Hell Game

Hell Game
An Island at west Cameroon


__ADS_3

Henry masih terus mengumpulkan puzle informasi Hell Game. Dari informasi paypol akun bisnis terdaftar atas nama Hell Game. Bukan atas nama pribadi. Dan penarikan dari akun paypol mengarah ke bank swiss.


Dalam keputusasaan, Henry, Cheta dan Ahidjo hanya bisa menonton tayangan Hell Game yang sedang berlangsung. Berharap dari adegan-adegan di sana dia bisa menemukan petunjuk, dan membongkar lokasi Hell Game.


“Hei, Itu Ef!” Henry setengah berteriak saat Ef tampil di layar. “Dia bersama puteri anda, Sir!” mendengar ucapan Henry barusan, Enishi ikut fokus menatap layar. Benar saja Lin masih hidup dan berjalan di belakang pengawalnya. Lin begitu kumal, begitu juga 3 temannya yang lain.


“Syukurlah kau masih hidup, anakku. Daddy akan segera mengeluarkanmu dari sana!” Enishi membelai tampilan wajah Lin dari layar Laptop.


***


Pagi telah kembali menjelang. Hari ini adalah hari ke 2 sejak peserta melintasi cek poin satu. Waktu masih tersisa 36 jam untuk mendapat kode di cek poin kedua.


Kondisi mental Lin sudah mulai membaik. Pagi ini mereka sudah bisa melanjutkan perjalanan setelah sarapan.


Tim lima belas sedang menikmati kopi panas setelah sarapan. Kali ini mereka tidak lagi harus minum kopi pahit, karena Hamish menemukan sarang lebah madu beberapa jam lalu. Dia begitu bangga bisa membawa madu ke kelompoknya. Dia terus bercerita tentang proses perjuangan mendapatkan madu itu sejak tadi.


“Tadi aku sempat melihat drone berputar-putar di atas kita, karena mengikuti drone itu lah aku menemukan sarang lebah ini.” ujar Hamish sambil memeras madu untuk masuk ke cangkir kopinya.


“Seberapa tinggi dronenya terbang?”


“Sekitar tiga puluh meter, Capt.”


Ef memperhatikan pepohonan yang tumbuh di sekitar mereka. Memang tidak ada pohon besar yang tumbuh tinggi sehingga drone bisa terbang rendah.


“Menurutmu, apa fungsi drone tadi. Bukankah mereka memiliki camera yang tersebar?”


“Aku rasa untuk mengambil pencitraan luas, capt.”


Hamish yang berprofesi sebagai youtuber game selalu menjadi pemberi petunjuk saat Ef tidak mengerti dengan situasi game. Pengalaman Hamish di dunia virtual akan menjadi kombinasi yang tepat jika di gabungkan dengan pengalaman survival Ef di dunia nyata.


“menurutmu apakah Hell Game menayangkan kondisi peserta secara langsung? Atau mereka mengedit videonya terlebih dahulu baru di tayangkan.”


“Kurasa bisa dua-duanya. Jika aku pemilik Hell Game pasti akan kutayangkan juga kondisi terbaru dalam siaran langsung untuk memancing penonton bereaksi.”


“Tepat! Kita manfaatkan siaran mereka untuk menyelamatkan kita,” Ujar Ef antusias.


“Bagaimana caranya?” Lin dan Maya hampir berbicara bersamaan.


“kita cari area yang luas dan bebas hambatan pandangan atas. Dan kita buat tulisan besar di tanah dan memberi tahu posisi kita. Semoga pihak keamanan ada yang menonton dan melihat kode kita.”

__ADS_1


“Tapi bagaimana jika bisa memastikan tulisan itu pasti terlihat?” kejar Lin.


“Dengan cara membuat kode penyelamatan sebanyak-banyaknya.”


“Tapi, Capt. Kode apa yang akan kita tulis? Kita bahkan tidak tahu lokasi persis kita berada.” Hamish mengaduk isi ranselnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. “Kau mau, Capt?”


“Dari mana kau dapatkan ini?” Ef mengambil sebatang rokok yang Hamish sodorkan.


“Dari rumah yang kita periksa di desa.”


Secangkir kopi dan rokok memang pasangan yang tepat. Ef merasa otaknya menjadi lebih cemerlang pagi ini dan teringat dengan dokumen usang yang mereka temukan di desa. Dia terpikir kode untuk penyelamatan mereka.


“kode yang akan kita tulis nanti adalah ‘an Island at west Cameroon’!”


***


Tim lima belas sudah berjalan selama lima jam sejak mereka berangkat dari pondok kebun kopi. Berdasarkan informasi dari peta, seharusnya lokasi cek poin dua hanya berjarak lima kilometer di depan. Hanya saja medan yang berbukit-bukit agak memperlambat gerak mereka.


Pukul empat sore mereka tiba di puncak bukit terakhir. Di depan mereka terbentang hamparan padang Ilalang yang luas. Di tengah padang ilalang itu ada sebuah labirin yang cukup luas. Ef mengamati kondisi di bawah mereka dengan binocular. Labirin itu cukup tinggi dan terbentuk dari tumbuhan menjalar di seluruh sisi. Dari atas bukit bisa terlihat ada bangunan kecil seperti kubah di tengah labirin.


“Apakah labirin itu cekpoinnya?” Lin bertanya sambil mengamati lewat teleskop.


“Kau memiliki pengalaman dengan permainan labirin?” tanya Ef kepada Hamish.


“Belum, Capt,” jawab Hamish sembari mengembalikan binocular kepada sang capten.


Labirin itu berdiri di atas lahan sekitar 2 hektar dengan lorong-lorong yang rumit. Ef tidak yakin jika mereka bisa masuk ke bagian tengah dengan mudah. Sedangkan mereka tidak bisa berlama-lama di dalam labirin. Karena sudah pasti dalam beberapa jam ke depan tim lain pasti juga tiba di area yang sama. Atau bisa jadi sekarang mereka telah tiba dan masih memantau seperti yang tim 15 lakukan saat ini.


“kita masih memiliki waktu 28 jam. Sekarang kita buat tulisan di padang rumput sambil memikirkan cara melewati labirin.”


“Bagaimana cara menulis di padang rumput, capt?”


“Aku akan turun dan merebahkan rumput hingga membentuk huruf. Kalian arahkan dari atas sini.”


“Aku ikut bersamamu!” Lin bersiap hendak ikut turun bersama Ef.


“Tidak usah, biar aku sendiri.”


“Ta-tapi, kau akan kesulitan jika bekerja sendiri?” Lin masih mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


“Tidak, Lin. Kau tetap di atas sini. Lindungi aku dengan senapanmu.” Ef mengusap kepala Lin. Hamish dan Maya menoleh ke tempat lain memberi kesempatan pasangan baru itu sebelum berpisah. “tembakanmu jitu, dan akan sangat berguna jika ada tim lain yang tiba-tiba menyergapku.”


“Kalau begitu ajak hamish untuk membantumu!”


“Tidak. Hamish akan tetap di sini untuk melindungi kalian. Percayalah aku akan baik-baik saja.”


“Jaga dirimu, Ef”


“Selalu. Aku turun dulu ya.” Ef kembali mengusap kepala Lin. “Bro, kau lindungi bagian belakang. Dan Maya bantu arahkan aku.” Ef menyerahkan Binocular kepada Maya.


“Baik, capt”


“Hati-hati, Ef.” Ujar Maya.


Saat melintas di sebelah Lin. Ef berhenti sejenak. Pria itu berbisik kepada Lin.


“Kalau kau tidak mau aku bekerja sendiri. Bagaimana kalau aku mengajak Maya saja ke bawah?”


Lin memukul lengan Ef akibat candaannya barusan, dan membuat pria itu terkekeh sambil menuruni bukit.


Dengan ranting pohon sepanjang 1 meter Ef mulai merebahkan ilalang. Maya dan Lin memberikan panduan lewat radio. Kapan pria itu harus berbelok dan kapan ia harus berjalan lurus. Dari atas bukit pekerjaan Ef mulai terlihat bentuknya. Dalam lima menit, huruf A raksasa sudah tercetak di bawah sana.


Keringat mulai menetes dari ujung hidung Ef saat dia mencetak hurup D pada kata Island. Ternyata pekerjaan merebahkan ilalang ini cukup menguras tenaga pria itu.


“Tinggal bergerak lurus lagi, maka hurup D tercetak sempurna.” Maya memberi panduan kepada Ef.


“Baiklah,” Ef mengusap peluhnya dan bersiap melanjutkan pekerjaan.


“EF MENUNDUK, ADA TIM LAIN DI SISI KIRIMU!” Lin berteriak di radio. Kemudian terdengar suara tembakan dilepaskan dari puncak bukit.


***


Halo semua, terima kasih sudah mengikuti Hell Game hingga saat ini.


jangan lupa vote ya, kan votenya udah pada masuk 🤭


mari berteman di sosial media.


fb. Densa

__ADS_1


ig. densa015


__ADS_2