Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Terima Raport, Liburan Semester


__ADS_3

Pulang sekolah, Shari melihat Yuli terjatuh. Shari menolongnya, lalu membantu Yuli mengangkat motor sampai berdiri.


"Shari, terima kasih iya." ucap Yuli.


"Iya Yuli, sama-sama." jawab Shari.


Shari membantu Yuli, yang sedang menuntun motornya yang berat. Tiba-tiba Irul muncul, lalu ikut menolongnya juga.


"Kenapa motor kamu Yuli?" tanya Irul.


"Motornya mati karena tadi jatuh." jawab Yuli.


"Ayo aku bantu bawa ke bengkel." tawar Irul.


"Boleh-boleh, terima kasih." Yuli menjawab, dengan sumringah.


Shari menatap kepergian Yuli dan Irul, yang menghilang di ujung pembelokan jalan.


”Apa Irul memang terbiasa ramah dengan semua orang. Jadi hal wajar, bila aku juga diperlakukan begitu. Namun mengapa harus mengakui, bahwa aku calon istri masa depannya. Duhai hati, kamu jangan menyimpan rasa iya.” batin Shari.


Boneka kucing dibawa oleh adik Shari. "Kak, apa tadi bertemu dengan orang yang menjepit boneka untukku?"


"Iya, Kakak bertemu dengannya." jawab Shari, dengan jujur.


Dofiw cemberut. "Kelak saat besar, aku ingin menjadi laki-laki sepertinya."


"Jangan, lebih baik kamu menjadi seperti diri sendiri. Terkadang, apa yang terlihat baik belum tentu baik." jawab Shari, dengan lembut.

__ADS_1


"Dari cara Kakak berbicara, seperti sudah pernah disakiti saja." ujar Dofiw.


"Tidak pernah kok, dia baik sama Kakak. Namun, tidak tahu juga isi hati sesungguhnya." jawab Shari.


Tanpa terasa sekarang waktunya penerimaan raport, setelah banyak ujian semester genap dilalui. Shari dan teman-temannya bisa melihat hasil pembelajaran selama ini. Pertama-tama yang membuat bersyukur, semuanya naik kelas. Hanya saja, nilai paling tertinggi tidak didapatkan oleh Shari.


"Rangking satu diraih oleh Yuli." ucap ibu Zainab.


"Yes, berhasil meraih juara adalah impianku." Yuli melangkahkan kakinya, maju ke depan kelas.


Cekka tepuk-tepuk tangan, bersama dengan yang lainnya. Juara kedua diraih oleh Agicy, lalu dia maju ke depan. Setelahnya Ningsih yang maju, karena dia mendapatkan rangking tiga. Ibu Zainab berlanjut memanggil seluruh siswa dan siswinya.


”Andai aku tidak dibully, pasti bisa aktif bertanya di kelas.” batin Shari berbicara.


Semua pulang ke rumah masing-masing, karena tidak melaksanakan belajar mengajar lagi. Shari dan Dofiw mengangkat tangan ke atas udara, lalu saling menyatukannya.


"Kakak, bagaimana dengan terima raport hari ini?" tanya Dofiw.


Libur semester kali ini, kesempatan Irul dan Yutra menghabiskan waktu bersama. Mereka memancing di area parit kebun.


"Irul, kamu bawa siapa?" tanya Yutra.


"Oh, itu adalah kakakku, namanya Qiyaus." jawab Irul.


"Dia sekarang apa kegiatannya?" Yutra sekadar ingin tahu.


"Dia kuliah." jawab Irul.

__ADS_1


Mereka bertiga pergi ke area parit, yang banyak ikan. Di sana perkebunan sangat luas, banyak kangkung terhampar luas. Irul melihat Shari ada di sana, sedang bersama Dofiw mengambil sayuran hijau di alam bebas.


"Shari, kamu ngapain di sini?" tanya Irul.


"Ini aku memetik kangkung di lahan perkebunan PUAN." jawab Shari.


"Sudah lama kalian sampai di sini?" tanya Yutra.


"Tidak kok, ini barusan saja." jawab Shari.


Qiyaus sudah memasang umpan pada kailnya. Dilemparkan ke dalam air dengan perlahan, lalu disusul dengan senar pancing milik Irul.


Yutra juga memetik kangkung, untuk diberikan pada ibunya saat pulang nanti. Yutra tahu, bahwa Minia menyukai yang segar-segar. Tidak lama kemudian, Qiyaus menarik pancingnya. Ikan besar telah didapatkannya, dan Irul juga menarik pancingnya.


"MasyaAllah ikan patin besar sekali. Aku mau memancing juga." ucap Dofiw.


"Bagus, anak laki-laki tidak boleh malas." ledek Shari.


Irul tersenyum ke arah Dofiw. "Ayo memancing, aku semangat."


"Tidak ada pancingnya." jawab Shari.


"Ambil saja dalam tas ku, ada senar dan pancingnya." sahut Irul.


"Terima kasih Irul, namun tidak perlu repot-repot." Shari teringat ingin menjauhinya.


Dofiw ngotot sampai menarik-narik tangan dengan Shari. Akhirnya Shari meminjam senar pancing milik Irul, lalu dikaitkan pada ranting kayu sembarangan.

__ADS_1


"Kamu tadi ingin menolak, padahal adikmu butuh senar pancing. Lain kali, jangan sungkan lagi padaku." ucap Irul.


"Iya." jawab Shari lirih.


__ADS_2