
Silih berganti orang-orang berdatangan, dan sampai aku, kak Salsa, Ibu dan Bapak mengantarkan ke tempat pemakaman umum, akhirnya memutuskan untuk ke rumah kakek Bambang.
Sampai di rumah kakek Bambang juga kaget dengan kabar yang Ibu berikan tentang meninggalnya mang Yaya, apalagi Ibu yang melihat kondisi terakhir mang Yaya sebelum dikebumikan ada bekas cekikan di bagian lehernya mang Yaya, yang sangat jelas sekali.
“Yaya orang yang semenjak dari dulu adalah kepercayaan keluarga kalian, tidak pernah menikah sampai usianya terakhir ini, sayang godaanya memang besar memiliki ilmu seperti itu tapi harus berakhir dengan hal sama,” ucap kakek Bambang.Malam itu juga Ibu kembali pulang, dengan kepergian mang Yaya selamanya itu, tidak lama dari kejadian yang menimpa kak Salsa, membuat pertanyaan aneh yang sudah lama aku pendam, setelah Ibu pulang aku langsung duduk di halaman depan dengan kakek Bambang.
“Aku melihat mang Yaya keluar dari rumah 096 itu kek penyebab kematianya apakah itu?,” tanyaku langsung.
“Kalaupun iya, sudah tidak ada dan itu resiko siapapun juga yang bersekutu selain kepada Allah akan mendaptkan balasan yang setimpal Bas, maafkan saja dan doakan sudah,” ucap kakek Bambang dengan sangat bijaksana.Sebuah tragedi masa lalu yang sudah aku ketahui itu, kenyataanya memang menghantui keluargaku berbelas tahun lamanya, tapi pada saat ini kejadianya kembali, dan kembali harus memakan korban, karena aku yakini mang Yaya dalang dari semua ini, walau yakinku belum tentu benar dan bisa saja salah.Dari awal rasa curigaku pada rumah nomor 096 itu terbukti, walau dengan waktu yang harus aku lalui sangat lama selama dua bulan dan berkali-kali kejadian aneh sudah terlewati, kehidupan memang mempunyai caranya masing-masing memberikan kejadian agar kita bisa mengambil pelajaran apapun dalam hidup ini.Kedekatatan Neneku dengan keluarga Dirman adalah malapetaka masa lalu yang terjadi, orang yang paling dekat dengan kita kadang bisa menjadi orang yang paling berbahaya, ketika melibatkan hal-hal lain di luar akal pikiran manusia normal bahkan bersekutu dengan makhluk lain. Syirik merubah segalanya, dibantu dengan keadaan makan setan bisa bermain di dalamnya dengan bebas, memangkas logika dan membunuh perasaan nurani.Dan tahun ini adalah tahun di mana selalu aku ingat, tahun di mana keluarga adalah segalanya, juga tahun di mana tragedi masa lalu itu aku ketahui, sehingga sebab dan akibat yang terjadi hanya sebatas pertanyaan sekarang aku mendapatkan jawabanya.
-Tamat-
Blok M part 1
“Lift udah dimatiin Di, lo harus lewat tangga dalem.”“Yaaaaahh, aku sendirian pula. Mba Yan gak mau turun bareng?” “Belum bisa, masih ada yang harus gw kerjain nih.”Itu percakapanku dengan Mba Yanti, staff admin di tempat aku bekerja.Setelah berganti pakaian, aku berniat untuk langsung pulang.
Aku yang baru bekerja selama dua bulan, entah disengaja atau tidak, lebih sering ditugaskan untuk shift sore, tentu saja pulangnya akan malam, seperti kali ini.
Bioskop ada di lantai 6, maka dari itu aku harus menuruni tangga eskalator ~yang sudah dalam keadaan mati juga~ lantai demi lantai untuk sampai ke lantai dasar karena lift yang biasanya bisa digunakan ternyata malah mati, entah kenapa. Gedung Blok M Plaza ini berbentuk melingkar walaupun gak bundar, di tengahnya ada ruang kosong dari atas sampai ke bawah. Jadi, untuk menaiki atau menuruni eskalator, harus memutar mengelilingi sebagian lantai untuk menuju eskalator berikutnya.
Inilah yang aku lakukan, harus menyusuri lantai demi lantai, menuruni tangga, menuju pintu keluar di lantai dasar.
Berjalan melewati depan setiap toko, pemandangan pantulan kaca displaynya membuat aku bisa melihat diri sendiri yang sedang berjalan sendirian. Ya terang saja sendirian, sudah nyaris jam 12 tengah malam.
Ini bukan yang pertama, sebelumnya sudah beberapa kali aku pulang dan berjalan sendir di dalam gedung plaza ini. Akan tetapi, sesekali aku juga melihat satu atau dua orang sekuriti yang sedang patroli, entah melihatnya dari jauh atau berpapasan langsung.
Aku yang pada dasarnya sangat penakut, sedikit merasa aman ketika sudah melihat ada petugas sekuriti. Seperti yang aku bilang tadi, gedung ini memiliki ruang kosong di tengahnya, dengan begitu aku dapat melihat langsung pemandangan lantai perlantai, dari atas sampai ke bawah. Makanya kadang aku dapat melihat sekuriti atau orang lain sedang berjalan di lantai berbeda dengan lantai yang sedang aku susuri. Begitu juga malam ini, aku tentu saja bisa melihat pemandangan yang sudah aku ceritakan tadi, walaupun sebagian besar lampu sudah dalam keadaan mati. Oh iya, sebagian lampu dalam gedung dalam keadaan mati ketika sudah di luar jam operasional, jadinya ya gelap, walaupun bukan gelap total.Tapi ada yang sedikit mengganggu, karena malam ini/kali ini aku gak melihat ada pergerakan orang lain selain aku, biasanya yang paling sering aku lihat adalah petugas sekuriti atau karyawan lain yang juga pulang malam. Kali ini beda, malam ini terasa sangat sepi..Hanya suara langkah kakiku saja yang terdengar.
Masih di lantai lima, tapi sepertinya aku sudah merasa gak nyaman. Solusinya? mempercepat langkah supaya lekas sampai bawah.
Eskalator mati, AC juga mati, hal ini tentu saja menambah semuanya jadi gak nyaman.
Tapi, kecemasan berkurang ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.“Ah, akhirnya ada orang juga” Pikirku dalam hati.
Coba mencari tahu dari mana sumber suara, sambil terus berjalan aku pandangi setiap lantai sampai yang paling ujung, atas juga bawah.
Yang pasti, sang empunya langkah gak berada di lantai empat yang sedang (baru saja) aku pijak ini, karena sama sekali gak kelihatan ada orang.
Ah, ya sudah, terdengarnya sih dari lantai bawah, mungkin orang itu menuju pintu keluar juga, sama seperti aku.
Benar, ketika sedang memperhatikan selasar lantai dua, sekilas aku melihat ada orang yang sedang berjalan, melangkah menuju eskalator, tapi jalannya lambat, perlahan.
Dari penampilannya dapat dipastikan kalau itu bukan sekuriti, karena bentuknya sosok perempuan, terlihat dari gerai rambut panjangnya. Aku juga sangat yakin kalau itu adalah karyawati yang pulang malam, sama sepertiku.
Aku yang terus bergerak berjalan, akhirnya pandangan jadi terhalang untuk melihat terus perempuan itu, sampai akhirnya benar-benar gak bisa melihatnya lagi. Tapi walaupun begitu, suara langkah kaki masih kedengaran.
Nah, beberapa detik kemudian suara langkah juga ikut menghilang..
“Ke mana tuh orang?” Pikirku, sambil sejenak
menghentikan langkah, mencari jawaban.
Sama sekali gak kelihatan ada orang..
Cemas kembali kurasa, karena seketika sepi melanda, lagi-lagi.
Aku kembali meneruskan langkah, menyusuri selasar lantai empat, lalu turun ke lantai tiga.
Langkah buru-buru aku lakukan, karena kosongnya (lagi-lagi) mulai membuat cemas.
Aku semakin ketakutan, ketika merasa kalau di dalam gedung besar ini sepertinya gak ada orang lagi selain aku, kosong. Walau sepertinya gak mungkin, tapi aku merasa seperti itu.
Singkatnya, akhirnya aku sampai juga di tangga yang menuju lantai dasar.
Tapi pada saat inilah, ada sesuatu yang menarik perhatian..
Ketika sedang melangkah menuruni tangga, kembali aku mendengar suara langkah kaki, persis seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini terdengar dari atas, aku gak tahu lantai berapa. Masih berada di tengah-tengah eskalator, aku lalu menghentikan langkah, melempar pandangan ke atas, menyapu setiap sisi gedung yang masih dapat terlihat.
__ADS_1
Iya, dalam gelap akhirnya aku melihat sesuatu..
Ada seorang perempuan yang sedang berdiri diam di depan salah satu toko di lantai tiga, berdiri dekat dengan dekat dengan pagar kaca. Gak menghadapku, tapi dia berdiri menghadap sisi gedung yang berseberangan dengannya.
“Itu siapa?” Pertanyaan muncul dalam kepala.
Tapi, melihat itu tiba-tiba aku merinding, ketakutan menyeruak memenuhi ruang bathin..
Sontak, aku melanjutkan langkah, menuruni tangga eskalator terakhir.
Pintu keluar ada di sebelah kanan, sedangkan posisi perempuan itu di sisi sebelah kiri. Tentu saja, aku bergegas ke berlari kecil ke arah kanan.
Nah, ketika sedang hendak menjauh dari eskalator, tiba-tiba aku mendengar sesuatu.
Aku mendengar suara tawa perempuan, tawa tertahan tetapi sangat jelas..
Sumber suara berasal dari belakang..
Sebenarnya rasa takut sudah dalam level tertinggi, tapi entah kenapa aku malah berhenti berjalan, lalu menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.
Kemudian terlihatlah pemandangan yang membuat aku tercekat katakutan, seperti terhipnotis, gak bisa mengalihkan pandangan.
Awalnya, aku melihat seperti ada tirai putih yang melayang jatuh dari lantai atas. Tapi ternyata bukan..
Setelah aku perhatikan lagi, ternyata bukan tirai terbang melayang, tetapi itu adalah sosok perempuan berambut panjang yang sedang melayang turun dari lantai tiga, baju putih lusuh panjangnya tergerai melambai seperti tertiup angin, pakaian inilah yang kulihat sebelumnya seperti tirai.
Sementara, tawanya masih terdengar mengiringi, bukan tawa melengking, tapi tertahan namun jelas terdengar.
Beberapa detik lamanya aku terdiam memperhatikan, seperti terhipnotis.
Tapi akhirnya aku tersadar ketika melihat sosok seperti kuntilanak itu akhirnya mendarat di lantai satu, lalu berdiri menghadapku.
Aku langsung membalikkan badan kemudian berlari menuju pintu keluar.
Tangisku gak tertahan lagi ketika akhirnya sudah benar-benar sampai pintu keluar, di situ ada dua orang sekuriti sedang berjaga.
Sebenarnya, sebelum aku bekerja sudah banyak mendengar cerita seram tentang gedung di mana bioskop tempat aku bekerja ini berada. Memang, gedung perbelanjaan ini termasuk salah satu gedung di Jakarta yang umurnya bisa dibilang sudah tua.
Ya itu tadi, aku sudah banyak mendengar banyak cerita seram sebelumnya.
Setelah aku sudah mulai bekerja pun, aku juga banyak mendengar cerita-cerita aneh menjurus seram dari rekan kerja yang sudah lebih dulu bekerja di situ.
Aku yang sangat penakut, kadang berusaha sebisa mungkin gak mendengarkan cerita-cerita seram itu, tapi ya tetap saja seringnya penasaran, lalu mendengar semuanya.
Bulan-bulan pertama, aku hanya mendengar ceritanya saja, sama sekali belum merasakan hal-hal janggal. Tapi setelah memasuki bulan ketiga, akhirnya aku mulai mengalami sendiri kejadian seramnya.
Pengalaman pertama adalah kisah yang aku ceritakan di awal tadi. Ketika melihat sosok kuntilanak terbang dari lantai tiga turun ke lantai dasar.
ku yang penakut ini, setelah sudah beberapa kali mengalami kejadian seram, berjanji untuk gak akan pernah lagi berjalan sendirian di dalam gedung ketika pulang larut malam. Pokoknya, apa pun yang terjadi, gak akan mau sendirian
Kalau memang terpaksa, karena gak ada yang bisa menemani, aku akan menghubungi salah satu sekuriti gedung, meminta tolong mengantar turun. Untungnya, setiap dibutuhkan, rekan-rekan sekuriti selalu ada saja yang bersedia mengantarkan, gak pernah keberatan.
Sudah kira-kira dua tahun lebih aku bekerja di sini, kurang lebih sudah sangat hapal dengan setiap sudutnya, orang-orangnya, spot seramnya, dan lain lain.
Maka dari itu seharusnya aku sudah terbiasa dengan segala macam situasinya, tapi ini nggak begitu, semakin lama aku malah semakin parno, semakin ketakutan.
Banyak alasan bisa seperti itu, salah satunya adalah semakin banyak aku mendengar cerita seram yang dialami pekerja di sini atau pun juga pengunjungnya. Belum lagi banyak peristiwa aneh menjurus seram yang aku alami sendiri. Ah, pokoknya aku semakin takut, semakin parno.
Lagi-lagi, waktu itu hari kamis, aku mendapat giliran masuk siang, dengan begitu tentu saja akan pulang malam nantinya.
Sebenarnya malam itu aku sudah berencana untuk langsung pulang setelah tugas selesai, tapi ternyata gak bisa terlaksana. Aku yang bukan merupakan pegawai baru lagi, mulai sering diminta untuk membantu kegiatan admisnistrasi. Begitulah, malam itu akhirnya aku harus lembur menyelesaikan tugas tambahan.
Kebetulan yang gak menyenangkan, Mba Irna, sebagai staf admin sesungguhnya malah harus pulang lebih cepat karena anaknya sakit. Sekitar jam sebelas dia sudah meninggalkan kantor, meninggalkan aku yang jadi pontang-panting menyelesaikan semuanya.
Kemudian satu persatu rekan kerja pulang meninggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal menyisakan aku, dan seorang sekuriti bioskop, Pak Indra namanya, serta seorang office Boy, Ridwan.
Singkat kata, sekitar jam 12 lewat aku baru bisa pulang..
__ADS_1
“Pak, nanti kita turun bareng ya. Aku gak berani sendirian.” Aku bilang begitu ke Pak Indra, ketika pekerjaanku sudah selesai.
“Hahaha, kayak orang baru aja masih takut Mba,” Jawabnya sambil tertawa.
“Tapi nanti ya Mba, sekalian nunggu Ridwan beberes sebentar lagi.” Lanjutnya.
“Oke Pak. saya nunggu di depan ya.” Jawabku, yang kemudian meninggalkan ruangan menuju ke bagian depan bioskop.
Kebetulan lagi, hari itu lift yang ada di dalam bioskop rusak, gak bisa digunakan. Lift yang biasanya sangat membantu kami dan pengunjung kalau harus pulang malam karena langsung turun menuju basement, tempat parkir.
Ya sudah, karena lift rusak, kami akan berjalan turun lewat tangga eskalator sampai bawah, memang harus seperti itu, gak ada jalan lain.
Sementara Pak Indra dan Ridwan menyelesaikan pekerjaannya, aku duduk menunggu di kursi dekat pintu masuk.
Sambil melihat-lihat layar Blackberry kesayangan, aku duduk dalam gelap, karena sebagian lampu sudah dimatikan.
Kursi tempat aku duduk ini berada persis menempel di teras kaca, dari sini aku bisa melihat sebagian besar isi gedung yang tentu saja sudah dalam keadaan kosong.
Sesekali aku melempar pandangan, menyisir setiap sudut yang masih terjangkau penglihatan.
Sejenak pikiranku melayang, mengingat-ngingat beberapa peristiwa yang pernah aku alami sendiri, atau pun cerita-cerita seram yang banyak beredar.
Deg! Tiba-tiba aku merinding, kemudian menoleh ke arah pintu bioskop, lalu jadi agak tenang, karena masih sesekali melihat Pak Indra dan Ridwan wara-wiri di dalam.
Benar-benar sunyi, gak ada suara sama sekali, lagi-lagi aku menerawang ruang, merasakan kosongnya malam.
Aku yang awalnya kaget, berangsur jadi agak tenang ketika merasa kalau sepertinya yang datang itu benar-benar orang.
Ternyata memang benar, aku melihat ada seseorang sedang melangkah mendekat. Karena masih cukup jauh, jadinya aku masih hanya bisa melihat dalam bentuk siluet.
Tapi aku sudah bisa yakin kalau orang ini adalah sosok laki-laki, kalau melihat dari posturnya.
Ketika sudah cukup dekat, barulah aku bisa melihat dengan jelas kalau ternyata yang mendekat ini adalah seorang sekuriti gedung.
Ah leganya, aku jadi bisa segera turun dengan meminta untuk ditemani ke bawah.
“Pak, hmmmmm.” Aku menegurnya, ketika kami akhirnya sudah berhadapan. Karena gak familiar, aku melirik ke nametag yang ada di seragamnya, aku membaca nama “Wawan”.
Iya, aku lupa apakah aku pernah melihat Pak sekuriti yang satu ini atau belum, karena wajahnya masih agak asing. Tapi mungkin saja aku lupa, atau sekuriti baru, bisa jadi.
Pak sekuriti ini tersenyum.
“Pak Wawan, tolong antar saya ke bawah dong, hehe” Aku meneruskan kalimat yang sempat terpotong sebelumnya.
“Boleh Mba, kebetulan saya juga mau turun.” Jawab pak Wawan sambil tetap tersenyum.
“Ok, Pak. Sebentar ya, saya pamit ke dalam dulu.”
Lalu aku bergegas berlari ke dalam untuk bilang ke Pak Indra kalau aku turun duluan.
“Diantar siapa Mba?” Tanya Pak Indra.
“Sekuriti Pak, Wawan namanya. Saya duluan ya Pak” Jawabku sambil langsung bergegas pamit.
Pak Indra yang kelihatan seperti masih punya pertanyaan akhirnya membiarkan aku pergi.
Sesampainya kembali di pintu depan, aku masih melihat Pak Wawan berdiri dalam gelap, menungguku.
“Sudah Pak, yuk kita turun.” Ucapku.
Kemudian kami berjalan menuju eskalator, yang sudah dalam keadaan mati.
“Makasih ya Pak, saya gak berani jalan ke bawah sendirian, takuuutt.”
“Iya, Mba. Memang agak seram sih. Hehe.”
Sepenggal percakapan terjadi dalam perjalanan kami ke lantai dasar.
__ADS_1
“Pak Wawan baru ya kerja di sini?” Tanyaku.