
Jaga Malam
Aini masih bingung dengan apa yang ia alami kemarin malam. Ia jelas-jelas bertemu dan membantu dokter Arwani menangani pasien. Tapi, kenapa tiba-tiba ruangan itu berubah menjadi gudang kosong. Ia lalu menceritakan kejadian itu pada ibunya.
“Nama dokternya siapa tadi kamu bilang?”
“Dokter Arwani, Bu.”
Bu Hani terdiam sejenak.
“Kenapa, Bu?”
“Nggak apa-apa. Kamu bisa minta dipindahkan tempat praktiknya?” tanya Bu Hani.
“Kayaknya udah nggak bisa, Bu. Emangnya ibu kenal sama dokter Arwani itu?”
“Iya. Ibu kenal,” wajah Bu Hani terlihat cemas.
“Dia siapa, Bu?”
“Setan jahat, Nak. Dulu teman Ibu juga pernah diganggu dokter Arwani. Ibu nggak tahu kalau kamu praktik di rumah sakit itu.”
“Terus bagaimana, Bu?” Aini juga tampak ketakutan.
“Jangan khawatir.”
Bu Hani beranjak dari kamar anaknya, ia mengambil sebuah jimat dari dalam lemari. Jimat itu dibungkus dengan plastik transparan, di dalam plastik terdapat secarik kertas yang dilipat hingga berbentuk segi empat.
“Mana dompet kamu?” Bu Hani menyodorkan lengannya.
Aini mengeluarkan dompetnya dari dalam tas lalu menyerahkannya pada Bu Hani.
“Nak, ini Ibu selipkan jimat ampuh di dompetmu. Ingat, jangan sampai jimat ini hilang, ya.”
Aini mengangguk saja, tanpa bertanya macam-macam.
Sementara itu di rumah sakit, Angga sedang duduk sambil memeriksa kembali lembaran data pengunjung IGD. Di ruangan itu ada dua orang yang sedang menjalani rawat inap, keduanya terkena demam berdarah. Catatan trombosit mereka memprihatinkan sehingga harus dirawat.
Di samping Angga, ada dokter Diong yang sedang sibuk menulis resep obat untuk pasien. Di rumah sakit itu memang kalau malam tidak ada dokter umum yang berjaga, jadinya setiap pasien yang berobat tengah malam dirujuk langsung ke dokter yang berjaga di IGD.
Tidak lama berselang, pintu IGD ditabrak paksa hingga menimbulkan bunyi berdebam. Dua orang lelaki menggotong seorang wanita yang sedang kritis. Mereka berdua panik dan langsung membaringkan wanita itu di atas ranjang pasien.
“Korban tabrakan, Dok! Tolong segera dibantu!” pinta salah satu lelaki itu.
Umur wanita yang sedang kritis berkisar dua puluh tahunan, masih terlihat sangat muda.
“Pendarahan parah, Dok,” kata Angga, ini baru pertama kalinya ia menangani pasien yang kritis.
Belum sempat dilakukan tindakan apa pun, wanita itu mengembuskan napas terakhir. Tubuhnya tidak kuat menahan pendarahan yang sangat parah.
“Dia sudah meninggal. Apa bapak-bapak ini keluarganya?” tanya Dokter Diong. Mereka berdua menggelengkan kepala.
“Bukan Dok. Jadi tadi wanita ini ikutan balap liar dan sebelum sampai di garis finis, dia mengalami kecelakaan tunggal, Dok.”
“Lalu kalian siapanya?”
“Kami penonton, Dok. Di sana tadi nggak ada yang mau bawa wanita ini ke rumah sakit. Pada takut mereka.”
“Kalian tahu siapa wanita ini?” tanya dokter.
Mereka lagi-lagi menggelengkan kepala.
“Apakah kalian menemukan KTP wanita ini?”
“Nggak Dok, lihat saja. Dia bahkan nggak bawa dompet.”
“Angga, tolong bawa dulu ke kamar mayat, ya.”
“Baik, Dok."
Mayat perempuan tanpa identitas itu dibaringkan di atas brankas lalu Angga mendorongnya menuju kamar mayat, sementara dokter Diong masih berbincang dengan kedua lelaki tadi. Sesampainya di kamar mayat, Angga disambut oleh seorang lelaki yang sedang berjaga.
“Ya, masuk,” sambut lelaki penjaga kamar mayat. Dia sudah tua, rambutnya hitam berselang putih. Badanya kurus kering sampai-sampai urat di lengannya terlihat menonjol.
“Sebentar ya. Saya kasih penanda dulu mayatnya,” lelaki tua tampak sibuk mencari sesuatu di saku baju dan celananya.
“Aduh! Kunci lemarinya ilang. Di mana ya?” dia menepuk jidat.
__ADS_1
“Serius, Pak?” timpal Angga.
“Iya. Oh, kayaknya ketinggalan di toilet. Kamu tunggu di sini dulu, ya. Saya mau ambil kunci dulu.”
“Oke, Pak. Jangan lama-lama, ya.”
Akhirnya Angga ditinggal sendirian di kamar mayat itu. Selang beberapa menit, lelaki tua itu tidak kunjung muncul. Angga mulai gelisah, ia mondar-mandir di mulut pintu. Sesekali mengecek jam tangannya, ia harus segera ke IGD lagi.
“Mas....”
Tanpa Angga duga, terdengar suara seorang wanita menyapanya. Ia menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Angga saat melihat mayat wanita itu duduk sambil tersenyum padanya. Kedua mata wanita itu masih terpejam.
Sarang Setan
Angga berteriak ketakutan lalu lari sekuat tenaga menuju ruang IGD. Dengan terengah-engah, ia menjelaskan apa yang barusan dilihatnya pada Dokter Diong. Jelas saja Dokter Diong terkejut mendengar penjelasan Angga, mereka lalu bergegas menuju kamar Mayat. Setibanya di sana, mayat wanita itu sudah terbaring kembali di atas brankar dan tentunya tidak bernyawa.
“Ah, kamu mengada-ngada saja,” Dokter Diong kesal pada Angga.
“Ada apa ya, Dok?” tanya penjaga kamar mayat.
“Sumpah Dok, tadi aku lihat wanita itu hidup lagi,” sergah Angga yang tetap ngotot kalau dia tidak salah lihat.
“Kayaknya kamu kebanyakan nonton film horor,” timpal Dokter Diong.
“Hah? Hidup lagi? Kamunya aja kali yang penakut, hahaha...,” penjaga kamar mayat ketawa mendengar perkataan Angga.
“Ya sudah, ayok kerja lagi,” Dokter Diong beranjak dari sana.
Sedangkan Angga masih berdiri di mulut pintu sambil menatap mayat wanita. Ia merasa ada yang tidak beres dengan rumah sakit ini.
Lewat tengah malam, Angga pergi ke luar rumah sakit untuk beristirahat, kebetulan tepat di depan rumah sakit ada pedagang nasi goreng. Ia menghampiri pedagang itu dan duduk di bangku pelanggan.
“Sudah lama mangkal di sini, Bang?” tanya Angga basa-basi.
“Wah sudah belasan tahun, Mas,” jawab pedagang nasi goreng sambil sibuk memasak.
“Sudah lama juga ya, Bang.”
“Iya Mas. Saya betah mangkal di sini.”
Tidak perlu menunggu lama, nasi goreng pesanan Angga akhirnya siap dihidangkan. Aromanya menggoda, Angga makan dengan lahap sambil sesekali memainkan handphone-nya.
“Baik, Mbak,” kata pedagangnya.
Angga terlalu fokus dengan makanan dan handphone-nya, ia tidak sempat menoleh pada wanita itu.
“Pedas nggak, Mbak?”
“Nggak, Bang. Saya nggak suka pedas.”
Tidak sengaja, Angga menoleh ke arah wanita itu dan ia terkejut karena ternyata yang sedang memesan nasi goreng adalah pasiennya yang baru saja meninggal akibat kecelakaan. Sontak Angga memuntahkan nasi yang belum selesai ia kunyah.
“Se... setan!” Angga panik, ia tidak melihat keberadaan tukang nasi goreng.
Angga berdiri, hendak kabur. Tapi, tiba-tiba tukang nasi goreng berdiri di hadapannya tanpa kepala.
“Mau ke mana? Bayar dulu, Mas.”
Tukang nasi goreng itu menodongkan tangan kanannya, meminta bayaran. Angga jatuh pingsan melihat kejadian menyeramkan itu. Keesokan paginya, ia sudah terbaring di ruang rawat inap.
Semenjak kejadian itu, Angga tidak masuk praktik selama tiga hari. Ia masih trauma dengan apa yang ia alami. Aini sudah membujuknya untuk kembali bertugas, tapi Angga tetap tidak mau. Dia bahkan ingin pindah lokasi praktik.
“Kita harus pindah atau mengundurkan diri. Rumah sakit itu sangat angker, sayang,” kata Angga saat Aini menjenguknya di rumah.
“Aku sudah mengajukannya ke pihak kampus, tapi ditolak. Kita harus tetap menyelesaikan praktik di rumah sakit itu.”
“Nggak, itu terlalu berbahaya. Aku yakin rumah sakit itu sarang setan.”
“Hus! Jangan sembarangan kalau ngomong,” potong Aini.
“Ya sudah, kamu istirahat dulu aja di rumah. Ingat kata-kata aku, jangan mengundurkan diri, ya,” lanjutnya.
Di lain waktu, giliran Aini yang berjaga malam. Sama seperti Angga, ia juga mengalami kejadian aneh. Malam itu, rumah sakit sepi pengunjung. Aini keluar dari toilet lalu melihat jejak kaki seseorang di lantai. Jejak itu berlumpur, Aini lalu mengikutinya.
Semakin diikuti, jejak itu ternyata mengarah ke kamar mayat yang pintunya terbuka. Lampu ruangannya mati, Aini menyalakan senter handphone-nya. Karena sangat penasaran, ia pun masuk ke dalam kamar mayat. Sambil memanggil Pak Lukman, si penjaga. “Pak Lukman?”
"Pak?"
__ADS_1
Namun di sana tidak ada siapa-siapa. Ia terus mengikuti jejak yang mengarah ke pojok kana ruangan. Dan di sana, Aini menemukan sebuah lubang berbentuk segi empat. Lubang itu cukup dalam, tapi Aini dapat melihat ke dasarnya dengan bantuan senter handphone.
“Mungkin lagi ada perbaikan,” kata Aini pelan.
Namun saat Aini akan keluar dari kamar mayat, terdengar suara tangis seseorang dari dalam lubang tadi. Aini tidak jadi beranjak dari sana, ia perlahan melongokkan kepala ke dalam lubang tersebut lalu mengarahkan cahaya senternya kembali. Di dalam lubang, Aini melihat soerang wanita berbaju putih dengan rambut tergerai sebahu sedang menangisi bayi yang dibungkus kain kafan.
“Tolong anak saya...,” wanita itu mendongak, menatap Aini dari dalam lubang sambil menangis.
“I... ibu kok bisa ada di sini?” tanya Aini sambil ketakutan.
“Anak saya, Mbak. Tolong anak saya,” tanpa menjawab pertanyaan Aini, ibu itu terus meminta tolong.
“Anak ibu kenapa?”
“Mati.”
Aini terkejut mendengar jawaban wanita itu. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia seolah hampir tak bisa berkata-kata.
“Sebentar! Saya panggilkan seseorang dulu buat bantu ibu keluar dari lubang ini, ya,” ragu-ragu Aini melangkah hendak keluar dari ruangan itu.
Namun, tiba-tiba lengan wanita yang berada di dalam lubang tersebutmenjulur panjang. Tangan itu menggenggam pergelangan kaki Aini. Sontak saja Aini menjerit minta tolong. Ia tersungkur ke lantai lalu ditarik dengan sangat kuat ke dalam lubang.
Tangan Aini masih bisa berpegangan pada tepi lubang. Ia menangis sambil minta tolong. Anehnya, tidak ada satu pun yang datang untuk menolongnya. Bahkan si penjaga kamar mayat juga tidak kunjung muncul. Entah ke mana lelaki tua itu.
“Ikutlah dengan kami!” bisik wanita di dalam lubang.
Aini masih bisa bertahan. Namun, entah berapa lama lagi dia mampu berpegangan. Keringat membasahi wajahnya. Berkali-kali lengannya meringsut ke depan mencoba untuk keluar dari lubang.
Aini melongok ke dasar lubang. Ia semakin berteriak ketakutan saat melihat ada puluhan orang yang menjejali lubang tersebut. Mereka semua menatap Aini dengan tatapan dingin serta menyeramkan.
Aini rasanya sudah tidak sanggup lagi bertahan. Satu cengkeramannya lepas. Beberapa detik kemudian, tangan yang satunya lagi ikut lepas. Sebelum Aini jatuh ke dalam lubang, seseorang menggenggam tangan kanannya. Itu dokter Arwani. Ia tersenyum pada Aini.
“Tenang, Nak,” perlahan dokter Arwani mengeluarkannya dari dalam lubang.
Baju Aini basah oleh keringat. Ia tidak mengucapkan terima kasih kepada dokter Arwani melainkan langsung pergi begitu saja sambil menangis ketakutan. Saat sedang berlari di lorong koridor, ia bertemu dengan Pak Lukman, si penjaga kamar mayat.
“Pak, di kamar mayat...,” Aini mengatur pernapasannya.
“Kenapa?” Pak Lukman tampak kebingungan.
“Ada setan, Pak. Bapak jangan ke sana dulu.”
“Setan di mana?”
“Kamar mayat, Pak. Di kamar mayat,” napas Aini masih terengah-engah.
“Tenang, Mbak. Di rumah sakit ini enggak ada setan, kok.”
Tanpa memedulikan penjelasan Pak Lukman, Aini lari begitu saja. Ia hendak memberi tahu para petugas di rumah sakit. Di perjalanan, Aini kembali berpapasan dengan seseorang. Kali ini dengan seorang security.
“Pak Ruslan, tolong Pak! Ada setan di kamar mayat.”
Pak Ruslan tidak terlihat kaget atau panik. Ia malah santai saja.
“Jangan heran, Mbak. Di rumah sakit ini memang banyak setannya,” jawab Pak Ruslan.
“Yang penting Mbak harus hati-hati saja. Yang sopan dan enggak bicara macam-macam.”
“Ah, bapak ini gimana, sih? Malah nakut-nakutin,” Aini meninggalkan Pak Ruslan dan berlari ke ruang IGD.
Ada pasien yang sedang berobat. Kali ini Aini sebisa mungkin tidak membuat kepanikan. Ia mengatur napasnya lalu membantu dokter untuk menangani pasien. Setelah pasien itu pulang, barulah Aini menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter.
Dengan didampingi para perawat lainnya, mereka mendatangi kamar mayat. Anehnya, lubang itu menghilang. Tidak ada apa-apa di kamar mayat itu.
Di lain waktu, sebuah petunjuk tentang teka-teki yang dialami Aini mulai menemukan titik terang. Saat sedang membersihkan kamar ibunya, secara tidak sengaja Aini menemukan sebuah buku catatan di kolong tempat tidur.
Perlahan Aini membukanya. Itu semacam buku diari. Aini kenal gaya tulisan itu. Jelas sekali kalau itu tulisan ibunya sendiri. Ia membaca halaman awal diari tersebut.
Dear Diary
Sudah empat hari aku melihat orang gila itu mondar-mandir di depan rumahku. Aku takut kalau dia berbuat macam-macam. Beberapa kali sudah kuusir, tapi dia selalu datang lagi.
“Aini!” belum selesai Aini baca, ibunya datang lalu merebut paksa buku catatan itu.
“Jangan sembarangan baca buku Ibu. Enggak sopan!”
Ibu Aini marah. Ia lalu membakar buku catatan itu dan memarahi Aini habis-habisan. Beberapa kali Aini minta maaf. Tidak pernah Aini melihat ibunya semarah itu.
__ADS_1
Aini heran, kenapa ibunya terlihat panik seperti itu? Kalau memang hanya sekadar catatan harian biasa, seharusnya tidak perlu sampai marah besar seperti itu.
Nantikan cerita Bekas Rumah Sakit selanjutnya