi itu malah tersenyum. Kedua matanya membesar dan berkedip-kedip. Dia loncat dari pangkuanku lalu berjalan-jalan di lantai. Seluruh tubuhnya masih berlumur darah.
Aku berteriak sambil minta tolong. Wanita yang barusan melahirkan sekarang sudah berdiri di hadapanku. Wajahnya datar dan pucat. Dari mulutnya keluar darah kental warna hitam. Aku semakin menjerit histeris minta tolong.
Aku lari keluar puskesmas. Tapi, setibanya di halaman puskesmas aku bingung mau lari ke mana. Puskesmas itu jauh dari perkampungan warga. Kulihat wanita itu masih memperhatikanku dari balik jendela puskesmas sambil menggendong bayinya yang masih berlumur darah.
“Tolong...!” aku lari ke jalan sambil berteriak. Kunyalakan senter handphone sebagai penerang jalan.
Jalanan itu sangat sepi dan gelap. Daripada tetap tinggal di puskesmas itu, lebih baik aku lari saja ke perkampungan warga. Walau pun perkampungan itu jaraknya cukup jauh dari puskesmas, aku tetap memberanikan diri menembus gelap dan kabut.
Langkahku terhenti saat mendengar suara derum motor. Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Lalu, cahaya lampu motor menyilaukan mataku. Sambil memicingkan mata, kuhalangi mataku dengan tangan kanan.
Ternyata itu Pak Sukra. Kebetulan sekali dia datang. Aku langsung lari menghampirinya.
“Pak, tolong saya, Pak!”
“Lho, Mbak Maya kok ada di sini?” tanya Pak Sukra.
“Di puskesmas ada setan, Pak!”
“Hah, setan?” Pak Sukra terkejut mendengar kesaksianku.
“Iya, Pak. Tolong antar saya pulang.”
“Ya sudah naik, Mbak.”
Aku pun segera menaiki motornya Pak Sukra. Di perjalanan dia terus menasihatiku untuk tidak melamun. Katanya saat kita melamun, setan dan jin mudah mengelabui kita.
“Aku nggak melamun, Pak. Aku lihat dengan jelas kalau ada pasien yang mau melahirkan,” sanggahku.
“Nah, saya yakin itu bukan manusia. Lagipula warga kampung sini pada nggak mau pergi ke bidan, Mbak.”
“Saya tahu itu, Pak. Ayo, Pak, bawa motornya ngebut aja saya takut,” pintaku.
Wajah wanita tadi masih melekat di benakku. Apalagi saat dia memuntahkan darah hitam dan kental. Darah itu juga bau. Aku yakin ***** makanku hilang untuk beberapa hari ke depan.
“Tadinya saya mau anterin makanan buat Mbak Maya ke puskesmas. Kebetulan istri saya masak banyak,” Pak Sukra memperlambat kembali laju motornya karena sudah memasuki perkampungan warga.
“Terima kasih banyak, Pak. Untung saya ketemu sama bapak," kataku. Akhirnya aku bisa bernapas lega.
Tak lama kemudian kami tiba di depan rumah Dinda. Kulihat Dinda sedang berdiri di depan pintu. Dia ternyata menungguku pulang. Aku tidak sempat memberitahunya kalau akan menginap di puskesmas.
“Mampir dulu saja, Pak,” kataku pada Pak Sukra.
“Oh, terima kasih, Mbak. Istri saya udah nungguin di rumah. Ini makanannya Mbak ambil aja,” Pak Sukra menyodorkan rantang yang dibungkus plastik hitam.
“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak. Jadi ngerepotin terus,” kuambil rantang itu.
“Iya nggak apa-apa, Mbak. Dimakan ya, Mbak. Itu masakan istri saya pasti enak,” ujar Pak Sukra sambil nyengir.
“Iya, Pak, pasti.”
Dia pun pergi. Aku dan Dinda kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Maaf, Mbak nggak bilang ke kamu kalau mau nginep.”
“Iya, Mbak, nggak apa-apa. Sebenarnya aku nyariin Mbak Maya karena dari tadi siang Mbokku minta dikeloni sama Mbak.”
Langkahku terhenti karena mendengar penjelasan Dinda.
“Minta dikeloni?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Iya. Tolong ya, Mbak. Dari siang Mbok nggak mau makan. Nyariin Mbak Maya terus. Minta dikeloni,” Dinda memegang lengan kananku.
"Mbok kamu udah bisa bicara?" tanyaku pada Dinda.
"Iya Mbak. Aku juga kaget soalnya udah lama banget Mbok nggak bisa bicara. Dan sekarang malah manggil-manggil nama Mbak Maya terus," jelas Dinda.
Ini ada apa lagi? Baru saja aku melihat hantu di puskesmas dan sekarang disuruh ngelonin Mbok Ibah yang menyeramkan itu.
“Aneh ya? Gimana ya, Din. Emmm…,” aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Kamu tahu sendiri kan kalau aku takut sama Mbokmu itu.”
“Ayolah, Mbak, kali ini saja. Biar Mbok saya mau makan, Mbak. Kasihan dia,” kata Dinda. Kulihat matanya sudah berkaca-kaca.
Aku tidak tega kalau harus melihatnya menangis.
“Baiklah. Tapi, jangan lama-lama,” akhirnya aku mengiyakannya.
Dinda membawaku ke kamar Mbok Ibah. Seperti biasa engsel pintu itu berbunyi nyaring saat dibuka.
“Maya…,” desis Mbok Ibah. Suara itu kering dan terkesan mengerikan. Sama persis dengan suara yang kudengar tadi pagi.
Mbok Ibah tidur di atas ranjangnya dengan posisi membelakangiku. Ragu-ragu aku mendekatinya.
“Mbok…?” sapaku.
“Keloni aku, Nak…,” Mbok Ibah membalikkan badan. Dia menatapku dalam-dalam.
“Iya, Mbok. Tapi, habis ini Mbok harus makan ya,” aku duduk di tepi tempat tidurnya.
Mbok Ibah lalu membelakangiku. Perlahan kupeluk tubuhnya yang kurus dan ringkih. Tubuh itu tinggal tulang dan kulit. Aku dapat merasakan benjolan-benjolan tulang di tubuhnya. Dinda malah keluar lalu menutup pintu kamar.
“Dinda mau ke mana?” tanyaku sambil bangkit dari tempat tidur. Jujur saja aku takut kalau harus berduaan di kamar dengan Mbok Ibah.
“Dinda?” aku terus memanggilnya.
Dan saat menoleh kembali ke Mbok Ibah, posisi tidurnya berubah. Sekarang ia telentang. Kedua matanya melotot dan mulutnya menganga.
“Mbok?!” kusentuh lehernya.
Tidak ada denyut nadi di sana.
"Mbok!" kusentuh juga dada kirinya. Tak ada detak jantung di sana.
Dia meninggal entah kenapa. Kejadian ini membuatku panik dan langsung lari keluar kamar mencari Dinda.
“Kenapa Mbak?!” Dinda muncul dari dapur dia memegang semangkuk bubur.
“Mbokmu meninggal…,” kataku.
Seketika saja mangkuk berisi bubur yang sedang ia pegang terjatuh. Bubur itu berhamburan di lantai.
“Ya ampun, Mbok!” dia lari ke kamar Mbok Ibah dan langsung memeluk neneknya itu.
Dinda menangis sejadi-jadinya sambil terus mengelus kepala mboknya. “Jangan tinggalin aku Mbok,” rengek Dinda.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kejadiannya sangat cepat sekali, aku menduga kalau Mbok Ibah terkena serangan jantung.
“Dinda…, Din!”
Ada orang yang mengetuk pintu. Dinda tidak memedulikannya dan terus menangisi Mbok Ibah. Segera kubuka pintu itu, tampak seorang lelaki paruh baya berdiri di hadapanku.
__ADS_1
“Saya dengar Dinda nangis kenapa ya?” tanya lelaki itu. Dia adalah tetangganya Dinda.
“Mboknya Dinda meninggal, Pak.”
“Innalillahi…,” ucap lelaki itu. Tanpa dipersilakan masuk ia langsung menerobos ke kamar Dinda. Aku mengikutinya dari belakang.
“Mbok kamu meninggal kenapa, Dinda?” tanya lelaki itu.
“Nggak tahu, Pak Rahmat. Tadi Dinda lagi bikin bubur dan tiba-tiba aja Mbok meninggal.”
“Mungkin Mbok Ibah kena serangan jantung, Pak.”
Pak Rahmat menoleh ke arahku.
“Hari ini mbokku udah bisa bicara, Pak. Aku kira Mbok bakalan sembuh,” Dinda menyeka air matanya dengan tangan kanannya.
“Yang sabar ya, Dinda. Kita ini milik Allah dan akan kembali ke Allah. Sekarang kita urus jenazah mbokmu ya,” Pak Rahmat mengelus rambut Dinda.
Malam itu juga Mbok Ibah dimandikan lalu dikafani. Hanya sedikit warga yang datang melayat. Mungkin besok pagi akan lebih ramai.
Jenazah Mbok Ibah dibaringkan di ruang tengah. Hanya aku dan Pak Rahmat yang mengaji di samping jenazah Mbok Ibah. Sementara Dinda hanya menangis tersedu-sedu di sampingku.
“Kamu bisa ngaji?” tanyaku kepada Dinda.
Dia menggelengkan kepala.
“Ya sudah kalau begitu doakan saja mbokmu biar masuk surga ya,” kataku sambil merangkul pundak Dinda.
Tengah malam Pak Rahmat pamit pulang. Dia bilang esok pagi akan ke sini lagi buat mengurus pemakaman Mbok Ibah. Aku heran kenapa warga kampung ini nggak ada yang mau menemani kami.
“Kenapa nggak ada yang mau temani kita, Din?” tanyaku sambil menutup pintu rumah.
“Mungkin karena Mbok pernah jadi dukun santet.”
“Dukun sa… santet?” aku mengerutkan dahi. Dinda tidak pernah cerita soal ini.
“Iya. Dulu mbokku terkenal sebagai dukun santet. Banyak orang dari kota yang datang ke kampung ini cuman buat minta bantuan ke mbokku.”
Dinda menoleh ke arahku. Dia lalu bangkit dari duduknya dan mengajakku ke kamar Mbok Ibah. Dia membuka laci tua lalu mengeluarkan benda yang dibungkus dengan kain putih.
Perlahan Dinda membuka kain itu. Kulihat ada boneka jerami, jarum, pisau kecil, dan sebuah batu akik yang berkilau.
“Ini benda milik Mbok. Dulu pas Mbok masih sehat, aku sering melihatnya sedang melakukan ritual nyantet,” jelas Dinda.
“Ya sudah letakkan kembali barang mbokmu. Dia sudah meninggal. Lebih baik kita jangan membicarakan keburukannya ya,” aku menyentuh pundak Dinda.
“Bagiku profesi Mbok Ibah bukan aib. Aku mau jadi dukun santet kayak dia,” ucap Dinda dengan tatap wajahnya yang kosong.
“Huss! jangan bilang kayak gitu. Membunuh orang itu bukan pekerjaan yang mulia,” aku yakin psikis Dinda terganggu. Makanya dia ngomong seperti itu.
“Kalau yang kita bunuh orang jahat, kurasa membunuh jadi pekerjaan yang mulia,” Dinda menyanggah.
“Keburukan jangan dibalas dengan keburukan juga, Dinda. Orang jahat serahkan ke polisi, biar hukum negara yang membalasnya,” kataku sambil tersenyum. Aku terus menasihatinya.
Dinda meletakkan kembali barang milik mboknya ke dalam laci. Kami lalu kembali ke ruang tengah dan tidur di samping jenazah Mbok Ibah.
Tengah malam, aku terbangun dari tidur karena kedinginan. Namun, aku dibuat terkejut lantaran Dinda dan jenazah Mbok Ibah hilang. Ke mana mereka?
Kudapati pintu rumah terbuka lebar, padahal sebelum tidur aku sudah menguncinya. Di luar hujan turun sangat lebat. Sesekali petir menyambar dan cahaya kilatnya menyilaukan mataku.
“Dinda?!” panggilku.
“Mbak Maya…, sini main, Mbak!” itu suara Dinda.
Pelan-pelan aku mendekat ke pintu. Di halaman rumah ada Dinda yang sedang hujan-hujanan dengan jenazah mboknya yang masih dibungkus kain kafan. Jenazah itu tergeletak begitu saja di halaman rumah, sedangkan Dinda loncat-loncat di samping mboknya. Sesekali dia menciumi pipi mboknya itu.
“Sini, Mbak, main sama kita! Mbokku hidup lagi…!”
__ADS_1