
Cerita kali ini adalah sebuah cerita perjalan mistik, kebetulan Narsum adalah sahabat saya (penulis) sendiri, bahkan sudah seperti keluarga yang saya anggap seperti kakak saya sendiri.
Narsum setuju cerita perjalananya saya bagikan dengan tujuan hanya berbagi saja, selebihnya tidak berharap ada atau terjadi kejadian di luar dari cerita kali ini.
Jika beberapa pihak ada yang merasa tersinggung, saya mohon maaf dari awal, karena cerita ini adalah kisah nyata! sebuah perjalanan mistik, bersembunyi dalam terang!
Langsung saja saya mulai ceritanya.
Bersembunyi Dalam Terang
Sebuah Kisah Perjalan Mistik
-Sudut pandang Andi-
Tidak terassa berjalanya waktu begitu cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah sebuah perjalan yang selalu menyimpan banyak cerita, walau ceritaku adalah lain (mungkin) hanya sebagian orang yang merasakanya seperti sama dengan apa yang aku rasakan.
Senang dengan sedih, bahagia dengan kecewa, senyum dengan marah, cobaan dan titipan adalah pasangan yang selalu memberikan banyak makna walau banyak lagi selain itu yang menghiasi warna-warna dalam kehidupan.
Pendidikan yang tidak mempuni, berlatar belakang dari keluarga yang seadanya jauh dari kata cukup serta berpindah-pindah pekerjaan adalah sebagian kecil gambaran hidupku, yang aku jalani tidak pernah lepas dari sebuah senyuman.
Sampai tidak terasa dengan waktu yang cepat sudah 12 tahun aku menekuni pekerjaanku sebagia tukang pangkas rambut, tapi perjalan mistik adalah mungkin jalan hidupku yang aku terima dengan lapang dada, karena aku selalu yakin pencipta tidak pernah main-main menentukan suatu takdir untuk ciptaanya dan baginya bumi dan isinya terlalu kecil, dibandingkan dengan besarnya kuasa yang maha itu.
Selama waktu itu juga, pada kondisi saat ini atas jerih payah dan dukungan dari keluarga hal yang tidak mungkin, bisa saja jadi mungkin karena ada keinginan dan perjuangan di dalamnya. Aku sekarang mengontrak tempat di kampung halamanku (Kabupaten), tempatnya strategis dekat pasar, tidak terlalu jauh dari rumah, sebuah tempat yang aku beri nama Hijau Pangkas (tempat pangkas rambutku).
Pagi sampai sore hari aku habiskan waktu untuk keluarga karena aku memiliki satu anak perempuan paling kecil aku panggil “Dede” dan kakaknya laki-laki aku selalu panggil “kakak” panggilan terdekatku saja, aku berkerja hanya pada sore hari setelah waktu ibadah solat Magrib dan tutup sampai sepi, karena pagi hari sampai sore ada satu temanku, Daud yang sudah ikut aku hampir 3 tahun lamanya.
Pada suatu sore, hari ini, setelah mengantarkan kedua anakku ke rumah neneknya karena memang tidak terlalu jauh dari rumahku, dengan alasan ibuku sudah memasak makanan kesukaan si dede dan si kakak.
Baru saja turun dari kendaraaan roda duaku, karena sudah sampai rumah, tiba di ruang tengah rumah yang tidak terlalu besar ini, aku melihat istriku duduk dengan tatapan yang kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Heh mah, sore-sore malah melamun kenapa,” ucapku, sambil duduk di sebelahnya.
“Barusan bu Budi kesini nanyain aa, minta tolong anaknya pengen diliat sama aa, katanya setiap abis magrib suka kerasukan,” ucap Imas (istriku).
Tidak biasanya Imas memasang muka yang cemas seperti itu, biasanya jika istiriku sudah seperti ini pasti ada yang tidak baik-baik saja.
“Maksudnya? Kan aku tidak bisa apa-apa mah,” tanyaku, sambil menatap Imas.
“Bu Budi itu sudah ke orang bisa gitu a, barusan aku tidak tega ngeliatnya sampe nangis, duduk di sini. Malahan, katanya barusan juga berpapasan dengan aa di jalan pas aa sama si kakak sama dede kayanya, sudah satu bulan lebih a seperti itu, kasian,” jawab Imas.
Memang kabar beredar tentang Sely anaknya pak Budi sudah terdengar, dari salah satu langganan di pangkas rambutku itu, karena memang keluarga besar pak Budi sendiri orang paling terpandang, apalagi di dunia pemerintahan banyak keluarganya orang penting dan mempunyai jabatan.
Sementara bu Budi adalah salah satu ibu-ibu yang selalu rutin mengadakan pengajian dan Imas salah satu yang sering ikut pengajian bu Budi.
“Kenapa aa yang sekarang jadi melamun sih a!?” tanya Imas, dengan nada kesal.
“Mah, mamah lihat... aku aja tampilanya begini, mungkin orang-orang tidak akan percaya dengan apa yang aku bisa, lagian aku bisa apa? kalau Sely anaknya bu Budi mau dipangkas rambutnya aku bisa,” jawabku sambil becanda.
“Gak lucu a! Sumpah! Kerasukanya sampai mengelurkan darah a, kasian,” ucap Imas.
__ADS_1
“Iya-iya nanti aku ke rumahnya berkunjung saja, sebagai hormat aku karena bu Budi sudah berkunjung juga kesini, ngucapin terimakasih saja yah,” jawabku dengan tenang.
Akhirnya Imas tersenyum dengan apa yang sudah aku katakan, dan memang aku tau betul bagaimana caranya bikin istriku hanya untuk sekedar tenang, bukankah wanita selalu menyukai hal itu begitu juga dengan aku, ketenangan.
Aku berniat berkunjung ke rumah bu Budi sebelum magrib saja, sebelum datang ke pangkas rambut, yang memang kebetulan rumahnya bakal aku lewati. Di usiaku yang tidak muda lagi, karena aku lahir tahun 1980 awal dan hanya beda 5 tahun dengan istriku yang jauh lebih muda, walau sekarang malah aku terkesan lebih muda, karena mungkin penampilanku yang aku sesuaikan dengan pekerjaanku, memangkas dan banyak bertemu dengan orang-orang baru.
“A itu tidak biasanya si Robin dari tadi berisik banget... udah dikasih makan belum,” ucap istriku dari arah dapur, kebetulan aku sedang mengelap motor di rumah bagian depan.
Tidak biasanya sore-sore begini si Robin (ayam pelung) bersuara biasanya juga ayam pemalas. Kemudian aku berjalan langsung lewat samping rumah menuju kandang si Robin.
“Astaghfirullahaladzim,” ucapku dengan gemeteran.
Bagiamana Robin tidak berisik! Aku melihat ada 5 kera besar, yang sedang mengelilingi kandang Robin.
“Eh malah melamun, nih kasih A, takutnya lapar kasian,” ucap Imas dari pintu dapur.
Segera aku kasih Robin makan dengan kera-kera itu masih saja tidak bisa diam, dan seperti biasanya, istirku sama sekali tidak melihat keberadaan kera-kera itu.
Aku yakin ini bukan kera biasa dan tidak tau kenapa harus ada disini, di halaman belakang rumah. Sambil membaca ayat-ayat dalam hatiku, dan sepertinya Robin sangat terganggu sekali dengan keberadaan kera-kera tersebut.
Suara khas dari kera-kera itu sangat berisik sekali, entah apa maksudnya sambil terus mencoba memberi makan robin, walau aku tau Robin bukan ingin makan melainkan terganggu, aku masih berpikir dan memperhatikan kera-kera itu.
Tidak lama salah satu dari kera itu memuntahkan darah sangat kental, bahkan lebih kental dari pada darah pada umumnya, seketika kera yang lainya bersorak seperti ada sebuah pesta, terlihat sangat senang sekali. Suaranya jauh lebih keras, sangat keras.
“Ya Allah aa... kenapa muntah begini, masuk angin?,” ucap Imas sambil mendekat padaku, dengan tatapan yang penuh khawatiran.
“Udah ayo masuk, kerokin saja mah punggung aku, sepertinya masuk angin,” jawabku, sambil mengajak Imas masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
“Tumben sekali sih a, segala muntah, mamah liatin aa malah ngelamun lagi deket kendang si Robin, liat apa lagi a?” ucap Imas, kelihatan sangat cemas sekali.
“Engga mah, biasa aja, mungkin kurang istirahat saja,” jawabku dengan tenang, agar tidak membuat Imas cemas.
“Yasudah, sudah dikerokin gini nanti berangkat ke pangkas pake jaket yang agak tebelan, lagian gak usah jemput si dede sama si kakak, barusan mamah udah nyuruh adik mamah anterin ke rumah kalau udah mau pulang,” ucap Imas dengan perlahan.
Padahal aku masih saja menatap kera-kera itu semakin menjadi, semakin liar dan anehnya, Robin malah makin diam. Aku terus perhatikan dan tidak henti-hentinya bacaan dalam hatiku terus aku ucapkan.
“Mamah nginap di rumah bapak saja yah malam ini, biar anak-anak juga engga pulang ke rumah, sekalian nanti aku ke pangkas, aku antarkan,” ucapku dengan nada sangat datar.
“Iya, mamah siap-siap dulu yah,” jawab Imas, langsung bergegas.
Imas pasti paham dengan sikapku yang kadang berubah mendadak seperti ini, pasti dia akan bertanya dengan seribu pertanyaan setelah melihat aku kembali seperti biasa.
Akhirnya aku biarkan saja kera-kera itu masih bergerak aktif di dekat kandang Robin,walau beberapa sudah ada yang diam dan hanya mentap ke arahku dengan sangat tajam.
Hari semakin sore, tepat jam 17:00 aku dan istriku Imas pergi meninggalkan rumah, setelah aku bersiap dan kembali mengecek ke kandang Robin, ternyata kera-kera itu sudah tidak ada dengan sendirinya, “pertanda apa ini” ucapku dalam hati dengan gemetaran tanganku.“Ayo, sudah sore, takut entar aa telat ke pangkas, kasian si Daud pasti nunggu aa datang,” ucap Imas.
Perlahan perasanku semakin membaik, tidak terlalu memikirkan lagi soal kera-kera barusan, tapi niatku berkunjung ke rumah bu Budi tidak tahu kenapa perlahan aku urungkan, walaupun tanpa alasan yang jelas.
“Mamah turun di depan aja a, aa jangan ke dalam nanti kalau ke dalam anak-anak kamu tau sendiri pasti rusuh,” ucap Imas, ketika sudah sampai di depan rumah orang tuaku, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah.
__ADS_1
“Iya aku langsung ke pangkas saja yah mah,” jawabku perlahan.
“Heh! Katanya mau ke rumah bu Budi, ayolah a kasian berkunjung dan mengucapkan rasa terimakasih enggak ada salahnya,” jawab Imas dengan sedikit mengome.
ADVERTISEMENT
Akhirnya aku berjalan menuju pangkas, kebetulan pasti melewati rumah bu Budi itu. Dari rumah menuju pangkas rambutku tidak terlalu jauh, 15 menit dengan kecepatan sedang mengendarai roda dua kendaraan sudah pasti sampai.
Tidak lama aku sudah berada tepat di rumah bu Budi, di depan gerbang masuknya, yang memang rumahnya terbilang paling besar di daerah di mana aku tinggal, aku melihat sekitar hanya ada beberapa mobil yang terparkir tepat di halaman rumahnya, tidak ada orang sama sekali.
“U… aku sepertinya telat datang ke pangkas, mau berkunjung dulu ke rumah bu Budi, ada keperluan, kalau mau pulang tutup dulu juga gak apa-apa, atau titipkan saja ke si Yayan,” isi chat whats app yang aku kirim kepada Daud.
“Pasti si Uu bakalan lama balasnya, palingan sedang banyak yang antri di pangkas,” ucapku dalam hati, baru saja mebakar satu batang rokok sambil tetap melihat sekitar, berharap ada orang yang melihat keberadaanku ini. Tiba-tiba dari arah kejauhan terlihat perempuan tua berjalan menuju arahku, ke arah gerbang di mana aku masih duduk di atas kendaraan roda duaku ini.
“Pak Andi, alhamdulillah, ibu sudah menunggu pak di dalam silahkan masuk,” ucap perempuan tua itu sambil membukaan pintu gerbang.
“Iya betul ibu, mohon maaf sebelumnya, kenapa ibu bisa tau nama saya langsung hehe,” ucapku sambil mencium tanganya, bersalaman.
“Kan Ibu sudah bilang, barusan sepertinya Ibu bicara dengan istri pak Andi, makanya pas Ibu lihat di jendela langsung suruh saya buka gerbang,” jawab perempuan tua menjelaskan.T
Segera aku masukan kendaraanku ke dalam dan mengambil parkir di sebelah mobil-mobil yang sudah berjajar.
“Baru pertama aku masuk ke dalam, ternyata di dalam jauh lebih besar bangunan rumah ini,” ucapku dalam hati.
“Ayo pak Andi masuk, di dalam sudah ada para ustad-ustad juga yang baru selesai ikhtiar nyembuhin non Sely,” ucap perempuan tua, sambil membukakan pintu.
Benar saja di dalam sudah ada 3 orang yang berpakaian rapih. Menggunakan kopiah dan tentunya juga sorban, aku langsung mengucapkan salam.“Assalamualaikum…” ucapku, sambil bersalaman mencium tangan satu persatu tamu yang perempuan tua itu adalah ustad-ustad dan tidak lupa juga kepada pak Budi yang memang ada sedang berkumpul.“Ndi, silahkan-silahkan duduk,” ucap pak Budi sangat ramah sekali.
Segera aku duduk dengan sangat sopan, tapi mungkin ketiga orang tersebut merasa aneh dengan kedatangku ini, apalagi melihat penampilanku dengan menggunakan celana robek di bagian lutut sebelah dan menggunakan kaos band, mungkin lagi dipikiran mereka “siapa orang ini” karena tatapanya jelas, tatapan meragukan walau tidak menjatuhkan atau meremehkan aku.Aku hanya membalas tatapan mereka dengan tersenyum saja.
“Tadi setelah Asar ibu datang ke rumah Andi, pulang-pulang cemberut katanya kebetulan tidak bertemu, kata saya kebetulan itu harusnya ketemu hehehe," ucap pak Budi sambil becanda.
“Iya pak, ibu mohon maaf kedatangan saya ke sini tidak lain dan tidak bukan mau mengucapkan terimakasih kepada ibu yang sudah berkenan datang ke rumah saya, dan mohon maaf sekali waktu ibu kerumah sepertinya saya sedang berada di jalan mengantarkan anak-anak ke rumah kakek dan neneknya,” jawabku dengan perlahan.“Tidak apa-apa Ndi, lagiankan, akhirnya juga nak Andi kesini, istri nak Andi sudah cerita, dan menyampaikan pesan kepada nak Andi?” tanya bu Budi.
“Alhamdulillah sudah bu, tapi kedatangan saya ke sini sekali lagi, berterimaksih dan silaturahmi saja mampir, sekalian mau berangkat ke pangkas,” ucapku dengan perlahan.
Tiga orang tamu lainya masih sama terlihat heran melihatku, entah apa yang ada dipikiran mereka, baru saja aku selesai bicara, tiba-tiba suara kera yang sebelumnya sudah aku dengar dan hapal betul ada lagi, benar saja posisiku duduk menghadap ke arah tangga dan kera-kera mungkin sama sebelumnya ada di dekat kandang Robin, sekarang satu persatu turun dan berdiam di tangga jumlahnya jauh lebih banyak sangat banyak!.
“Anak bungsu saya Sely sudah sakit lama, medis dan segala hal termasuk bapak-bapak ini sudah mencoba dan berusaha menyembuhkannya, tapi hasilnya selalu sama dan tetap mengeluarkan muntahan darah,” ucap pak Budi dengan perlahan.“Harusnya, dengan muntahan darah seperti itu, mempengaruhi ke hal medis, tapi dari medis tetap mengatakan; anak ibu hanya kurang istirahat saja, jauh sekali dengan kenyataanya, kerasukan hampir setiap waktu menuju sore berakhir, pasti terjadi,” sahut bu Budi menambahkan.“Mohon maaf ibu, bapak sekiranya lancang, saya juga sama tidak bisa menyembuhkan orang sakit, kita juga sama selanyaknya manusia, tapi kepercayaan ibu berkunjung ke rumah sudah sangat membuat saya merasa dihormati, cara saya menghormati balik hanya berterimaksih kepada Ibu dan bapak,” ucapku menjelaskan dengan perlahan.Baru saja selesai aku bicara tiba-tiba, perempuan tua yang sebelumnya datang membukakan gerbang untukku, turun dari lantai dua dengan terlihat rusuh, sangat buru-buru sekali.
“Bu, bapak maaf non Sely seperti biasa lagi, sekarang lebih parah muntahanya malah dibalurkan ke muka, saya udah berusaha menahan, tenaganya makin besar,” ucap perempuan tua dengan panik.Ucapan perempuan tua itu membuat seisi di ruang tamu ini menjadi sangat kaget termasuk aku, tiga orang itu segera bergegas mengikuti langkah bu Budi yang langsung menuju lantai dua rumah, sementara aku masih saja duduk berdua dengan pak Darma. “apa ketiga orang itu tidak melihat kera yang sangat banyak” ucapku dalam hati.“Andi, tolonglah bapak, sudah terlalu lama Sely sakit tidak wajar seperti ini, tolong sekali…” ucap pak Budi, dengan sangat memelas.
Aku tidak tega melihat orang seperti ini, aku juga paham terlepas dari apapun masalahnya, rasa cinta orang tua kepada anaknya begitu tulus, sama denganku karna memiliki anak juga.Aku masih diam, menatap ke arah tangga yang masih banyak kera-kera itu diam, pak Budi tidak bicara lagi hanya memperhatikanku dengan tatapan heran.
“Andi melihat apa sampai segitunya?,” tanya pak Budi.
“Tidak pak, baik saya akan mencoba melihat non Sely saja ke atas, bilanya yang memiliki kekuasaan akan bumi serta isinya ini (AllahSwt) mengizinkan saya dan membisakan saya menyembuhkan anak bapak, insallah saya usahkan pak,” ucapku dengan perlahan.Keringat di badanku perlahan turun, rasa mual ketika di rumah kembali juga aku rasakan “apa ini kaitanya, kera-kera di rumah yang membuat aku sampai muntah,” ucapku dalam hati.
“Alhamdulillah, baik Ndi mari dengan saya ke kamar anak saya,” jawab pak Budi terlihat tenang.Segera aku berjalan mengikuti langkah pak Budi, melewati kera-kera yang masih diam di tangga, anehnya ketika pak Budi melewati kera-kera tersebut, tiba-tiba mereka langsung seperti girang! bersuara semakin keras, sangat keras. Aku abaikan saja dan terus berjalan melewati satu persatu anak tangga.
__ADS_1
Bersambung...