
Pelajaran di kelas ada kesibukan, saat suara comblang mulai bermunculan. Cekka ini memang tidak tahu tempat, tidak bisa menghargai orang lain.
"Bu, di kelas ada cinta segitiga." ujar Cekka.
"Siapa itu yang kamu maksud?" Nuri penasaran.
"Shari, Irul, dan Nikna." Cekka sengaja mengumumkan rahasia pribadi orang lain.
"Hmmm... kalian jangan bertengkar, tetap akur iya. Kita ini teman sekelas hahah...." Nuri melihat ke arah Nikna, Shari, dan Irul.
Ibu Zainab melihat kesibukan mereka saja, lalu menegur setelah memberi jeda. "Apa yang kalian ributkan di kelas Akuntansi ini?" tanyanya penasaran.
"Ini tentang asmara tiga orang Bu." jawab Gugus.
"Ini waktunya belajar, jangan sibuk tidak menghargai guru." ujar ibu Zainab.
"Nah Bu, kalau kami diam saja kasian itu perempuan. Dia terbawa perasaan dengan Irul, sampai menulis postingan di sosial media." ucap Cekka lantang.
"Hahah.... hahha..." Ratia tidak tahan untuk tertawa.
"Shari, kamu suka sama Irul?" tanya Nuri, dengan raut wajah serius.
"Tidak, biasa saja kok." Shari menutupinya.
"Ayolah mengaku Shari, kamu itu 'kan perempuan kegenitan. Nanti sudah mengirim pesan, menggodanya untuk berbuat lebih jauh lagi." Cekka ngomong sembarangan, hingga beberapa teman-teman sekelas menertawakannya.
Shari melemparkan buku cetak ke meja belakang, sampai Cekka terkejut. "Aww... jangan galak dong Shari. Kamu kenapa cuek, nanti Mas Irul pergi."
__ADS_1
"Hahah... hahah..." Semua teman sekelas tertawa, karena tidak kuat menahan lucu.
Tommi dan Babay saling pandang, lalu tertawa cekikikan. Keduanya tepuk-tepuk tangan, lalu tersenyum saat ibu Zainab menoleh ke arah mereka. Nikna diam saja, namun sedikit mengetahui kebenarannya. Ternyata Shari menyukai Irul pikirnya.
Cekka ini membuat lelucon tapi menjengkelkan. "Nikna, kamu yang sabar iya. Hati-hati, nanti Shari menikung kamu."
"Woo... suka sama pacar dari teman sendiri." Gugus menyudutkannya.
"Berisik kalian ini!" jawab Nikna, dengan malas.
Jam istirahat tiba Nikna melihat Irul meniup balon, lalu dia iseng mencoblosnya dengan jarum pentul. Balon meletus mengenai pipi Irul, lalu Nikna tertawa melihatnya meringis.
"Ya Allah Nikna, kamu tega sekali." Irul tersenyum ke arahnya.
"Maaf Irul, sini biar aku pijat pipi kamu." Nikna mengusapnya dengan lembut, sesekali memijat dengan kuat.
"Hahah... aku ini turunan Vampire, makannya lumayan ganas." Nikna masih saja tertawa.
Shari menggendong kucing di atas udara, lalu tersenyum-senyum sendiri. Dia mengelus bulu kucing, saat sudah diletakkan di pangkuan.
"Hayo, mana anakmu!" Shari bertanya pada makhluk, yang tidak dapat bicara tersebut.
"Anaknya dalam perut." Ningsih menjawab, sambil tersenyum mengembang.
"Iya, sepertinya sudah hampir mendekati kelahiran." ujar Shari.
"Siapkan kardus, biar oak-oak dengan suara lucu." canda Ningsih.
__ADS_1
Maria dan Qusna menghampiri Shari, lalu duduk di sampingnya. Irul melihat ke arah Shari, lalu tertarik untuk ikutan nimbrung. Nikna ikut mendekat juga, sambil tersenyum ke arah Ningsih.
"Kamu suka bicara sama kucing juga?" tanya Irul.
"Iya, dia teman bicara yang peka." jawab Shari.
Irul tersenyum. "Persis seperti aku, senang menggendongnya ke sana dan kemari." Irul memegang lengan kucing.
"Iya, suaranya terdengar menggemaskan. Dia juga lucu, apalagi saat menggeliat." jawabnya.
Kucing memberikan respon tidak senang, saat tangan Irul beralih pada perutnya. Irul refleks mengalihkan tangan, sambil melihat sedikit darah keluar dari bekas goresan.
"Lagi hamil kucingnya, jadi sensitif dia. Jangan diganggu dengan gerakan risih." Shari mengingatkan.
"Oh gitu, pantas saja dia ingin mencakar ku." jawab Irul.
Nikna khawatir. "Sini, biar aku obati luka kamu." Melihat pacarnya, sambil tersenyum.
"Terima kasih Nikna sayang." jawab Irul lembut.
Maria melihat kukunya. "Lucu, mirip anak bayi."
"Iya, silakan jika kamu mau menggendongnya." Shari meletakkan kucing dalam pangkuan Maria, lalu memilih pergi karena cemburu.
Di kelas Shari memilih sendiri, menghadap jendela yang terbuka lebar. Banyak sekali pohon pinus, yang terbentang di sisi jendela.
"Lumayan, kalau aku membuat tempat duduk di sana. Mungkin aku bisa menenangkan diri, agar bisa merelakan perasaan ini." Shari menangis dalam sepi.
__ADS_1