Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Perasaan Yang Disepelekan


__ADS_3

Shari bingung harus bagaimana, benar-benar trauma. Dirinya merasa sedang diancam, karena kerap kali diintimidasi. Diabaikan, malah mereka menjadi-jadi. Dilawan, tetap tidak digubris. Didiamkan, mereka terus saja mengganggu.


Shari mendatangai rumah ibu Aima, untuk menjelaskan apa yang dia rasakan. Namun, bersamaan dengan itu ada ibu Zainab. Shari bercerita tentang yang terjadi di hutan Pinus, bagaimana kejamnya perlakuan teman-teman sekelasnya.


"Kamu itu bukan anak kecil, sepele saja sudah menangis." ujar ibu Zainab.


"Mereka benar-benar serius menggangu saya Bu. Saya merasa tidak nyaman belajar, karena mereka melakukan bullying setiap saat." Shari berterus-terang, dengan apa yang dialaminya.


"Kamu saja yang kurang bergabung kali. Tidak usah diambil hati, itu hanya candaan semata." ujar ibu Zainab.


"Orang menendang saya sampai mati pun, apa Ibu juga akan menganggap mereka bercanda? Saya dizalimi, tapi Ibu malah menyepelekan yang saya rasakan." jawab Shari, dengan tidak terima.


Naik motor sambil melamun, dengan apa yang terjadi. Shari ingin menjauh dari Irul, lebih dari hubungan sebelumnya. Namun dia bingung, bagaimana dengan perasaannya sendiri. Tidak butuh waktu lama, Shari sudah sampai ke rumah.


"Dofiw, mulai sekarang kamu lupakan Kakak laki-laki yang kemarin iya. Jangan lagi sebut dia, apalagi bilang ingin dia jadi kakakmu." ujar Shari.


"Kenapa Kak, aku 'kan senang padanya. Aku butuh teman, dan aku rasa kami cocok." jawab Dofiw.

__ADS_1


"Kamu hanya terlalu sepi, hingga langsung menyukainya saat bertemu. Sebenarnya, pilihan paling tepat buang jauh-jauh dia dari pikiran kamu." Shari kecewa dengan Irul, karena memberikan harapan palsu padanya.


"Kak, kenapa tiba-tiba seperti ini. Apa karena Kakak bertengkar dengannya." Dofiw menunjukkan raut wajah sedihnya.


"Tidak bertengkar, hanya saja ini keinginan secara pribadi." ujar Shari datar.


"Baiklah Kak, terserah Kakak saja." jawabnya.


Dofiw masuk ke kamar, memeluk erat boneka kucing tersebut. "Aku berharap, suatu hari bisa bertemu dengan Kakak laki-laki tersebut. Meski aku lupa, siapa namanya waktu itu."


Shari duduk di tangga, saat malam menjelang larut. Dia menatap bintang di langit, lalu terpikir dengan ucapan Irul. Istri masa depan, kalimat itu yang tercatat di otaknya. Shari mengucapkan kalimat istighfar berulang kali.


Nikna dan Irul jadian kembali, dan Shari memilih menjauh dari keduanya. Terlebih Irul, yang sudah memberikan ucapan manis. Namun, semua malah menjadi gejolak, yang siap menghujam detak jantungnya.


"Irul, mengapa kamu tega beri aku harapan? Mengapa kamu begitu mudahnya luluh dengan Nikna, padahal sudah akui aku sebagai seseorang di masa depanmu. Apa aku hanya figuran cadangan, yang dianggap ketika Nikna atau perempuan lain tidak ada. Irul, mengapa kamu cepat berubah, seperti cuaca yang menemani segala rasa ini." Shari menangis diam-diam di sebuah tempat, yang manusia lain sulit menemukannya.


Pelajaran dimulai, Cekka dan teman-teman heboh. Mereka berbicara tidak penting seperti biasa, hanya untuk membuat Shari merasa lebih canggung. Apalagi Irul yang notabenenya malas disorak-sorak, malah sekarang harus menerima hal yang enggan dirasakan olehnya.

__ADS_1


"Mas Irul dan Mbak Shari." ucap Gugus.


"Kalian berdua cocok hahah..." tambah Bara.


"Sudahlah, tidak usah comblang lagi. Sangat mengganggu konsentrasi, dan membuat risih." jawab Shari.


Ibu Aira menyuruh semua siswa membuat sebuah puisi, dengan tema yang bebas. Nikna membuat puisi tentang Vhiba sahabat sejatinya. Sedangkan Irul dan Shari sama-sama mengungkapkan perasaan, tentang kedua orangtuanya.


"Cie, Shari satu hati dengan Irul tema puisinya." ujar Nuri.


"Hahah... hahah..." Tertawa sebagian orang di kelas, malah terdengar lantang.


"Ada apa dengan kalian ini, Shari masih membaca puisi di depan kali." Ibu Aira memukul-mukul papan tulis dengan penghapus.


"Bu, bagaimana tidak heboh dengan pasangan paling romantis di kelas." jawab Cekka, dengan cengengesan.


"Shari pacaran dengan Irul iya?" tanya ibu Aira.

__ADS_1


"Gosip saja Bu." jawab Shari sesuai dengan kenyataan.


__ADS_2