
Upacara sedang dilaksanakan, Irul dan Nikna baris sejajar berdua. Tiba-tiba sebuah tiang spanduk hendak jatuh, dan Irul yang melihat duluan. Ada Shari di belakangnya, siapa yang akan lebih dulu diselamatkan. Irul menarik Nikna, hingga tiang spanduk terhindari.
Bugh!
Shari tidak sengaja tertimpa besi, hingga dia terjatuh ambruk. Cekka dan teman-temannya menertawakan Shari, yang sedang tertimpa musibah.
"Hahah... Shari terjatuh." ujar Cekka.
"Iya, kaki seperti gajah pun hahah..." tambah Bara.
"Makanya hati-hati, jangan besarin badan melulu hahah..." Tommi tertawa terbahak-bahak.
Maria mengulurkan tangannya. "Ayo Shari, kita ke ruang UKS."
"Hmmm... ayo Maria." jawab Shari lirih.
Shari menjadi tontonan banyak orang, saat Cekka melemparinya pakai kerikil di lapangan. Tidak segan mengeluarkan hinaan, atas perasaan Shari yang tertolak.
Irul hanya menolong Nikna saja, sudah dilihat oleh semua orang. Namun Yuli juga yang disuruh menemani, untuk mengantar pacarnya kembali ke kelas.
Shari melangkahkan kaki ke ruang UKS, bersama dengan Maria. Perawat di ruangan tersebut menghampiri Shari, lalu mengobati lukanya yang lumayan parah.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke kelas. Irul terlihat jalan bersama Ande, lalu menghampiri Nikna. Irul memeriksa lengan Nikna, yang tidak kenapa-kenapa.
"Mungkin benar adanya, kamu tidak memiliki perasaan khusus padaku. Namun aku tidak ingin, teman-temanmu bertindak keterlaluan. Tidak mengapa aku dianggap teman, daripada menerima penolakan yang nyata. Haruskah mereka bersikap seperti itu di depan umum, hingga aku jadi bahan tertawaan banyak orang." monolog Shari, dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
Nikna tersenyum. "Ya Allah, aku baik-baik saja sayang. Kamu sampai segitunya khawatir." ucapnya.
"Tadi 'kan kamu hampir tertimpa." jawab Irul.
"Lupakan saja hal ini, yang paling terpenting kita merayakan valentine day. Kita jalan malam Minggu saja, ke sebuah restoran yang gemerlap." ujar Nikna.
"Maaf Nikna, aku tidak bisa. Orangtuaku tidak boleh keluyuran malam berduaan, apalagi membawa anak gadis orang." jawab Irul, dengan tegas.
Nikna kecewa dengan Irul, karena dia susah sekali. Apa-apa tidak mau, diajak foto sulit, pergi pun jarang. Mereka cuma sekadar bertemu di sekolah.
"Terserah kamu saja Irul, aku bisa pergi dengan teman-temanku." ucap Nikna.
"Asal teman-teman kamu perempuan juga tidak apa-apa." jawabnya.
"Shari, kamu tidak apa-apa Nak?" tanya ibu Mihayu lembut.
"Iya Bu, sudah diobati dalam ruang UKS." jawab Shari.
Malam hari pukul 23.00 tepatnya hari Minggu, Nikna pergi bersama temannya yang membawa teman laki-laki.
"Kenapa kalian membawa laki-laki, pacarku tidak boleh bertemu siapa pun." ucap Nikna, dengan jujur.
"Aduh Nikna, pacar kamu itu melarang kamu ini dan itu. Dia sendiri saja tidak menemani kamu, untuk jalan-jalan di malam Minggu. Apalagi hari istimewa Valentine, dia membiarkan pacarnya sendiri." jawab Vhiba.
"Itulah, aku merasa sama saja tidak punya pacar." Nikna mengakui tidak nyaman dengan Irul.
__ADS_1
"Namun, terserah kamu kalau ingin bertahan setia." jawab Vhiba.
"Jangan sedih Dik, pacaran saja sama aku. Tiap hari, kamu aku perlakukan istimewa."
"Dia bisa aku lihat setiap hari hahah..." Nikna tertawa, dengan perasaannya yang bercampur aduk.
"Tadi sedih sekarang tertawa, apa sudah baik-baik saja?" tanya Vhiba.
"Alhamdulillah sudah membaik." Nikna merasa sedikit lega.
"Nikna, diam-diam saja jadi pacarku." sahut Afdhal.
"Aku harus putus dulu dengan Irul. Tapi, belum bisa sekarang." jawab Nikna.
"Kapan pun bisa siap, kamu hubungi aku saja." ucap Afdhal.
Nikna sedikit merasa cocok. "Baiklah, silakan simpan nomorku."
Keesokan harinya, Nikna berkirim pesan dengan ceria. Dia sampai lupa, ada Irul yang muncul. Irul merampas ponsel di tangan Nikna, lalu membaca pesan dari Afdhal.
"Sudah senang bersama laki-laki lain?" Irul menegur lembut.
"Aku cuma berteman kok." jawab Nikna.
Irul meletakkan ponsel di meja, lalu pergi begitu saja. Dia memilih mendiamkan Nikna, lalu duduk di bawah pohon yang rindang.
__ADS_1