Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Difitnah


__ADS_3

Pulang sekolah Cekka memanjat pohon jambu, bersama dengan teman-teman sekelasnya.


"Hmm... beginilah aku apa adanya." ujar Cekka.


"Bagus, aku lebih menghargai yang tidak berpura-pura." jawab Tommi.


"Biasalah Cekka, setiap orang punya kepribadian masing-masing." sahut Babay.


"Hahah... jangan baper seperti Shari kalian ini." jawab Cekka, dengan tertawa terbahak-bahak.


Shari dan Maria pergi ke sebuah taman, saat pulang sekolah. Qusna juga ikut, mereka akan membuat rujak.


"Shari, aku mendengar selentingan orang bertanya, siapa orang yang kamu suka?" tanya Qusna.


"Sudahlah, jangan terlalu ingin tahu urusan orang lain." jawab Shari.


"Lewati saja, Qusna memang seperti itu." ujar Maria.


"Heheh... tidak apa-apa Maria." jawab Shari, dengan terkekeh.


"Shari, beritahu kenapa si. Nanti kalau aku mati, bisa jadi arwah penasaran." ucap Qusna.


"Yaelah Qusna, jangan terlalu lebay deh kamu." Maria yang menjawabnya.


Saat jam istirahat esok harinya, Cekka bertanya pada Qusna. Ini sudah ketiga kali, berharap dapat jawaban tentang kepribadian Shari.


"Sudah kamu cari tahu, siapa orang yang dimaksud dengan Shari?" tanya Cekka.

__ADS_1


"Iya, namun dia tidak mau memberitahu." jawab Qusna.


Agicy melihat ke arah Qusna. "Cepat usahakan tahu, nanti kami akan baik loh padamu." rayunya.


Yani tersenyum ke arah Qusna. "Hahah... kami serius Qusna, nanti kamu masuk ke dalam rombongan kami. Bercanda bersama dan memberi hadiah pertemanan." timpalnya.


"Kalau gitu, kita coba periksa tasnya saja. Setahu aku, Shari suka menulis buku harian." Qusna memberitahu kebiasaan temannya.


Mereka membuka tas Shari diam-diam, lalu mengeluarkan buku harian. Agicy dan Yani yang paling cepat bergerak, membuka lembar demi lembar kertas. Yani yang paling brutal, sampai buku tidak sengaja robek.


"Parah kalian ini, sabar oi!" ucap Cekka.


"Hahah... jiwa kami meronta-ronta" Yani tertawa.


"Tidak ada namanya oi, tapi ada tanggal buku harian. Kalimatnya pun bertuliskan, melihat dia setiap hari." ujar Agicy.


"Tanggal lima belas, itu awal mula masuk SMK Pelangi Senja." jawab Gugus.


"Anak-anak, janji yang pasti itu hanya Allah. Jangan percaya dengan ucapan manusia, memang terkadang langganan ingkar." ujar pak Lihudri.


"Benar sekali Pak, manusia itu tempatnya melakukan kesalahan." Cekka berteriak paling lantang.


"Namun, kamu masih suka berharap dengan manusia." canda pak Lihudri.


Pelajaran agama, namun malah menjadi lawakan. Bapak agama satu ini, tidak ingin muridnya terlalu serius saat belajar. Sengaja memilih topik yang membuat tidak bosan.


"Meski ada unsur bercanda, tapi tujuan pembelajaran kali ini ingin mempermudah ilmu, masuk ke dalam pikiran kalian. Harap diperhatikan!" ujarnya.

__ADS_1


Jam istirahat tiba, Cekka melihat Shari tersenyum ke arah Irul. Rasa curiga membuatnya melakukan uji coba. Membuat akun palsu sosial media, untuk menjatuhkan Shari. Bara yang meminjam ponsel Irul, alasan ingin melihat jam. Padahal ada rahasia dengan Cekka, di belakangnya.


"Shari mengajak Irul menikah oi, benar-benar kebelet dia. Perempuan tidak ada harga diri." teriak Sakim.


"Hahah... hahah..." Gugus tertawa, bersamaan dengan teman yang lainnya.


"Lihat ini, sungguh memalukan sekali. Akun yang bernama Shari, mengirim pesan ayo menikah denganku." Cekka melihat sebuah pesan masuk, pada sosial media Facebook.


Shari yang mendengarnya sakit hati. "Siapa yang mengajaknya menikah, sekarang masih masa sekolah. Kamu sudah hilang akal iya, menuduh orang lain tanpa bukti."


"Hei, lalu siapa yang mengirim pesan ini?" tanya Cekka.


"Itu bukan aku, kalian pasti mengarang cerita. Aku tidak pernah sedikit pun menggodanya."


Cekka mendorongnya hingga membentur meja. Dia dizalimi, semua justru menertawakannya.


"Kamu memang tidak sabaran sekali, mengajaknya masuk ke hotel. Wow... sungguh murahan iya, wajah pas-pasan." Cekka tersenyum mengejek, sambil membenarkan kerah bajunya.


"Sangat tersisih, kasian iya." Tommi tegak pinggang, sambil tersenyum.


"Tidak butuh dikasihani, dengan keterpaksaan dirimu. Terlalu repot-repot, sudah bersedia meluangkan waktu." Shari segera pergi, malas meladeni mereka.


Shari memilih menjauh dari Irul, karena sudah tidak enak dengan kabar tersebut. Nikna sedang ada di emperan, melihat ke arah Shari.


"Shari, kamu suka dengan siapa si?" tanya Nikna.


"Itu urusan hatiku." jawab Shari.

__ADS_1


"Tapi semua orang mengatakan, kamu suka dengan pacarku." ujar Nikna.


Shari melihat ke sembarang arah. "Kamu bisa menganggapnya angin lalu." Sengaja menjawab datar.


__ADS_2