
Cekka melemparkan bola sampai mengenai kepala Shari, yang ada di depan pintu. Shari merengut lalu pergi, dan Cekka tertawa. Dia melanjutkan aksi kegilaannya, pada Ratia, Yuli, Kiras, Nikna, Yani, dan Agicy.
"Woy, kalian tangkap bola ini." ujar Cekka.
"Sini opor dong." jawab Ratia.
Nikna terkena lemparan bola Cekka, lalu melihat ke arahnya. Nikna tertawa, saat Cekka mendekatinya.
"Merajuk kamu, karena aku lempar?" Cekka melihat ke arahnya.
Nikna mendelik sambil tersenyum. "Tidak, bahkan aku bisa membalas kamu." jawabnya.
"Iya sudah, ayo main kita." ujar Cekka.
"Baiklah, permainan dimulai." jawabnya.
Nikna menangkap bola, lalu dibantu dengan Yani juga. Agicy dan Yuli memperhatikan sampai selesai, lalu ikut tertawa melihat kehebohan Nikna.
"Woy, Cekka kalah. Ayo gantung dia hahah..." Nikna melompat-lompat.
"Ayo, jangan lupa pakai rantai." jawab Ratia.
Cekka berjalan sambil menggandeng tangan Ratia, lalu melangkah dengan cepat. Masuk ke kelas tertawa, sengaja Cekka mengibaskan rambutnya yang pendek.
"Eh, apa kita harus pergi ke perpustakaan." ucap Ratia.
"Memangnya mau ngapain." jawab Cekka.
"Ada tugas dari Ibu Aima loh." Ratia memberitahu.
__ADS_1
"Oh, yang hafalan akuntansi itu iya hahah..." Cekka malah tertawa, teringat diri sendiri yang bengong saat ditanya.
"Nampak sekali, sekolah sekadarnya saja."
"Sudahlah, kamu juga begitu. Kita ini sama saja, iblis kelas wuahahahh..."
"Beda kasta!" Ratia nyengir.
"Oalah, gitu toh. Kamu memandang rendah diriku, bila aku tidak dapat berprestasi."
Cekka pulang ke rumah, lalu dijewer ibunya. Dia marah sama Cekka, karena dia mengambil uang tidak izin lagi. Cekka memohon ampun pada ibunya sambil mengatupkan telapak tangan, lalu dia berlari ke dapur. Sudah biasa merayu ibunya dengan roti roma, dan juga membuat teh dengan gula yang pas.
"Sungguh enak siang-siang begini, Ibu mau tidak?" tawar Cekka.
"Halah ini palingan rayuan kamu doang, Ibu tidak akan tertipu lagi." jawabnya, dengan tegas.
"Jangan begitu Bu, Cekka ini benar-benar tulus." ujar Cekka.
Pagi hari akhirnya tiba, nikna pergi ke sekolah bersama Irul. Nikna sedikit senang, karena hari ini dijemput olehnya. Shari yang sedang menyapu melihat Nikna, yang turun dari motor Irul.
"Irul, terima kasih iya sudah mau jemput." ujar Nikna.
"Iya, motor kamu 'kan lagi masuk bengkel juga. Besok kalau kamu mau numpang juga tidak apa-apa, aku siap sedia menjemput." jawab Irul.
Nikna mengacak rambut Irul. "Terima kasih tukang ojek sekaligus pacar."
"Iya sayang, sama-sama." jawab Irul.
Shari segera mengalihkan pandangan, sesak tentu terasa. Namun biarlah dia tetap mempertahankan cinta dalam diam, siapa pun tidak boleh mengetahui pikirnya.
__ADS_1
”Astaghfirullahaladzim Shari. Kamu tidak boleh cemburu, ingat kamu bukan siapa-siapa Irul.” Shari mengelus dadanya berulang kali.
Irul tertawa saat menarik tas Nikna dari belakang. Irul dan Nikna menoleh ke arah Shari sambil tersenyum.
"Shari!" sapa keduanya bersamaan.
"Iya." Shari tersenyum.
"Kamu rajin sekali!" puji Nikna.
"Iya, yang piket hari ini entah kemana. Guru program kita menyuruh bersihkan kelas." jawab Shari.
"Aturannya, kamu suruh satpam yang bersihin. Kalau tidak mau, aku bantu botakin kepalanya." ujar Nikna.
"Hahhah... galak sekali." timpal Irul.
Shari menyembunyikan perasaannya. "Kalau begitu, kalian pegang saja kakinya." jawabnya.
Shari masuk ke dalam kelas, bersamaan dengan Irul dan Nikna. Adegan kemesraan mereka selalu saja terlihat di depan Shari. Irul memegang kedua pundak Nikna, lalu memegang ceruk lehernya.
"Aku cekik kamu, biar mati dalam hatiku." ujar Irul, dengan candaannya.
"Mati dalam hatimu pun, masih ingin gentayangan keluar hahah..." Nikna berbicara, sambil tertawa.
Shari memilih mengalihkan pandangan ke arah lemari es dalam kelas. Lalu tertuju ke kipas angin, dan berdiri mematung di sana. Entah perasaan apa yang menghampiri, Shari baru kali ini merasakan.
"Shari, cuaca dingin mengapa berdiri di depan kipas?" tanya Irul.
"Tidak apa-apa." jawab Shari datar.
__ADS_1
Shari berharap matanya yang berkaca-kaca, cepat mengering dengan sendirinya. Ibu Aima masuk ke dalam kelas, sambil tersenyum ke arah semua muridnya.