Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Memancing Belut


__ADS_3

Shari membuka buku hariannya yang kusut, lalu menangis tersedu-sedu. Wajar saja kalau mereka tahu siapa gebetannya, ternyata dari buku pribadi yang terbaca. Mereka berhasil menggeledah isi tas, tanpa izin darinya.


"Siapa yang melakukan ini, apa kamu tahu Qusna?" tanya Shari.


"Aku tidak tahu, jarang berada di kelas." Qusna berbohong, menyembunyikan yang sebenarnya.


"Kalau kamu tahu siapa orangnya, beritahu aku."


"InsyaAllah." jawab Qusna.


Cekka berkoar-koar mengejek Shari, yang terbukti menyukai teman sekelas. Meski belum ada pengakuan, tapi semuanya merasa yakin. Cekka berteriak di kelas lantang, sambil berkata yang tidak-tidak.


"Dia gampang cengeng, jadi tidak seru." ucap Bara.


"Sabar-sabar, dia susah diajak seru-seruan." jawab Gugus datar.


Irul memegang baju Nikna, yang dikeluarkan. "Dimasukkan bajunya, biar lebih rapi."


Nikna memasukkan bajunya. "Iya."


"Pulang ada yang jemput?" tanya Irul.


"Tidak ada." jawab Nikna.


Nikna dibonceng dengan Irul, lalu Shari melihat tangan Nikna memeluk pinggangnya. Shari bingung apa yang membuat diri sendiri bisa jatuh cinta, pada laki-laki seperti dia.


”Hei hati, mengapa kamu tidak bisa memilih, kepada siapa akan jatuh cinta. Mengapa harus dia? Aku benar-benar tidak tahu, alasan jelas mengapa perasaan ini ada. Dia pun tidak terlalu soleh, masih banyak yang lebih dari dia.” batin Shari berbicara.

__ADS_1


"Irul perhatian sekali dengan Nikna." ujar Maria.


"Iya dong, dia 'kan pacarnya." jawab Qusna.


Keesokan harinya, Maria dan Qusna duduk bersama Shari. Ningsih juga ikut nimbrung, sambil menikmati oksigen yang dihirupnya. Tiba-tiba Shari melihat Yani dan Agicy, memberikan pempek bakar pada Qusna. Tidak lupa juga pangsit, yang dibungkus dalam beberapa wadah plastik.


"Ini untukmu, hadiah khusus kerjasama." ucap Yani.


"Terima kasih." jawab Qusna, dengan tersenyum mengembang.


Tukang bully menghampiri Shari, lalu mereka mulai membuat onar. Cekka, Bara, babay, Tommy, Gugus, Gundi, dan Ande lompat-lompat bagai cacing.


"Woi, lihat Shari yang jelek dan dari kalangan rakyat jelata. Dia naksir dengan lelaki, yang jelas-jelas punya banyak penggemar di sekolahan ini."


"Hahah... hahaha... hahaha..."


"Boleh senyum Shari, kenapa kamu itu cuek terus?" tanya Gundi.


"Karena kalian bully aku." Shari mengambil jalan terobosan dari sela yang renggang.


Shari berjalan cepat, hingga sampai ke kelas. Cekka dan temannya tertawa terbahak-bahak, sampai ikut ke dalam kelas. Mereka mengganggu Shari yang membaca buku, tanpa menoleh sedikit pun ke arah tukang bully. Cekka melihat Nuri menghampiri mereka, sambil menunjukkan deretan giginya.


"Cekka, mengapa kamu terus mengganggu Shari?" tanya Nuri.


"Kami hanya bercanda, dia sangat tidak asyik." jawab Cekka.


"Sudahlah, jangan dipaksa." ujar Nuri.

__ADS_1


"Nah, dia harus berubah." jawabnya.


Qiyaus menyambut kepulangan adiknya dari sekolah. "Irul, nanti mancing bersama ayo!"


"Boleh Kak, tunggu usai salat Dzuhur." jawabnya.


Aruqil hari ini baru pulang dari kota, usai melaksanakan pembelajaran kuliah. Unar dan Warthi tersenyum, dari awal melihat anaknya menendang penyangga motor.


"Mamak.... Aku benar-benar rindu." Aruqil memeluknya.


"Iya, Mamak juga rindu sama kamu." jawab Warthi, dengan mata berbinar-binar.


Irul dan Qiyaus melangkahkan kaki ke sawah, mereka memancing pada genangan air. Banyak ikan sepat yang bergerak, berjalan ke sana kemari. Mereka berenang dengan lincah, karena memiliki insang.


"Kak di lubang tanah itu sepertinya ada belut." ucap Irul, seraya menunjuk objek yang menjadi sasarannya.


"Baiklah, ayo kita coba memancingnya." jawab Qiyaus.


Irul sudah memasukkan kail ke dalam lubang, lalu tidak lama kemudian belut memakan umpannya. Irul mengangkatnya dengan gembira, ternyata belut benar-benar tersangkut.


"Pasti Mamak dan Bapak senang. Ayo kita kembali ke rumah." ajak Qiyaus.


"Iya Kak, ayo." jawab Irul.


Keesokan harinya, Nikna dan Irul saling berpandang-pandangan. Mereka bercanda bersama, lalu sebuah suara ponsel mengejutkan. Nikna melihat pesan dari Afdhal, yang mengajaknya untuk pergi bersama.


"Siapa?" tanya Irul.

__ADS_1


"Pesan dari Mamak." jawab Nikna.


__ADS_2