Hantu Villa

Hantu Villa
Dinas Bidan Part 3


__ADS_3

Kamu apa-apaan Din! Mbokmu sudah meninggal! Hargai mbokmu!” aku meneriakinya.


“Mbokku hidup lagi kok hahaha…,” Dinda lari-lari kecil mengelilingi jenazah mboknya.


“Dinda! Mbak bilang hargai Mbok kamu!” aku menerobos hujan yang kian lebat, menghampiri Dinda.


Kain kafan Mbok Ibah basah kuyup dan kotor, “Astagfirullah! Dinda apa-apaan kamu! Sadar Dinda sadar!” kupegang erat kedua tangannya agar dia mau diam.


“Lepasin Mbak ih…!” dia berontak.


“Ada apa ini?!” Pak Rahmat muncul dengan membawa payung.


“Kenapa jenazah Mbok Ibah ada di sini?!” Pak Rahmat terkejut melihat jenazah itu.


Dia langsung membopong jenazah Mbok Ibah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dinda susah sekali dikendalikan, dia malah menangis sambil memanggil-manggil mboknya. Pak Rahmat kembali tanpa menggunakan payung, dia langsung memangku paksa si Dinda yang masih mengamuk.


“Istigfar Dinda!” bentak Pak Rahmat.


Aku basah kuyup. Pak Rahmat membawa Dinda masuk ke dalam rumah, dia membisikkan ayat-ayat suci di telinga Dinda. Sementara aku masih syok melihat tingkah Dinda yang tiba-tiba aneh seperti itu. Aku menoleh ke jenazah Mbok Ibah, kain kafannya harus diganti.


Setelah dibacakan ayat suci akhirnya Dinda melunak, tatap matanya kosong, ia tampak kelelahan. Setelah itu, aku mendengar suara ledakan kecil dari dapur, buru-buru kuhampiri sumber suara itu. Makanan pemberian Pak Sukra acak-acakan di lantai, entah apa yang terjadi. Kenapa bisa begitu?


“Ada apa Mbak?” tanya Pak Rahmat.


“Nggak tahu Pak. Tadi ada ledakan, terus makanan pemberian Pak Sukra tumpah gitu aja.”


“Kayaknya tumpah sama kucing,” ucap Pak Rahmat.


“Iya kali Pak,” aku langsung membersihkan makanan yang berserak di lantai.


“Nanti pagi kita ganti kain kafan Mbok Ibah karena sudah kotor,” kata Pak Rahmat.


“Iya Pak. Udah kotor banget kain kafannya.”


Keesokan paginya, jenazah Mbok Ibah dikuburkan. Tidak banyak warga yang membantu pemakaman itu. Dinda masih menangis meratapi mboknya, kedua matanya sembap, aku berkali-kali menasehatinya agar tetap tabah. Setelah pemakaman selesai, aku langsung berangkat ke puskesmas. Jujur saja, sebenarnya aku masih syok dengan kejadian semalam, tapi aku harus tetap bertugas dan kali ini aku akan pulang tepat waktu.


Seperti biasa, puskesmas sepi. Para pegawai di sana kerjaannya hanya main handphone dan ngobrol, sedangkan aku mengerjakan kembali rancangan untuk penyuluhan.


“Selamat pagi Mbak Maya…,” sapa Pak Sukra.


“Pagi Pak?”


“Saya dengar mboknya Dinda meninggal ya?” dia duduk di sampingku.


“Iya Pak semalam dan sudah dimakamkan,” kataku sambil menoleh padanya.


“Turut berdukacita ya Mbak,” ucap Pak Sukra.


“Iya kasihan Dinda, Pak,” aku kembali ke layar laptopku.


“Makanan istri saya enak nggak Mbak?” dia kembali membuka obrolan.


“Duh maap Pak. Aku nggak sempat makan pemberian bapak soalnya semalam sibuk banget sampai nggak ingat makan.”


“Oh begitu ya Mbak. Nggak apa-apa deh,” katanya. Kulihat wajah Pak Sukra murung.


“Maap ya Pak. Lain kali pasti saya makan.”


“Iya Mbak nggak apa-apa.”


“Nanti pulang saya antar ya,” dia menawarkan diri.

__ADS_1


“Boleh Pak. Kebetulan saya mau pulang tepat waktu,” aku tersenyum padanya lalu kembali fokus ke layar laptop.


Jam lima sore aku pulang dibonceng Pak Sukra. Seperti biasa, sepanjang perjalanan dia bercerita segala hal. Sesekali aku menimpali walau sebenarnya aku sedang malas basa-basi Akhinya aku tiba di depan rumah Dinda, Pak Sukra langsung pamit. Aku sempat menawarinya untuk mampir, tapi dia menolak.


Setelah kematian Mbok Ibah, rumah Dinda semakin hening saja. Aku sempat merinding saat masuk ke rumah itu. Dinda sedang tidak ada di rumah. Mungkin dia pergi ke kebun jagung.


Aku duduk di kursi kayu sambil menghela napas lega. Walau tidak ada pasien, tapi hari ini cukup melelahkan karena seharian aku mengerjakan materi penyuluhan. Saat sedang istirahat di kursi, aku mendengar suara kayu yang dicakar.


Errghhhh...!


Ada suara erangan dari dapur. Pelan-pelan kuhampiri sumber suara itu.


"Dinda...," gumamku.


Dinda merayap di lantai, kedua matanya hitam semua. Ada darah keluar dari mulutnya. Dia kemudian merayapi dinding sambil memperhatikanku. Aku langsung berteriak minta tolong.


Dinda dikurung di dalam kamar, tubuhnya diikat di atas ranjang. Dia sangat agresif dan membahayakan. Dinda sempat menggigit tangan kananku sampai berdarah. Dinda juga melukai tangannya sendiri dengan pisau. Kata Pak Rahmat, Dinda kerasukan roh jahat yang mencoba melukainya.


Lagi-lagi Pak Rahmat membacakan ayat suci, kali ini dia meninggikan intonasi bacaanya sambil menunjuk wajah Dinda. Kedua mata Dinda melotot saat dibacakan ayat kursi. Anehnya dia malah tertawa sambil menirukan bacaan Pak Rahmat.


“Aku lebih pintar dari kamu!” bentak Dinda sambil mendelik ke wajah Pak Rahmat.


“Siapa kamu? Keluar sekarang juga dari tubuh anak ini! Atau kumusnahkan kau dengan dengan ayat-ayat Allah.”


“Aku Mbok Ibah!” bentak Dinda.


“Halah! Kau jin memang suka memfitnah orang yang sudah meninggal!” Pak Rahmat kembali membaca ayat suci.


Tampak Dinda tertawa-tawa sambil menceracau tidak jelas.


“Aku akan menyesatkan kalian semua agar kalian jauh dari Tuhan!” kata Dinda dengan wajah menengadah ke langit-langit. Urat lehernya terlihat jelas, ia mengerang seperti kesakitan.


“Keluar kau!” bentak Pak Rahmat sambil mengusap wajah Dinda.


“Kamu udah siuman, Din?” tanyaku sambil memicingkan mata.


“Mbokku pulang Mbak.”


“Hah? Mbokmu pulang?” mendengar pernyataannya membuatku kaget setengah mati.


“Iya. Dia dia luar Mbak.”


Aku jongkok sambil mengelus rambut Dinda, “Dinda…, mbokmu sudah tenang di surga. Dia nggak akan…,”


Aku belum sempat menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu rumah.


“Itu Mbok. Mukanya serem banget Mbak.”


Perlahan aku mendekat ke pintu. Semakin lama pintu itu terdegar seperti digedor dengan paksa seperti ada orang yang sedang marah-marah. Anehnya saat kuintip dari balik jendela, tidak ada siapa-siapa di luar.


“Mana nggak ada,” kataku pada Dinda.


“Di atas…,” desis Dinda.


Ada cairan hitam menetes ke kepalaku. Aku mendongak, kulihat ada sosok wanita dengan wajahnya yang hitam pekat sedang menempel di langit-langit ruangan. Dia mengenakan jubah putih, rambutnhya juga putih semua, ada cairan hitam mentes dari mulutnya.


Aku berteriak lalu lari keluar rumah sambil membawa Dinda. Kugedor pintu rumah Pak Rahmat, tapi dia tidak mau keluar. Entah ke mana perginya Pak Rahmat iitu. Aku dan Dinda pun lari ke perkampungan warga untuk meminta tolong.


Sialnya mereka seperti tidak peduli pada kami. Ada beberapa rumah yang menyalakan lampunya lalu mengintip kami dari balik jendela, tapi mereka tidak mau keluar dan mematikan kembali lampu rumahnya. Aku menangis di tenggah perkampungan, Dinda berdiri di hadapanku. Wajahnya datar, tak ada kesedihan sema sekali di wajahnya itu.


“Mbak Maya jangan nangis,” kata Dinda.

__ADS_1


Aku tidak mempedulikannya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Semuanya terasa ganjil dan tak masuk akal. Ada yang tidak beres dengan kampung ini.


“Mbak!” dari kejauhan kudengar suara lelaki memanggilku. Aku sangat mengenali suara itu. Tidak salah lagi, itu adalah Pak Sukra.


“Kenapa Mbak Maya ada di sini?”


Aku menceritakan kejadian itu padanya. Pak Sukra pun menawarkanku untuk tinggal di rumahnya. Aku dan Dinda pun menerima tawaran itu, untuk beberapa hari ini kami akan tinggal di rumah Pak Sukra. Tidak ada salahnya menerima tawaran lelaki itu, lagi pula dia sudah punya istri. Jadi tidak akan ada warga yang berpikir macam-macam.


Rumah Pak Sukra terbilang sederhana. Rumah itu tidak sebesar rumah Dinda. Baru saja tiba di rumah itu, Bu Jumi istri Pak Sukra, langsung menyambut kami dengan ramah. Ia tampak seperti ibu-ibu biasa yang sering kulihat. Badannya gemuk, kulitnya sawo matang, dan dia mengenakan daster.


"Mari silakan masuk, Mbak!" kata Bu Jumi mempersilakan. Ia lalu melangkah ke dapur dan kembali dengan membawa sekaleng rengginang.


Bu Jumi ini orang yang murah seyum. Setiap kalimat yang diucapkannya pasti diiringi dengan senyuman. Tak lama kemudian Pak Sukra muncul dari dapur. Dia membawa dua gelas sirup jeruk dan menyuguhkannya kepada kami.


"Ini buat Dinda biar lebih tenang. Ayo diminum!" Pak Sukra mengambil gelas di hadapanku lalu menyodorkannya kepada Dinda.


Dinda kemudian meminum sirup jeruk itu. "Enak kan?" tanya Bu Jumi. Namun, Dinda diam saja. Ia tidak menanggapi Bu Jumi.


"Nah... yang ini buat Mbak Maya," Pak Sukra meraih gelas satunya lagi di hadapanku.


"Iya, Pak, terima kasih," timpalku sambil tersenyum. Sirup itu terasa segar sekali. Aku meminumnya sampai habis setengah setengahnya sekali teguk.


"Gimana, enak kan sirupnya?"


"Enak, Pak," jawabku sambil mengangguk.


"Kalau rumah itu ada hantunya, untuk sementara Mbak Maya dan Dinda boleh kok tinggal di sini dulu. Ya kan, Mah?" kata Pak Sukra sambil menoleh kepada istrinya.


"Iya, boleh banget. Kebetulan masih ada kamar yang kosong," timpal Bu Jumi.


"Saya ucapin terima kasih banyak udah mau nolong kami, Pak. Semenjak Mbok Ibah meninggal, rumah itu jadi angker. Kemarin saja Dinda kesurupan," kataku sambil menampakkan wajah cemas.


"Nanti saya bantu buat usir hantu itu. Kebetulan saya punya kenalan yang bisa mengusir hantu," ujar Pak Sukra sambil menatapku.


Aku mengangguk. Dinda dari tadi hanya diam sambil menatap Pak Sukra dengan tatapan datar.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Pak Sukra kepada Dinda. Dinda tidak menjawab apa pun.


"Mungkin Dinda masih sedih kehilangan mboknya," aku mengusap kepala Dinda.


"Ya sudah. Semoga kamu bisa cepat mengikhlaskan kepergian mbokmu ya," kata Bu Jumi.


Kami lalu diantar ke kamar oleh Bu Jumi. Di dalam kamar itu hanya ada satu tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang. Pak Sukra lalu datang dengan membawa kasur tambahan. Dia meletakkan kasur itu di bawah ranjang.


"Kamu tidur di ranjang ya, biar mbak yang di bawah," kataku kepada Dinda.


Entah kenapa malam itu aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba aku terbayang wajah Pak Sukra. Bayangan itu tidak mau pergi sehingga membuatku mataku susah terpejam. Di luar sayup-sayup kudengar suara Pak Sukra seperti sedang bergumam membaca mantra-mantra. Aku juga mencium bau kemenyan malam itu.


"Mbak Maya...?" Pak Sukra memanggilku dari balik pintu kamar.


"Iya, Pak," jawabku.


Seperti ada yang mengendalikan tubuhku, aku menghampiri Pak Sukra. Dia berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Dia mengelus rambutku lalu menyentuh pipi kananku.


"Maukah kamu menjadi istri keduaku?"


Aku pun mengangguk, benar-benar seperti ada yang mengendalikanku. Aku tidak mau menceritakan apa yang selanjutnya terjadi malam itu. Semuanya seakan tak terkendali, rumit dan susah dijelaskan dengan akal sehat. Pak Sukra ingin mengawiniku.


Dulu aku tidak pernah percaya dengan kebenaran ilmu pelet. Tapi semenjak kejadian malam itu, aku yakin kalau Pak Sukra mencekokiku dengan ilmu pelet.


Paginya aku dan Dinda langsung pamit pulang tanpa menceritakan apa pun kepada Bu Jumi. Aku sendiri masih dalam kebingungan. Entah antara sadar atau tidak, wajah Pak Sukra masih sedikit terbayang-bayang.

__ADS_1


Rasanya aku ingin selalu berada di dekat Pak Sukra. Namun, di sisi lain, aku merasa bersalah kepada Bu Jumi. Kejadian malam itu benar-benar di luar nalarku.


__ADS_2