
Sampai di lantai dua, aku dikejutkan, seisi lantai dua kera-kera itu semakin banyak bahkan lebih banyak dari pada yang sebelumnya aku lihat, aku masih tidak bicara apapun.
Suara kerasukan Sely semakin aku dengar dengan jelas. Terlihat di kamar, Sely sedang dipegangi kedua tangan dan kakinya, meronta-ronta dengan terikan yang tidak jelas, benar saja seprai kasur yang berwarna putih bermotif bunga itu sudah berceceran darah, dari muntahan Sely.
“Tidak biasanya ini kerasukan Sely yang pling parah pak,” ucap bu Budi.
Aku masih mematung, memperhatikan seisi ruangan dan ketiga orang itu sedang berusaha menyembuhkan Sely. Tiba-tiba Sely diam, aku terus membaca apa yang aku bisa di dalam hati.
Hampir seisi ruangan itu juga kaget, karena tatapan muka Sely mengarah ke arahku. Bahkan tanganya menujuk, dengan mata yang hampir mau lepas. Aku melihat ke arah lemari besar pakaian Sely, ada seorang perempuan sangat cantik, sedang mengayunkan kakinya berkali-kali dan tersenyum manis melihat ke arahku.
“Lepaskan saja, kasian jangan dipegangi seperti itu,” ucapku dengan tegas.
Akhirnya bu Budi, dan ketiga orang itu melepaskan Sely yang otomatis membut mereka semakin aneh kepadaku. Begitu tangan Sely dilepas, dengan tiba-tiba dan membuat semua orang yang ada di dekat Sely menjadi kaget, karena Sely memperagakan selayaknya kera berperilaku, berjingkrak-jingkrak sangat aktif, dan memang sangat seram, apalagi rambut panjangnya yang sudah berantakan bahkan sudah satu kali lagi memuntakan darah sangat banyak.
“Tolong dan mohon maaf ibu, bapak dan semuanya bisa meninggalkan kamar ini,” ucapku dengan gemetaran, karena menahan rasa yang tidak bisa jelas aku ceritakan kepada mereka sebagai alasan.
Aku yakin tatapanku kepada mereka mungkin sudah beda, karena itu bu Budi, pak Budi juga perempuan tua dan orang bertiga itu segera langsung berjalan keluar, sementar Sely masih saja seperti tadi, kasur tempat tidur Sely juga sudah sangat berantakan sekali
Segera aku tutup pintu kamar dengan perlahan dan perempuan cantik yang sebelumnya aku lihat di atas lemari sudah berada duduk di ranjang sambil mengelus-ngelus rambut Sely yang sudah kembali tertidur.
“Perjanjian itu sudah dilalukan, ada darah yang harus dibayar dengan darah, ada keinginan yang harus dibayar dengan keinginan, semuanya berimbang, anak ini sudah menjadi miliku!,” ucap perempuan cantik itu berbicara sangat lembut sekali.
Aku masih diam dan sambil berdiri tidak berhenti membacakan apa yang aku bisa, keringat dan rasa ingin muntah terus aku rasakan, bahkan semakin sakit dan keringat semakin mengucur deras, apalagi aku menggunakan jaket yang lumayan tebal.
Tiba-tiba perempuan cantik itu menjambak rambut Sely sambil berteriak, aku terus meminta pertolongan Allah Swt dan terus membacakan dalam hati dengan menatap tajam perempuan cantik itu.
Teriakannya semakin kencang, “Aku bakalan datang lagi, lihat saja!,” dan hampir saja aku muntah karena menahan rasa mual, tanganku terus bergetar dengan kencang.
“Alhamdulillah,” ucapku.
Posisi Sely masih tertidur dengan posisi yang masih sama tidak beraturan. Aku segera membuka pintu perlahan. Di luar bu Budi sudah terlihat menangis.
“Bagaimana Ndi,” tanya bu Budi dengan air mata yang masih terlihat di kedua pipinya.
“Alhamdulillah, rapihkan saja dulu posisi non Sely bu, terus aku minta air minum,” ucapku sambil membukakan pintu kamar.
Ketiga orang itu langsung menyapku dan menepuk pundaku “Alhamdulillah, maaf sebelumnya kami punya perasangka yang tidak seharusnya kami ikuti perasangka tidak baik itu kepada bapak,”
“Tidak apa-apa pak, lagian kita masih sama manusia hilaf dan segala kesalahan adalah milik kita yang masih hidup,” ucapku sambil tersenyum.
Tidak lama dari itu, adzan magrib berkumandang dengan jelas, aku segera menghampir Sely yang masih saja tidur.
“Bu, bapak, karena saya harus ke pangkas, kasian juga teman saya mau bergegas pulang, kalau non Sely sudah siuman tolong minumkan dulu air ini yah,” ucapku, sambil memberikan air minum yang sudah aku pegang.
“Tidak magriban dulu di sini aja Ndi tanggung,” sahut Pak Budi.
“Nanti saja pak, lagian baru adzan,” jawabku dengan perlahan.
Segera pak Budi mengantarkan aku ke depan rumahnya, kera-kera yang sedari tadi memenuhi lantai dua rumah dan tangga ketika aku melewati kembali sudah tidak ada.
Sampai di depan ketika aku bersalaman dengan pak Budi untuk pamit, tiba-tiba pak Budi menyodorkan amplop sebagai rasa terimakasihnya kepadaku.
“Ndi ini ada sedikit titipan dari bapak dan ibu untuk istri dan anak-anak,” ucap pak Budi.
“Terimakasih pak atas niat baiknya, atas rasa hormatnya kepada istri dan anak-anak saya, saya terima niat pak Budi, alangkah baiknya, bapak berikan saja kepada anak yatim dan niatkan untuk kelancaran kita semua dan kesembuhan anak bapak, non Sely,” jawabku sambil tersenyum.
Pak Budi tiba-tiba terdiam, ada perasaan bersalah dengan apa yang aku katakan barusan, tiba-tiba mengangguk dan tersenyum, kemudian aku balas juga dengan senyuman.
“Baik Ndi, jam berapa kamu suka ada di pangkas? Nanti saya berukunjung,” ucap pak Budi.
“Saya hanya ada malam hari saja pak, silahkan dengan senang hati,” jawabku dengan perasaan tenang, karena pak Budi aku yakin memahami apa yang aku mau, bukan maksud merendahkan niat baiknya, karena selalu ada niat yang terbaik dari yang baik sekalipun.
Aku pamit meninggalkan rumah pak Budi dengan perasaan tenang, soal kesembuhan Sely yang aku pikirkan selama perjalan singkat menuju pangkas, apapun juga pasti ada resikonya apalagi ada sebuah perjanjian dengan makhluk lain, yang membuat aku juga tidak menyangka, tapi kembali lagi itulah manusia.
“Memang belum sembuh, keinginan orang tuanya sembuh harus sebanding juga dengan ikatan perjanjian yang mereka buat,” ucapku dalam hati, dan mulai mengesampingkan pikiranku terhadap keluarga pak Budi.
__ADS_1
Sampai di pangkas dengan keadaan keringat yang belum selesai reda, terlihat Yayan sedang sibuk di warung kopinya dan Daud sama masih berdiri di belakang kursi pangkas, karena masih terlihat beberapa antrian orang.
“A maaf barusan belum sempat balas chat,” ucap Daud, melihat kedatanganku yang baru saja turun di depan parkiran pangkas.
“Udah engga apa-apa U, U aku ke mushola sebentar,” jawabku.
“Keringetan banget a, beres dari rumah pak Budi?,” tanya Daud.
“Abis olahraga aku U hehe,” jawabku becanda.
Selesai menunaikan ibadah, barulah Daud pamit pulang dan menyetor padaku sesuai perjanjian dalam kerjaan, dan Yayan tau betul, pasti saja ketika Yayan tau aku sudah di sini, segelas kopi hitam pasti dia antarkan.
“Tumben a telat datangnya,” ucap Yayan sambil menyimpan kopi.
“Biasa Yan,” jawabku sambil mengedipkan mata.
“Alhamdulillah, a bulan ini alhamdulillah Yayan udah bisa bayar kontrakan dan ada lebih juga buat istri di rumah,” ucap Yayan.
Aku senang senang sekali mendengar apa yang Yayan ucapkan barusan, karena dia baru saja satu tahun mengontrak di samping tempat pangkasku ini, dan memang karena aku juga yang menyuruh Yayan berjualan kopi, walau memang tahun pertama aku yang membayar uang kontrakan, karena yang punya memang sitemnya harus satu tahun bayar.
Malam ini satu persatu kepala, aku rapihkan rambutnya, tapi yang lebih menarik dari pada proses mencukur adalah sebuah obrolan dan ceritanya, tidak jarang hampir semua cerita aku dengarkan dari yang datang ke pangkasku ini dan memang kebetulan aku lebih suka mendengarkan dan becanda saja, sehingga orang-orang mungkin berasa lebih nyaman berkunjung lagi ke sini sebagai langganan.
Biasanya orang-orang langgananku memang sengaja memangkas rambutnya malam hari, karena sudah tau jadwalku saja ada di sini memang hanya malam, di atas jam 11 malam ini, pangkas lumayan sepi, banyak waktu untuk aku sekedar menghabiskan rokok.
“A tadi abis isya bu Budi telepon, ngucapin terimakasih, bingung katanya pak Budi mau ngasih ke aa tapi malah aa tolak,” chat Imas, istriku.
Aku hanya tersenyum, dan tahu betul istriku seperti apa orangnya, padahal kebaikan yang aku tanam buahnya untuk keluargaku sendiri.
“Tidak terasa 15 tahun sudah aku berkeluarga, dan Imas masih saja seperti awal yang aku kenal seperti apa,” ucapku sambil tersenyum.
Pesan dari Imas tidak aku balas, karena aku tau nanti juga seribu pertanyaan ketika di rumah akan menghampiriku dari Imas.Aku segera keluar pangkas dan duduk di tempat kopi Yayan, sambil kembali menghabiskan batang perbatang rokok.
“Ngapain kamu Yan?,” tanyaku.
“Alhamdulillah, tumben malam ini sepi yang ngopi yan?,” ucapku.
“Warung inikan gimana pangkas aa, kalau pangkas aa rame yah yang pesen juga rame a,” jawab Yayan sambil duduk di sampingku.
Memang benar, sayangnya aku hanya mempunyai dua kursi pangkas saja, tapi karena itu juga bisa membuat Yayan mempunyai pekerjaan, dan warungnya terbawa ramai.
“Ah a kalau bukan karena aa, aku sudah tidak tau usaha apa a,” ucap Yayan tiba-tiba.
“Karena aku? Enak saja. Mulai lupa nih?,” jawabku.
“Hehe iya karena Allah a,” ucap Yayan sambil tersenyum malu.
“Iyahla Yan, lagian aku cuman bisa membantu yah selebihnya kamu yang usaha, istri dan anak-anak kamu juga yang ikut mendoakan kita tanpa orang-orang yang mendoakan tidak akan menjadi apa-apa,” jawabku sambil mengedipkan mata.
Ucapanku itu membuat aku dan Yayan ketawa, karena sudah sering aku katakan kepada Yayan berkali-kali, bukankah saling mengingatkan adalah kewajiban.
Malam ini sekitar jam 02:00 pangkas sudah tutup, sudah tidak terhitung berapa kepala malam ini yang aku rapihkan rambutnya, dan sudah banyak juga cerita yang aku dengarkan, obrolan bagiku penghangat di kerjaanku ini. Karna belajar dari orang lain masih aku butuhkan.
“Yan, aku pamit pulang duluan yah,” ucapku sambil beres-beres pangkas.
“Iya a, Yayan juga sama ini udah mau beres-beres,” jawab Yayan.
Akhirnya aku pulang menuju rumah, sampai di rumah aku mandi, dan menunaikan kewajibanku sebelum istirhat untuk tidur.
“Untuk apa kamu ganteng, ikut campur urusanku hah,”
“Siapa kamu?,” ucapku sangat kaget.
“Sudahlah, anak itu sudah menjadi miliku, bapaknya sendiri yang kasih kepadaku anak itu, jangan menghalangi, paham!,” ucap perempuan cantik membentak dengan keras.
Aku masih sadar dan belum tertidur, aku bukakan mata dengan perlahan.
__ADS_1
“Pak Budi,” ucapku.
Aku punya hutang, banyak hal yang harus aku sampaikan kepada pak Budi, besok aku harus bertemu.
Perjanjian dengan alam lain memang sampai kapanpun adalah perjanjian, biasanya semakin diikuti semakin parah perjanjian itu, dan perjalananku semakin aku yakini sejak tahun 2000 adalah pejalanan mistik yang penuh pengalaman dan cerita.
“Mah... sesudah solat subuh aa jemput, ini sudah di rumah mau tidur,” Isi singkat chatku mengabari Imas.
Memang bertukar kabar dengan Imas di usia pernikahan yang sudah berjalan lama adalah salah satu cara untuk mempertahankan harmonisasi keluarga kecilku.
Walau kadang membuat aku merasa geli sendiri, tapi perkembangan jaman dengan segala teknologi yang sudah maju, aku harus membiasakan dan akhirnya terbiasa.
Bayangan tentang Sely masih saja ada dalam pikiranku, walau aku mencoba untuk semakin tenang, tapi sama sekali tidak membuat aku nyaman dengan pikiran ini.
“Bukan waktu yang tepat menyalahkan, lagian siapa juga manusia yang hidup tidak mempunyai salah” ucapku, ketika ingat dengan kalimat “perjanjian” dan pada keluarga pak Budi.
Perlahan, mata mulai berdamai dengan diri, meminta maaf kepada pencipta untuk hari ini atas segala kesalahan yang tidak aku sadari dan berterimakasih atas segala kelancaran yang aku alami akan hari ini, adalah salah satu kebiasaan yang terus aku jaga, agar nikmat di kemudian hari bertambah.
“Ash-shalaatu khairum minan-nauum, ” terdengar dari suara Adzan Masjid, segera aku bukankan mata perlahan, tidak terasa tidur barusan sangat sebentar, tapi yang membuatku merasa cukup adalah nikmat istirahatnya.
Setelah melaksanakan kewajiban, tidak lupa aku memberi makan pagi si Robin, ayam yang sejak lama dari kecil aku besarkan, yang heran memang ayam lainya bersuara ketika pagi hari, Robin harus diberi makan dulu baru bersuara.
Selesai, langsung mengeluarkan kendaraan roda dua dan berjalan dengan pelan menuju rumah ibu. Sampai di sana benar saja, ketika masuk langsung ke rumah karena memang biasanya bapaku yang sudah tua itu dari pagi yang masih gelap sudah bergegas ke sawah.
“Asalamualaikum,” ucapku sambil masuk ke dapur dan mencium tangan Ibu, karena memang biasa ibu jam segini di pagi hari pasti memasak, hanya sekedar nantinya mengantarkan makanan untuk bapak ke sawah yang tidak terlalu jauh letaknya“Walaikumsalam,” jawab Ibu juga Imas.
“Nak, bagaimana anaknya bu Budi itu, semalem Imas cerita,” tanya Ibu sangat penasaran.
“Ya begitulah bu, sakit, tapi alhamdulilah sudah mendingan,” jawabku sambil menikmati kopi yang sudah Imas buatkan.
“Sudah menjadi gosip a di kalangan ibu-ibu pengajian katanya anaknya dijadikan tumbal oleh keluarganya sendiri,” sahut Imas, sambil menyodorkan singkong goreng.
“Aku kurang tau mah, lagiankan ibu-ibu pengajian ibu-ibu yang suka mengaji makanya aa suka bawel sama mamah sama ibu juga, pengajian boleh, ilmunya yang dipake sayangloh malah jadi membicarakan kejelakan orang lain kan tidak baik, berperasangka baik saja dulu,” jawabku kembali mengingatkan.
Imas dan Ibu hanya tersenyum dan pasti sudah tahu betul dengan sosok aku yang tidak terlalu suka membicarakan keburukan orang,
“Bukankah kita sama adalah kumpulan dosa-dosa,”
“Iya Ibu juga ingat Ndi, tolonglah selagi kamu bisa yah kasian kata kamukan menolong bukan sekedar materi tapi ada tanggung jawab kita pada kehidupan, bukan begitu,” ucap Ibu sambil duduk juga di sampingku.
Sekarang giliranku yang dibuat tersenyum oleh Ibu dan Imas, memang aku selalu senang dengan keadaan seperti ini menghiasi di balik kehidupanku setangahnya selalu berusan dengan alam lain, akibat ulah manusia itu sendiri.
Karena anak-anak belum bagun dan Imas berniat menemani ibuku ke sawah mengantar makanan, akhirnya aku hanya menghabiskan waktu di rumah ibu saja beristirahat dan membaca buku-buku yang mungkin sudah dua sampai tiga kali aku tamatkan.
Tidak terasa seharian berada di rumah ibu menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak juga bercengkrama dengan bapak adalah waktu terbaik untukku pada waktu sekarang, sore hari kebetulan sekarang adalah malam jumat, segera aku pamit dan izin pulang kepada ibu juga bapak karena memang selanjutnya adalah kembali berkerja.
“Pak jangan lupa besok jumaat, udah siap amplop buat besoknya,” tanyaku.
“Sudah ndi, alhamdulilah bertambah sekarang jadi 40 orang ndi,” jawab bapak dengan tersenyum.
“Alhamdulilah, semoga menjadi kesehatan dan kelancaran kita semua yah pak,” ucapku sambil pamit.
Di perjalan pulang aku selalu tersenyum ketika mengingat pada omongan orang-orang “si Andi orang sakti, orang pintar, bisa menyembuhkan” dan banyak lagi yang hampir saja membuat aku sendiri tidak paham dengan pemikiran mereka, padahal kuncinya hanya satu “sedekah”
“Mah aa langsung ke pangkas yah,” ucapku pamit kepada Imas.
“Ganti dulu ih itu bajunya a,” jawab Imas.
Segera aku turun dan menganti pakaianku, walau yah tetap sama tidak pernah rapih dan terkesan seadanya saja.
“Pengen buang rasanya celana robek-robek aa itu, tapi gimana pasti aa cemberut kaya tidak pernah punya yang bener saja,” omel Imas.
Tidak aku tanggapi hanya tersenyum dan pamit serta meminta doa kepada Imas agar kerjaanku lancar, segera aku berangkat dan kembali melewati rumah pak Budi. Niatku ingin berhenti sangat besar, tapi keyakinanku akan berjumpa dengan pak Budi di pangkas juga lebih besar, padahal sudah sangat pelan sekali lewat di depan rumahnya itu.
Bersambung...
__ADS_1