
Nikna kumpul bersama dengan Ratia, Yuli, Kiras, Agicy, dan Yani. Nikna berkirim pesan dengan Afdhal, yang belum menjadi siapa-siapanya. Tapi sudah nyaman, jadi Nikna tidak ingin jauh lagi.
"Kamu dengan Irul putus?" tanya Ratia.
"Iya, sungguh tidak nyaman." jawab Nikna.
"Kemarin bolehlah, kalian seperti pasangan paling romantis." sahut Kiras.
"Biasalah Kiras, dunia ini tidak selalu menetap, apalagi perasaan manusia." Nikna mengutarakan sebuah ibarat kata.
Yuli tersenyum. "Iya, memang sudah takdir. Apa pun yang sudah digariskan, kita tidak dapat mengubah sesuka hati."
Irul menghampiri Shari, yang sedang duduk di bawah pohon pinus. Shari sedang mengupas kulit buah mangga, menggunakan pisau kecil.
"Shari kita buat rujak lagi yuk!" ajaknya, dengan bersemangat.
"Iya, boleh juga." jawabnya.
"Tolong kamu kupas buat aku juga." ucap Irul.
"Kamu kupas sendiri saja, atau meminta bantuan Yutra saja." jawab Shari, dengan datar.
"Loh, kok Yutra? Aku 'kan minta tolang sama kamu. aneh sekali kamu ini, kadang-kadang begitu ya." Irul senyum, dengan candaannya sendiri.
"Iyalah, dia 'kan laki-laki, masa aku yang harus mengupasnya untukmu." ujar Shari.
Baru saja disebut-sebut, orangnya sudah muncul. "Sini biar aku yang mengupas semuanya, sampai kulit-kulit kayu juga aku lepasin."
"Cepat Yutra, jangan sampai kalah dengan Irul." Shari senyum.
"Nah, tentu aku jadi juaranya." jawab Yutra.
__ADS_1
Yutra tiba-tiba berinisiatif sendiri, untuk mengupas kulit mangga muda. Shari tersenyum ke arahnya, lalu muncul Maria dan Qusna. Ningsih ikut membuat rujak, lalu muncul Cekka dan teman yang lainnya.
"Nah Irul, kamu cepat sekali cari gebetan baru." ujar Bara.
"Kami mencari kamu dari tadi, rupanya sedang mendekati Shari." timpal Ande.
"Biasa, kami hanya kumpul bersama-sama." jawab Irul.
"Shari, kamu suka sama Irul?" Gundi melihat ke arahnya.
"Tidak, biasa saja." jawab Shari.
"Sudahlah, kami tahu kok." sahut Ande.
"Mengaku Shari, biar kami buat kalian jadian." timpal Gugus.
"Aku tidak mau berpacaran." jawab Shari.
"Sudah aku katakan, aku tidak menyukainya. Aku ingin menikah saat dewasa nanti, jika berjodoh dengan seseorang yang terbaik versi-Nya." jelas Shari.
Sudah memasuki waktu belajar mengajar, bapak Chala menerangkan pelajaran Bisnis Akuntansi. Semua orang memperhatikan seksama, bagi yang benar-benar serius.
"Akuntansi ini berguna untuk seseorang, yang ingin membangun perusahaan sendiri."
Cekka dan beberapa laki-laki yang lainnya, menjadi tukang buat onar. "Kita kawal sampai halal Mas Irul dan Mbak Shari."
"Sudahlah, sibuk sekali! Sekarang waktunya belajar." Irul menghentikan.
"Santai bro." ujarnya.
"Hmm..." jawabnya.
__ADS_1
Sesekali terlintas, bahwa Shari perempuan terbaik, tapi tidak tahu kedepannya. Jodoh itu belum bisa terlihat, karena sekarang masih masa sekolah.
Pulang sekolah Nikna pergi bersama Vhiba, berlari dengan penuh semangat. Nikna ingin menjaga bentuk tubuh ideal, makanya sangat rajin olahraga.
"Sudah putus dari Irul?" tanya Vhiba.
"Sudah." Nikna menjawab singkat, tanpa menoleh lagi.
"Kamu menyesal? Kok wajahnya kusut gitu." ujar Vhiba.
"Tidak menyesal, hanya sedikit malas. Aku punya teman sekelas namanya Shari, dia tampak menyukai Irul." Nikna mengeluarkan uneg-uneg.
"Kamu bilang nyaman bersama Afdhal. Tapi kok aku merasa, kamu masih peduli dengan Irul." Vhiba menghentikan langkahnya dalam berlari.
Nikna juga berhenti sejenak. "Entahlah, aku belum sepenuhnya rela. Hahah... aku ingin dua-duanya milikku." Tertawa dengan pernyataannya sendiri.
Shari dan adiknya bermain capit boneka, pada salah satu pusat perbelanjaan di pinggiran kota. Tiba-tiba muncul seseorang yang familiar di matanya.
"Mau boneka yang mana?" tanya Irul.
Dofiw menunjuk boneka kucing. "Ambil kucing saja, aku sangat menyukainya."
"Biar aku ambilkan untukmu." Irul memencet tombol penjepit boneka, dan berhasil mendapatkan yang diinginkan.
"Ya Allah, Kakak keren sekali." ucap Dofiw.
Irul mengambil bonekanya, lalu memberikan pada Dofiw. "Ini hadiah perkenalan untukmu."
"Terima kasih, aku ingin kamu jadi Kakak laki-laki dalam keluargaku."
Irul mengusap rambutnya. "Anak laki-laki tidak boleh nakal. Biarkan takdir yang merancang semuanya."
__ADS_1