
Irul pergi bersama teman-temannya, ke sebuah acara. Kegiatan tersebut ada di sebuah kota, dan Irul menyukai lempar topi pantai. Irul sedang tersenyum ceria, sampai pada akhirnya melihat Nikna sedang bersama laki-laki. Mereka bercanda sangat akrab, tidak segan pula berangkulan pundak.
"Hahah... lucu iya Afdhal." ujar Nikna.
"Iya, bisa-bisanya terpeleset menabrak gerobak." jawab Afdhal.
"Beruntung bukan kamu, kalau seandainya kamu, mungkin sudah aku lempar pakai sandal hahaha..." Nikna benar-benar nyaman bersama Afdhal, bahkan sekarang dia tertawa lepas tanpa Irul.
"Terlalu lucu ya Nikna, aku saja sampai sekarang masih mau tertawa terus." Afdhal nyengir.
Irul membidik diri Nikna, yang sedang bergandengan tangan dengan Afdhal. Nikna terkejut saat ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari Irul berupa gambar.
"Darimana pacarku bisa tahu, kalau kita sedang jalan?" Nikna bingung.
"Jelaskan saja, bahwa kita hanya teman." jawab Afdhal.
Nikna menjelaskan sesuai saran dari Afdhal, dan tidak butuh waktu lama Irul membalas. Dia bisa saja melabrak langsung, namun Irul tidak ingin melakukannya.
"Kalau hanya teman, mengapa kalian terlihat semesra itu."
"Aku 'kan bosan Irul, kamu tidak pernah mau jalan sama aku. aku memeluk kamu saja, harus aku yang mulai. Kamu pun juga sering mengelak, kalau aku tuh ingin diperhatikan."
__ADS_1
Nikna berpamitan sejenak, untuk bertemu Irul di sebuah restoran. Irul dan Nikna akan berbicara empat mata, mengenai hubungan mereka yang sudah mulai renggang. Jika ada salah satu yang berkhianat, pasti mencintai itu sudah tidak lagi indah.
"Aku ingin kita putus." ucap Irul dengan lantang.
"baiklah, kalau itu yang kamu inginkan aku bisa apa." jawab Nikna.
"Itu bukan yang aku inginkan, tapi itulah yang kamu inginkan. Kamu terbukti mengkhianati hubungan kita, dengan menjalin hubungan dengan yang lain." ujar Irul.
"Aku tidak menjalin hubungan apa pun, aku hanya berteman dengannya. sama seperti kamu dengan Shari, kalian berdua juga berteman dekat." jawab Nikna, dengan sedikit kesal.
"Di sini hanya ada tentang kita, jangan banding-bandingkan hubungan aku dengan Shari. Kami tidak pernah bertemu di luar sekolah, hanya kebetulan di sekolahan saja. Itu pun jika ingin menanyakan tugas, atau keperluan lain." jelas Irul dengan panjang dan lebar.
Keesokan harinya Shari kembali ke sekolah, menjalani rutinitas seperti biasa, meski dia selalu pergi seorang diri. Cekka dan Bara sengaja menghampirinya, lalu mulai berbuat iseng lagi.
"Shari, tebakan kami benar 'kan, kalau kamu suka dengan dia." Cekka menunjuk orang yang dimaksud.
"Siapa yang menyukainya, aku menganggap dia sama seperti yang lain. Tidak lebih, dari sekadar teman." Shari berusaha mengelak, untuk menyembunyikan perasaan.
Tiba-tiba Gundi datang bersama dengan Ande, dan juga teman-teman yang lainnya. Mereka mulai ikut-ikutan, untuk mengganggu Shari.
"Irul, kamu suka 'kan sama Shari?" tanya Cekka.
__ADS_1
"Iya, sangat suka." jawab Irul, sambil tersenyum.
"Aduh, romantis sekali ungkapan perasaannya." Bara pura-pura terkagum, sambil menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.
"Ya, Shari harus terbawa perasaan heheh..." jawab Irul.
Patah hati baru putus cinta dari Nikna, membuat Irul melampiaskan perasaan pada Shari. Dia kira bercanda tentang perasaan, tidak akan berpengaruh untuk diri Shari. Namun nyatanya, Irul salah besar dalam hal ini. Bisa saja Shari mengira itu sungguhan, dengan perhatian yang Irul berikan.
"Cie Shari, kamu disukai olehnya." ucap Maria.
"Cie, cepat jadian sana." Qusna ikut membuat Shari bawa perasaan.
Shari tertunduk malu, sambil senyum-senyum sendiri. Dia masih perempuan awam, tidak bisa membedakan apakah itu sungguhan atau pura-pura.
Irul menghampiri Shari saat jam istirahat tiba, lalu memberikan sepotong cokelat yang terbungkus. "Ini untukmu."
"Terima kasih, namun ada acara apa bagi-bagi?" Jawaban yang memberikan pertanyaan balik.
"Tidak ada apa pun, hanya ingin memberikan pada kamu." ujar Irul.
"Oh gitu." jawab Shari.
__ADS_1