Hell Game

Hell Game
Demi Ilmu Pengetahuan (21+)


__ADS_3

Konten mengandung unsur dewasa.


Lin terbelalak mendapat kecupan yang begitu tiba-tiba. Dia bisa merasakan kalau tangan Ef menahan kepala. Sebuah kecupan yang kuat namun terasa lembut membuat rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Lin. Dia memejamkan mata dan memeluk leher Ef, menerima bahkan membalas kecupan pria yang baru saja menyelamatkan hidupnya.


Ef bisa merasakan bibir Lin yang semula tertutup mulai merekah dan membalas kecupannya. Gerakan bibir Lin membuat nafas Ef kian memburu dan membalas lebih kuat. Mereka saling balas seolah tidak mau kalah dari lawan. Deru nafas kedua insan itu makin lama makin berat, tangan Lin mulai meremas rambut Ef sedangkan Ef terus membelai punggung Lin yang masih terbuka.


Ciuman Ef menjelar ke leher Lin yang terbuka, beberapan kecupan meninggalkan tanda merah yang kontras dengan kulit putih Lin. Bibir Ef kembali baik ke balik telinga gadis itu. Remasan tangan Lin makin menguat.


Aksi kedua manusia itu menjadi tontonan burung-burung kecil yang terbang di sekitar, mereka bercicit riang seolah bersorak dengan adegan yang sedang terjadi. Kecupan Ef sudah kembali ke dagu Lin saat tiba-tiba pria itu menegakkan kepalanya. Mata Lin masih terpejam, dan masih tampak mengejar. Tapi Ef tidak melanjutkan aksinya. Dia merengkuh tubuh kecil Lin ke dalam pelukan.


“Tolong jangan pergi sendirian lagi,” bisik Ef terdengar sangat berat sambil membelai rambut gadis itu. “Aku tidak bisa memaafkan diriku jika hal buruk terjadi padamu.”


Lin mengangguk dalam dekapan Ef. Kemudian Ef melepaskan pelukannya dan berjongkok di depan Lin. Dia menaikkan kembali celana gadis itu yanh sejak tadi masih turun sebatas lutut.


Menyadari kondisi dirinya yang masih sangat terbuka, Lin buru-buru mencoba menarik sendiri celananya. Tapi tangannya di tepis Ef, membuat Lin pasrah dan membiarkan pria itu menyelesaikan niatnya. Lin hanya diam dengan wajah memerah saat Ef memperlakukannya seperti anak kecil, kemudian Ef membuka bajunya sendiri dan menyarungkan kepada Lin. Lin sekarang seperti gadis kecil yang mengenakan baju ayahnya yang kebesaran.


“Bersihkan tubuhmu di atas saja, tidak usah kembali ke sungai.” Ef memapah Lin untuk naik. Tiba-tiba Hamish dan Maya tiba. Mereka membawa senjata.


“Kalian tidak apa-apa? Kami mendengar suara tembakan!” Maya tampak begitu cemas. Dia menatap Lin yang saat ini mengenakan baju Ef, rambut pirang Lin juga tampak penuh tanah. Kemudian matanya beralih kepada Ef yang bertelanjang dada.


“Kalian mesum di semak-semak?” goda Maya.


“Sembarangan saja kau bicara.” Hamish menyahut sambil matanya juga mengawasi kondisi sang kapten dan Lin. “Mereka mesum di sungai. Hahaha.”


Ef hanya nyengir untuk menganggapi godaan kedua rekannya. Percuma menjelaskan kondisi yang terjadi, hanya akan membuat mereka semakin cemas.


“Kalian ajak Lin ke atas, aku akan ke bawah sebentar.” Hamish mengulurkan tangannya untuk membantu Lin naik. Dan Ef cepat bergerak ke bawah.


Dia mengambil baju Lin yang tergeletak di tepi sungai. Ef sempat mencuci baju Lin sebentar untuk membuang sisa-sisa tanah. Kemudian dia mendatangi kedua pria yang baru saja merasakan tajamnya belati milik Ef. Air sungai di sekitar mereka sudah berubah menjadi merah.

__ADS_1


“Kalian sudah pasti mati. Ada baiknya kalau kematian kalian menjadi berguna.” Ef menarik seorang dan memperhatikan kalung yang melingkari lehernya.


“Namamu Freddy kan? Mana anggota kalian yang lain?” Ef mencoba mengingat nama yang di terikkan kemarin sambil terus meneliti sudut kalung.


“Mereka sudah tewas.” Freddy masih mampu menjawab.


“Tenang saja, kalian akan berkumpul tak lama lagi.” Ef mencabut belatinya dan mencoba mendongkel sisi engsel kalung Freddy. Ef melakukannya dengan sangat hati-hati. Engsel itu terpasang sangat kuat. Ef beralih mendongkel layar kecil yang tergabung dengan papan tombol. Lagi-lagi dia tidak bisa melepaskan layar itu.


Ef menarik temannya Freddy dan memperhatikan kalungnya. Semuanya sama persis.


Ef masih terus mencoba mendongkel kalung itu dari berbagai sisi. Kadang belatinya tergelincir dan menggores leher Freddy. Freddy hanya bisa merintih, kedua kaki dan tangannya sudah tidak bisa bergerak dan mati rasa. Dia tidak akan mampu memberikan perlawanan apapun.


Beberapa menit melakukan percobaan yang selalu gagal membuat Ef frustasi. Dia berdiri, dan memperhatikan jalur yang tadi dia ambil untuk turun. Dia ingin memastikan kalau apa yang aka dia lakukan sebentar lagi tidak boleh di lihat oleh anggota timnya.


“Sorry bro, ini demi ilmu pengetahuan.” Ef membalikkan tubuh Freddy hingga tengkurap. Sambil memperhatikan sekitar, belati Ef bekerja di leher Freddy. Rekannya meraung-ruang tanpa bisa menolong melihat tubuh Feddy bergetar hebat dan menimbulkan dengkuran aneh.


Ef tersenyum sinis kemudian melempar kepala Freddy ke temannya. Sekarang dia bisa mengambil kalung Freddy tanpa hambatan.


***


Kamera-kamera bulat yang di sebar di seluruh penjuru memang menjadi mata bagi penyelenggara. Camera yang berukuran seperti kelereng itu memang sangat sulit di deteksi oleh peserta. Bahkan belum satupun peserta yang menemukan lokasi penempatan kamera hingga saat ini.


Andrew menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap tajam ke arah monitor. Arsy duduk berdiri di tak jauh dari monitor, dan Pablo berdiri di dekat sofa yang di duduki Yuki. Semuanya diam, menunggu sang boss berbicara.


Di layar monitor sedang menampilkan banyak kotak tampilan dan di kotak tampilan paling besar, Ef sudang menduduki punggung Fredy kemudian membuang kepala pria itu ke arah kiri.


“putar ke depan!” Arsy sibuk mengutak-atik tabletnya untuk mencari kamera lain yang berada di bagian depan Ef. Yuki langsung memalingkan wajah saat adegan sadis itu muncul.


“Dia pasti hendak mencari cara melepaskan kalung dengan mengambil kalung orang lain. Licik juga caranya.” Andrew berkomentar dengan mata tetap menatap monitor tanpa berkedip.

__ADS_1


“Apa dia perlu kita bereskan sebelum mengacau, Boss?” Pablo, ajudan utama Andrew menawarkan solusi kepada tuannya. Tapi sang Big Boss tidak menjawab. Keduan menokeh kepada Arsy.


“Berapa taruhan untuk pria itu sekarang?”


Arsy menampilkan Profil Ef di layar, “meningkat hampir tiga puluh persen sejak hari pembukaan, Sir.”


“berapa nominalnya?”


“Hampir dua setengah juta dollar.”


Andrew mengetuk-ketukkan jarinya ke meja. Dia tampak sedang menimbang sesuatu.


“Biarkan saja dulu. Bahkan jadikan dia man of the match hari ini.”


Arsy awalnya hendak berarguman dengan boss nya. Tapi melhat wajah Andrew yang sedang serius seperti ini membuanya mengurungkan niat.


“Biarkan taruhan untuk dirinya makin membesar. Nanti baru kita habisi dia di cek poin 3 atau 4. Pengacau hilang, kitapun tak mesti membayar kepada audience.” Andrew tertawa di ikuti tawa basa basi dari anggotanya yang lain.


***


*Halo semua.


Terima kasih telah mengikuti Hell Game hingga Saat ini. Mohon dukungan dengan, Like, Paf dan Vote. selalu tinggalkan komentar di setiap bab agar karya ini bisa tumbuh lebih baik.


mari berteman di sosial media.


fb. densa


ig. densa015

__ADS_1


terima kasih*


__ADS_2