Hell Game

Hell Game
Kode dari pulau


__ADS_3

Perlahan Ef menyusuri tangga yang melingkari tiang piston hingga ke dasar. Lantai lorong berupa tanah dan terdapat genangan air setinggi mata kaki. Lorong itu cukup besar, tingginya 2 meter dan lebar 2 meter, ef mengecek keadaan sebentar kemudian kembali naik.


“Lubang ini adalah terowongan yan tidak tahu mengarah kemana. Kita coba saja telusuri.”


“Siapa yang menjaga di atas capt?”


“Kenapa harus di jaga. Kita masuk semua saja.” Sahut Maya mengkonfrontasi sanggahan Hamish.


“Bagaimana kalau lorong itu buntu, kita akan terjebak di sana selamanya!”


Ef berfikir sejenak, menelaah ucapan Hamish. Ada benarnya juga, jika ternyata lubang itu buntu. Satu-satunya cara naik adalah dengan menekan air mancur. Berarti harus ada yang tinggal di atas.


“Bagaimana kalau kalian bertiga turun, dan aku yang menjaga di atas. Jika lorong ini ada jalan keluarnya, kalian cukup kasih tau dan aku akan menyusul.” Ini merupakan pilihan yang paling tepat menurut Ef. Jika dia yang masuk, resiko besar akan di hadapi siapapun yang tinggal di atas. Tidak mungkin juga menyuruh dua orang tawanan mereka yang menunggu patung kuda. Mereka bisa lari kapan saja.


“Aku tinggal bersama Ef. Maya dan Hamish saja yang turun.” Lin mengutarakan keinginannya.


“Tidak, kita turun semua atau tidak semua. Kita hadapi sama-sama apapun yang terjadi.” Maya menegaskan kalimatnya kepada Ef.


Ef memandangi anggotanya. “Sepakat kalau kita turun semua?”


Lin, Maya dan Hamish mengangguk.


“Baiklah, kalian bertiga turun lebih dulu. Aku yang akan menekan pancuran.”


“Bagaimana dengan mereka, Capt?” Hamish menunjuk kedua tawanan mereka.


“Mereka turun setelah kalian. Sekarang kita lihat berapa lama patung ini turun saat pancuran di lepaskan.”


Lin melepaskan injakannya di lubang pancuran dan patung kuda perlahan kembali turun. Jedanya cukup untuk memberi waktu Ef turun menyusul semua anggota sebelum dasar patung menutup lubang.


Ef menekan pancuran, dan patung kuda kembali naik. Lin turun terlebih dahulu, di susul Maya dan Hamish. Kemudian Steven Hawk dan kawannya ikut turun. Setelah semuanya berada di bawah, Ef melepaskan injakannya dan berlari ke arah mulut terowongan.


“Kalian berdua berjalan di depan.” Ef mendorong Steven Hawk dan Pria muda agar berjalan mendahului. Ef berjalan di belakang mereka, di susul Lin dan Maya. Hamish berjalan paling belakang.


Cahaya senter tim lima belas menjadi satu-satunya penerang di dalam lorong. Dinding yang basah membuat udara di dalam terasa lembab dan tengik. Namun tidak ada jalan mundur bagi mereka selain terus maju menyusuri lorong.


Sekitar 10 menit mereka berjalan, di depan ada persimpangan. Steven Hawk yang berjalan paling depan menoleh kepada Ef, meminta pendapat arah mana yang harus di ambil. Ef juga tidak tahu harus mengambil arah yang mana, tidak ada pilihan selain mencoba satu persatu.


“Hamish, buat tanda di dinding. Tandai lorong yang sudah kita lewati.”


Hamish segera paham dan menggores dinding tanah dengan belati. Tanda pahan di buat menunjuk arah pintu masuk. Hamish menulis Door di ujung tanda panah.

__ADS_1


Sebelum melangkah, Ef juga menorehkan tanda di dinding yang akan mereka lewati. Dan tulisan 1st di ujung tanda panah.


“Ayo, jalan” Ef memerintahkan Steven Hawk mengambil jalan kanan. Kenapa memilih kanan? Ef teringat petuah neneknya dulu, saat Ef masih kecil, nenek selalu mengajarkan untuk mendahulukan sebelah kanan.


Sepuluh menit berjalan, mereka di hadapkan lagi pada persimpangan. Seperti tadi, Hamish segera membuat tanda yang di dinding terowongan yang telah mereka lewati.


“Kau yakin terowongan ini ada ujungnya, Ef?”tanya Lin.


“Setiap terowongan di bangun untuk sebuah tujuan. Baik itu untuk mengangkut sesuatu atau untuk persembunyian. Yang jelas, terowongan di bangun dengan awal dan akhir. Aku yakin patung kuda tadi adalah akhir. Sekarang kita tinggal mencari awalnya.”


LIn tidak menyahut setelah mendapat penjelasan.


“Apakah kalian capek? Mau istirahat?”


“Iya, boleh kita beristirahat.”Steven Hawk menjawab dari depan.


“Aku tidak bertanya padamu!” Sergah Ef.


“Lanjut Capt, aku masih semangat.” Jawab Hamish.


“Kalau Hamish masih semangat, berarti semua masih semangat. Kita lanjut.”


“Kau keterlaluan, Capt. Menjadikanku indikator kelemahan Tim.”


***


“Sir!” Henry menghadap Jhon yang masih sibuk bercerita dengan Jendral Nmbie. “Sepertinya anda harus melihat ini.”


Jhon segera berdiri dan berjalan mengikuti Henry menuju ruangan pelacakan. Jendral Nmbie ikut menyusul di belakang.


“Ef membuat kode. ‘An Island’. Sepetinya dia hendak memberi tahu kita lokasi dia berada.” Hendry menghentikan video tayangan Hell Game tepat saat layar menayangkan cetakan Hurup di padang ilalang.


“Namun sepertinya Ef tidak bisa menyelesaikan kodenya. Hurup D yang tercetak tidak sempurna!”


Jhon memperhatikan kode itu dengan sangat serius, di sebelahnya Jendral Nmbie dan Enishi ikut memperhatikan.


“Coba lanjutkan Videonya.”


Hendry menekan spacebar dan layar kembali memutar video. Tayangan masih dari sudut atas dan memperlihatkan suasana yang mengerikan di bawah. Ef tampak berbaring di padang ilalang seorang diri terjebak di tengah pertempuran. Di sisi kiri dan kanan ada kelompok yang saling tembak.


“Bukankah itu petugasmu yang mengawal Lin, kenapa dia sendiri? Kemana anakku!” Enishi mulai histeris. Jhon tidak menggubris celotehan si konglomerat dan hanya fokus pada layar. Video drone berhenti saat Drone tepat berada di atas Ef dan berganti sudut pandang dari kamera bawah.

__ADS_1


“Ada berapa pulau di negara ini?” Jhon menoleh ke arah Jendral Nmbie.


“Jika mengarah kepada peta resmi, Kamerun memiliki tiga pulau di samudera pasifik. Tapi sebenarnya ada 5 pulau lain yang di miliki oleh Perancis. Tidak terdaftar di peta.”


“Pulaunya besar atau kecil?”


“kecil.”


“Ada penghuninya?”


“Ada yang berpenghuni dan ada yang tidak. Tak pernah ada data resmi.”


Jhon diam sejenak untuk berfikir. Hell game tidak mungkin di selenggarakan di pulau yang berpenghuni. Jadi pencarian bisa lebih spesifik saat ini. Menyasar pulau kecil yang kosong.


“Baiklah, kita akan mulai pencarian. Di mana kita bisa mendapatkan Helikopter?” Tanya Jhon.


“Angkatan udara punya 15 unit helicopter Apache. Kau bisa menyewa dari mereka.” Jendral Nmbie menjelaskan. “Tapi, kau tau sendiri bagaimana cara bernegosiasi di negara ini kawan!”


Jhon menoleh kepada Enishi.


“Tidak masalah, sebuatkan saja berapa yang harus kubayar!” sahut Enishi tegas.


“sekitar 10.000 USD untuk satu unit Helikopter. Dan 3000 USD untuk pilot dan ko pilot. Untuk tambahan pasukan masing-masing 500 USD.” Jelas Jendral Nmbie.


“Tidak masalah, kapan kita berangkat?”


“Kita siapkan pasukan sekarang, saya juga akan menghubungi pentagon. Kalau mereka memberi izin, armada Tujuh untuk mengcover pergerakan kita.” Raut wajah Jhon mengeras. “Hendri, buat rancangan operasi lengkap dengan seluruh logistik yang di perlukan.”


“Siap, Sir!”


“Kapan Kita temui komandan angkatan udara?” Jhon menoleh kepada Jendral Nmbie.


“Sesegera mungkin. Uangnya sudah siap?” tanya Jendral Nmbie.


“Tak perlu cemas, saya membawa salah satu orang terkaya di US. Biaya operasi ini tidak mengurangi kekayaannya bahkan hanya 1 persen. Bukan begitu Enishi?”


“Ya, Jendral. Saya pastikan semuanya siap. Jangan takut. Saya akan membayar semuanya. Yang terpenting adalah bagaimana anak saya bisa selamat.”


“Baiklah, saya bersiap dahulu. Kita temui Komandan Angkatan Udara malam ini juga.”


***

__ADS_1


Mohon maaf jika cerita ini terjeda lama, karena sedang menyesaikan naskah lain di Pf sebelah.


Terima kasih sudah sudi menunggu.


__ADS_2