Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Dianiaya


__ADS_3

Tanpa terasa liburan semester telah berakhir, dengan keseruan aktivitas masing-masing. Ada Yutra yang bermain bersama Irul, ada Shari yang bermain bersama Dofiw, dan semuanya punya rencana masing-masing.


Cekka berjalan ke arah kebun sawit, untuk merokok bersama teman-temannya. Bara melangkahkan kakinya, mengikuti Cekka dari belakang. Bara tertawa cekikikan, saat Gundi berjoget.


"Ini seperti tari India." ucap Bara.


"Benar, aku sering melihatnya di YouTube." jawab Cekka.


"Aku memang sedang mempraktikkan gaya Syahrul Khan." Gundi tersenyum ceria, sampai menampakkan deretan giginya.


"Heheh..."


"Woi, ada perempuan menyendiri di sini." ucap Bara.


"Dia mau menjadi mermaid hahah..." Cekka tertawa mengejeknya.


"Perempuan dekil naksir, dengan laki-laki terkeren SMK Pelangi Senja. Kok terdengar tidak stabil, ada keretakan pada layar monitor hahahh..." Gugus mengolok-olok.


"Benar sekali, luarnya saja tidak menarik. Apalagi dengan yang ada di dalamnya, pasti penuh dengan kudis menjijikkan." Gundi tersenyum mengejek.


"Aku bilang hentikan perbuatan kalian, mengapa kalian selalu merundung ku. Kalian kira, dengan melakukan bully lantas jadi paling hebat? Tidak juga, hal ini malah memperlihatkan betapa rendahnya kalian." Shari memilih pergi, mengabaikan semua orang.


Cekka berjalan mendekat, lalu yang lainnya juga menghadang. Shari berusaha keluar, lewat celah yang kosong. Gugus tetap menghadangnya, sampai Shari mendorong dengan paksa. Gundi menarik paksa tangan Shari, lalu sebuah tinjuan melayang pada tangannya.


"Dia berani bermain fisik, kurang ajar." ucap Gundi.


"Kalian yang memulai menyakitiku, namun kalian bertingkah seolah suci tidak bernoda. Kalian benar-benar manusia iblis, tidak berperasaan sama sekali." jawab Shari.

__ADS_1


Shari tetap memaksa mencari cara untuk pergi, namun Gugus menghalang-halangi. Cekka menarik baju Shari dari belakang, lalu ditarik kasar jilbabnya. Shari memainkan sikut tangannya dan menendang kaki Cekka, hingga sang empu meringis kesakitan.


"Serang Shari Gugus, dia sudah berani melawan aku." titah Cekka.


"Aku tidak ingin diam terus, dengan penindasan yang kalian lakukan." Suara Shari meninggi, dengan histeris.


Bugh!


Gugus menendang perut Shari, hingga perempuan itu jatuh tersungkur. Cekka menjambak rambut Shari, yang terhalang jilbab. Shari mengambil kayu yang ada didekat kakinya, lalu melempar ke arah para lawannya. Mereka merasa kesakitan, karena Shari membela diri.


"Kalian semua pergi!" Shari mengusir mereka, dengan suara lantang.


"Dia sudah gila!" Gugus bergidik ngeri.


Nikna teringat Afdhal yang dekat dengan perempuan lain, lalu Nikna memilih mendekati Irul lagi.


"Irul, kamu sekarang punya gebetan?" tanya Nikna.


"Hmm... Kamu dan Shari sekarang bagaimana?" Nikna ingin tahu.


"Iya gitu, berteman seperti biasa." jawab Irul.


"Cekka bilang, kalian sekarang jadi TTM. Seperti teman tapi mesra gitu, dalam kamus bahasa gaul." ujar Nikna.


"Aku tidak mesra dengannya, sama seperti teman-teman yang lain." jawab Irul, dengan tegas.


Sebuah pesan masuk dari Afdhal, yang terlihat singkat namun jelas. Dia basa-basi, hanya untuk menjelaskan perasaannya.

__ADS_1


"Nikna, kamu jangan marah lagi dong. Soal foto semalam, kami hanya berteman."


"Kalau hanya berteman, kalian tidak sampai bergandengan tangan." Nikna membalas pesan dari pacarnya.


"Jangan membuatku bosan, dengan sifat kamu ini."


"Hmm..." Hanya satu kata singkat, yang dikirimkan oleh Nikna.


Shari masuk ke dalam kelas, lalu Ningsih menghampirinya. Shari tersenyum ke arah Ningsih, dengan posisi yang semakin dekat. Shari menahan sakit di perutnya, karena terkena tendangan kuat dari kaki Gugus.


"Di mana Qusna tadi?" tanya Ningsih.


"Tidak tahu kemana, aku tidak bersamanya." jawab Shari.


"Oh iya, kenapa baju kamu tampak kotor?" Ningsih melihat baju Shari.


"Tidak apa-apa Ningsih." jawab Shari.


Shari menoleh ke arah Irul, yang sedang dekat dengan Nikna. Shari memilih membuang pandangan, sadar diri dengan tindakan yang mereka lakukan.


"Shari!" panggil Irul.


"Lebih baik kamu menjauh dariku." jawab Shari.


"Loh kenapa?" tanya Irul.


"Aku dan kamu berbeda." jawab Shari, dengan datar.

__ADS_1


"Memangnya apa yang beda, kita sama-sama manusia." Irul merasa heran.


"Pikirkan saja sendiri." Shari menahan air matanya, agar tidak jatuh di hadapan Irul.


__ADS_2