Hell Game

Hell Game
Sebuah Kenangan


__ADS_3

Pablo menepuk meja sesaat sambungan radio diputus. Dia begitu geram hingga barang-barang yang ada di atas meja berserakan.


“Tim kita tewas semua,” Pablo mengirimkan pesan melalui pesan teks.


Dia benar-benar tidak menyangka jika peserta dari Indonesia itu mampu mengalahkan timnya dengan begitu mudah. Mereka adalah tim yang sering Pablo andalkan untuk melakukan penangkapan atau pekerjaan kasar lain. Kehilangan tim yang sudah di percaya bertahun-tahun serasa kehilangan anggota keluarga. Pablo benar-benar murka.


Sebenarnya tugas Gin dan ketiga temannya hanya untuk memberi tekanan kepada peserta Hell Game, dan juga sebagai penjaga ‘Lokasi’ itu. Dia hanya menambahkan tugas untuk mengawasi pergerakan tim lima belas. Tak di sangka mereka terlibat kontak senjata dan tewas. Dia harus menugaskan tim lain masuk ke pulau arena Hell Game. ‘Lokasi’ tidak bisa di biarkan kosong tanpa penjagaan. Apalagi kalau sampai ketahuan oleh peserta.


Pria berusia 40 tahunan itu memanggil 4 orang lain ke ruangannya.


“Kalian jaga ‘lokasi’. Halau semua peserta yang mendekat ke sana. Cek juga desa dan kuburkan mayat Gin beserta yang lain.”


Selesai memberi perintah Pablo tersandar kembali di kursi kerjanya. Gin, pria tambun tanpa rambut kepala itu adalah sahabat karib Pablo sejak 20 tahun lalu. Sejak mereka masih berstatus sebagai special force untuk Angkatan darat United States. Penghianatan dari Negara yang mereka lindungi dengan nyawa membuat mereka berdua memutuskan untuk berbelok dan memilih menjadi tentara bayaran. Saat Andrew menghubunginya untuk menjadi pimpinan pasukan Hell Game, Pablo langsung menghubungi Gin dan mengajak bekerja sama. Sekarang sahabat seperjuangan itu telah terbujur kaku.


“Siapa yang menghabisi mereka?” Yuki masuk ke dalam ruangan kerja Pablo.


“Pria Indonesia itu.”


Yuki mengambil posisi duduk di pangkuan Pablo. Gadis itu mengusap pipi Pablo yang di tumbuhi jambang.


“Aku turut berduka, Gin adalah sahabat yang baik”


“Ke mana dia?” Pablo menolehkan kepalanya untuk memastikan pintu ruangan tertutup. Jika ada yang melihat ‘Nona utama’ duduk di pangkuannya. Nyawa Pablo sudah pasti akan meninggalkan jasadnya.


“Dia meninggalkan pulau sejak pagi dengan mengajak Koro. Andrew lebih mempedulikan anjing sialan itu daripada aku.” Yuki mulai agresif memberikan ciuman ke wajah Pablo.


“Aku hanya menugaskan Gin untuk di bunuh.” Pikiran Pablo masih terbagi atas kematian Gin. Dia tidak bereaksi dengan cumbuan Yuki yang makin memanas.


“Kita masih memiliki kartu As untuk mengalahkan si Tamada. Sekarang fokuslah kepadaku. Apakah tubuh ini tidak bisa mengurangi rasa sedihmu?” Yuki mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Mendapat tawaran yang menggiurkan, jiwa lelaki Pablo bangkit. Dia memindahkan Yuki ke atas meja dan melahap setiap jengkal tubuh indah yang tergolek pasrah.


“Kau benar-benar pria sejati.” Yuki bersusah payah mengucapkan kalimat tadi di antara lidahnya yang mulai mendesis saat Pablo mengehentak agar bisa masuk ke dalam dirinya.


“Kau yang memancingku. Sekarang rasakan akibatnya, gadis jal*ng!” Pablo menarik rambut Yuki dan terus memompa dengan kencang. Yuki tidak tampak kesakitan, dia malah tertawa dan menikmati perlakuan kasar atas tubuhnya.


“Terus, Pablo. Terus!” mulut Yuki tak berhenti meracau.

__ADS_1


“Kau tidak puas dengan banci itu kan. Sekarang puaskan dirimu, Jal*ng!”


Pergumulan antara Yuki dan Pablo begitu seru. Barang-barang di atas meja di kibas hingga berserakan di lantai. Tak puas dengan satu posisi, Pablo menarik tubuh Yuki hingga berdiri dan mendorongnya menempeli dinding.


***


“Di mana Yuki?” Andrew bertanya kepada Arsy yang sedang memantau monitor. Dia baru saja masuk ke kantornya, ternyata kekasihnya tidak ada di sana.


“Baru saja keluar, Sir.”


“Kemana?”


“Saya kurang tahu, Sir. Biar saya cari nona Yuki sekarang!” Arsy berdiri dari kursinya.


“Tidak perlu, kau tetap pantau Web dan Arena. Aku mau ke ruangan Pablo. Kalau Yuki datang, suruh menyusul ke sana.”


“Baik, Sir”


Andrew meninggalkan ruangannya yang berada di lantai 3 sedangkan ruangan Pablo ada di lantai 2.


Sebelum keluar ruangan, Andrew merogoh saku jasnya. Memastikan benda yang hendak dia berikan kepada Yuki ada di sana. Sebuah kalung berliontin batu saphire kecil. Yuki memiliki kenangan dengan batu mulia itu.


Dia memiliki seorang tetangga baik hati, Nyonya Maria Harada, seorang Janda berusia 40an dengan anak gadis berusia 15 tahun bernama Yuki Harada. Sebagai warga asing, Andrew merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan tetangga yang baik hati. Terutama Nyonya Harada pandai berbahasa Inggris. Nyonya itu juga yang mengajarkan Andrew berbicara bahasa Jepang.


Andrew pindah ke Jepang di usia 28 tahun karena bekerja di sebuah perusahaan yang sedang mengembangkan game online. Memang sejak awal cita-citanya adalah menjadi programer game. Dengan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang itu, dia merasa impiannya bisa terwujud dengan mudah.


Selama Lima tahun tinggal di Jepang, dia sudah menganggap nyonya Harada seperti kakaknya sendiri. Andrew tidak perlu repot memasak setiap hari. Dia selalu makan di rumah tetangga Jepangnya. Andrew menyisihkan gaji bulanannya untuk di berikan kepada Nyonya Harada, sebagai imbalan. Waktu itu Nyonya Harada hanya bekerja sebagai marketing freelance perusahaan otomotif. Penghasilannya tidak seberapa dan terkadang kurang untuk membiayai kuliah Yuki.


Hidup Andrew normal-normal saja. Setiap pulang dari bekerja, Andrew berkutat di depan komputer. Dia sedang merancang sebuah game peperangan. Rencananya, dia hendak menjual ciptaannya itu ke perusahaan tempatnya bekerja.


Suatu ketika, saat dia pulang dari bekerja. Dia mendengar keributan di rumah tetangganya. Saat Andrew melihat ke dalam, ada tiga orang pria bertato yang sedang marah-marah di kepada Nyonya Harada. Wanita itu menangis meringkuk di sofa sambil memeluk Yuki.


Setelah ketiga pria itu pergi, Nyonya harada bercerita. Jika ayah Yuki pernah berhutang kepada Yakuza senilai 500.000 Yen, dan telah menunggak selama 5 tahun. Ketiga orang tadi menagih hutang itu kepada Nyonya Harada berserta bunga hutang. Wanita itu harus membayar 1juta Yen dalam waktu tiga hari. Jika tidak, mereka akan membawa Yuki. Semua orang sudah tahu, jika di bawa oleh Yakuza pasti berakhir menjadi pekerja prostitusi.


Merasa telah menganggap Nyonya Harada sudah seperti keluarganya sendiri. Andrew menawarkan diri untuk mencari bantuan atas permasalahan yang di hadapi nyonya Harada. Mereka mulai menghitung aset yang di miliki.

__ADS_1


Nyonya harada hanya memiliki sebuah kalung berliontin batu Saphire sebagai satu-satunya hartanya yang berharga. Kalung itu adalah hadiah dari mendiang ibunya. Jika di jual harganya hanya 250.000 yen. Sedangkan uang tabungan Andrew hanya ada 150.000 Yen. Masih kurang 600 ribu Yen.


“One-san tenang saja. Saya akan mencoba mencari pinjaman dari kantor.”


Negosiasi Andre ke kantor begitu alot. Akhirnya Andrew terpaksa membeberkan program yang sedang dia kembangkan. Perusahaan tertarik dengan konsep game yang sedang Andrew kerjakan dan bersedia memberikan hutang.


Kantor baru mengeluarkan uang pinjaman Andrew setelah pulang kerja di hari ketiga. Dia masih ingat betul, saat itu pukul delapan malam. Saat Andrew tiba, ketiga pria Yakuza itu sedang menggagahi Nyonya Harada sedangkan Yuki diikat dan di paksa menyaksikan Ibunya di perk*sa di depan mata. Mereka baru berhenti saat Andrew menyerahkan uang. Sambil tertawa terbahak-bahak, ketiga Yakuza itu mengamnil uang dari tangan Andrew meninggalkan Nyonya Harada yang tergeletak di lantai.


Sejak saat itu Nyonya Harada mengalami gangguan mental berat. Depresi dan tidak mau bertemu orang lain. Yuki terpaksa berhenti kuliah demi merawat ibunya. Andrew berperan sebagai tulang punggung dan membiayai hidup kedua wanita malang itu.


Di suatu malam bulan ketiga, Nyonya Harada mendatangi kamar Andrew. Dia menawarkan dirinya untuk Andrew sebagai imbalan atas jasa-jasa andrew selama ini.


Tentu Andrew menolak, karena dia sudah menganggap Nyonya Harada sebagai kakaknya. Namun, wanita itu memohon dalam tangisan agar permintaannya dipenuhi. Dia mengatakan dirinya akan sembuh setelah membayar hutang kepada Andrew dan hanya itu caranya membayar.


Andrew luluh, dan memenuhi permintaan Nyonya Harada. Dan ternyata itu adalah permintaan terakhir wanita itu. Karena keesokan harinya, Andrew mendapatkan Nyonya Harada tergantung di dapur rumah. Sebuah kertas wasiat berada dalam genggamannya.


Kepada Andrew yang baik hati. Bawalah Yuki Bersamamu. Jaga dia untukku.


Sebuah luka dalam menggores di hati Andrew sejak kepergian Nyonya Harada. Luka kedua muncul saat perusahaan menyingkirkan dirinya dan mengambil alih game ciptaannya tanpa royalti sepeserpun. Game itu di buat dengan hak cipta atas nama anak pemilik perusahaan. Sejak saat itu, kebencian yang mendalam terukir dalam jiwa Andrew.


Lift terbuka dan membawa Andrew dari kenangan masa silam. Dia memasukkan kembali kalung tadi ke dalam kantong jas saat hampir tiba di ruangan Pablo.


Dia memutar knop pintu. Matanya membelalak melihat pemandangan di dalam ruangan.


“ADA APA INI?”


***


Halo semua, Terima kasih telah mengikuti Hell Game hingga saat ini.


bantu perkegmbangan karya ini dengan mengekan tombol Vote dan Like. Jiga tinggalkan komentar di setiap bab.


Mari berteman di sosial media.


Fb. Densa

__ADS_1


Ig. densa015


Terima Kasih


__ADS_2