Hantu Villa

Hantu Villa
Misteri 096 Part 3


__ADS_3

Sore ini kak Salsa pulang dengan beberapa temanya berempat, karena terdengar dari suaranya yang lumayan cukup berisik di ruangan tengah, dan aku juga mendengar suara dari kak Nenah sontak membuat aku ingat tentang janjinya dipertemuan awal denganku akan menanyakan tentang kejadian itu pada orang tuanya.


“Bas, tuh kakak bawa makanan, ayo makan bareng, sama kenalan sama teman kakak,” ucap kak Salsa berdiri di depan pintu kamarku, yang tidak tertutup.


Segera aku bangun, dan menyapa dan berkenalan dengan teman-teman kak Salsa satu persatu. Silvi, Dena dan Andin. Berlima denganku akhirnya makan bersama dengan tidak jarang yang menjadi badan becandaan adalah aku.


“Eh Bas nanti kakak ngerjain tugasnya di belakang saja yah, terminal listrik udah dibenerin kan?,” tanya kak Salsa.


“Sudah sama mang Yaya, cukup kok emang aku sengaja mintanya buat disambung dari dapur aja kak, eh kak, ibu bilang besok motor aku baru bisa diambil di stasiun kota, antar yah,” ucapku yang baru selesai makan.


Dena dan Andin temanya kak Salsa tidak jarang terlibat obrolan seru denganku dengan kak Nenah juga, membicarakan hal-hal yang aku juga bisa masuk ke obrolan yang mereka sedang bahas, apalagi tentang kegaguman teman-teman kak Salsa pada rumah ini masih dengan gaya tua yang dipertahankan.


Tapi ada yang berbeda dengan Silvi, lebih banyak diam dan hanya terseyum saja sesekali ketika bertatapan mata denganku secara tidak sengaja.


“Eh kak Nenah, udah ditanyain belum sama ibu kak Nenah soal kejadian itu di rumah mana?,” tanyaku, ketika pas sedang membahas soal rumah ini.


“Emang ada kejadian apa gitu Nah?,” tanya Dena yang mulai penasaran.


“Iya Nah kok gak cerita sih?,” sahut Andi sama penasaranya.


“Yehh… inimah yah, apa-apa tuh suka penasaran gini hahaha,” jawab kak Nenah sambil becanda.


"Lupa nomor rumahnya kata ibuku, tapi katanya yang ibuku ingat dulu di depan rumahnya ada pohon beringin yang besar,” ucap kak Nenah melanjutkan.


“Sudahlah Bas, coba kamu lihat emang sepanjang jalan ini ada pohon beringin yang besar?, kan gak ada?, bisa saja Nenah juga salah jalankan, bisa aja dong,” sahut kak Salsa.


“Iya juga sih Sa bener kata kamu, udah bener Bas jadi orang penasaran banget sih,” ucap kak Nenah sambil menepuk pundaku.


Akhirnya aku benar-benar membuang rasa penasaran itu, walau yang aku simpan baik-baik hanya sebuah kalimat “di depanya ada pohon beringin besar,” dan niatku besok akan melihat rumah itu dari depan (rumah sebelah yang ada gerbang besinya di belakang).


Baru saja kak Salsa siap-siap merapihkan halaman menyiapkan beberapa cemilan dan minuman untuk teman-temanya, tiba-tiba Silvi yang sedari tadi hanya memperhatikan bahkan tidak terlibat obrolan apapun, berbicara dengan pelan.


“Iya berisik banget rumah sebelah,” ucap Silvi dengan pelan.


Aku, Nenah, Dena dan Andin sontak langsung menatap ke arah Silvi, bahkan Silvi tetap dengan tatapan kosongnya.


“Vi, ngomong apa sih kamu?” tanya Nenah sambil nempuk tangan Silvi.


“Eh engga kok,” jawab Silvi sambil tersenyum.


“Ayo sudah siap di belakang, kalau kemalaman kalian nginap aja di sini yah,” ucap kak Salsa sambil berdiri.


Segera teman-teman kak Salsa beranjak ke belakang dan aku langsung terbaring di sofa ruangan tengah masih penasaran rumah yang dimaksud Silvi rumah yang mana, bahkan tidak tahu kenapa aku ada perasaan bahwa yang dikatakan Silvi benar saja, walaupun tanpa alasan yang jelas.


“Bas, ini nanti kasih mang Yaya kalau malam ini kesini,” ucap kak Salsa dengan tiba-tiba.


“Iya kak, siap” jawabku singkat, sambil menerima sejumlah uang.


Suasana rumah malam ini akhirnya ramai sekali, bahkan beberapa tawa dari teman-teman kak Salsa di bagian rumah belakang sampai terdengar ke ruangan tengah “emang kalau ramai rumah ini tambah nyaman saja,” ucapku, masih dengan posisi yang sama.


“Pohon beringin besar apa yang dikatakan kak Nenah, dan rumah sebelah yang berisik,” ucapku dalam hati menyimpan dua kalimat itu.


Tidak lama mang Yaya mengetuk pintu sambil memanggil namaku, segera aku ke depan membukakan pintu, benar saja mang Yaya sudah duduk di depan rumah dengan tidak lepas bersama rokoknya di tanganya.


Ilustrasi paman, dok: pixabay


“Mang ini,” ucapku, sambil memberikan uang dari kak Salsa.


“Baik Bas, ini buat biasa bayar listik sama air Bas, eh temen-temen kakak banyak yah, kayanya seru gitu?,” tanya mang Yaya.


“Berempat jadi berlima sama kak Salsa mang, kenapa gitu?,” tanyaku sambil duduk di sebelah mang Yaya.


“Ya tidak apa-apa Bas, kamu juga kalau sudah punya temen nanti ajak ke sini, biar suasana rumah jadi ramai ginikan enak,” jawab mang Yaya dengan tenang.


“Mang dulu banget, pas nenek dan kakek udah gak ada rumah ini sudah gak ada yang isi yah?,” tanyaku sengaja membuka obrolan dengan mang Yaya.


“Banget Bas, sudah banyak yang berubah, pohon-pohon dulu di sepanjang jalan ini menjulang tinggi bas, indah, nyaman, tapi berjalanya waktu semuanya berubah, namanya juga waktu yah Bas, kamu juga udah segede ini aja padahal amang tau kamu dari kecil,” jawab mang Yaya sambil tersenyum.

__ADS_1


Deg, tiba-tiba ada kalimat pohon, apa ini waktu yang tepat untuk sekedar bertanya dan menyerepet mencocokan informasi dari kak Nenah ke mang Yaya, ucapku dalam hati.


“Dulu emang kata Ibu ada pohon beringin besar mang di sini?,” tanyaku, yang tidak tahu kenapa malah menjual nama Ibu.


“Ibu bilang begitu Bas?,” tanya mang Yaya seperti kaget dengan apa yang aku tanyakan.


“Enggak bilang, sekedar cerita aja dan itu yang aku ingat, amang sendiri tadi juga bilang banyak pohon-pohon tinggi berarti sesuai dengan yang Ibu katakan” ucapku memberikan alasan yang paling logis biar tidak ada kecurigaan.


“Oh iya, ah sudahlah Bas, namanya juga cerita kalau sudah berbeda waktu kadang berbeda, amang duluan yah takut kemalaman bayar listrik,” jawab mang Yaya yang langsung berdiri dan pamit pergi.


Padahal aku liat barusan mang Yaya begitu nyaman duduk santai entah karena pertanyaanku atau emang benar apa yang dikatakan mang Yaya barusan.


Hari semakin malam dan teman-teman kak Salsa masih saja belum selesai, aku lihat sudah jam 22:00 malam ini, segera aku ke belakang untuk menemui kak Salsa.


“Kak itu motor kalau mau pada nginap bawa aja ke belakang dan jangan lupa kunci, aku mau tidur duluan,” ucapku sambil melihat aktivitas teman-teman kak Salsa yang benar-benar sibuk.


Kak Salsa mengiyakan apa yang aku katakan, tanpa melihat ke arahku dan Silvi yang membuat ada rasa tertarik lain beda dengan yang lainnya menggunakan sweater tebalnya, sementara yang lainya biasa saja.


“Emang dingin?, orang aku saja merasa gerah malam ini tumben,” ucapku dalam hati sambil melangkah menuju arah kamar dan beristirahat sambil melihat beberapa informasi di media sosial dan membalas beberapa chat yang masuk ke dalam hpku saja.


Mata mulai mengantuk malam ini, karena merasa suasana terbawa hangat oleh keharian teman-teman kak Salsa, tidak tahu kenapa rasa ingin tidur datang lebih awal padahal seharian dan beberapa hari kebelakang hanya mengahbiskan waktu dengan bersantai saja.


Aku terbangun dengan Hp yang masih berada di sebelahku, “ketiduran enak banget” ucapku, sambil melihat jam sudah jam 03:35.


“Tidak terasa lama juga tidur,” ucapku sambil berusaha berdiri karena ingin membuang air kecil.


Baru saja melangkah ke ruangan tengah, aku melihat Andin dan Silvi tidur di luar di depan televisi yang masih menyala, sementara kak Salsa, kak Nenah dan Dena tidur di kamarnya.


“Silvi belum tidur masih terlihat cahaya hp nya,” ucapku ketika membuang air kecil di wc.


Sambil berjalan menuju kamar, segera aku matikan Tv, setelah melihat remot Tv ada di sebelah Andin.


“Eh Bas, kamu bangun?, iya matiin aja Tv nya enggak aku liat kok,” ucap Silvi, sambil bangun dan duduk dengan selimut yang menutupi badanya.


“Iya Vi, eh kok kamu pucat begitu?, sakit?,” tanyaku karena kaget melihat wajah Silvi sangat pucat bahkan wajah terpucat yang pernah aku lihat.


“Tidak apa-apa Bas, ini biasa aku kalau datang kumat seperti ini, ini bukan penyakit kok,” jawab Silvi perlahan.


“Serius Vi kamu engga apa-apa?, kok pucatnya sampai begitu,” ucapku yang sudah duduk dekat Silvi.


“Serius Bas, kamu percaya dengan apa yang sudah aku katakan ketika pas barusan aku sampai di rumah ini?,” tanya Silvi dengan melihatku.


“Soal rumah sebelah yang berisik bukan?,” jawabku.


Silvi tidak menjawab hanya mengannguk dan merapatkan selimunya lebih erat ke badanya dengan tiba-tiba.


“Percaya Vi, karena malam sebelumnya aku pertama kali mendengar seperti benda jatuh, kata kak Salsa menjelaskan dari rumah sebelah sana,” ucapku sambil menunjuk ke arah rumah sebelah.


“Bukan sebelah sana,” jawab Silvi sambil mejem seperti ketakutan, menunjuk ke arah rumah sebelah yang ada gerbang besi sebagai pemisah.


“Maksudnya berisik kamu dengar hal yang sama denganku dan kak salsa?,” jawabku yang sedikit mulai ketakutan dengan tinggah Silvi.


“Sini, duduk sebelah aku,” jawab Silvi sambil tersenyum sangat manis.


“Disana Bas, aku kedinginan sedari di halaman belakang, menangis terus tapi aku tidak tau kenapa tidak bisa menerjemahkan hal-hal yang aku dengar, jangan ceritakan ini ke Salsa takutnya jadi kenapa-kenapa yah,” jawab Silvi memegang tangaku dan benar saja tanganya sangat dingin, bahkan benar-benar dingin, hal inilah yang membuat aku percaya dengan apa yang barusan Silvi katakan padaku.


“Percayakan Bas dengan apa yang aku katakan?,”tanya Silvi semakin erat memegang tanganku.“Percaya Vi, selagi tidak saling menganggu aku tidak apa-apa lagian namanya juga rumahkan yah Vi,” ucapku dengan pelan.


Silvi tidak menjawab dan hanya menganggukan kepalnya berkali-kali, tapi kemudian menggelengkan kepalanya juga.


“Maksudnya Vi?,” tanyaku.


“Tidak Bas, sudah kamu simpan aja nomor kamu, nanti jika ada waktu kita bisa bicara berdua saja,” ucap Silvi sambil memberikan hp yang berada di sebelahnya. Setelah selesai menyimpan nomor hpku di Silvi segera aku ke kamar dan berpesan kepada Silvi kalau ada apa-apa bangunkan saja aku di kamar dan Silvi hanya tesenyum saja dan mengangguk seolah itu persetujuan yang dia berikan.


Terbaring kembali, entah kenapa apa yang dikatakan Silvi membuat aku sangat percaya walau logikaku bisa saja berkata “bagaimana kamu percaya Bas, Silvi orang yang baru beberapa jam kamu kenal, tidak tau siapa dia sebenarnya dan darimana dia tau hal-hal soal rumah sebelah, apalagi tangisan apasih” tapi kalimat itu bisa dipatahkan dengan apa yang sudah aku rasakan apalagi dingin tanganya sudah bisa membuat aku yakin. “kalau benar, selama tidak menganggu tidak apa-apa” ucapku.


Pagi harinya aku terbangun lumayan sangat siang bahkan sudah jam 10:00 dan teman-teman kak Salsa sudah tidak ada hanya melihat kak Salsa saja sedang duduk santai di ruangan tengah dengan laptop di depanya.

__ADS_1


“Jadi engga hari ini ke stasiun kota?,” tanya kak Salsa.


“Jadi ayo bentar aku mandi kita ambil motorku kak buat jalan-jalan,” jawabku dengan senang.


“Motor tua juga hahha,” jawab kak Salsa yang selalu senang mengejekku.


Selesai mandi langsung saja aku dan kak Salsa bergegas ke stasiun kota, di jalan tidak hentinya-hentinya aku menanyakan soal Silvi.


“Idihhh inimah kamu suka Bas yah sama Silvi, cantik sih, tapi kadang suka melamun dan kita-kita mengakui sih Silvi bisa ke hal-hal begitu loh bas,” jawab kak Salsa ketika sedang berada di dalam angkutan umum.


“Yeh inimah, wajarlah aku normal loh kak, emang mau adiknya suka sama cowo?,” jawabku sambil tertawa.


“Ya jangan Ibu pasti kecewa banget Bas haha, yaudah pepet ajasih kenalan aja dulu baik kok orangnya.” Jawab kak Salsa dengan sedikit tertawa geli.


Aku sengaja tidak menanyakan lagi ke arah apa yang diomongkan kak Salsa soal Silvi bisa ke hal-hal begitu, karena jawaban itu sudah menambah keyakinanku apa yang dikatakan Silvi semalaman memang benar.


Sampai di stasiun membereskan pembayaran, membeli bensin dan segalanya akhirnya aku dan kak Salsa bisa pulang dengan si “kukut” nama motor tuaku ini dan sekarang si kukut yang akan menemani aku besok untuk datang ke kampus.


Sore dan malam hari berjalan seperti biasanya tidak ada gangguan ataupun perasaan lain, apalagi selama aku yakin tidak saling mengganggu walaupun hanya baru sedikit apapun yang ingin aku tau sedikitnya informasi dari Silvi jelas sangat membantu. Untungnya aku disibukan dengan persipan untuk besok sehingga fokus pada urusan kampus saja.


Dua bulan berjalan dengan cepat, setelah aku benar-benar diterima dimana yang sudah menjadi aku harpakan dan menjadi kenyataan, tentunya Ibu dan Bapak bahkan mang Yaya juga senang dengan kabar keterima, dan hari-hariku lebih melelahkan menyiapkan segalanya.


Bahkan kalau sampai rumah, aku lebih banyak tidur karena kelelahan apalagi masa-masa Ospek dan awal kuliah membuat aku harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.


Akhirnya aku mempunyai teman dekat satu jurusan, Anton namanya, orangnya bahkan terbilang sangat cuek karena pertemuan dan satu kelompok di masa ospek sampai perkuliahan berjalan normal Anton ternyata satu kelas denganku.


“Bas, sesekali nongkrong di rumah kamu dong,” ucap Anton ketika sudah dua bulan dekat denganku.


“Boleh ayo,” ucapku.


Akhirnya Anton untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah sore ini, karena Anton asli dari kota ini baginya daerah rumah tidak terlalu asing lagi buat dia.


Ayo masukin saja Ton motonya,” ketika sampai di rumah


“Jir… tua banget keren rumah ini,” ucap Anton, melihat kesan pertama pada rumah.


“Dulu bekas Nenek, pas sekali dengan kakaku di sini kuliah yaudah jadinya ditempatin aja Ton,” ucapku, langsung mengajak untuk bersantai di halaman belakang.


“Ini kenapa Bas ada gerbang?,” tanya Anton.


“Iya penghubung ke sana Ton,” jawabku, sambil menyeduh kopi di dapur.


Tidak lama sore menjelang malam tiba, dan aku mandi meninggalkan anton sendirian di halaman belakang, sementara kak Salsa belum pulang, dan biasanya rumah sudah rapih karena sore hari sebelum aku pulang pasti sudah dirapihkan oleh mang Yaya.


Karena sakit perut, mandiku lumayan cukup lama, dan aku yakin anton pasti nyaman di halaman belakang, apalagi dia sambil mengcharger hp nya. Sekitar 20 menit lebih selesai bersalin dan dalam keadaan segar, ketika berlajan ke belakang.


“Gimana Ton, nyamankan di sini,” ucapku.


Yang membuat aku kaget Anton sudah tidak ada di kursi “kemana dia apa beli rokok,” ucapku.


Segera aku berjalan ke depan untuk melihat motornya, yang memang sudah tidak ada yang awalnya terparkir di samping si kukut sebelumnya.


Segera aku telepon dia bahkan sama sekali tidak diangkat, aku menunggu di ruangan tengah sambil santai setelah hampir 30 menit Anton sama sekali belum kembali, dan rasa khawatirku mulai muncul perlahan. Segera aku mengambil Hp dan berusaha menghungi lagi Anton.


“Yeh… kemana kali,” ucapku di telepon kepada Anton.


“Sorry Bas, pulang duluan,” jawab Anton dengan suara gemetar sekali.


“Yaudah engga apa-apa, kenapa Ton kok kaya yang gemeteran ngomongnya?,” tanyaku.


“Gapapa Bas, sudah dulu yah nanti besok kalau ada kelas aku kabarin,” ucap Anton langsung mentup telepon.


“Aneh,” ucapku, padahal katanya mau santai lama di sini, tau-tau begitu. Aku sama sekali tidak berpikir apapun dan menganggap semuanya baik-baik saja. Sampai jam 20:00 malam ini kak Salsa belum juga pulang.


Segera aku telepon kak Salsa untuk memastikan membawa kunci rumah atau tidak.


“Kak masih di mana bawa kunci rumah tidak?,” tanyaku di telepon.

__ADS_1


“Bawa Bas, kakak larut malam pulang, ini masih di rumah temen kok,” jawab kak Salsa.


“Yaudah aku kunci dulu semua pintu yah,” jawabku langsung menutup telepon karena malas sekali gerak dan sedikit lelah juga, aku masih terbaring saja di sofa ruangan tengah sambil melihat tanyangan televisi. Niat tidak memikirkan


__ADS_2