
Setelah Shari kembali ke kontrakan, dia langsung mengunci pintu salah satu ruangan. Shari terdiam seribu bahasa, sakit sekali difitnah oleh Cekka.
"Bila cinta ini tak nyata, jangan beri aku harapan Irul. Ingin rasanya aku akhiri saja, namun aku tidak kuasa atas rasa. Mengapa teman-teman sekelas jahat sekali, sengaja menggunakan kamu untuk menghancurkan hatiku." Shari meneteskan air matanya.
Tok!
Tok!
"Shari, kamu kenapa?" tanya Yuli.
"Aku tidak apa-apa." jawab Shari.
"Jangan bohong, aku lihat sebelumnya kamu baik-baik saja. Lalu berubah, setelah kita pulang jalan tadi." ucap Yuli.
"Sudahlah Yuli, tinggalkan aku sendirian." jawabnya.
Yuli akhirnya menjauh dari ruangan tersebut, memilih duduk bersama Maria dan Ningsih. Mereka heran melihat Yuli yang tampak termenung, tidak seperti biasanya.
"Yuli, Shari kenapa?" tanya Maria.
"Aku juga tidak tahu, dia sedang ingin sendiri." jawab Yuli.
"Ada masalah dengan Cekka tidak?" tanya Ningsih.
"Aku juga tidak tahu, soalnya tadi Shari ke toilet sendiri. Aku sedang bicara bersama Ratia dan yang lainnya." jawab Yuli, dengan datar.
__ADS_1
Keesokkan harinya, Shari berjalan dengan cepat. Dia melangkahkan kaki keluar dari kontrakan, terburu-buru membeli pembalut di toko. Maria sibuk memanggil Shari, karena melihat matanya sembab.
"Kenapa, kamu menangis lagi?" tanya Maria.
"Tidak, hanya badan lelah." jawab Shari.
Shari malas untuk bercerita, pada orang yang tidak mengerti dirinya. Percuma berbicara, kalau tidak ada yang peka.
Hari ini Shari pergi ke perusahaan, dengan mengenakan seragam sekolah. Dia sudah tampak rapi, dengan gaya yang sederhana. Shari membuka sosial media saat jam istirahat, lalu melihat Cekka menyebarkan foto waktu di ruangan toilet.
"Hiks... hiks... kenapa Cekka jahat sekali sama aku. Padahal, aku tidak salah dalam hal ini." monolog Shari.
"Kenapa Shari? Apa yang terjadi?" tanya Ningsih.
Shari menangis tersedu-sedu, saat sudah masuk ke dalam toilet. Shari tidak ingin kesedihannya diketahui oleh para pekerja kantor. Shari mengusap matanya dengan tisu, namun masih saja menangis lagi. Terasa sia-sia membendungnya, sudah dikibaskan dengan telapak tangan masih saja air mata tidak terkendali.
"Ayo dong berhenti menangis, kamu harus kembali ke ruang kerja." monolog Shari.
Afdhal menghubungi Vhiba, karena Nikna sulit dihubungi. Afdhal tidak terima, karena diputusi sepihak. Tiba-tiba, Nikna menghilang tanpa kabar kepastian. Vhiba membalas pesan darinya dengan malas.
"Nikna sedang pergi dengan Irul, sudah ya jangan cari dia lagi."
Afdhal mengirimkan pesan. "Hei, tidak bisa begitu. Nikna memutuskan aku dengan sepihak, aku tidak terima."
Vhiba mengirim pesan lagi pada Afdhal. "Terserah kamu, jika tidak mendengarkan penjelasan yang aku berikan."
__ADS_1
"Aku tahu Nikna marah, karena melihat aku dengan perempuan lain. Katakan padanya, bahwa aku menyesal. Aku minta maaf, aku ingin balikan lagi sama dia." Afdhal mengirimkan pesan lagi.
Vhiba membalas pesan dengan malas. "Pikirkan saja sendiri, jangan buat aku pusing."
Shari sudah keluar dari toilet, setelah satu jam mengendap. Seorang perempuan pekerja kantor heran melihatnya, karena Shari tampak baru saja menangis.
"Ada masalah?" tanyanya pada Shari.
"Tidak ada, aku baik-baik saja." jawab Shari.
Sore hari sudah kembali ke kontrakan, dan Shari tampak murung. Dia lelah diserang dengan Cekka terus menerus. Batinnya tersiksa di-bully dan difitnah, semua justru menertawakannya.
"Pada kenyataannya, terima tidak terima aku tidak bisa merubah, tanggapan orang lain terhadapku. Terserah dengan kabar palsu itu, aku sudah lelah dengan semuanya."
Sementara di sisi lain, ada Irul dan Nikna yang membeli makanan di kedai. Mereka tertawa lirih, saat seekor kucing membantu majikannya.
Meong!
Meong!
Suaranya lantang, karena mulut dekat dengan mic. Nikna sampai memukul pundak Irul, karena adegan tersebut sangat lucu. Irul hanya tersenyum melihat tingkah Nikna, namun lumayan bahagia.
"Gila itu kucing, membantu pengamen jalanan." ujar Nikna.
"Itu namanya binatang tahu diri, karena majikan telah memberikan makan." Irul menjawab dengan candaan.
__ADS_1