Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Jadian Yuk


__ADS_3

Irul memberikan semangkuk sup pada Shari, ditambah lagi dengan salep untuk telapak tangannya. Irul tadi melihat Shari kesakitan, usai bermain bola voli.


"Irul, kamu tidak perlu repot-repot." ucap Shari.


Irul tetap menyodorkan mangkuk. "Tidak apa-apa, terima saja kalau diberi. Jangan menolak rezeki Shari."


Shari mengambil mangkuk yang Irul berikan. "Terima kasih."


"Sama-sama, jangan ucapkan ini lagi." jawab Irul.


"Terima kasih itu sama seperti sebuah penghargaan. Ada artinya untuk seseorang yang telah baik pada kita." ucap Shari.


"Hmmm... baiklah." Irul melihat ke arah Shari.


Setelah kepergian Irul, muncul Cekka dan Gugus. Tidak hanya mereka, tapi beberapa anak laki-laki lainnya.


"Kamu itu memang perempuan tidak sadar diri. Asal kamu tahu iya, Irul dan Nikna putus karena kamu. Sungguh rendahan!" Gugus mengucapkannya dengan kasar, seperti pedang menembus ke dalam hati Shari.


"Halah Gus, palingan juga akal-akalan kamu." Shari menganggap angin lalu, mungkin hanya bercanda.


Gugus geleng-geleng kepala. "Nikna cerita sendiri ke kami, kamu itu memang perempuan tidak tahu malu."


"Oh, terserah kamu." jawabnya.


"Woo!" Gugus bersorak-sorai.


"Sudahlah Gus, kamu itu mengapa mengganggu Shari terus." sahut Ningsih.

__ADS_1


"Tidak usah membelanya, Shari pantas mendapatkan perilaku seperti ini." ujar Gundi.


"Memangnya aku ngapain mereka, sampai menjadi penyebab hubungan putus. Aneh sekali!" Shari berucap ketus.


"Hadeh, jelas tidak sadar diri. Berkaca Shari, kalau gosip tentang kalian sudah tersebar." ujar Gugus, dengan senyum mengejek.


Cekka tegak pinggang setinggi dada. "Kamu mau berbuat macam-macam dengan Irul. Sungguh perempuan murahan!"


Shari menggebrak meja. "Hentikan tuduhan kamu terhadapku. Mengapa kamu begitu keji, sungguh manusia tak berperasaan." Hampir menangis, namun berhasil ditahan.


"Aku tidak mau, kamu mau apa?" Cekka terus menyudutkannya.


"Aku akan melaporkan kamu, ke guru program Akuntansi." ancam Shari


"Hahah... cuma suka saja, sampai mengadu ke guru program Akuntansi." Bara menahan tawa.


"Aku akan tetap melakukannya, karena aku merasa terganggu dengan tindakan kalian." jawab Shari.


"Sudahlah, jangan pancing emosiku. Aku diam, bukan berarti takut padamu. Lebih baik kamu urus hidupmu sendiri, atau aku tidak akan sungkan padamu." Shari mendorong lirih pundak Cekka dengan jari telunjuknya.


Usai pulang sekolah, Nikna pergi bersama Vhiba. Mereka jalan-jalan di taman kota, lalu setelahnya mencari tempat nongkrong untuk makan bersama.


"Nikna, bagaimana kalau kita jadian." ucap Afdhal.


"Cie, menawarkan hal romantis padaku." jawab Nikna, dengan candaan.


"Aku serius Nikna, sejak awal aku sudah menyukaimu." ujar Afdhal.

__ADS_1


"Iya, aku bisa melihatnya, tapi 'kan saat itu aku masih pacaran sama Irul ." jawab Nikna.


"Sekarang mau iya jadi pacarku." Afdhal merayunya.


"Iya Afdhal, ayo kita jadian." jawabnya.


Dofiw mengusap lengan Shari, menanyakan tentang laki-laki yang ada di tempat mesin capit boneka. Dofiw sangat menyukai Irul, namun tidak ingin mengatakannya.


"Kak, siapa laki-laki yang waktu itu?" tanya Dofiw.


"Rahasia Dik hahah..." Shari tertawa lirih.


"Ayolah Kak, jangan pelit dong." ujar Dofiw.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri, kalau takdir mempersatukan kami." jelas Shari.


Keesokan harinya, Shari kembali ke sekolah. Dia tidak menyerah, untuk menuntut ilmu. Teringat akan perjuangan orangtua, tidak boleh sia-sia.


"Shari, lihat aku!" pinta Irul.


"Malas ah, aku lagi fokus ke arah buku." jawabnya, sedikit cuek.


"Ayolah Shari, sebentar saja. Apa hari ini penampilanku bagus?" Irul bertanya, sambil berjalan mendekat.


"Kamu minta Yutra saja menilainya." jawab Shari.


Shari sengaja mengelak, karena jantungnya berdegup kencang. Dia benar-benar grogi, kalau didekat Irul. Entah perasaan apa yang Tuhan titipkan untuknya, namun dia berusaha menghindar agar tidak keliru melangkah.

__ADS_1


"Aku ingin dinilai sama kamu, sudah keren belum?" Irul mendekatkan wajahnya, ke arah wajah Shari.


Shari memberanikan diri untuk menoleh, lalu tertunduk lagi. "Iya, keren kok."


__ADS_2