
kini di ruangan kantor abizar, sedang sangat ramai oleh suara ponsel istrinya yang sedang memutarkan lagu, sedangkan abizar sendiri mencoba lebih fokus
'kenapa dia sangat mirip dengan ara??, bahkan lagu itu....' ucap abizar dalam hatinya, ia mengenali lagu yan sejak tadi di putar oleh kiara
"kenapa kau suka mendengar lagu itu sayang??" tanya abizar penasaran, membuat kiara langsung menoleh ke arahnya
"arti dari lagunya yang aku suka" ucap kiara langsung tersenyum, sedangkan abizar yang bertanya hanya mengangguk lalu kembali fokus
'kenapa dia??' tanya kiara dalam hatinya, tak ingin pikir panjang, kiara kembali fokus kepada ponselnya
'aishhh, aku benar benar merindukan araaaaa, aku harus kemakamnya' teriak abizar prustasi dalam hati, ia lalu berdiri secara tiba tiba
"kenapa sayang??" tanya kiara keheranan melihat abizar
"aku kelupaan sesuatu" ucap abizar langsung pergi, belum sempat ia mau mengikuti suaminya abizar berkata "jangan ikuti aku." langkah kiara langsung terhenti seolah itu adalah perintah yang tidak bisa di lawan olehnya
"tapi kau mau kemana?" ucap kiara setelah abizar masuk ke dalam lift dan pintu liftnya tertutup,
kiara kembali duduk di sofa ruangan dengan perasaan gelisah, rasanya ingin sekali mengikuti suaminya, tidak ada cara lain Kiara akhirnya menelpon seseorang
sudah lima panggilan yang tidak di jawab, akhirnya panggilan ke enam di jawab oleh seseorang yang sedari tadi sangat ingin Kiara hubungi
"tolong cari lokasi abizar, di mana sedang apa dengan siapa, melakukan percakapan apa, dan siapa yang dia temui" ucap kiara lalu segera mematikan panggilannya
-----di tempat abizar
abizar menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu kuburan, ia turun dengan buket bunga berwarna merah, ia berjalan ke dalamnya
langkah demi langkah terasa berat bagi abizar, perasaan yang sama ketika dia melihat bahwa almarhumah istrinya telah di kubur di sini, perlahan ia mendekati kuburan yang selalu bersih dan cantik
"hai sayang, udah lama aku gak datang" ucap abizar mendekati kuburan yang tercetak nama "aira putri kamila nandini" di batu nisan tersebut
"aku salahkah menikahi kiara??, apakah aku harus menceraikannya??, anak kita meninggal, hanya tersisa abyaz, dan kiara sedang mengandung" ucap abizar
ia mengelus batu nisan tersebut dengan pelan, tak terasa air matanya sudah turun begitu saja
__ADS_1
-----di tempat kiara
kiara baru saja mematikan panggilan dari seseorang setelah mendengarkan kabar dari orang yang dia suruh, rasa sesak itu datang
"sepertinya memang bukan aku pemenangnya" ucap kiara lalu segera pergi mengingat ia harus kontrol tentang bayinya
kiara keluar dari ruangan abizar, meninggalkan beberapa kartu di sana lalu masuk ke dalam lift, tak lama lift terbuka dan kiara sudah berada di lantai satu
kiara keluar dengan perasaan yang kacau, beberapa karyawan melihatnya dengan perasaan aneh, sebagian sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing
kiara terus berjalan hingga sampai di tempat parkir, entah faktor lupa atau karena terlalu kacau kiara lupa juga ia tidak membawa mobil
kiara mengambil ponselnya lalu memberi pesan kepada supir pribadinya, sesekali kiara mengelus perutnya yang sudah sangat besar
kiara pergi ke depan pintu keluar dari gedung kantor sang suami, ia menunggu di depan gedung, tak peduli dengan banyak orang yang memperlihatkannya
tak lama kemudian sang supir datang, kiara segera masuk dan memberikan alamat tujuannya
--abizar
segera ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke kantor, benar benar gila,
"pasti Kiara akan marah, ini sudah hampir mendekati nomor antriannya, haishhh" ucap abizar mengeluh,
"aku harus bilang apa padanya??, aku harus punya alasan apa??" abizar berfikir terlebih dahulu
tapi panggilan di ponselnya mengagetkan abizar, ia langsung mengangkatnya takut takut jika itu Kiara yang menelponnya, tapi saat ia melihat sang pemanggil yang ternyata bukanlah kiara
malah membuatnya semakin cemas, alhasil abizar tetap mengangkatnya, "halo??, kenapa?" tanya abizar sambil mengendarai mobilnya
"apa?!, kiara pergi bersama supirnya?!" ulang abizar karena kaget
"baiklah baiklah" abizar langsung mematikan ponselnya, ia memberikan pesan kepada supir pribadi kiara yang memang ia pekerjaan,
ia tetap mengarahkan mobilnya ke arah kantor, saat sudah hampir sampai kantor supir pribadi milik kiara baru membalas pesannya yang membuat abizar langsung memutar arahnya ke arah rumah sakit
__ADS_1
"haishh, mungkin besok besok aku gak akan membiarkan anak perempuan ku begitu mandiri seperti ibunya" ucap abizar
kiara baru saja turun dari mobilnya, ia masuk ke dalam rumah sakit karena sebenarnya ia terlambat, tapi entah jika nomornya di skip ke antrian lain
kiara tidak perduli yang harusnya di salahkan adalah abizar, mengingat abizar saja sudah membuat pusing kepala, tak ingin membiarkan dokter dan yang lainnya menunggu
kiara segera ke resepsionis, ia tersenyum ke arahnya meski tau ia sudah terlambat pastinya
"atas nama kak kiara ya??" tanya resepsionis tersebut, dan di jawab anggukkan oleh kiara
"satu nomor lagi ya kak, soalnya nomor sebelum Kaka baru masuk" ucap resepsionis tersebut, mendengar itu kiara langsung duduk di dekat pintu masuk ke ruangan dokter
tak lama dari dia duduk abizar terlihat mendekatinya dengan perasaan khawatir, kiara yang melihat abizar hanya bisa terdiam sambil menatap yang lain
"sayang.....aku.... akuuuu" abizar berusaha mengambil kata kata untuk istrinya, tapi belum sempat lagi ia menjawab Kiara sudah tersenyum
"gak papa, lagian kan kamu sibuk" ucap kiara masih dengan wajah senyumnya
"sayang....gak gitu, aku tadi ke makan mantan istri ku" abizar jujur di depan kiara
"yaudah, gak papa, besok besok bawa abyaz sekalian, mungkin dia rindu sama mamanya" kiara kembali mencoba mematahkan topik
"atas nama kak kiara fausta masuk" ucap suster yang keluar dari ruangan dokter, akhirnya kiara langsung berdiri dan masuk dengan diikuti oleh abizar
setelah masuk mereka langsung kiara langsung di check oleh dokternya, dan lagi lagi abizar merasakan perasaan yang sama ketika dia bersama istrinya yang dulu
apalagi anak ini adalah anak pertama bagi kiara dan abizar, 'kenapa ini??' tanya abizar dari hatinya, terus saja melamun akhirnya lamunannya di buyarkan oleh dokter
"selamat pak anaknya perempuan, sehat dan kuat" ucap dokternya, abizar langsung kembali diam, kenapa semuanya seolah kembali terulang tapi dengan orang yang berbeda
'aku tau kalo abizar bukan mikirin aku, Tuhan mau kemana lagi jalan pernikahan kami?' kiara menatap abizar yang sudah berinteraksi dengan dokter
karena lama akhirnya kiara pamit duluan, kiara keluar dari ruangan dokter dan segera pergi ke luar, walaupun dengan keadaan hamil besar, kiara tetap menjadi pusat dari segala pusat
__ADS_1