
Irul memetik kacang panjang, yang berada tidak jauh dari Shari. Irul tersenyum ke arahnya, sambil lambai tangan. Shari tersenyum malu-malu, lalu berusaha menahan diri dari perasaannya.
"Shari, kita buat rujak kacang yuk." ajak Irul.
"Kamu buat bersama Yutra saja." Shari kali ini berusaha menghindari.
Shari berjalan menjauh, dan Irul masih mengikutinya. Shari mendekati Maria, memilih bicara dengannya. Qusna merasa bersalah, karena Shari terus acuh.
"Maria, kamu nanti pulang bersama kakak kamu iya?" tanya Shari.
"Iya, aku akan belajar beladiri dengannya." jawab Maria.
Irul menyahut. "Seru tuh beladiri, apa kamu tertarik Shari?"
"Iya, tapi bingung mau belajar sama siapa." jawab Shari.
"Kakak keduaku ikut beladiri Terate, kamu bisa belajar bersamanya." tawar Irul.
Shari dengan cepat mengelak. "Tidak, aku ingin belajar di tempat perguruan resmi."
Qusna berdiri didekat temannya. "Shari, aku minta maaf."
Shari masih terdiam, sampai Qusna mengulangi ucapannya.
__ADS_1
"Hmmm..." jawab Shari tertunduk.
Pelajaran dimulai kembali, setelah selesai memanen kacang panjang. Ibu Aima menerangkan tentang pelajaran Neraca Saldo.
"Anak-anak, sebelumnya kita sudah membahas tentang Jurnal Umum, Buku Besar, dan cara membuat jurnal pembalik. Hari ini belajar membuat tabel Neraca Saldo, lalu memindahkan akun beserta nominal dari buku besar. Kalian posting secara berurutan, jangan sampai ada yang tertinggal." ucap ibu Aima.
"Iya Bu." jawab semuanya.
Cekka, Tommi dan Gundi mengambil tas Shari, lalu melemparkannya ke atas udara. Buku Shari terjatuh, lalu diinjak oleh kaki Cekka. Sekarang jam istirahat, saatnya untuk Cekka dan teman-teman bereaksi.
"Sang pujaan hati, mengapa aku dan kamu banyak rintangan. Tidak apa-apa, ini sudah takdir. Selama tidak ada yang mengetahui, aku yakin akan baik-baik saja." Cekka membaca buku harian Shari.
"Hahah..." Tommi dan Gundi cengengesan.
Bara, Ande, dan Gugus tegak pinggang, lalu membantu Cekka. Shari tidak suka dengan mereka, yang terlalu ingin tahu.
"Aku tidak mau, terlalu asyik membaca cerita kamu yang lebay." jawab Cekka.
Gundi hendak melempar bukunya ke arah tong sampah, namun tidak sengaja terkena tubuh Nikna. Perempuan itu hendak membaca isinya, lalu berjalan mendekat ke arah Shari.
"Semua yang tertulis di dalam sini, pasti tentang Irul 'kan?" Nikna memastikan.
"Itu hanya kiasan buku harian, tidak mengandung makna lain." Shari mengelak.
__ADS_1
"Kamu kenapa munafik sekali si, mengaku saja kenapa. Tidak usah berpura-pura lagi." Nikna melihat ke arah Shari dengan kesal.
"Aku tidak punya wewenang dari siapa pun, untuk jujur dengan apa yang aku rasakan. Ini adalah buku harian pribadiku, kalian semua tidak berhak mengintimidasi berlebihan." Shari menatap sinis ke arah semuanya, dengan intonasi sedikit meninggi.
Yuli tiba-tiba muncul dan mendekat. "Ada apa kalian ini?"
"Dia itu Yuli, masa merebut Irul dari Nikna. Sangat rendahan, mengajaknya untuk menikah lagi." Cekka berusaha menyudutkan.
"Tidak seperti itu Yuli, sebenarnya ini salah paham. Aku hanya jadi kambing hitam." jelas Shari.
"Iya Shari, aku percaya." jawab Yuli.
Buku harian Shari diambil oleh Gugus, dari tangan Nikna. Sengaja dilempar ke tong sampah, tepat di depan mata Shari.
"Hahah... hahah..." Cekka dan teman-temannya tertawa.
Shari berjalan dengan perlahan, dia mengambil buku hariannya. Shari berlari ke arah kebun pinus, sambil menangis tersedu-sedu.
"Apa aku sejelek itu? Apa aku tidak sepantas itu, hanya karena menyukainya aku ditindas. Aku tidak tahan lagi, semua sungguh jahat. Mereka selalu saja menghina, mengadu domba, dan memfitnahku."
Irul tiba-tiba muncul lagi, berdiri di sampingnya. "Sudahlah, menangis itu menguras tenaga. Lebih baik kamu bermain saja, jangan terlalu bawa perasaan."
"Terus kamu pikir ucapan mereka bercanda gitu?" Shari menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Tidak Shari, aku tahu mereka keterlaluan. Namun, kamu juga berhak untuk bahagia. Abaikan saja mereka, masih banyak hal yang bisa dilakukan." ucap Irul.
"Akan aku coba, terima kasih Irul atas nasehatnya." jawabnya.