
Dua helikopter Apache sudah bersiap lepas landas saat Jhon mengadakan inspeksi terakhir sebelum pasukan penyelamat berangkat. Sang direktur berdiri menghadap 20 orang pasukan bersenjata lengkap, Enishi dan Jendral Nmbie berdiri di sebelahnya.
“Tugas kalian adalah melakukan penyelamatan atas sandera, sandera utama bernama Erlin Hanako, dan Agen Efran Tamada. Evakuasi mereka secepatnya dari lokasi Hell Game, bisa di mengerti!”
Seluruh pasukan menjawab ‘Yes, Sir!’ Dengan kompak. Setelah membubarkan barisan, Jhon mengajak rekannya untuk meninggalkan lapangan.
“Kita mau kemana?” Enishi masih berdiri di lapangan saat Jhon dan Jendral Nmbie sudah melangkah.
“Ke mana? Tentu ke ruang kontrol!”
“Kita harus ikut, Jhon. Aku mau melihat kondisi anakku langsung!” Enishi meninggikan suaranya agar mampu bersaing dengan suara baling-baling helikopter.
“Tidak Sobat, Kita tidak ikut. Kita menunggu di sini!” Jhon berjalan menuju Enishi yang masih terpaku, dan merangkul pundak sang milioner.
“Tidak, kau saja yang menunggu. Aku akan ikut dan membantu mereka” Enishi membantah dan melepaskan rangkulan sang Direktur.
“Membantu? Hahaha” Jhon terbahak, sedangkan Enishi masih berdiri dengan mimik datar. “kita tidak akan membantu jika ikut serta, kita hanya akan menjadi rintangan. Biarkan mereka bekerja dengan baik.”
“Tidak, aku tidak bisa duduk santai di ruangan yang nyaman, sedangkan puteriku bertaruh nyawa di sana!”
“Kau bersikeras untuk ikut?” Tawa di wajah sang Direktur menghilang, dia menatap tajam pria buncit di depannya. “Hei, You! Give me your riffle!” Jhon berteriak ke salah seorang prajurit yang sedang berdiri tak jauh darinya, dan mengambil senapan dari tangan si prajurit dan mendorong senapan itu kepada Ensihi.
“Ambil ini, dan berlari keliling lapangan ini satu kali. Jika kau bisa melakukannya, kau boleh ikut serta!”
Enishi memeluk senjata yang barusan di sodorkan Jhon, tampak jelas kalau si milyoner kesusahan membawa senapan yang berat.
“Kenapa? Tak bisa kau lakukan?” Jhon membentak Enishi, dia memperlakukan pendana utama misi ini seperti anak kecil yang merengek minta mainan. “Hei bung, kau tidak ikut adalah satu-satunya caramu untuk membantu. Ingat, uangmu tak bisa membeli nyawa. Semua pekerjaan ini akan sia-sia jika kau mati di sana!”
Enishi berdiri terpaku beberapa saat, dan saat jhon kembali mengambil senapan dari pegangannya, Enishi tak lagi memberi perlawanan.
“Biarkan ahlinya bekerja. Dan kita berdoa, semoga operasi ini berhasil membawa puterimu kembali.” Jhon merangkul pundah Enishi, kali ini si miliuner ikut berjalan menuju ruang kontrol.
***
Kegelapan malam sudah mulai berubah menjadi semburat jingga. Embun-embun menetes dari ujung daun, malam telah berlalu, pagi datang menjelang.
Bagai sudah tersetel otomatis, mata Ef membuka saat cahaya mulai menyapa kelopak matanya. Di hadapannya ada Hamish yang duduk dengan kepala tertunduk sambil bersandar di dinding gua. Ef berdiri dan mengeplak kepala Hamish.
__ADS_1
“Ini yang kau bilang berjaga?”
Hamish terkesiap, dan mengusal kelopak matanya.
“E..., So-sorry, Capt. Udara malam tadi begitu dingin. Jadi aku memutuskan berjaga di depan api unggun. Tak sadar kalau tertidur.”
“Lain kali bangunkan aku, jika kau merasa mengantuk!” Ef segera menyambar senjatanya dan binocular. Kemudian bergerak menuju mulut gua.
Setelah matahari terbit seperti saat ini, barulah lorong ini terlihat jelas. Gua yang mereka jadikan tempat beristirahat tadi malam berada di tengah sebuah bukit, dengan jalan melandai ke bawah.
Ef bisa mengamati situasi dengan sangat leluasa dengan pencitraan atas. Dari lokasi mereka saat ini, tidak ada tampak tanda-tanda musuh yang berada di radius dekat. Steven Hawk dan temannya juga tak tampak.
Setelah memastikan kondisi aman, Ef kembali menemui tim. Lin dan Maya sudah bangun. Hamish, Seperti biasa lebih mempriositaskan mengisi perut gembulnya. Dia sudah mulai memanaskan kornet untuk sarapan.
“Hari kalian mau beristirahat atau lanjut berjalan?”
“Bagaimana kalau kita mencari sumber air, Ef. Air kita sudah menipis. Dan juga aku mau mandi.” Lin mengajukan permintaan.
“Aku juga setuju dengan Lin. Terakhir kita mandi saat di desa.”
“Hamish?”
“Baikah, setelah sarapan. Kita cari sumber air. Dan sebelum itu, ganti pakaian kalian dengan pakaian yang kita dapatkan dari peti logistik.” Gaun yang Lin dan Maya kenakan sejak dari desa terlalu mencolok dan tidak efisen untuk pergerakan tim.
Lin dan Maya segera mengeluarkan pakaian baru dari ransel mereka.
“Nanti saja, kita sarapan dulu.” Ef mengambil posisi duduk di sebelah Lin sambil menghadap api unggun.
“Kita punya waktu 66 jam untuk menuju cek poin ke 3. Dari lokasi ini jarak ke sana hanya 30 km. Hanya satu hari perjalanan.” Ef membuka peta pulau dan membentangnya di tanah. “Sekarang kita sudah harus sangat hati-hati. Tim lain yang lolos sudah pasti sedikit banyak terlatih secara alami. Mungkin skil mereka tak jauh berbeda dari kalian.”
“Jangan menakut-nakuti begitu, Capt. Kau membuat kornet ini menjadi tak enak!”
“Aku tidak menakut-nakuti, hanya saja ini adalah kondisi yang harus kita sadari.”
“Apa strategi kita, Ef. Malam tadi juga kau bilang punya cara untuk bisa meloloskan diri?” Lin memutar tubuhnya dan menghadap pimpinan tim yang sedang mengais kaleng kornet dari bara api.
“Aku yakin saat ini, orang-orang sudah sadar dengan kode yang kita buat di padang ilalang. Pasti kode itu sudah menjadi isu di antara netizen dan media. Besar kemungkinan kode itu juga sudah sampai kepada agencyku. Kita tinggal menunggu tanda-tanda penyelamatan datang.” Ef menjawab sambil mencongkel penutup kornet dengan ujung belati.
__ADS_1
“Mereka pasti melakukan penyelamatan lewat udara, jadi sambil jalan menuju cek poin selanjutnya kita harus selalu memantau area yang dekat dengan tanah lapang. Jadi, kita bisa cepat memanggil bantuan.”
“bagaimana cara kita memberi tahu mereka posisi kita?”
“Kita punya drone sekarang. Jika kita jauh dari posisi penyelamatan, drone itu kita terbangkan menuju lokasi mereka dan membawa pesan lokasi kita berada.”
“Bagaimana pesannya?” kejar Maya.
“Kita cukup memberikan frekuensi radio kita, dan bisa berkomunikasi dengan mereka. Radio baru yang kita dapatkan bisa menangkap frekuensi sejauh dua kilo meter. Yang jadi PR kita sekarang adalah, mencari kertas, atau kain yang bisa di gunakan sebagai alat pembawa pesan yang drone bawa!”
Hamish mengangguk-angguk, sebagai second comander, dia tampak berusaha mencerna strategi sang komandan utama.
“Trus pena-nya dari mana?”
“Iya, betul kata Lin. Kita tidak memiliki pena untuk menulis pesan!” Hamish ikut mengejar.
“Ini!” Ef mengais sebuah bara api kecil, dan menyiramnya dengan air.
“Oh benar juga. Kau memang cerdas, Ef. Sangat bisa di andalkan.” Puji Lin sambil menatap Ef dengan mata berbinar.
“Iya Mommy, puji aja Daddy sesukamu, anggap saja aku dan Maya hanya kornet yang tak punya telinga.”
Lin yang memang selalu tersipu setiap di goda langsung mengalihkan pandangannya, dan fokus pada kaleng kornet yang berada di depannya.
“Bagaimana jika pasukan Hell Game mencegat kedatangan bantuan? Aku rasa mereka tidak akan tinggal diam!” ucapan Maya barusan membuat Ef tertegun. Benar, dia melupakan kemungkinan pihak Hell Game bertahan dan menyerang.
“Jika itu terjadi, maka kita akan perang total!”
***
Halo semua, Akhirnya Hell Game update lagi. Terima kasih bagi yang masih sudi menunggu.
Cerita ini tetap akan di update hingga tamat. Hanya saja, waktu update tidak bisa cepat. Soalnya masih menyelesaikan naskah di ka-be-em.
Udah ada yang baca kisah Aksa dan dira?
Saya kasih bocoran sedikit ya.
__ADS_1
Dira juga seorang author, kayak Lin. Mereka temenan 😌