
"Nikna, sebenarnya perempuan-perempuan yang selalu bersamaku itu adalah sepupu. Aku minta maaf ya, karena tidak cepat menjelaskan. Aku ingin kita balik lagi Nikna, aku masih sayang sama kamu." ucap Afdhal.
"Sebaiknya bisa dibuktikan terlebih dulu, baru kita bicarakan lagi." Nikna menjawabnya.
Tidak tahu mengapa, Nikna lebih nyaman dengan Afdhal. Irul hanya figuran cadangan pengisi waktu luang, untuk menjadi sekadar pacar saja. Daripada dia kesepian, lebih baik berteman dengan Irul. Meski terikat hubungan asmara, namun tidak jelas perasaannya.
Keesokkan harinya Shari menemui ibu Aima, lalu mengutarakan maksud dalam hatinya. Ibu Aima terkejut, meski mendengarkan dengan seksama.
"Shari, mengapa kamu ingin pindah sekolah?" tanya ibu Aima.
"Tidak apa-apa Bu." jawab Shari, yang berbicara sambil menahan tangis.
"Tapi, kamu sudah selesai melakukan praktik sistem ganda. Sebentar lagi, kamu juga akan lulus. Sangat disayangkan, kalau Shari tidak mendapat sertifikat." ucap ibu Aima.
"Mau bagaimana lagi Bu, keputusan saya sudah bulat. Orangtua hendak pindah rumah, saya juga harus ikut pindah." jawab Shari.
"Baiklah, bila itu keputusan kamu, Ibu tidak bisa melarang." ujar ibu Aima.
"Iya Bu, permisi." jawab Shari, dengan lembut.
Shari tetap menyalami tangan ibu Aima, untuk terakhir kalinya memberikan penghormatan. Setelah ini, mungkin tidak akan berjumpa lagi. Ada alasan mengapa Shari tidak ingin menjelaskan yang dirasakannya, karena tidak ingin menambah luka lebih dalam lagi, saat kenyataan yang dirasa dianggap berlebihan.
Kelas Akuntansi dibuat heboh, dengan perlakuan siswa laki-laki. Ratia, Nuri, Kiras, Yuli, dan Nikna mendengar perbincangan mereka.
"Eh, Shari pindah sekolah." ujar Cekka.
__ADS_1
"Aduh, ini semua karena kamu bully terus." jawab Gugus.
"Halah, kamu juga ikut mem-bully." sahut Bara.
"Aku hanya untuk bersenang-senang, candaan semata saja." jawab Gugus, tanpa merasa bersalah.
Irul tidak sengaja mendengar perbincangan mereka, lalu mendekat untuk menanyakan lebih pasti.
"Kalian serius, bahwa Shari pindah?" tanya Irul.
"Lah, kamu pikir kami bercanda." jawab Cekka, dengan menyunggingkan senyuman.
"Kejam sekali kenyataan, padahal Shari belum mengungkapkan perasaan." ujar Tommi.
"Hahah... sudah takdir untuk memendam perasaan." jawab Bara.
"Kok kamu terlihat gelisah Irul?" tanya Babay.
"Tidak kok, aku tidak menyangka saja, bahwa dia akan pergi." jawab Irul.
Shari memperkenalkan diri di depan kelas, sambil tersenyum ke arah semuanya. Namun menutupi masalah, yang pernah terjadi di SMK Pelangi Senja.
"Shari pindah sekolah dari sekolah lama, karena berbuat masalah iya?" tanya ibu Luluk.
"Tidak Bu, hanya pindah saja." jawab Shari datar.
__ADS_1
Ibu Luluk melihat ke arah siswa, yang dari tadi sibuk tertawa lirih. "Apa yang lucu?"
"Dia pendiam Bu." jawab salah satu anak laki-laki.
"Ibu sedang bertanya pada Shari, lebih baik kalian diam saja." Ibu Luluk mengingatkan.
"Baik Bu, aku diam sekarang. Aku tidak akan berbicara, hal-hal yang membuat risih. Jangan heran, bila kelas ini seperti kuburan." jawab seorang anak laki-laki.
Shari dipersilakan untuk duduk, setelah memperkenalkan diri di depan kelas. Seorang siswi berjilbab menyapanya, sambil melemparkan senyuman.
"Hai, namaku Desty." ujarnya.
"Namaku Shari." jawabnya.
Shari duduk di sebelah Desty, dan ada Imas juga di sampingnya. Pelajaran dimulai dengan fokus, lalu Shari tertawa lirih saat ada yang membuat lelucon.
"Namanya Zaren, dia memang suka usil. Tapi anaknya baik kok, tidak ada dia kelas sepi." ucap Imas.
Shari tersenyum, merasa dirinya diterima dalam pertemanan tersebut. "Tidak mengapa usil, yang terpenting tidak merenggut kenyamanan orang lain."
Imas menepuk-nepuk pundak Shari. "Tidak sampai hati si Zaren berbuat begitu. Dia tidak punya siapa-siapa, selain Anggiro si lamban."
"Kalian jangan mem-bully dia." jawab Shari, yang berusaha menjaga perasaan.
"Tenang, di sini semuanya sahabat. Tidak ada yang pilih kasih kok."
__ADS_1
"Bagus, jangan saling menyudutkan. Bercanda sekadarnya saja, demikian lebih baik." jawab Shari.