
Irul dan Shari tersenyum saat berpapasan, namun Shari dengan cepat memalingkan pandangan. Sungguh malu bertemu langsung dengannya, di dalam dada berdebar-debar.
"Kucing boneka yang kamu berikan pada Dofiw bagus. Dia sangat suka dengan boneka itu, dan menyebutkannya sebelum tidur. Terima kasih Irul, sudah menjepit boneka untuknya." ucap Shari.
"Iya sama-sama." jawab Irul, dengan lembut.
Cekka hendak mem-bully Shari, lalu melemparkan meja. Irul menendang meja tersebut, hingga terjatuh ke lantai. Cekka terkejut, karena tepat berada di sampingnya.
"Mulai sekarang, jangan ganggu Shari. Dia adalah calon istri masa depanku." ucap Irul.
"Aww... Irul segitunya membela Shari." Cekka cengengesan, sambil menggaruk kedua telinganya.
"Irul, apa maksud ucapan kamu?" tanya Bara.
"Apa ingin melamar Shari?" Gugus ikut melemparkan pertanyaan.
"Hmm... iya suatu hari nanti, aku akan menikahinya." ujar Irul, dengan raut wajah serius.
"Wooo... Mas Irul dan Mbak Shari berencana dikawal sampai halal." Gundi heboh sorak-sorai.
Ande ikut-ikutan juga. "Cie, kalian pasti berjodoh saat dewasa."
__ADS_1
"Doakan saja." jawab Irul.
Bapak Lihudri masuk ke dalam kelas, lalu menjelaskan yang akan dipelajari. Shari bergerak untuk membenarkan posisi duduknya.
"Antara laki-laki dan perempuan harus memiliki jarak. Kalian ini dalam masa pertumbuhan, terkadang tidak tahu bahaya apa, jika sering berdekat-dekatan. Berteman sekadarnya saja, jangan ada colek-colek pipi." ucap pak Lihudri dengan tegas.
"Oi, dengar yang diucapkan Pak Lihudri." teriak Cekka, dengan lantang.
"Baiklah, kamu memang anak baik." jawab Gugus.
Jam istirahat tiba, Shari tidak sengaja mendengar percakapan Qusna dan Yani. Dia sedang berada di balik tembok pembatas.
"Ini semua karena kamu Qusna, jadi perasaan Shari terbongkar. Kami berdua akan traktir tusuk sempol ayam, sebagai dibalas Budi hahah..." ucap Yani.
"Heheh... kalian berdua ini sama saja. Lebay sekali sih, aku juga tidak ditraktir tidak apa-apa." jawab Qusna, dengan tersenyum manis.
Setelah kepergian Qusna dan Agicy, Shari baru menegur Qusna. "Kamu kok tega banget sih Qusna, merahasiakan hal ini dari aku. Apa aku sangat tidak penting, sampai-sampai tidak peduli sama perasaan aku sedikit pun."
"Maafkan aku Shari, aku terpaksa bohong sama kamu. Aku takut kamu marah, kalau tahu aku yang membiarkan mereka, merobek buku harian milikmu." ucap Qusna, dengan penuh penyesalan.
"Aku perlu waktu, biarkan aku sendiri. Kamu kok tega sekali sih sama aku, apa salah aku sama kamu Qusna." ucap Shari, dengan raut wajah yang menyedihkan.
__ADS_1
Qusna melihat Shari, yang berjalan pergi meninggalkannya. "Shari, aku benar-benar minta maaf."
Olahraga dilakukan dengan bapak Yhung, yang mengajar khusus bidang penjaskes. Shari kebingungan mau mengoper bola voli, lalu dibantu oleh Irul.
"Seperti ini loh Shari, diangkat dengan tegap. Lalu setelahnya, kamu lempar ke arah lawan." ucap Irul.
Shari menoleh ke orang, yang berada di sampingnya. "Lebih baik kamu menjauh saja, aku bisa kok." Suaranya mendadak terbata-bata, karena terlalu grogi.
"Kalau sudah pasti kamu bisa, aku juga tidak akan mengajarimu lagi. Silakan sana bermain, biar aku melihatmu dari jauh." ucap Irul lirih.
"Jangan, lebih baik kamu fokus ke dirimu sendiri saja. Aku tidak terlalu suka diperhatikan, karena tidak terbiasa." Shari tampak menolak, meski tidak mempertegas larangannya.
Irul menjauhkan dirinya, memberi jarak dengan Shari. Memang seperti ini, yang bisa membuat Shari merasa nyaman. Shari lebih suka kalau Irul tidak terlalu dekat, karena bisa menimbulkan fitnah.
”Seperti ini juga baik, karena aku malas dengan teman-teman kamu.” batin Shari bergumam.
Shari membaca kalimat basmalah, lalu memulai permainan bola voli. Bersyukur bisa masuk ke daerah gawang, meski tangannya memar kemerah-merahan.
"Aduh, sakitnya tertimpa bola." Shari bergumam-gumam lirih.
"Masih mending tertimpa bola, daripada tertimpa harapan tidak pasti." jawab Maria.
__ADS_1
"Cie Maria, siapa yang menghiasi hatimu." canda Shari, sambil mencubit hidungnya.
"Jawabannya adalah rahasia." canda Maria nyengir.