Hell Game

Hell Game
Iblis


__ADS_3

Lin terbangun dari tidur saat mendengar suara cicitan burung-burung kecil yang saling bersahutan. Walau sudah tersadar, gadis itu tetap memejamkan matanya. Pikirannya berkelana ke ingatan manis sebelum tidur tadi malam. Dan saat ini dia berharap bisa mendapatkan ucapan selamat pagi dari pria yang sudah memangkunya semalaman.


Lin menggeliat dengan mata terpejam, dia ingin Ef merasakan gerakan tubuhnya dan menyapa. Dia ingin wajah pria itu adalah pandangan pertama saat matanya terbuka.


Satu detik, dua, tiga..., tapi sapaan yang Lin tunggu tidak kunjung datang. Sepertinya Ef masih tidur. Jadi Lin yang harus menyapa pertama kali.


Namun, ketika gadis itu membuka matanya, harapan yang dia bangun dalam pikiran menguap seketika. Pandangan awalnya tertumbuk pada atap yang terbuat dari rerumputan, bahkan ternyata kepalanya sudah beralaskan ransel, tidak tidur di pangkuan Ef lagi, dan pria itu sudah menghilang entah ke mana.


Lin mengedarkan pandangannya, di depan Maya sudah mulai menggeliat. Kemudian Maya menepuk-nepuk Hamish agar ikut bangun.


Lin buru-buru bangkit, walau kepalanya masih terasa berat. Dia masih tetap mengharapkan ucapan ‘selamat pagi’ dari Ef menjadi kata pertama yang masuk ke telinganya. Maya sudah bangkit, tak mau ketinggalan Lin juga bangkit dan bergerak keluar celah.


Sang pemimpin tim ternyata sedang membuat api unggun di luar. Dia sedang berjongkok meniup bara api agar menyala. Rambut dan wajahnya tampak basah, dia terlihat sangat segar pagi ini.


“Selamat pagi, Ef. Kau selalu tidur paling akhir dan bangun paling awal.” Lin terkesiap saat Maya menyapa Ef terlebih dahulu. Ef mendongakkan kepalanya sebentar.


“Selamat pagi, Maya.”


Wajah Lin mulai memerah, ternyata ucapan selamat pagi pertama yang keluar dari mulut agen CIA itu malah tertuju kepada Maya. Padahal Lin orang yang pertama kali keluar. Seharusnya walau Ef sedang menunduk, dia tetap bisa melihat sepatu Lin yang berdiri di depan pintu batu.


Okelah, dia hanya tidak enak menyapa karena Maya menyapa lebih dulu.


Lin masih percaya, berikutnya Ef akan menyapanya. Mengingat apa yang terjadi pada mereka tadi malam, Ef pasti sekarang akan lebih mengutamakannya.


“Selamat pagi, Capt. Kau sudah menghangatkan sarapan kita?”


Lin mendelik ke arah kirinya, Hamish keluar dari celah sambil menguap beberapa kali.


“Selamat pagi, Bro. Memanaskan sarapan itu tugas kalian. Aku hanya menghidupkan api unggun.” Ef dan Hamish kemudian tertawa.


Di mana lucunya? Benak Lin mulai memberontak. Ucapan selamat pagi pertama yang dia harapkan telah menguap. Dia akan menjadi orang terakhir yang Ef sapa pagi ini. Semua kejadian romantis tadi malam tidak berarti apa-apa. Bahkan Hamish yang mendengkur seperti harimau pun lebih dulu di sapa.


Lin mengentakkan kaki dengan kasar, kemudian dia berbalik menuju mata air.


Ef melihat gelagat Lin yang janggal, tapi dia masih agak kaku untuk menyapa gadis itu. Mengingat betapa memalukannya apa yang hampir dia lakukan kepada gadis itu tadi malam. Dia seperti hendak mengambil keuntungan dari gadis lemah yang sedang butuh perlindungan. Akhirnya, Ef lebih memilih mengambil daging asap, menyelipkan ke jepitan bambu dan menancapkan ke tanah. Dia sengaja memberi jarak daging asapnya ke api unggun sehingga lidah api tidak bisa menyentuh sarapannya. Karena dia mau makan daging asap, bukan daging arang.


Sudah lima belas menit berlalu, daging asap dan kornet kaleng sudah siap untuk menjadi sarapan mereka. Tapi Lin belum juga muncul.

__ADS_1


“Maya, coba kau panggil Lin.” Ef meminta Maya karena bisa jadi Lin sedang mandi. Tak baik rasanya jika dia yang memanggil. Lin pasti akan lebih nyaman jika teman sesama wanita yang menemuinya.


Maya bangkit dan bergerak ke arah mata air tanpa protes. Namun beberapa saat kemudian dia kembali dengan raut wajah cemas.


“Lin tidak ada di mata air!”


Ef langsung berdiri dan berlari menuju mata air. Benar apa yang di katakan Maya, Lin tidak ada di sana. Ef mengedarkan pandangan mencari kemungkinan ke mana gadis itu pergi. Dari posisi mata air ini, satu-satunya jalan yang mungkin di lalui Lin tanpa melewati mereka hanyalah turun ke bawah.


“Kalian tunggu di sini. Tetap waspada. Aku akan mencari Lin.”


Ef melompati batu dan terjun ke bawah. Dia melesat secepat yang dia mampu. Pikirannya mulai berkembang ke mana-mana. Lin bisa jadi pergi jauh dan tertangkap oleh tim lawan. Sambil menyusuri aliran mata air, Ef memperhatikan tanah. Ada jejak sepatu di tanah becek. Itu jejak Lin. Ef terus bergerak hingga tiba di tepi bukit. Di bawah ada sungai dangkal yang di penuhi koral. Tapi Ef tidak bisa melihat jelas ke bawah karena terhalang semak yang rimbun.


Saat Ef baru setengah menuruni bukit, matanya terbelalak dengan pandangan yang berada seratus meter di depan. Dadanya mendadak bergemuruh, darahnya menggelegak seketika.


Lin sedang terbaring di bebatuan dengan seorang pria memegangi tangan dan membekap mulutnya. Gadis itu tampak meronta-ronta saat seorang pria lain berusaha meloloskan celana gadis itu melewati kaki.


Ef meraba pinggang, tapi ternyata pistolnya tidak ada di sana. Karena terburu-buru mengejar Lin dia berangkat tanpa senjata. Hanya belati yang masih tergantung di paha kanannya. Dia juga tidak mengenakan radio komunikasi untuk memanggil Hamish. Dia tidak mungkin lagi mengulur waktu karena keselamatan dan kehormatan Lin sedang di ujung tanduk.


Ef menyambar batu dan berlari secepat yang dia mampu ke arah Lin. Kedua pria itu terkejut dengan kehadiran Ef yang tiba-tiba. Pria yang tadi sedang berusaha menanggalkan celana Lin berdiri dan menyambar senjata yang tergeletak di bebatuan.


Darah Ef makin menggelegak saat dia mengenali wajah pria itu. Mereka berdua adalah orang yang Ef lepaskan kemarin. Cara pria itu menodongkan senjata masih sama seperti kemarin, masih sangat amatir. Larasnya bergoyang-goyang tak jelas mengarah ke arah Ef yang berlari makin mendekat. Ef mengambil langkah zig zag untuk menghindari bidikan. Dan saat pria itu berada dalam jangkauan lempar, Ef melepaskan batu di tangannya dan tepat mengenai tangan kiri pria itu. Jarinya tak sengaja menekan pelatuk dan menembakkan senjata ke batu tak jauh dari Ef.


Ef harus bersembunyi di balik batu besar, menunggu momentum untuk menyerang balik.


Klik


Suara yang Ef tunggu terdengar, pria tadi kehabisan amunisi. Cepat Ef kembali melemparkan batu dan berlari cepat menuju pria itu. Pria itu sedang memasukkan peluru ke dalam magazine dengan tergesa-gesa saat belati Ef menancap di pahanya. Erangan pria itu makin keras saat sabetan kedua menyasar tangan kanannya.


Pria pertama mengerang, dan Ef menendang kepala pria itu hingga dia terkapar. Kemudian Ef beralih hendak menyerang ke pria kedua yang sedang bersembunyi di balik tubuh Lin. Pria itu menodongkan pistol ke kepala Lin.


“MUNDUR, ATAU KEPALA WANITA INI KUTEMBAK!”


Ef berdiri menghadap pria itu. Dia memegang senjata dengan tangan gemetar. Terpampang juga di depan mata Ef, Lin yang berdiri dengan tampang ketakutan. Wanita itu hanya mengenakan Bra, dan celananya sudah turun setengah lutut.


Darah Ef masih menggelegak. Tapi dia harus bisa bertindak tepat dan cepat. Jika tidak nyawa Lin dalam bahaya.


“Kau ingat yang aku ajarkan beberapa hari lalu.” Ef berbicara dengan Bahasa Indonesia. “Serang kemaluaya dalam hitungan ketiga.”

__ADS_1


Ef hanya bisa bertaruh Lin bisa bertindak sesuai harapan.


“Satu...,”


“Dua...,”


“Tiga!”


Ef menyerang, pria itu kalut dan mengarahkan senjatanya kepada Ef. Saat itu juga Lin berbalik dan menyerang organ bawah pria itu dengan lututnya.


Pria itu mengerang, sepersekian detik kemudian pukulan keras menghantam rahangnya dan membuat pria itu jatuh. Pistolnya terlepas.


Pria tadi masih mencoba meraih senjatanya, namun belati Ef lebih cepat menusuk punggung tangannya.


Jeritan kesakitan pria itu memenuhi belantara, tapi raut wajah Ef belum melunak sama sekali.


“Lin, tutup mata dan telingamu!”


“Ke-kenapa?”


“Lakukan saja.” Suara Ef sangat dingin. Lin belum pernah mendengar Ef berbicara seperti ini. Dia hanya mampu menurut, menutup mata dan menutup kedua telinga.


Saat itu juga Ef memotong urat tendon di ketiak dan di balik kedua lutut pria tadi. Kemudian dia beralih ke pria pertama yang sedang terkapar. Ef menyelipkan belatinya di ketiak pria itu, dan menegakkan kepala si pria agar mengahadapnya.


“Kemarin kalian kuampuni, sekarang kau berhadapan dengan iblis.”


Ef menarik belatinya perlahan, tarikan itu menyait otot tendon di ketiak pria itu hingga putus. Ef tampaknya belum puas. Dia memotong tendon di ketiak kiri dan di balik kedua lutut. Jeritan pilu menggelegar memantul di dinding sungai.


“Kalian tidak akan mati karena luka ini. Tapi kalian tidak akan mampu bergerak lagi. Nikmati waktu 72 jam ini hingga kalung kalian meledak sendiri.”


Suara Ef sangat dingin, kemudian dia bangkit dan memeluk bahu Lin. Lin hendak berbalik dan memeluk Ef. Tapi pria itu tahan.


“Tetap pejamkan matamu.”


Ef menggendong Lin bergerak dari tepi sungai. Dia membawa Lin hingga tidak lagi bisa melihat dua pria tadi. Barulah dia menurunkan Lin.


“Aku sangat ta-“

__ADS_1


Suara lin tertahan saat Ef mencium bibirnya.


__ADS_2