
Sebelum saya menceritakan pengalaman teman saya yang mulai dinas didaerah terpencil sebagai bidan
Oh iya, perkenalkan dulu, aku Maya. Aku tuh seorang bidan. Setelah lulus kuliah, aku sempat kerja di klinik. Sebenarnya klinik itu milik kakak iparku. Kalau kalian pernah ke Balaraja, klinik tempatku bekerja tidak jauh dari pasar Balaraja. Selama dua tahun aku bekerja di sana.
Tahun 2016, pemerintah membuka lowongan CPNS. Aku iseng-iseng ikutan daftar. Sebenarnya aku hanya ingin tahu saja bagaimana tes CPNS itu dan tidak punya harapan tinggi bisa lolos tes. Tapi, Tuhan berkata lain. Alhamdulillah aku lolos CPNS, lalu ditugaskan ke kampung terpencil.
Nama kampungnya Mekar Sari. Di sana ada puskesmas yang kekurangan tenaga bidan. Oh iya, bukan kekurangan tapi tidak ada bidannya. Jadi bidan yang pernah tugas di sana minta dimutasi ke daerah lain. Dan... aku ditugaskan untuk mengisi kekosongan bidan di puskesmas itu.
Aku tidak menyangka kalau kampung ini benar-benar terpencil. Mobil saja susah masuk karena jalannya rusak dan berlumpur kalau musim penghujan. Sesekali memang ada truk yang melintas. Tapi, para penumpang kerap terpaksa turun ramai-ramai mendorongnya karena ban terjebak di kubangan lumpur.
Aku sendiri naik ojek untuk sampai ke kampung Mekar Sari. Walau pada akhirnya tetap saja aku harus turun dari motor karena jalannya yang licin dan berbahaya. Dengan terpaksa aku menerobos kubangan lumpur. Sedangkan si bapak tukang ojek dengan susah payah mendorong motornya.
Saat itu aku sempat cemas karena sudah jam 5 sore. Tapi kami masih terjebak di jalan berlumpur ini.
“Ini masih jauh ya, Pak?” tanyaku sambil menyeimbangkan badan agar tidak tergelincir. Tangan kananku menjinjing sepatu, sedangkan tas besarku diletakkan di depan jok motor.
“Udah dekat kok, Neng. Habis hutan pinus ini kita sampai di Mekar Sari,” jawabnya sambil menoleh ke arahku. Sejauh mata memandang, di sepanjang jalanan ini memang hutan pinus.
Sesampainya di kampung Mekar Sari, aku langsung mencari kos-kosan. Aku kesulitan mencari orang untuk bertanya. Kampung ini sepi sekali padahal masih sore. Untungnya aku bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang duduk sendirian di depan rumahnya.
“Permisi, Bu, perkenalkan saya Maya. Saya bidan baru yang ditugaskan di kampung ini. Kalau mau sewa kosan di mana ya?” tanyaku.
“Oh, Mbak ini bidan baru,” dia menghampiriku sambil tersenyum ramah.
“Iya, Bu,” aku menyalaminya.
“Kenalkan, saya Minah. Kalau Mbak cari kosan di kampung ini ya nggak ada. Tapi Mbak bisa sewa kamar di rumah warga,” katanya.
“Nggak apa-apa saya sewa kamar aja. Kira-kira siapa ya yang berkenan kamarnya saya sewa?”
“Duh, kalau di rumah saya kamarnya terisi semua. Gimana kalau ke rumahnya Dinda? Bidan yang dulu juga tinggal di rumah Dinda," katanya.
“Dinda?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Iya. Dia itu cuma tinggal berdua sama neneknya. Siapa tahu Dinda mau sewakan kamar di rumahnya buat Mbak Maya,” ujarnya.
“Boleh, Bu. Boleh minta tolong antar saya ke rumah Dinda kalau gitu.”
Dia pun mengantarku ke rumah Dinda. Aku tidak menyangka kalau Dinda ini ternyata masih muda. Umurnya baru 19 tahun. Dia anak yatim piatu dan sudah putus sekolah. Selama bertahun-tahun Dinda mengurus neneknya yang sudah sangat renta.
Rumah Dinda cukup besar. Katanya rumah itu peninggalan orang tuanya. Ada empat kamar dan hanya dua yang diisi. Aku menyewa kamar bekas bidan yang pernah bertugas di kampung ini.
“Itu nenekku. Namanya Mbok Ibah. Dia udah nggak bisa ngomong,” Dinda membuka kamar neneknya. Dia memperkenalkan neneknya padaku.
Kulihat wanita tua itu sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Seluruh rambutnya putih semua. Dia mengenakan kain batik yang warnanya sudah pudar dan baju kebaya usang. Perlahan wanita itu mendongak ke arahku dan dia tersenyum.
“Mbok, saya Maya yang mau sewa kamar di rumah ini,” sapaku dari pintu kamar.
Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Tapi aku yakin dia juga menyapaku dalam hatinya.
Dinda menutup kembali pintu kamar neneknya. Engsel pintu itu mungkin sudah berkarat sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring saat ditutup.
Dinda lalu membawaku ke kamar yang mau aku sewa. Walau temboknya usang dan retak, tapi kamar itu tampak bersih. Ada ranjang besi jadul dan kasur kapuk di sana. Ada juga lemari pakaian yang dilengkapi dengan cermin besar.
“Ini kamarnya, Mbak. Semoga betah tinggal di sini,” ucap Dinda. Dari tadi aku tidak melihatnya tersenyum sedikit pun. Mungkin Dinda orang yang pendiam.
“Iya, Dinda. Terima kasih banyak udah mau terima aku di rumah kamu. Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu,” segera kubuka tas besar yang kubawa.
__ADS_1
“Ini buat kamu. Kamu suka cokelat, kan?” tanyaku. Dia mengangguk lalu mengambil cokelat itu."Terima kasih Mbak," katanya. “Kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil saya aja ya, Mbak,” tambah Dinda.
“Iya, Dinda,” timpalku.
Malam itu selesai mandi aku langsung tidur karena sangat lelah. Pintu kamar kukunci rapat, lampunya kumatikan. Hari yang sangat melelahkan. Aku harus istirahat karena besok sudah mulai bertugas di puskesmas.
Aku bangun jam lima pagi. Ternyata Dinda sudah tidak ada di rumah. Dinda pernah cerita kalau dia belakangan ini bekerja sebagai pemetik jagung. Perkebunan jagung memang menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga kampung Mekar Sari.
Selesai salat subuh aku langsung mandi. Namun, sebelum beranjak ke kamar mandi, tak sengaja kulihat pintu kamar Mbok Ibah terbuka sedikit. Aku mendekati pintu itu untuk mencari tahu apakah Mbok Ibah sudah bangun atau belum.
“Mbok sudah bangun?” kudorong pintu kamar itu sedikit, lalu melongokkan kepala.
Mbok Ibah ternyata sudah bangun. Dia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menunduk.
“Sudah, Nak,” jawabnya dengan suara yang serak kering.
“Oh ya sudah kalau begitu, Mbok. Saya mau mandi dulu ya,” kataku sambil tersenyum. Dia tidak menoleh kepadaku dan terus menunduk.
Aku pergi ke kamar mandi. Air di kampung ini sangat dingin. Mungkin karena lokasi kampung ini dekat dengan pegunungan. Saking dinginnya, tubuhku seketika menggigil. Saat sedang mandi, tiba-tiba ada seseorang memanggilku. Aku kenal itu suara Mbok Ibah.
“Nak ini handuknya,” kata Mbok Ibah dengan suaranya yang masih terdengar serak dan kering.
“Oh iya, Mbok. Wah jangan repot-repot. Aku udah bawa handuk kok, Mbok,” timpalku dari dalam kamar mandi.
Kudengar dia malah terkekeh lalu berkata, “Pakai handuk Mbok saja.”
Gayung yang kupegang seketika jatuh. Aku baru ingat kalau Mbok Ibah ini kan sudah tidak bisa berbicara. Aku seketika terdiam. Suaraku tercekat di tenggorokan. Suasana menjadi sangat mencekam. Di luar Mbok Ibah masih memanggilku sambil menawarkan handuk.
“Ini pakai punya Mbok saja.”
Untungnya sesaat kemudian ada yang menggedor pintu kamar mandiku.
“Kenapa, Mbak?!” itu suara Dinda.
Segera kukenakan handuk lalu membuka pintu.
“Dinda, tadi Mbok kamu bisa ngomong terus tangannya panjang banget,” nada bicaraku terburu-buru.
“Masa sih, Mbak?” tanya Dinda sambil mengerutkan dahi.
“Iya, Dinda. Mbak takut banget,” aku memegang tangan Dinda.
“Mbok masih ada di kamar kok. Kalau nggak percaya coba cek aja,” Dinda mengajakku untuk melihat kamar Mbok Ibah.
“Takut, Din,” aku menggelengkan kepala.
“Ayo, Mbak…,” Dinda memaksa sambil menarik lenganku.
Pelan-pelan kudekati pintu kamarnya Mbok Ibah. Dinda mendorong pintu itu. Di dalam sana kulihat Mbok Ibah masih duduk di tepi tempat tidurnya. Dia menoleh ke arah kami lalu tersenyum sambil mengangguk ramah.
“Tuh kan... Mbok masih di kamarnya," kata Dinda.
“Sumpah, Dinda. Mbak dengar jelas banget kalau Mbok kamu ngomong terus tangannya panjang banget.”
“Kayaknya Mbak masih ngelindur deh,” kata Dinda.
Aku menggelengkan kepala, “Ya sudah lupakan," kataku. Aku rasa percuma bersikeras dengan orang yang tidak percaya padaku.
__ADS_1
"Emang kamu habis dari mana?” tanyaku sambil menjauh dari kamar Mbok Ibah. Aku mengalihkan pembicaraan sambil menjauh dari kamar Mbok Ibah.
“Aku tadi di belakang rumah, Mbak. Habis bersih-bersih. Hari ini Mbak kerja ya?” tanya Dinda.
“Iya, Din. Mbak mau ganti pakaian dulu ya.”
“Mbak bidan kan? sebelum masuk ke kamar, Dinda malah bertanya lagi.
“Iya, Dinda.”
“Di kampung ini kalau ada yang melahirkan nggak suka pakai bidan Mbak.”
“Lho, kenapa? Masih pakai dukun ya?” aku mengerutkan dahi.
“Iya. Tapi di kampung ini bukan dukun namanya, tapi paraji.”
Aku mengangguk-angguk. Ini merupakan tantangan baru bagiku. Aku harus memberikan penyuluhan pada masyarakat agar mereka paham tentang keselamatan saat bersalin.
Pagi itu aku dijemput oleh Pak Sukra. Dia pegawai puskesmas. Pak Sukra pasti tahu dari warga kalau aku menyewa kamar di rumahnya Dinda.
Aku pun diantar ke puskesmas yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Dinda. Mungkin sekitar lima belas menit perjalanan. Jalan menuju puskesmas juga rusak parah. Aku dibonceng pakai motor bebeknya Pak Sukra.
“Kenapa jalanan di kampung ini rusak semua ya, Pak?”
“Ya beginilah, Mbak. Jarang ada pembangunan. Sekalinya dibangun aspalnya tipis banget. Ya palingan bertahan satu atau dua tahun udah rusak lagi.”
“Oh... begitu ya, Pak?”
“Iya, Mbak. Paling parah kalau musim hujan banyak orang yang jatuh dari motor karena jalannya licin, Mbak.”
Akhirnya kami tiba di puskesmas. Dilihat dari depan, puskesmas itu tampak seram, temboknya berlumut, catnya juga sudah pudar. Ada pohon beringin besar di depan gedung puskesmas itu.
“Kita sudah sampai, Mbak. Ini puskesmas Mekar Sari,” ucap Pak Sukra sambil tersenyum.
“Pak, itu di belakang puskesmas siapa?” tanyaku sambil menunjuk ke arah wanita yang berdiri di halaman belakang gedung.
Wanita itu menatap ke arah kami. Ia mengenakan daster dan tampak seperti sedang hamil tua. Dari tempatku berdiri saat ini, aku masih bisa melihat wujud wanita itu dengan jelas.
“Mana, Mbak?” Pak Sukra mencari sosok yang kutunjuk-tunjuk.
“Itu lho, Pak. Kayaknya dia lagi hamil tua,” aku masih melihat sosok itu.
Anehnya Pak Sukra tidak melihatnya. Padahal jelas-jelas wanita itu masih berdiri di halaman belakang puskesmas sambil menatap kami. Siapa wanita itu?
Saat aku dan Pak Sukra menghampiri wanita itu, kulihat dia lari begitu saja dan masuk ke semak-semak. Namun, sekali lagi, Pak Sukra sama sekali tak dapat melihat keberadaan wanita itu. Aku tidak habis pikir kenapa banyak sekali keanehan yang kualami hari ini
Saat aku dan Pak Sukra menghampiri wanita itu, kulihat dia lari begitu saja dan masuk ke semak-semak. Namun, sekali lagi, Pak Sukra sama sekali tak dapat melihat keberadaan wanita itu. Aku tidak habis pikir kenapa banyak sekali keanehan yang kualami hari ini.
“Saran saya jangan melamun, Mbak. Demit mudah mengelabui kita kalau kita sering melamun,” begitu kata Pak Sukra.
“Iya, Pak,” aku mengangguk. Kami pun masuk ke puskesmas. Sesekali aku masih menoleh ke belakang, mencari keberadaan si wanita hamil.
Hari pertama kerja di puskesmas Mekar Sari sangat membosankan. Aku hampir tidak mengerjakan apa-apa. Yang berobat sepi, apalagi yang bersalin atau konsultasi kehamilan. Sama sekali tidak ada.
Petugas di sini kebanyakan makan gaji buta. Tumpukan obat dibiarkan kedaluwarsa, lalu dibuang dan diganti dengan yang baru. Nasib obat yang baru pun pasti sama, ujung-ujungnya dibuang juga. Jarang sekali ada yang berobat ke puskesmas ini. Mereka lebih suka pakai jampe dibanding obat.
Dinda memang benar. Warga di kampung ini tidak percaya sama bidan. Mereka lebih suka pergi ke dukun atau paraji ketimbang minta bantuan bidan. Aku tidak bisa membayangkan selama bertahun-tahun makan gaji buta di sini
__ADS_1