Hanya Figuran Cadangan

Hanya Figuran Cadangan
Kembali Ke Sekolah


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


"Sudah lulus sekolah Yuli kerja di sini saja." ujar Viey.


"Aku mau kuliah atau kerja di kota Kak." jawab Yuli.


"Sempatkan untuk melamar di kerja sini. Kakak pasti akan sangat merindukan kamu." ucap Viey.


"InsyaAllah Kak, kalau tidak ada kendala. Aku pasti akan merindukan Kakak." jawab Yuli lirih.


Viey melangkahkan kaki ke arah meja printer, lalu menyuruh Yuli membantu menyusun kertasnya. Shari dan Ningsih mengerjakan rekap persediaan barang dagangan perusahaan. Maria sibuk dengan pekerjaannya sendiri, yaitu menyusun barang yang sudah dikemas


Sudah mentalnya terluka, batinnya sakit emosional. Masih saja tidak dimengerti, oleh teman dekat sendiri. Shari terdiam seribu bahasa, tidak ingin berbicara apa pun. Siapa manusia yang ingin bercerita, kalau hal tersebut selalu dianggap sepele.


"Shari, kamu kenapa si sering menangis?" tanya Maria.


"Kamu tidak tahu, sedalam apa aku tersakiti. Lebih baik kamu diam, jangan melontarkan kalimat yang hanya membuatku semakin terluka." Masih menangis lagi, sulit menjelaskan perasaannya.


"Kalau Irul tidak cinta sudahlah, jangan kamu memaksanya agar punya rasa." Maria hanya bercanda, namun waktunya tidak tepat.


"Maria, aku tidak segila itu." Shari histeris saat berbicara.


"Ya Allah Shari, kamu sabar." sahut Ningsih.


"Kalian tahu apa, tentang perasaanku. Dari awal masuk sekolah aku dirundung dengan rombongan Cekka. Semuanya malah menganggap sepele, hal yang aku rasakan." jawab Shari lirih.

__ADS_1


"Yaelah Shari, aku cuma bercanda. Jangan dimasukin ke hati." Maria tidak mengerti perasaan hatinya.


"Hmmm..." Shari langsung pergi, merasa tidak nyaman.


Setidaknya, jangan paksa seseorang yang sedih baik-baik saja. Itu sangat menekan memori otaknya, hingga membuat Shari stres pasca trauma.


Shari tetap menjalani praktik sistem ganda, dalam keadaan diri yang tidak sehat. Dia terus berjuang, sampai hari demi hari terlewati. Sekarang dia telah kembali ke sekolah SMK lagi, bersama dengan teman-teman sekelas.


"Welcome SMK Pelangi Senja." ucap semua orang dengan bahagia, karena haknya tidak dirampas.


Shari terdiam seribu bahasa, seolah tidak merasa bahagia. Tapi juga tidak sedih, perasaannya hanya kosong nan hampa. Shari mengambil kursi di gudang, untuk dibawa ke kelasnya. Shari mulai duduk, lalu Cekka menendang kaki kursinya.


"Aku bilang berhenti!" Shari berucap dengan histeris.


"Aku tidak mau, harusnya kamu terima." jawabnya, dengan egois.


"Aku hanya bercanda, karena ingin dia tersenyum." jawab Cekka.


Brak!


Bruk!


Yuli menepuk meja, ingin Cekka berhenti mengganggunya. Yuli tegak pinggang, sambil tersenyum dan melotot. Ratia dan Kiras juga ikut-ikutan, tapi tidak bisa marah. Mereka malah ingin tertawa terus menerus.


"Hahah... Cekka manusia paling memuakkan." Ratia tertawa terbahak-bahak, setelah berbicara dengan seenaknya.

__ADS_1


"Eh Ratia, kamu mau jadi pacar selingan. Intinya urutan yang ke sembilan puluh, sudah lumayan dari tingkat kecantikan." jawab Cekka, dengan candaan.


"Cekka gila!" Ratia tersenyum mengejek.


Cekka mendekat ke arahnya. "Enak perasaan kamu, sudah menghina aku malah senyum. Aku ini tidak mau disenggol, nanti kamu aku bacok kalau berlebihan bercanda."


"Wooo... "Gugus, Bara, dan Tommi muncul, bersorak-sorai membuat kerusuhan.


"Boleh bicara Shari, kamu sombong sekali sama kami." ucap Bara, dengan datar.


"Apa yang bisa sombong, mati pun di dalam tanah. Kalian saja yang jahat, tidak bisa biasa saja." jawab Shari.


Nikna dan Irul masuk ke dalam kelas berdua, lalu sibuk memasang kalung serupa. Sengaja kembaran bentuk, agar terlihat seperti pasangan yang serasi.


"Widih, kalian berdua sangat romantis." Cekka mengedipkan mata ke arah Irul.


"Semoga langgeng iya, sampai ke pelaminan." timpal Gugus.


"Aamiin." jawab Irul.


Nikna terdiam saja, lalu melihat ke arah ponselnya. "Eh, ada kiriman dari Vhiba."


"Kok kamu sibuk sendiri, bukannya bilang aamiin." Irul melihat Nikna, yang tidak fokus.


"Tunggu sebentar Irul, aku mau melihat video yang dikirim Vhiba." Nikna segera berlari keluar kelas dengan gembira.

__ADS_1


Ada ungkapan romantis yang dikirim oleh Afdhal, dan Nikna menjadi terharu. Afdhal memberikan penjelasan tentang perempuan yang pernah bersamanya, sambil mengucapkan kata maaf.


__ADS_2