
Bara melempar tanah ke arah Shari, lalu Irul menegur saat melihatnya. Irul mendekati Shari, lalu tersenyum padanya.
"Kalian ini, tidak baik seperti itu." Irul menegur mereka.
"His, dibelain terus." Cekka melihat ke arah teman-temannya.
Shari menundukkan pandangan, sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur'an. ”Astaghfirullah, tidak boleh bertatapan. Bukankah aku sudah berniat sejak awal, ingin jadi jomblo sebelum menikah.”
"Shari, kamu tidak apa-apa?" tanya Irul.
"Tidak apa-apa." jawab Shari.
Nikna melihat Shari masuk ke kelas, menghampirinya dengan mata yang tajam.
"Aku ingatkan kamu Shari, tolong jauhi Irul." ucap Nikna.
"Sekarang juga tidak dekat, biasa saja." jawab Shari datar.
"Aku tetap ingin, kamu jaga jarak dari dia." ujar Nikna.
"Aku selalu ada jarak dengannya." jawab Shari.
__ADS_1
Ibu Aima menyuruh siswa dan siswi menutup buku, ulangan akan dimulai dengan mengandalkan usaha pikiran.
"Mas Irul dan Mbak Shari!" Cekka dengan usil, sengaja memanggil keduanya.
"Hahaha... mereka sepertinya berjodoh." Gugus si paling berlagak, meramal masa depan.
"Bilang Amin oi, kalian jangan diam saja dong!" teriak Bara, dengan lantang.
"Aamiin hahaha..." Sebagian orang ikut tertawa.
"Kenapa sih kamu tuh harus mengumbar-ngumbar perasaanku. Satu hal lagi kamu lebih baik diam, karena kamu itu tidak tahu apa-apa." Shari berucap dengan intonasi datar.
"Oi lihat, Shari ini marah. Harusnya yang marah adalah nikna, karena dia adalah pacar Irul secara nyata." Cekka senyum mengejek.
"Aku tidak bisa janji, karena keinginan kamu bukan diriku." jawab Cekka.
Shari menjadi kesal saat ulangan berlangsung Cekka sibuk, menarik-narik jilbabnya dari belakang. namun bagaimana lagi, menegur anak satu itu memang diperlukan tubuh raksasa. Hanya rasa sabarlah yang membuat dirinya bertahan, meski perasaannya sudah terbongkar.
"Kumpulkan tugas ulangan ini, dalam waktu setengah jam." ucap Ibu Aima.
"Siap Bu." jawab semuanya.
__ADS_1
Setelah selesai mengerjakan tugas, semuanya boleh istirahat. Cekka mengambil buku harian Shari, lalu membacanya kuat-kuat.
"Kamu seperti sesuatu yang terlindungi oleh kaca, bisa dilihat namun tidak dapat diketahui yang sebenarnya. hahaha... salah ini, Harusnya yang benar adalah tidak bisa dimiliki hahah..." Cekka menertawakan perasaan Shari, yang tidak terbalas.
Bara menarik lengan Irul, yang sedang lewat di sampingnya. "Dia sangat menyukaimu. Kamu terima lah Shari, sudah terlihat seperti pengemis cinta."
Cekka tersenyum mengejek ke arah Shari, bersamaan dengan yang lainnya.
"Kamu suka sama pacar Nikna, memalukan sekali kedengarannya hahah..."
"Tidak sadar diri, perlu disiapkan kaca besar." Gugus geleng-geleng kepala.
"Nah itu masalahnya, Irul 'kan orang berkelas. Kebunnya luas, keluarganya pandai bergaul, masuk jajaran 10 laki-laki keren SMK Pelangi Senja. Bukan hanya itu si, lebih tepatnya idola banyak kaum hawa. Lah ini datang kamu gajah dekil naksir Irul hahah..." Cekka menyebutkan kelebihan Irul, lalu memandang rendah Shari.
"Kalau menurutmu aku tidak pantas, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri. Berusaha dekat dengan perempuan, yang jelas-jelas masuk tingkat jajaran tercantik. Tidak usah bawa-bawa fisik deh, yang berfungsi itu hati. Karena di sana letak Allah menilai kita." jawab Shari tegas, menatap tajam ke arah Cekka.
"Oh berbeda, aku ini orang terpandang. Yups, pertama teman-teman banyak. Bukan hanya itu, poin kedua perasaan pasti diterima. Ketiga lelaki limited edition, susah dicari makhluk terlangka dan imut." puji Cekka.
Shari terasa mau muntah mendengarnya. "Oh." Menjawab satu kata.
"Kalau kamu tidak percaya, lihat tumbuhan di SMK Pelangi Senja ini. Bibit ini dibeli dari lahan kebun Irul, dan ayahnya sangat kaya. Banyak mendapat keuntungan dari pertanian, dan satu hal lagi dia bagian dari OSIS di sini. Lebih baik kamu mundur, dan jangan modal dusta dekat dengannya."
__ADS_1
"Hahha... Woo..." Bara dan Tommi menyorakinya.
Shari memilih mengabaikan, hatinya sakit sekali. Dia sadar diri kok, jadi mereka tidak perlu berkoar-koar. Meski mereka gembar-gembor, langit juga menjadi saksi. Tuhan lebih tahu, apa yang dirasakannya.