Hantu Villa

Hantu Villa
Bersembunyi Dalam Terang Tamat


__ADS_3

Tahun 2007 awal pernikahan dengan Imas, 3 tahun sebelum aku berganti pekerjaan sebagai tukang cukur (mempunyai pangkas) awalnya aku adalah penjual martabak manis, tempat aku berjualan sekitar satu jam dari rumah, di sebuah kampung dekat dengan sebuah danau, di mana di situlah orang-orang sering ramai, walau yang berjualan bisa terhitung dengan jari.


Yogi adalah teman masa sekolahku yang mempunyai resep martabak karena memang turun temurun dari keluarganya, atas persetujuan modal yang aku keluarkan sangat terbatas, akhirnya aku dan Yogi sepakat memulai usaha tersebut, penampilanku sama halnya dengan sekarang tidak pernah rapih sama sekali.


Selepas waktu ibadah solat asar, aku dan Yogi yang memang kebetulan tidak jauh rumahnya dari rumah Ibuku (waktu itu masih tinggal bersama Ibu) selalu menjemputku dengan membawa adonan martabak dan segala perlengkapan lainya untuk berdagang.


Sudah hampir 3 bulan berjalan, dan memang selalu habis jauh di mana waktu prediksiku yang seharusnya habis, di perjalanan yang cukup jauh 1 jam karena memang motor melaju sangat pelan sekali, maklum motor tua.


“Ndi, semoga hari ini habis cepat lagi yah,” ucap Yogi sambil mengendarai motor.


“Amin, Gi itu untung yang kamu dapat jangan pake mabok terus, tabung, katanya mau menikah,” jawabku sambil tertawa.


“Ah ngelarang terus, pas aku ketauan mabok kamu juga tidak memarahi aku,” ucap Yogi kesal.


“Ya kan lagi maboknya coba belum, mending buat aku aja uang untung kamu,” jawabku sambil becanda.


Yogi saat itu memang masih menyukai hal-hal kesenangan yang sementara itu, aku hanya bisa mengingatkan dan memahi betul memang teman-teman dan lingkungan yang mendukung, mau bagaiamana lagi, tiba saatnya nanti, dia juga pasti berhenti.


Sampai di lokasi jam 4 lebih, menuju sore baru saja membereskan dagangan, sudah berhenti satu motor dan memesan 2 bungkus


“Alhamdulilah tuh Gi, inimah bakalan laris lagi,” ucapku sambil menyengol badan Yogi.


“Harus Ndi biar bisa pulang cepet,” jawab Yogi, sambil tersenyum.


Hanya aku dan Yogi yang menjual Martabak di daerah ini, ini juga awalnya saran dari Rendi, temanya Yogi, yang sekarang menjadi teman akrabku juga, biasanya Rendi suka ikut nongkrong saja dekat gerobak kalau aku sudah beres berjualan.


Sore terus datang sebagaimana mestinya, perlahan adonan martabak hari ini terus berkurang itu artinya semakin laris, silih bergantian pembeli satu persatu antri, menyapa sopan pelanggan dan memanjakanya adalah salah satu cara andalanku yang aku pelajari.


“Kemarin si Rendi bilang bapaknya sakit udah lama Ndi gak sembuh-sembuh,” ucap Yogi, kebetulan sedang renggang pembeli dan waktu magrib akan segera datang hari ini.


“Oh iya sakit apa Gi?” tanyaku dengan santai.


Terlihat dari jauh, berjalan sangat pelan Rendi dengan tangan sebelahnya menjapit rokok, semakin mendekat ke gerobak.


“Ren,” ucapku.


“Eh a, lemes a duh liat kondisi bapak di rumah, mana kerjaan di kolam lagi gini, masih lama ke panen niatnya buat bawa berobat bapak ke dokter a,” jawab Rendi sambil kembali mengisap rokonya


“Sakit apa emang Ren bapak?” tanya Yogi, sambil mengasongkan bangku untuk Rendi.


“Enggak tau Gi, udah 3 mingguan sakitnya tuh, awalnya bapak pulang dari kebun gitu biasa, tau-tau emang suka meriang eh gak tau kenapa kakinya jadi membesar,” jawab Rendi menjelaskan.


Aku hanya memperhatikan dan tidak bertanya lagi, tiba-tiba adzan magrib berkumandang tidak tau kenapa tiba-tiba aku merasakan ingin sekali ke rumah Rendi.


“Ren, aku ikut solat ya di rumah kamu?” ucapku, tiba-tiba Yogi langsung menatap heran ke arahku, heran.


“Biasanya juga di Mushola sana Ndi?” sahut Yogi.


“Gapapa bener a, kali-kali maen ke rumah, lagian aku terus yang sering maen ke sini, gantian,” jawab Rendi.


Rasanya senang sekali mendengar jawab Rendi, segera aku dan Rendi berjalan ke rumahnya yang memang tidak terlalu jauh dari tempat aku berjualan, di jalan aku sengaja tidak membahas soal bapaknya, lebih kepada pekerjaan Rendi, dan Rendi juga mulai penasaran kenapa dagangan martabku cepat habis.


Sampai di rumah Rendi, perasaan tidak enak langsung mengampiriku, aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam berkali-kali dan menenangkan saja diriku ini dan sambil tidak henti-hentinya berdoa dalam hati.


“A ini Ema (ibu),” ucap Rendi, ketika mulai masuk rumahnya.


“Assalamualikum, ibu” ucapku sambil salaman mencium tangan Ibunya Rendi.


“Walaikumsalam Andi, martabaknya selalu enak, Rendi sering cerita Andi, makasih udah datang ke rumah loh,” jawab Ibunya Rendi.


“Kebetulan teman Andi bu, Yogi yang punya resepnya Andi hanya ikut bantu-bantu saja, alhamdulillah bu bisa silaturahmi sekalian mau ikut solat Magrib,” ucapku dengan perlahan.


“Tuh a disana kamar bapak, siapa tau sekalian aa mau liat,” sahut Rendi tiba-tiba.


“Iya Andi, bapak udah sakit aneh lama, yah gitu gak bisa bangun,” ucap Ibunya Rendi.

__ADS_1


“Boleh sekalian yah Bu,” jawabku sambil bergegeas dengan Rendi dan Ibunya melihat Bapak Rendi.


Ibu Rendi, kemudian diikuti oleh Rendi dan yang terakhir aku masuk ke kamar bapaknya.


“Astagfirullahaladzim,” ucapku dalam hati, dengan apa yang aku lihat langsung saja badanku terasa bergetar dan tetap untuk menenangkan diri.


Bapaknya Rendi menatapku dengan tajam, bahkan beberapa detik kemudia melotot sampai matanya hampir saja lepas sangat melotot, jauh seperti orang normal pada umumnya.


“Heh pak, ini Andi, temenya Rendi, kenapa seperti itu negliatnya,” ucap Ibu Rendi, sambil menepuk badan bapak Rendi yang terbaring.


“Tidak apa-apa bu, Ren boleh ikut magriban dulu,” sahutku, dengan langsung keluar dari kamar bapaknya Rendi.


“A maafkan bapak ngeliat aa seperti itu, padahal itu hal pertama kali yang Rendi pernah liat a,” ucap Rendi dengan penuh rasa tidak enak tentunya.


“Tidak apa-apa Ren,” jawabku sambil tersenyum tenang, padahal dalam hati masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan.


Segera aku melaksanakan solat Magrib di kamar Rendi, Rendi mungkin menemui dan mengobrol dengan Ibunya di ruang tengah rumah, baru saja 2 rakaat dan rakaat terakhir sudah terasa ada yang duduk di kasur Rendi yang aku belakangi, karena menghadap ke arah kiblat.


Setelah beres solat, tiba-tiba ada yang ingin berusaha mencekik leherku dengan kukunya yang sangat tajam dan panjang. Terus saja aku membacakan ayat-ayat dalam hatiku dengan tenang, keringat mulai turun di badanku, dan meminta pertolongan pencipta.


“heh sia! Ulah ngilu urusan aing! Aing didieu nu boga kawasa, bisi sia ku aing nu dipodarana!”


(heh kamu! Jangan ikut campur urusanku! Aku di sini yang punya kekuasan, jika tidak kamu akan kubunuh!) ucap mahluk dengan badan yang besar serta perut yang sangat buncit, terus mengeluarkan ludahnya dengan tatapan mata yang melotot, ludahnya sangat menjijikan sekali.


“Kakuasaan hanya milik allah, eweuh nu kuasa tibatan nu maha kuasa, mun sia ngancam kitu, sia nu ku aing dipodaran tiheula!"


(Kekuasaan hanya milik allah, tidak ada yang kuasa dari pada yang maha kuasa, kalau kamu mengancam seperti itu, kamu yang akan saya bunuh duluan) jawabku mengacam balik, sambil berbalik sila, ke hadapan mahluk itu.


“Ampunnnn panas, ampunn,” suara makhluk yang merenges kesakitan.


Terus saja aku membacakan dalam hatiku sambil menatap tajam ke arah makhluk itu, semakin tajam tatapanku, dan semakin jadi makhluk itu berteriak kesakitan.


“Balik! Balik sia kanu nitah sia, atau sia ku aing bener-bener di podaran jeng nu nitah siana sakalian!”


(Pulang! Pulang kamu ke yang menyuruhmu, atau kamu benar-benar akan kubunuh bersama yang menyuruhmu sekalian) bentaku sambil berdiri di hadapan mahluk itu.


(Aku sudah disuruh membunuh orang itu karena diberi imbalan kambing hitam, sama dengan darahnya harus dimimum) jawab mahluk itu sambil menahan sakit dan menunjuk ke arah kamar bapaknya Rendi.


Dengan mengeluarkan semua tenanga aku semakin dekat dengan makhluk itu dan mengusir agar dia pergi sambil terpejam dengan sekuat tenaga!


“Ampuunnnn…” teriakan mahluk itu sangat kencang sekali.


Perlahan aku bukakan mata, dengan seluruh badan yang penuh keringat dan langsung berjalan keluar kamar Rendi, Rendi dan Ibunya yang sedang duduk di ruang tengah rumah, sangat terkejut dengan melihatku sudah penuh bahkan basah dengan keringat yang sangat banyak.


“Ren bawakan minum sekarang cepat,” ucapku pada Rendi dan berjalan ke kamar bapak Rendi.


“Iya a siap,” ucap Rendi gemetaran karena melihatku mungkin sudah berbeda dengan sebelumnya yang Rendi lihat.


Bahkan ibunya Rendi sama sekali tidak berani bicara dan mengikuti langkahku ke kamar bapaknya Rendi, ketika masuk benar saja matanya bapak Rendi sedang melihat ke atas atap rumah dengan tatapan kosong dan dari mulutnya keluar air liur yang banyak.


“Bismillahirohmanirohim,” ucapku sambil mengusap bagian kepala sampai dagu wajah bapak Rendi.


Matanya kembali tertutup, terdengar sedikit isak tangis dari ibunya Rendi yang perlahan.


“Mana Ren sini airnya,” ucapku sambil melihat Rendi yang mematung dengan tatapan kosong.


Segera aku bukakan mulut bapaknya Rendi, dan alhamdulillah tidak menolak air minum yang aku berikan padanya, tenggorokanya menerima, perlahan demi perlahan air itu diminum dan matanya kembali terbuka.


“Alhamdulillah, sebentar lagi bapak siuman Ibu, tolong gantikan bajunya yah,” ucapku dengan sangat lemas.


“Alhamdulillah terimaksih Andi,” ucap Ibu Rendi dengan air matanya mengikuti turun menuju kedua pipinya.


Segera aku keluar kamar, diikuti oleh Rendi yang masih tidak percaya dengan beberapa menit ke belakang yang terjadi di rumahnya sendiri.


“Udah jangan jadi melamun Ren, aku pinjam baju kamu, malu mau lanjut dagang masa penuh keringat seperti ini,” ucapku pada Rendi sambil tersenyum.

__ADS_1


Segera aku duduk di luar rumah Rendi, mencari angin sambil membakar satu batang rokok untuk menenangkan perasaanku dan menetralkan badanku ini. Tidak lama Rendi datang dengan menyodorkan anduk dan baju dia yang kebetulan badanya tidak jauh beda denganku, malah aku yang terkesan lebih kecil.


“A aku kira aa gak bisa nyembuhin kaya gitu, pantesan pas awal bapak sakit tiga minggu yang lalu ada perasaan pengen bilang ke aa tapi ragu-ragu dan malu,” ucap Rendi.


“Bisa apa? Kebetulan aja itu Ren,” jawabku sambil becanda.


Karena sudah merasa kasian kepada Yogi dagang sendirian segera aku pamit, dan kebetulan juga Ibu Rendi membawakan kopi.


“Bu Andi gak lama, kasian si Yogi udah ditinggal,” ucapku pada Ibunya Rendi.


“Tidak apa-apa bawa saja kopinya, nanti suruh Rendi yang bawa lagi gelasnya, Andi ibu dan bapak juga Rendi keadaanya sedang begini, ini ada sedikit untuk ucapan terimakasih, bapak yang sudah tidak bisa jalan tiba-tiba bisa sembuh oleh Andi,” ucap Ibu Rendi kelihatan sangat malu.


“Ibu, itu bukan karena Andi, itu semua karena pencipta bu, alhamdulillahnya melalui Andi, sudahlah bu lagian kaya dengan siapa saja, Rendi teman saya Ibu juga yah Ibu saya juga begitu juga dengan Bapak, saya terima niatan baik ibu, kasihkan saja nanti di hari Jumat ke anak Yatim yah bu, niatanya untuk kesembuhan bapak,” ucapku perlahan, agar Ibunya Rendi tidak merasa malu.


“Gapapa bu udah, Andi harus ke dagangan dulu, nanti ada waktu Andi main kesini lagi atau ikut solat lagi yah Bu,” ucapku pamit pada Ibu Andi, sambil mencium tanganya, tatapanya masih seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.


Sambil berjalan Rendi bertanya banyak tentangku, tentang apa yang dia lihat barusan ketika aku baru saja keluar dari kamarnya, aku tetap menjawab.


“Kebetulan, aku tidak bisa apa-apa,” tidak lupa sambil ketawa, agar bisa menjadi bahan becanda.


Benar saja Yogi sedang sibuk sendiri, membuatkan pesanan yang sama sedang ditunggu oleh pembeli, segera aku membantu Yogi dan Rendi hanya duduk masih dengan tidak percaya, dengan semua kejadian 20 menit ke belakang hari ini.


“Lah malah salin Ndi? Emang bawa baju?” tanya Yogi yang baru sadar.


“Pinjem yang Rendi,” jawabku sambil mengedipkan mata.


“Iya Gi, bapak sembuh alhamdulillah sama aa,” ucap Rendi.


“Alhamdulillah dong Ren, kenapa gitu Ndi sakitnya apa?,” tanya Yogi penasaran.


“Sakit apa? Yah sakit aja udah yang pentingkan sekarang sembuh,” jawabku sambil menepuk badan Yogi.


Yogi hanya menganggukan kepala, seolah mengerti dan memang Yogi sudah sedikit tau tentang perjalanan mistisku, yang sering membantu hal-hal yang berkaitan dengan alam lain seperti itu.


“Bapak,” ucap Rendi tiba-tiba.


Segera aku melihat ke arah pandangan Rendi begitu juga dengan Yogi, aku hanya tersenyum melihat bapaknya Rendi sedang berajalan ke arah gerobak, sampai di gerobak tidak henti-hentinya bapaknya Rendi mengucapkan terimakasih padaku, aku yang selalu tidak enak bahkan tidak suka di posisi ini hanya mengucapkan “sama-sama” sambil terus berusaha ingat dan merendah bahwa yang tinggi dan yang maha atas semua yang terjadi di kehidupan ini adalah milik pencipta.


Bapaknya Rendi tetap penasaran dengan yang berbuat seperti itu padanya, dan sudah dua kali bertanya hal yang sama dalam obrolan ini aku hanya bisa menjawab


“Pak mohon maaf jika untuk mengetahui siapa yang berbuat seperti itu kepada bapak hanya akan menimbulkan dendam untuk apa? Berarti kita sama tidak bisa mengalahkan ***** yang yang ada dalam diri kita, lebih baik bapak melakukan saran Andi, bukan berarti Andi menggurui tapi itu saran yang paling baik,” ucapku dengan perlahan.


Akhirnya bapaknya Rendi mengerti dan paham, aku menyarankan untuk bersedekah untuk menjaga kesehatan, dan menjaga dari hal-hal lainya dan selalu meminta pertolongan yang maha kuasa, karena hal itu yang paling ampuh menurutku.


Tidak lebih dari 30 menit bapaknya Rendi sudah bisa berjalan setelah sakitnya selama 3 minggu, jelas kabar tersebut menjadi kabar yang ramai di kampung Andi, kecepatan informasi dari mulut ke mulut selalu menjadi yang tercepat, alhasil hari-hari selanjutnya kebaikan keluarga Rendi yang selalu memberi makan di waktu selesai Magrib terus berlanjut, dan tidak jarang jika ada hal-hal yang berkaitan dengan alam lain, pasti saja aku yang diminta untuk membantu.


Walau tidak jarang juga, dengan penampilanku seperti ini membuat orang-orang tidak percaya langsung, tapi aku lebih tetap menyukai hal seperti ini, bersembunyi dalam terang adalah saran pertama dari guruku untuk hal-hal seperti ini, karena itu hal yang paling sulit dan aku masih terus belajar.


Tiga tahun berjualan Martabak dengan segala cerita di tempat ini adalah yang paling berharga, untung dari berjualan bisa menetupi kebutuhan keluarga, juga bapak dan ibu bahkan bisa aku sisihkan untuk menabung, selama tiga tahun itu juga silih berganti aku mengetahui banyak hal-hal baru dari segala hal, menanam kebaikan akan selalu memanen kebaikan, tinggal bagaimana caranya pencipta bekerja selalu luar biasa dan selalu membuat di luar nalar logika semata.


Tidak terasa, berjalanya waktu dan segala aktivitasku di sisi lainya adalah membantu orang, perlahan selama tiga tahun itu juga tabunganku aku rasa cukup, apalagi Yogi harus menggantikan bapaknya berjualan di dekat pasar rumahnya, yang sama dengan rumahku.


Di tahun 2009 akhir, aku memutuskan untuk menyewa sebuah tempat yang tempatnya strategis dengan modal secukupnya, aku berganti profesi sebagai tukang cukur, membuka tempat pangkas sendiri, yang memang sebelumnya kemampuanku dan rasa suka merapihkan rambut orang yang menjadi latar belakang kepindahan profesiku.


“Ndi sudah lama sekali aku pengen tanya ini, sudah lama juga 3 tahun bareng-bareng jualan, aku tau segala yang kamu bisa apa ilmunya Ndi?” tanya Yogi pada suatu momen ketika sedang mengopi di depan rumah orang tuaku.


“Ini,” ucapku sambil sambi menujuk ke arah dada.


“Bersedekah Gi, memberikan apapun ketika kita benar-benar membutuhkan adalah hal yang paling sulit, melawan diri sendiri. Bertengkar dengan setan kita diwasiti *****, bertengkar dengan ***** kita diwasiti setan,” jawbaku sambil tersenyum.


“Yang lainya Ndi apa?” tanya Yogi.


“Bersenyembunyi dalam terang,” jawabku perlahan.


Yogi hanya mengangguk, seolah tidak kalimat dari mulutku untuk bisa dia tanya kembali. Bersembunyi Dalam Terang bagiku semua orang bisa melakukan dan bisa mengartikannya masing-masing. Dengan segala penampilan, orang tidak bisa menilai satu sisi orang lain.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2