
Dua unit mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah besar milik jendral Nmbie pada pukul delapan malam. Sedan yang berisi empat orang agen CIA itu sedang menuju sebuah rumah kecil yang terletak di desa Koura. Jarak antara desa itu dan rumah jendral Nmbie
hanya satu setengah jam perjalanan.
Desa Koura adalah sebuah desa nelayan yang berada di daerah pantai barat. Desa yang tenang dan cukup jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Masyarakat tidak terbiasa dengan deru suara kendaraan, hanya deru ombak selalu menemani mereka sepanjang waktu.
Malam itu, kedatangan dua unit sedan mewah membuat semua warga desa keluar dari rumah masing-masing. Sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa membuat warga desa mulai berkerumun. Mobil mewah yang selama ini hanya mereka lihat melalui acara televisi milik kepala desa, sekarang terpampang nyata. Beberapa dari warga bahkan menyentuh mobil itu saat mereka bergerak pelan.
Sedan itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dan sangat sederhana. Bangunannya terbuat dari susunan bata berbahan pasir pantai dengan pintu dari papan yang tidak simetris. Empat orang keluar dari sedan pertama, tiga orang berseragam hitam dengan warna kulit yang berbeda jauh dari penduduk desa. Hanya satu orang yang berambut keriting dengan kulit gelap.
“Apakah ini rumah Cheta?” Pria berambut keriting menyapa salah satu warga yang berkerumun menggunakan bahasa lokal. Pria dewasa tidak ada yang menjawab pertanyaan laki-laki itu. Kemudian dia bertanya kepada anak-anak dengan pertanyaan serupa. Anak itu mengangguk.
“Benar, ini rumahnya!” Pria itu menyampaikan info yang baru dia dapat kepada tiga rekannya yang berseragam jas hitam. Kemudian dia mengetuk jendela sedan kedua dan menyampaikan hal yang sama. Dari mobil kedua keluar tiga pria lain yang semua berseragam hitam. Mereka bergerak cepat mengelilingi rumah dan tiga rekannya yang lain merangsek masuk ke dalam. Hanya dalam hitungan menit, terdengar keributan dari dalam rumah, jeritan anak kecil dan tangisan wanita begitu pilu menusuk telinga. Tak lama pria berbaju hitam keluar sambil membawa seorang pria dewasa. Tangan pria itu diborgol kebelakang kemudian dia di masukkan ke mobil kedua. Seorang wanita mencoba mengejar dari dalam rumah, tapi usahanya di tahan oleh pria afrika.
“Kami hanya butuh keterangan dari suamimu sebentar. Nanti akan kami antarakan kembali.” Kemudian dia masuk kedalam mobil sedan pertama. Hanya dalam hitungan menit mereka sudah meninggalkan desa.
Cheta, pria yang baru dibawa dari rumahnya hanya bisa diam saat ketiga orang berjas hitam yang berada satu mobil dengannya berbicara dengan bahasa asing. Bahasa yang sering dia dengar saat menonton film rambo.
Tak lama mobil berhenti. Cheta ditarik keluar dari mobil dengan kasar. Meskipun dalam kondisi gelap,dia kenal daerah tampat dia berada saat ini. Mereka berhenti di tepi jurang antara desa Koura dan Kota. Seorang pria berbaju hitam menunjukkan sesuatu dan berbicara dengan bahasa asing yang tidak Cheta mengerti, dia hanya menggeleng.
“Dia tidak bisa berbahsa Inggris, Tuan. Biar saya yang menanyainya.” Pria keriting mendekati Cheta, dan menunjukkan layar ponsel kepdanya.
“Kau pemilik akun C’Hack?” Pria yang berambut sama dengan Cheta bertanya. Nada suaranya lembut, tidak keras seperti pria berbaju hitam barusan. Cheta semula hendak berbohong. Tapi dia merasa pria di depannya orang baik. Dia akhirnya mengangguk.
“Kau yang melakukan pesan siaran ini?” Pria itu menunjukkan slide berikutnya kepada Cheta. Isi slide itu adalah tangkapan layar dari beberapa akun sosial media milik beberapa orang. Cheta kembali mengangguk.
“Di mana mereka sekarang?”
“Aku tidak tahu.” Kali ini Cheta menjawab denga kata. Tidak lagi dengan anggukan.
__ADS_1
“Jangan paksa aku menjadi kejam. Jawab saja, kau akan kami lindungi.”
“Aku benar-benar tidak tahu, Tuan.” Suara Cheta bergetar. Dia menyadari kalau saat ini dia sedang terancam.
“Kau tidak bisa mengelak, akun mereka di akses oleh perangkat dengan IP. 78.79.001 dan perangkat itu paling sering mengakses akun C’hack. Berarti kamu yang yang membuka akun mereka. Benar demikian?” pria keriting itu terus mengejar.
“Benar tuan, tapi aku sungguh tidak tahu keberadaan pemilik akun. Aku hanya di bayar untuk melakukan siaran pesan. Tidak lebih.”
“Berapa kau di bayar?”
“100.000 Franc CFA,”
“Oleh Siapa?”
“Aku tidak mengenalnya. Dia menghubungi melalui perpesanan dan menawarkan pekerjaan itu. Kau bisa lihat di kolom pesanku. Aku sungguh tidak berbohong.” Pria itu berdiri dan menyampaikan penjelasan Cheta kepada temannya yang berjas hitam, tentu dengan bahasa yang di mengerti rekannya. Pria berjas hitam mengeluarkan ponsel dan menyerahkan kepada pria keriting.
Borgol tangan Cheta di buka, “Buka akunmu di sini!”
“Ini pesan darinya. Kau bisa baca sendiri.”
Pria keriting membaca dan menerjemahkan tulisan itu kepada rekannya. Kemudian mereka berdiskusi sejenak sebelum kembali kepada Cheta.
“Aku akan mengantarmu pulang, kau kemasi pakaian dan pamit kepada keluargamu. Setelah itu kau akan ikut bersama kami!”
“Apakah aku melakukan kesalahan besar?” suara Cheta sudah bergetar sangking takutnya pria itu.
“Kau sudah membatu komplotan penjahat yang paling di cari di seluruh dunia. Kau bantu kami untuk menemukan mereka, barulah kau akan di bebaskan.”
***
__ADS_1
Andrew masih berada di kantor pribadinya meski sudah lewat tengah malam. Yuki bahkan sudah tertidur di sofa karena lelah menunggu Andrew yang tak kunjung selesai. Pintu ruangan Andrew diketuk. Arsy muncul sambil menjinjing sebuah tablet.
“Sir, tim lima belas menjadi yang pertama tiba di cek poin satu. Mereka tiba hanya dalam waktu 1 jam 17 menit.”
“Tim pria Indonesia?” pertanyaan Andrew dijawab anggukan oleh Arsy. “Tampilkan!”
Arsy mengaktifkan tabletnya, tak butuh waktu lama layar besar yang tergantung di dinding kantor Andrew menyala. Dia mengakses kamera yang terpasang di seluruh cek poin satu. Layar besar terbagi menjadi dua puluh kotak.
“Tampilkan cek poin 1 H.” 19 kotak lain menghilang dari layar, tertutup oleh kotak tampilan yang membesar dan memenuhi layar. Arsy memundurkan rekaman pada posisi tim 15 tiba cek poin.
Dari sudut pandang tampilan, kamera ternyata di pasang tepat di atas pintu masuk mercusuar dan mampu menangkap pencitraan satu lingkaran penuh, 360 derajat. Sekarang layar menampilkan scene Ef sedang mengendap masuk, dan menempelkan jari ke sensor. Kemudian Ef keluar lagi. Rekaman di percepat hingga tampil Ef kembalii datang disusul oleh seluruh anggotanya.
“Jika mereka bisa tiba di cek poin dalam satu jam, berarti mereka sudah bergerak saat masih zona putih. Coba cari di mana mereka sekarang?”
Arsy kembali sibuk dengan tabletnya. Layar besar menampilkan profil Ef, Lin, Maya dan Hamish dan sedang melakukan proses scaning wajah. Tak lama sebuah kotak tampilan muncul, dengan pencitraan dari dalam celah dibalik air terjun. Tampak empat anggota tim lima belas sedang duduk menghadap api unggun sedang ebrdiskusi serius. Ef sedang mengambar sesuatu di tanah dengan ranting kecil.
“Kita lihat aksi mereka di cek poin ke dua. Kalau masih bisa mereka lewati dengan mudah. Siapkan ‘rintangan’!”
***
Halo teman-teman.
terima kasih telah sudi mampir ke sini. cerita Hell Game ikut lomba menulis Fiksi kategori pria.
jadi mohon bantuan teman-teman untuk Like, Favorit dan selalu meninggalkan komen di tiap chapter.
mari berteman di sosial media.
fb. Densa
__ADS_1
Ig. @densa015
terima kasih