Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Terbawa Perasaan


__ADS_3

Nikna menggelitik pinggang Afdal, lalu keduanya tertawa bersama. Mereka suap-suapan nasi dan lauk ayam. Tanpa sengaja, Yutra sedang jalan juga. Dia menemani ibunya membeli tikar.


"Itu 'kan Nikna! Tapi, aku tidak akan memberitahu Irul, nanti dia sedih dan sedikit kepikiran." monolog Yutra.


Yutra mengambilkan nasi untuk ibunya, hanya sempat melirik sesekali. Yutra juga tidak mau terlalu ikut-ikutan, karena hal tersebut bukan urusan pribadinya sendiri.


"Yutra, kamu mau makan soto mie kecambah atau soto kulit sapi?" tanya Minia.


"Terserah Ibu saja, apa pun yang Ibu pilih pasti terbaik untukku." jawab Yutra, dengan ramah.


Minia sangat mengetahui makanan apa, yang menjadi kesukaan anaknya. Minia giliran mengambil makanan untuk Yutra. Yutra pun menikmati soto kulit sapi dengan lahap, tidak menyia-nyiakan pemberian ibunya. Minia melangkahkan kaki, untuk mengambil tisu di meja yang lain.


"Bu, Yutra sangat senang, karena sudah diberi perhatian." ucapnya.


"Baguslah Yutra, kalau kamu merasa bahagia, Ibu tidak akan merasa bersalah." Ibu Minia mengusap kepala putranya.


Keesokan harinya, Irul menghampiri Shari. Irul melihatnya yang sedang mengepel lantai, lalu menginjak air sabun bekas pel menggenang. Irul tidak sengaja terpeleset, dan ditolong oleh Shari.


"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Shari.


"Sakit Shari, sungguh tidak enak terjatuh. Bantuin aku berdiri cepat!" Irul meringis sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arah Shari.


Shari mengulurkan tangkai pel, lalu memberikannya pada Irul. "Kamu raih ini, untuk berdiri."

__ADS_1


"Mengapa tidak langsung tangan kamu saja." Irul meraih tangkai pel, yang telah disodorkan oleh tangan Shari.


Irul berhasil berdiri, lalu tangan kanan dan kiri mencengkeram tembok. Shari tidak sengaja terkurung di dalam, lalu tetap menundukkan kepalanya.


”Cepat pergi Irul, jangan terlalu dekat. Aku kesulitan mengendalikan perasaan, kalau kamu terlalu dekat.” batin Shari.


"Kenapa si tidak mau menoleh?" tanya Irul.


"Tidak apa-apa." jawabnya.


Irul menjauhkan kedua telapak tangan, yang sempat dekat kepala Shari. Irul membersihkan celananya dengan telapak tangan. Dia tidak merasa nyaman, memilih membersihkan di toilet. Shari membuang air bekas mengepel, dan menggantinya dengan air sumur yang ada dekat pohon.


"Shari, kamu lagi apa?" tanya Gugus.


"Apa kamu dekat dengan Irul?" Bara ingin tahu.


"Tanya saja ke orangnya." jawab Shari.


Bara dan Gugus berjalan mendekat, melihat air sumur yang dalam. Keduanya tertawa lantang, ketika melihat diri masing-masing dalam air.


"Hei, cepat kalian ke sini. Aku mau memperlihatkan sesuatu." teriak Cekka, dengan heboh.


"Melihat apa si kamu, seperti ada fenomena manusia jadi rotan." jawab Gundi, dengan datar.

__ADS_1


Mereka langsung melangkahkan kaki, mendekat ke arah Cekka. Ternyata hanya seekor hewan ular, yang ada dalam ponsel.


"Belum lama kamu heboh tunjuk burung hantu, sekarang cuma ular saja segitunya." Bara geleng-geleng kepala.


"Sorry, aku ingin berbagi kebahagiaan. Aku tidak ingin menikmatinya sendiri." jawab Cekka.


Bara menarik lengan Irul, yang baru saja datang. "Bagaimana, apa kamu suka dengan permainan ini?"


"Bagaimana mau suka, mencobanya saja tidak pernah." jawab Irul.


Gugus menoleh ke arah Shari. "Ah iya, sesuatu yang hanya dilihat tapi bisa disukai hanya Shari seorang. Padahal, kamu belum mencoba mengenal kepribadiannya."


"Heheh... iya dong." jawab Irul, dengan terkekeh.


Shari memilih fokus dengan hal yang dilakukannya sendiri. Sebal dengan tukang bully, yang kadang baik kadang jahat. Irul mendekat ke arah Shari lagi, sambil memegang jilbabnya. Shari terkejut dan salah tingkah, matanya berkedip berulang kali. Berusaha mengalihkan kegugupan, yang terpancar jelas.


"Kamu jangan terlalu gugup, aku sungguh bisa melihatnya." ucap Irul, dengan spontan.


"Aku tidak gugup, biasa saja." jawab Shari.


Sejak pernyataan Irul waktu itu, Shari menjadi sedikit terbawa perasaan. Apalagi ungkapan Irul yang dibarengi tindakan ramahnya. Shari mengira Irul benar-benar sayang, dan tidak main-main. Shari tersenyum lebar saat menghadap ke arah dinding kelas, lalu memasang raut wajah biasa saja di depannya.


"Shari, kamu suka kegiatan apa?"

__ADS_1


"Apa pun bentuk kegiatannya, asal bersama orang yang disukai pasti suka." Shari tanpa terasa menaruh harap padanya.


__ADS_2