
Ibu Aima masuk ke dalam kelas, menjelaskan apa yang harus disampaikan. Mengenai praktik jurusan Akuntansi, yang akan dilakukan pada beberapa tempat.
"Anak-anak, sebentar lagi kalian akan melaksanakan praktik sistem ganda." ucap ibu Aima.
"Iya Bu, sekitar beberapa bulan lagi." jawab Agicy.
"Kapan praktik sistem ganda dimulai?" tanya Yuli.
"Bulan 2 nanti Yuli, semester 2." jawab Ratia, sambil tersenyum dengan lirikan mata.
Cekka menoleh ke arah Nikna. "Kalau bisa kamu bersama Irul."
"Iya dong Cekka, kami sudah sepakat." jawab Nikna.
"Rasain kamu Shari, cintamu bertepuk sebelah tangan." ucap Gugus.
"Berisik Gus, urus saja dirimu sendiri." jawab Shari dengan ketus, karena kesal.
Jam istirahat tiba, Tommi berjualan pisang goreng. Banyak yang membeli dagangannya, termasuk Irul dan teman-teman yang lain. Cekka makan sampai tersedak, karena tertawa terus menerus.
"Oi Shari, kamu sombong sekali." ujar Cekka.
"Iya, tidak mau beli jualan Tommi." timpal Bara.
Shari diam saja, sampai Tommi dan Babay mendekat. Babay tersenyum ke arahnya, sambil cengengesan dengan kuat.
"Shari!" panggil Tommi.
__ADS_1
"Hmm..." jawab Shari, dengan deheman.
"Berjilbab kok gitu si, tidak ramah sama kami. Percuma mengenakan jilbab, menjijikkan." ucap Tommi.
"Fungsi jilbab, memang untuk menutup kepala atau aurat. Ya kali, kerudung menutup jalan tol." jawab Shari, dengan intonasi datar.
Irul membelikan Nikna sebuah sempol ayam, sekitar beberapa tusuk. Nikna makan dengan perlahan, lalu Irul tersenyum ke arahnya. Bisa-bisanya Irul masih sayang, setelah apa yang Nikna lakukan.
"Nikna, kenapa kamu sekarang diam saja?" tanya Irul.
"Entahlah, lagi malas untuk bicara." jawab Nikna.
"Gelisah karena diputusi pacarmu?" tanya Irul.
"Bukan diputusi, tapi aku yang mengajak putus." Nikna menoleh ke arahnya, sambil tersenyum.
"Oh gitu, aku ajak kamu berpacaran saja." tawar Irul.
Shari mendekat ke arah Maria dan Ningsih, yang sedang memotong cabang tumbuhan. Shari melihat Ningsih yang telaten memangkas rerimbunan daun hingga rapi, lalu Maria juga menyiram tanah pada pot.
"Kalian berdua rajin, sudah merapikan tanaman saat jam istirahat." ucap Shari, sambil tersenyum.
"Shari, ini rumah kedua kita. Sudah sepatutnya aku rawat dengan cinta." jawab Ningsih, dengan ceria.
"Rumah kedua ini sangat elegan, suatu hari akan tinggal kenangan." ujar Maria.
"Kenangan untuk yang merasa nyaman saja, tapi tidak dengan korban bully." jawab Shari, yang merasa kesal.
__ADS_1
Cekka dan teman-teman sibuk menendang bola, hingga mengenai pipi Nikna. Cekka, Gugus, dan Bara tertawa dengan lantang.
"Hahah... maafin aku iya Nikna." Bara tertawa terbahak-bahak.
Nikna menggerakkan bibirnya berulang kali. "Maaf iya Nikna! Dasar tidak jelas hahah..."
"Jangan merajuk Nikna, tidak cocok kamu jadi Shari." ujar Bara.
"Hahahh... aku tidak gampang merajuk." jawab Nikna.
Irul melihat pipi Nikna yang berwarna merah, karena terkena pukulan bola. Irul mengusap dengan tisu, namun hanya sekadar rasa saja.
"Cie, perhatian sekali kamu Irul. Kalian sudah balikan iya, jadi pacar lagi?" tanya Gugus.
"Iya, kami berdua sudah jadian." jawab Nikna.
"Masih sayang iya Irul?" tanya Cekka.
"InsyaAllah masih sayang." jawab Irul.
Bara menoleh ke arah Shari. "Aku doakan Nikna langgeng dengan Irul."
"Awww.... menyindir dengan terang! Kasian sekali yang ada di pojok pintu." Cekka tersenyum mengejek ke arah Shari.
Maria dan Ningsih tidak ingin ikut campur, memilih diam seribu bahasa. Shari pergi dari sana, menuju ke tempat lain. Shari melangkahkan kaki, pada tempat duduk biasanya. Dia memandang pohon Pinus, yang berbaris dengan pohon lain.
"Aku tahu, aku hanya cadangan dalam kisah cintamu. Ketika figuran utama hadir, kamu akan meninggalkan aku. Seperti lilin yang menjadi penerang di tengah kegelapan, lalu ditinggalkan saat lampu menyala kembali. Aku kehilangan sosok manusia yang tadi menyeru, hanya tersisa bayangan di akhir langkahnya. Namun di balik ujian ini, aku sadar ada hikmahnya."
__ADS_1
"Sesungguhnya kehilangan hanya untuk seseorang yang merasa memiliki. Hati kita milik Allah, dan banyak dari lelaki menggunakan logika. Ketahuilah, kalau berjodoh pasti kita bertemu kembali."
Irul mendadak muncul mengejutkan Shari, yang sedang duduk di kursi sambil termenung.