Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Perpisahan (Tamat)


__ADS_3

Anggiro dan Zaren bermain kuda-kudaan, sampai membuat Shari tersenyum lebar. Benar-benar bahagia, ini pertama kali Shari menemukan rumah kedua.


"Eh, kucing masuk kelas, mau kita apakan dia." ujar Imas.


"Kita jadikan sate panggang saja." jawab Shari.


Imas dan Desty tertawa bersama, saat menggelitik perut kucing. Shari ikut memeriksa kuku kucing, yang terlihat ada lukanya. Shari merasa kasian melihatnya, lalu mengobati bagian tersebut.


Shari teringat dengan Irul dadakan, saat memegang kucing di emperan. "Mata kucing ini sangat indah, seperti matamu yang melihatku sambil tersenyum. Terkadang berjauhan lebih baik, daripada berdekatan yang memupuk rasa sakit."


"Hayo, siapa yang kamu pikirkan." ujar Desty.


"Heheh... tidak ada Desty." jawab Shari, berusaha menyembunyikan perasaan.


Terlalu banyak yang ikut campur, membuat Shari segan untuk berteman dengan Irul. Shari memilih untuk mengikhlaskannya, daripada sakit hati sendiri.


Zaren dan Anggiro sibuk bergilir, main tempeleng kepala. Shari melihat Imas dan Desty foto bersama, lalu tangannya ikut lambai-lambai ke arah layar.


"Arahkan padaku, aku juga ingin ikut." ucap Zaren.


"Sini Nah, semuanya kebagian kok." jawab Desty, dengan ramah.


Ujian berturut-turut, lalu setelahnya hari perpisahan tiba. Nikna duduk di sebelah Irul, mengajak mengabadikan momen bersama. Video siaran langsung yang diunggah tersebut, membuat Shari menahan gejolak perasaan cemburu. Shari tersenyum ke arah kamera, yang dihadapkan oleh Imas. Shari berusaha menutupi, apa yang barusan dilihat pada layar ponselnya.


Cekrak!

__ADS_1


Cekrek!


Irul teringat dengan Shari, saat namanya dipanggil untuk maju ke depan. Tapi Shari sudah tidak ada lagi, hanya namanya saja yang belum dicoret dari absen.


"Kenapa kamu Irul, kok diam saja?" tanya Kiras.


"Tidak, aku hanya mendengar nama Shari dipanggil." jawab Irul.


"Masih tercatat, karena Shari belum lama pindah." sahut Nuri.


"Oh gitu," Irul mengangguk-angguk saja.


Shari pulang dari perpisahan, langsung memeluk Dofiw. Ada rasa sesak dalam rongga dada, yang tidak bisa diceritakan. Shari diam saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun juga.


"Kakak kenapa?" tanya Dofiw.


"Jangan berbohong, Kakak sedih karena pindah dari SMK Pelangi Senja ya?"


"Tidak kok, lagipula di SMA Badai Petir Kakak mempunyai teman yang baik." jawab Shari, dengan ceria.


Shari menyiapkan berkas untuk melamar kerja, setelah lulus ingin mandiri. Shari berjalan dengan perlahan, lalu membuka dua buah laci.


"Daftar riwayat hidup sudah aku beli, tinggal surat SKCK." monolog Shari.


Satu Minggu kemudian, Shari, Imas dan Desty pergi ke sekolah. Mereka melihat hasil kelulusan, yang dipajang pada majalah dinding SMA.

__ADS_1


"Shari, kamu lebih di atas daripada aku."


"Iya alhamdulillah, prestasi yang meningkat setelah tidak di-bully." jawab Shari.


"Hah? Memangnya kamu pernah di-bully?" Desty ingin tahu.


"Lupakan saja, aku hanya asal berbicara." jawab Shari refleks, dengan jawaban tanpa dipikirkan lebih dulu.


Setelah melihat hasil kelulusan, mereka berjalan ke sebuah tempat. Di mana tempat itu sangat sejuk, bisa menghabiskan banyak memori ponsel untuk menyimpan foto-foto kenangan.


"Hahha... Shari tampak melamun nih. Kita coret saja, biar ada bekas spidol bajunya." ajak Imas.


Shari tersenyum. "Eh jangan, nanti aku bisa balas loh."


Shari mengejar mereka, yang belum mendapat coretan sama sekali. Imas dan Desty tertawa, saat berkeliling pada kursi taman. Tidak lupa pula pohon menjadi tempat untuk sembunyi.


"Hayo, kalian di mana?" Shari melihat ke sekelilingnya.


Imas memunculkan kepala, sambil tertawa. "Hahah... kami di sini."


Shari kembali mengejar mereka sampai lelah. Tanpa terasa dia terhibur, meski hatinya masih sedih. Membeli berbagai macam rasa es krim, untuk menghilangkan haus pada kerongkongan.


Sampai ke rumah, Shari ingat dengan urusannya yang belum selesai. Masih ada pikiran yang terus berbicara, tentang konflik yang hanya dimenangkan sepihak. Sungguh sadis nan kejam, tidak mendapatkan keadilan sebagai makhluk hidup bernama manusia.


Shari melihat kendaraan yang berlalu-lalang. "Irul, mungkin kamu terlalu baik untukku. Maka aku yang terhina ini pamit, untuk tidak ada dalam kehidupan kamu lagi."

__ADS_1


Sementara di sisi lain, orang yang Shari cintai ternyata sedang terpikir olehnya.


Irul menatap air hujan, yang hinggap di jendela. "Shari, hanya ada satu kalimat untukmu, yang sebenarnya mungkin ingin hatiku utarakan, namun masih enggan lidah berucap kata."


__ADS_2