
Jam istirahat tiba, Shari membuka kotak bekal yang telah disiapkan dalam tas. Shari tersenyum, melihat kecap hitam manis berbentuk senyum.
"Ini tadi dibuat oleh Mamak." monolog Shari.
Yuli bergabung bersama Shari, begitupula dengan Kiras, Ratia, dan Nikna. Shari diam saja, merasa trauma dengan sesuatu hal.
"Shari, kamu kenapa tidak bergabung?" tanya Yuli.
"Aku malas dengan Cekka." jawab Shari.
"Dia cuma bercanda, terlalu dimasukkan ke hati." ujar Nikna.
"Bercanda? Itu 'kan menurut kamu, tidak dengan pendapatku." jawab Shari, dengan datar.
"Lagian kamu cuek, gabung gitu loh." ujar Kiras, sekadar memberikan saran.
"Dia harus bisa membedakan berbicara dengan etika, dan berbicara yang melampaui seni perbatasan." jawab Shari, dengan argumennya.
"Kalau aku si biasa saja, yang penting bahagia. Kalau dibawa terlalu serius, nanti cepat tua." ucap Nikna.
"Bahan bercanda banyak, tidak perlu bawa-bawa fisik." jawab Shari, dengan lembut.
Cekka melempar sepatu Nikna ke atas genteng. Nikna tertawa kuat, lalu menarik lengan Ratia.
"Aku ambil tangga, kamu yang memanjat genteng hahah..." ujar Nikna.
"Hahah... aku merasa senang, bila Bara memanjat. Jadi dia seperti monyet malang, yang berharap dapat pertolongan." jawab Ratia.
__ADS_1
"Demi Ratia akan aku lakukan." ujar Bara, sambil tersenyum.
Ratia tertawa. "Hahah... gas kakimu, untuk mengendarai tangga."
Bara mengambil tangga, lalu melihat Irul mendekat. Bara terlintas ide, untuk meminta bantuan Irul.
"Sepatu di atas milik kekasih kamu. Silakan panjat sana, demi membuktikan rasa cintamu." ujar Bara.
"Baiklah, demi Nikna aku menjadi pesulap merah dulu." jawab Irul, dengan candaannya.
"Hahah... cepat kamu mulai." Bara mendorong Irul.
"Aku tidak mau mengambilnya, ribet sekali panjat genteng. Lebih baik yang melakukannya, cepat bergerak melakukan tanggungjawab." Irul berbicara seadanya.
"Aduh, kalian semua pada ribet." Cekka memanjat tangga, lalu tidak sengaja terpeleset.
"Hahah... kalian seperti banci." Ratia tertawa.
"Bukan seperti banci, lebih tepatnya kami saling empati." jawab Gugus.
Shari dan Maria melihat dari kejauhan, tanpa mengeluarkan kalimat panjang. Cekka melihat ke arah mereka berdua, dan juga ke arah Ningsih yang cantik.
"Oi, kenapa kalian tidak bergabung?" tanya Cekka.
"Tidak apa-apa." jawab Maria.
"Kami jadi satpam yang pakai headset saja, melihat tingkah laku kamu." Ningsih tersenyum.
__ADS_1
"Jangan begitu cantik, suaraku tidak mengganggu pendengaran. Kamu mendekat saja, temani Kakak naik atas genteng." jawab Cekka.
"Hahah... hahah..." Ratia tertawa terbahak-bahak.
"Dih Kakak, mau muntah aku mendengarnya." Gugus bergidik ngeri.
Ningsih tersenyum saja, sambil menyentuh kedua pundak Maria. Shari terdiam seribu bahasa, saat Irul mendekat ke arah Nikna. Semua bilang cie, kecuali dirinya sendiri. Jelas saja, karena Shari diam-diam menyukai Irul. Meski perasaannya sudah diketahui, oleh banyak orang.
"Kalian berdua mendapatkan restu dari teman sekelas, kecuali Shari yang tidak setuju hahah..." Gugus menertawakan Shari, yang sedang berdiri didekat tiang depan kelas.
"Hahah... sabar iya Shari, kami tahu kamu cemburu." Cekka seolah menerangkan apa yang Shari rasakan, supaya perasaannya yang tertolak tampak mencolok.
"Sudah, sudah, nanti dia menangis langsung lompat dari tower hahah..." Bara menyudahi, namun sengaja ingin mempermalukannya.
"Shari mimpi mau menikah dengan Irul, padahal terlihat jelas mustahil. Kalau mimpi jangan ketinggian, nanti ingin gantung diri lagi." Cekka terus mengolok-olok, dengan alasan bercanda.
Yutra melihat Shari, yang masuk kelas dengan cemberut. "Cekka, jangan seperti itu. Shari kelihatannya tidak nyaman, kamu berbicara tidak karuan."
"Halah, payah Shari itu. Dia mudah sekali terbawa perasaan." Cekka membuang muka ke arah lain.
"Cekka, please deh jadi manusia jangan sibuk. Lama-lama telinga aku ingin pecah, meledak, dan berantakan." Babay hanya bercanda saja.
"Babay, aku ini bicara apa adanya. Aku merasa jijik dengan Shari, karena dia tidak asyik dalam berteman. Masa dibilang dekil saja merajuk, tidak seperti aku." jawab Cekka, yang memuji diri sendiri.
Tomi sengaja menguji sifat sombongnya. "Hahah... Cekka dekil, Cekka seperti orang tidak pernah mandi."
"Hahah... aku tidak gampang merasa." Cekka malah berjoget, seperti induk ayam.
__ADS_1