Hell Game

Hell Game
Peradaban di tengah hutan


__ADS_3

Ef langsung mengambil alih senjata Lin saat gadis itu mengatakan bahwa beberapa orang yang ada di area hutan tidak mengenakan kalung seperti mereka. Beberapa menit Ef menunggu hingga salah satu dari mereka keluar dari persembunyian. Benar saja, pria yang di balik batu besar tidak mengenakan kalung metal. Dia juga mengenakan Kevlar standar militer.


Dari cara mereka bergerak dan menembak. Jelas mereka adalah orang-orang terlatih. Bahkan, sebenarnya mereka bisa melumpuhkan bahkan menghabisi 4 orang lawan baku tembak dengan mudah. Kelompok yang berada di dekat posisi Ef menembak dengan serampangan, boros amunisi dan tak teratur. Hanya 1 orang yang aktif membalas serangan sedangkan ketiga orang lainnya pasif menunggu.


“Apakah mereka tim penyelamat?” bisik Lin yang tetap memantau di sebelah Ef.


“Kita belum bisa memastikan.”


Ef terus mengamati pertempuran yang terjadi 500 meter di depan mereka. Kelompok ‘Hutan’ seharusnya sudah mengakhiri pertempuran ini sejak tadi. Mereka sudah melakukan gerakan mengepung. Bahkan lawannya berkali-kali kehabisan amunisi dan berada dalam posisi terbuka. Tapi tembakan yang di lepaskan pasukan hutan tampak sengaja tidak di arahkan untuk tepat sasaran, terkesan seperti menghalau.


“Sepertinya orang-orang yang di seberang menjaga sesuatu yang ada di hutan sana. Mereka tidak pernah bergerak maju walau ada kesempatan.”


“Apakah mereka pasukan Hell Game, Capt?”


“Belum bisa di pastikan. Lebih baik kita pergi dari sini!”


Ef bangkit dari posisi tiarap dan mengambil senjatanya yang tersandar di tanah. Raut wajah pria itu mengeras, dia menjadi lebih serius dan siaga.


“Formasi kita ubah, aku akan berada di depan. Lin di belakangku, kemudian Maya dan Hamish. Jarak tidak boleh jauh lagi seperti tadi. Kita akan berjalan beriringan.”


Tidak ada protes atau sanggahan dari anggota tim 15, mereka paham kalau sang kapten mengubah formasi, berarti sudah dipertimbangkan.


Ef memimpin tim menuruni lereng, menjauhi arena pertempuran tim ‘hutan’ dan salah satu tim peserta Hell Game. Fokus pada tujuan lebih penting daripada ikut campur urusan yang belum dimengerti.


Sejak awal masuk ke hutan ini ada sebuah kejanggalan yang sangat kentara. Tidak ada hewan buas pemangsa yang mereka temui, bahkan jejaknya pun tak ada. Seharusnya di hutan belantara seperti ini, minimal mereka bisa menemui jejak Harimau atau beruang atau macan tutul. Tapi ternyata hewan-hewan predator itu tidak pernah terlihat. Yang mereka temui bahkan hewan-hewan yang hampir mustahil ada di hutan belantara. Ayam, itik, angsa bahkan sapi beberapa kali terlihat.


Ef kembali membuka peta untuk memastikan mereka tidak salah arah. Sebenarnya, dalam teknik dasar survival di hutan tropis sudah di ajarkan cara agar tidak tersesat dan berputar-putar di lokasi yang sama. Yaitu dengan membuat tanda pada jalur yang telah di lalui, baik dengan menggores tanda di permukaan pohon atau memberi tanda lain yang bisa terlihat jelas. Tapi teknik itu memiliki kelemahan, orang lain bisa tahu arah yang sedang di tuju. Dan Ef tidak menginginkan mereka di ikuti.


Berdasarkan peta buta yang dia pegang, seharusnya mereka sudah tiba di lembah terakhir. Dan ‘titik-titik’ yang mereka tuju ada di balik bukit setelah lembah ini.


“Kita istirahat di sini sebentar. Satu jam lagi kita akan menyeberangi bukit itu.”


Tanpa di perintah Hamish langsung mengeluarkan bekal makanan dari ranselnya.


“Ini makanan kita yang terakhir!” ucap Hamish lesu. Pria gembul itu lebih mengkhawatirkan kehabisan makanan daripada kehabisan amunisi.


“Sisa berapa kaleng?”


“Empat kaleng, Capt”


“Buka 3 kaleng saja. Aku masih ada stok daging asap.”


“Daging itu sudah beberapa hari. Tidak bagus lagi, Ef. Jangan di makan.” Lin menyodorkan kaleng jatahnya kepada Ef. “beberapa sendok saja sudah cukup untuk tubuhku.”


“Iya, biar aku dan Lin berbagi satu kaleng.” Maya menimpali.

__ADS_1


“Kita kan masih sisa 4 kaleng. Maya dan Lin satu kaleng, capten 1 kaleng berarti sisa satu ini untukku ya” ujar Hamish dengan polosnya.


“Enak saja kau.” Maya langsung merampas satu kaleng dan memasukkan ke ranselnya.


“kalau begitu simpan saja 2 kaleng. Untuk jaga-jaga sampai kita dapat makanan lain. Daging asap ini masih bagus.”


Ef menyalakan api unggun dan langsung memanggang 2 kornet kaleng dan daging asapnya. Makan sore kali ini tidak bisa sesantai sebelumnya. Mereka harus bergegas mencari tempat persembunyian sebelum hari gelap.


Setelah perut mereka terganjal, perjalanan di lanjutkan mendaki bukit.


“Lin, pinjam senapanmu,” pinta Ef saat tiba di puncak bukit.


“Itu desa! Oh tuhan, akhirnya kita bisa mendapat bantuan.” Maya histeris saat melihat pemandangan di bawah bukit


Titik-titik di peta ternyata adalah sebuah desa yang cukup luas. Ada puluhan rumah dengan bentuk seragam, semi permanen dengan dua lantai yang berjajar dengan halaman-halaman yang luas. Di belakang desa itu ada hamparan lahan dengan tanaman rendah. Seperti lahan pertanian.


“Ayo turun. Tetap hati-hati.”


Suara jangkrik dan serangga malam terdengar sangat jelas mengiringi langkah tim lima belas menuruni bukit. namun, perasaan akan mendapat pertolongan penduduk lokal lenyap seketika saat mereka tiba di desa. Suasana desa itu sangat sunyi, tidak ada suara manusia yang terdengar atau suara apa pun yang menandakan adanya kehidupan.


Ef mengajak anggotanya mengambil jalur belakang dan menghindari jalan poros desa. Mereka berjalan menunduk menyisiri pematang hingga tiba di rumah pertama.


“Tunggu di sini. Aku akan mengecek ke dalam.” Ef berbisik dan bergerak maju. Hanya dalam hitungan detik pria itu sudah bisa membuka pintu belakang dan masuk ke dalam rumah.


Dalam keremangan, Ef mengamati rumah yang dia masuki. Tampaknya para penghuni rumah ini meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Peralatan rumah masih lengkap. Bahkan beberapa buku pelajaran sekolah masih berserakan di lantai.


“Ke mana para penghuninya?” ucap Lin yang sudah berdiri di belakang Ef. Dia juga mengamati kondisi rumah yang baru mereka masuki.


“Sepertinya orang-orang desa sudah di bawa keluar oleh pihak Hell Game.”


KLIK


Tiba-tiba lampu ruangan menyala.


“Kenapa harus betah gelap-gelapan kalau ada listrik.” Hamish nyengir di dekat sakelar.


“MATIKAN!” bentak Ef. Hamish langsung menekan kembali sakelar yang baru dia nyalakan.


“Kau memberitahu posisi kita!” Wajah Ef tampak tegang.


“I’m sorry, capt”


“kita harus alihkan. Semuanya berpencar ke rumah lain. Dan nyalakan lampunya serentak.”


EF segera bergerak keluar menuju rumah yang lain, di ikuti oleh Lin, Maya dan Hamish. Mereka menyebar di setiap rumah. Dengan komando Ef lewat radio, mereka menyalakan lampu penerang serentak. Kemudian berpindah kerumah lain dan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Cari benda yang menurut kalian berguna.”


“Sepertinya kita bisa menggunakan rumah ini sebagai tempat istirahat. Fasilitasnya lumayan lengkap.” Lin menjawab lewat radio.


“Baiklah. Berkumpul di tempat Lin. Aku akan menyalakan listrik rumah lain terlebih dahulu.”


Selang beberapa menit Ef tiba di rumah yang mereka pilih menjadi tempat persembunyian. Rumah itu sebenarnya seukuran dengan rumah lain. Tapi fasilitasnya memang lebih lengkap. Ada lemari pendingin yang berisi beberapa bahan makanan yang masih bisa di konsumsi, kompor gas, televisi dan perlatan elektronik modern. Sepertinya pemilik rumah adalah orang paling kaya di desa.


Saat para wanita bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri. Hamish memulai projek yang di berikan oleh Ef, mencoba untuk membongkar kalung yang di berikan oleh sang kapten. Sedangkan Ef sendiri sibuk di belakang.


Satu jam kemudian Lin dan Maya telah selesai mandi. Mereka juga sudah berganti pakaian dengan baju yang di dapat dari dalam lemari. Mereka berdua beruntung, karena pemilik rumah memiliki ukuran tubuh yang sama dengan Lin dan Maya.


Ef, Maya dan Lin bergegas menuju dapur saat mencium aroma sedap yang membuat air liurnya mereka hendak keluar.


Di atas meja tersaji dua mangkuk makanan.


“Kau yang memasak ini, Capt?”


Ef hanya mengangguk karena tangannya masih sibuk memindahkan masakan lain dari penggorengan ke piring. Hamish langsung mencomot sepotong ayam goreng yang baru Ef letakkan di meja.


“Enak sekali. Aku jadi penasaran. Apa yang sebenarnya tidak bisa kau kerjakan?”


“Hahaha. Hanya masak seperti ini semua orang juga bisa. Kalian makan lah duluan. Aku mau mandi.”


Saat Ef melangkah dia melihat Lin yang sedang berdiri di pintu antara ruang depan dan ruang dapur sambil membawa handuk. Rambut gadis itu masih basah, dia mengenakan baju terusan warna putih gading yang menutupi hingga bawah lututnya.


“Handuknya Cuma ada dua. Kau gunakan saja handuk yang tadi aku pakai. Jangan gunakan Handuk Maya.”


“Baiklah." Ef menerima handuk yang Lin sodorkan. "Aku mandi dulu. Kau makanlah.”


“Tidak, aku akan makan setelah kau selesai mandi. Kita makan bersama.”


***halo semua.


HG sengaja update hari senin, biar gak ada alesan Vote udah kepake. 🤭


bantu dukung karya ini dengan menekan tombol like dan vote. serta tinggalkan komentar di setiap bab.


mari berteman di sosial media.


fb. densa


ig. densa015


terima kasih***

__ADS_1


__ADS_2