Hell Game

Hell Game
Segelas Kopi pahit


__ADS_3

Cheta duduk di sebelah Henry yang terus berupaya melakukan pelacakan atas akun yang mengirimkan pesan beberapa minggu lalu. Beberapa kali Henry mengusap rambut dengan geram karena komunikasi dengan Cheta sering terhambat oleh bahasa. Cheta tidak bisa berbahasa Inggris sedangkan Henry tidak bisa berbahasa lokal. Sedangkan tentara yang tadi menemani mereka menjemput cheta sudah menghilang entah ke mana.


Enishi yang berjalan mondar mandir di belakang Henry juga mengganggu konsentrasi pria itu. Setiap menit Enishi selalu bertanya “Sudah ketemu?” sambil melongok dari balik pundab Henry. Ingin rasanya Henry mengumpat dan menyuruh Enishi diam, tapi tentu saja umpatan iru hanya sebatas niat. Karena sang milioner adalah pendana operasi ini dan dia juga sahabat sang direktur.


Berbeda dengan Enishi yang selalu gusar, Direktur Jhon malah sedang tertawa terbahak-bahak bersama jendral Nmbie. Mereka sedang nostalgia tentang kisah-kisah masa lalu. Padahal mereka masih berkuasa, tatapi seperti sudah mengalami ‘post power syndrom’.


“Sudah ketemu?” lagi-lagi Enishi bertanya.


“Belum, Sir.” Henry mencoba menjawab sesopan mungkin. “Pekerjaan ini akan lebih mudah jika ada penerjemah bahasa alien yang di ucapkan orang ini.”


“Jadi kau tidak mengerti bahasanya?”


Henry menggeleng prustasi.


“Kenapa tidak katakan sejak tadi. Dari tadi kulihat kalian berdiskusi. Ku kira kau mengerti ucapannya!”


Henry makin frustrasi, dia bekerja seorang diri dan saat ini malah diomeli.


“Saya berharap anda bisa membantu menyampaikan kepada boss kami untuk menyediakan translator, agar pekerjaan ini makin mudah tentunya.”


Respon Enishi cukup gesit. Dia segera keluar ruangan dan menemui Jhon yang masih asyik ngobrol bersama jendral Nmbie. Tak lama kemudian Enishi kembali bersama tentara yang tadi menemani mereka.


“Kau jangan kemana-mana. Satu menit lagi berbicara dengannya aku bisa gila!” Henry menuangkan kekesalannya kepada tentara lokal tadi. “Siapa namamu?”


“Ahidjo, sir”


“AIHIJU?” ulang Henry.


“A-HID-JO, Sir”


“Whatever. Sekarang tanyakan kepadanya bagaimana proses transaksi pembayaran?”


Ahidjo langsung berbicara kepada Cheta dengan bahasa Lokal.


“Dia dibayar menggunakan Bitcoin, Sir”


“What The Fu*k!” Henry memukul meja. Ternyata gerombolan Hell Game bekerja dengan rapi. Transaksi dengan cryptocurency sangat sulit di lacak. Sebenarnya crypto bukan anonim, tapi pengiriman dari dompet ke dompet hanya menyisakan kode, jumlah transaksi dan alamat dompet. Siapa pemilik dompet itu tidak pernah ada yang tahu selain pemiliknya sendiri.


Dia telah gagal melacak keberadaan pengirim pesan melalui pelacakan alamat IP. Orang mempekerjakan cheta sudah memprediksi akan di lacak. Dia menggunakan aplikasi penyamar IP dan mungkin sekarang telah membuang perangkatnya. Karena lokasi yang mampu di lacak oleh henry sekarang berada di tengah laut merah. Di tambah Transaksi menggunakan cryptocurrency membuat jalan buntu makin sempurna.


Cheta yang melihat Henry yang frustasi berbicara kembali kepada Ahidjo.


“Sir, apakah kita bisa melacak lewat transaksi taruhan Hell game. Mereka menyediakan nomor rekening untuk pemasangan taruhan.”


Henry yang sudah hampir menyerah kembali mengangkat kepalanya. Matanya berbinar-binar.


“Ini pemikiranmu atau dia?”


“Dia” jawab Ahidjo sambil menunjuk Cheta.


“Otakmu cemerlang juga. Sayang kau tidak bisa bahasa Inggris.” Henry mengambil kepala cheta dan mengguncangnya beberapa kali. “Cepat pasang taruhan di hell game. Kita butuh nomor rekeningnya.”


Cheta membuka situs Hell Game melalui ponselnya. Kemudian dia kembali berbicara kepada Ahidjo.


“Mau pasang berapa, sir? Kemudian di pasang kepada siapa?”


“Terserah kepada siapa dan berapa.”


“Kartu kredit, paypol atau bank transfer?”


“Bank Transfer.”


Cheta kembali mengetik di layar ponselnya. Kemudian kembali berbicara kepada Ahidjo.


“Uangnya mana?” Ahidjo mengulurkan tangan. Henry kembali frustrasi.


“Tuan Enishi, bisa kami menggunakan mobile banking anda?” Akhirnya masalah pendanaan kembali kepada sang milyuner.


Masalah lagi, Hell Game menggunakan rekening international yang memiliki kantor di swiss. Dan seluruh umuat manusia tahu, kalau bankir swiss tidak akan memberikan data nasabahnya selain nasabah itu sendiri.


“Tadi ada metode bayar paypol?”

__ADS_1


“ Ada sir!”


“Semoga pihak Paypol mau bekerja sama!”


***


Sebagian dinding rumah berubah merah oleh semburan darah. Di ikuti oleh suara tubuh yang roboh dan menghantam tanah. Si plontos akhirnya berubah menjadi mayat dengan sebuah lubang baru di kepalanya.


“Siapa yang menembak?” Ef berbicara lewat radio.


“Lin yang menembak.” Jawab Hamish.


“Jauhkan dia dari telescope.”


Lin saat ini pasti sangat terpukul. Tekanan mental saat pertama kali membunuh akan terbawa hingga puluhan tahun ke depan. Apalagi Lin pernah mengenyam pendidikan kedokteran, yang selalu di doktrin untuk menyelamatkan hidup manusia. Bukan malah menghilangkan nyawanya dengan sengaja.


Ef menarik tubuh si plontos ke dalam rumah dan menggabungkan dengan jasad kedua rekannya. Seperti tadi, ef memeriksa ulang barang. Dia mengumpulkan magazin penuh amunisi, 3 butir granat tangan dan dompet mereka.


Setelah itu dia berpindah ke rumah sebelah tempat jasad satu lagi. Selain barang-barang tadi, ef mengambil radio komunikasi mereka.


“Capt, Lin menggigil hebat!” Suara hamish terdengar di earphone yang tersemat di telinga Ef.


“Tunggu sebentar. Aku ke sana.”


Saat Ef masuk, dia bisa melihat kondisi Lin yang begitu memprihatinkan. Gadis itu meringkuk sambil memeluk lutut. Tatapannya kosong dan tubuhnya menggigil. Maya sedang memelukkan dari samping.


“Biar aku yang tangani. Kalian cari benda-benda yang berguna untuk kita. Kita tidak bisa berlama-lama di sini.” Maya memberikan ruang kepada Ef untuk duduk di sebelah Lin. Kemudan dia dan Hamish mulai mencari barang-barang yang bakal berguna.


Ef duduk di depan Lin. Gadis itu mulai menangis tersedu-sedu saat Ef membawa Lin ke dalam dekapan.


“A-aku pembunuh, aku telah membunuh orang.” Lin tergugu dalam dekapan Ef.


“Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan sesuatu yang tepat. Kalau kau tidak bertindak lebih dulu, mungkin kita semua telah terbunuh.” Ef mencoba meringankan beban mental Lin dengan mengusap kepalanya.


“Aku takut dia akan menghantui.”


Ef tidak bisa lagi berkomentar. Karena rasa di hantui itu akan selalu mengikuti Lin, sama seperti yang Ef rasakan sepuluh tahun yang lalu. Bayangan itu masih tetap ada hingga saat ini.


Ef membantu Lin berdiri dan memapahnya berjalan menuju dapur.


“Kau mau sarapan?” pertanyaan Ef di jawab Lin dengan menggelengkan kepalanya. Tak lama Maya menyusul ke dapur.


“Mana Hamish?”


“Dia ke rumah sebelah. Mau cari alat katanya.” Maya duduk di sebelah Lin dan memeluk rekannya.


“Kalian sarapan dulu, aku akan berkeliling mencari logistik, satu jam lagi kita berangkat.”


Baru saja Ef akan meninggalkan rumah, radio yang tergantung di pinggang Ef berbunyi.


“Tower to team. Report your status!”


Ef mengangkat radio itu dan menekan tombol jawab.


“Sorry tower. Tim anda sudah kukirim ke neraka.”


Kembali terdengar gemerisik tanda lawan bicara hendak menjawab.


“Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Mr Tamada.”


Ef merasa pernah mendengar suara pria yang menjawab. Suara itu sepert suara pimpinan kelompok saat Ef terlibat perkelahian dengan pengaman Hell Game yang mencoba merayu Lin ketika rombongan mereka meninggalkan kapal menuju bus.


“Bukankah sudah kukatakan, jika kau menganggu kami. Aku akan menggunakan kemampuanku.”


“Kau akan membayar kesombonganmu, Mr. Tamada!”


“Aku tunggu bayarannya!” Jawab Ef sambil menutup percakapan.


Ef mempercepat gerakannya untuk memeriksa rumah lain yang belum sempat dia periksa kemarin. Lokasi mereka sudah ketahuan, merek tidak bisa berlama-lama tinggal di desa ini.


Di rumah paling ujung, Ef menemukan peti logistik seperti sebelumnya. Isinya juga kurang lebih sama. Makanan, obat-obatan, senjata lengkap dengan amunisi dan pakaian. Hanya ada satu benda yang berbera. Binocular. Ef memasukkan makanan dan binnocular kedalam ransel dan meninggalkan logistik lain.

__ADS_1


Saat dia kembali ke rumah, Hamish sudah bergabung bersama Lin dan Maya di dapur. Pria itu sedang sibuk memasukkan roti dan potongan ayam ke perut besarnya.


“Aku menemukan ini, Capt” Hamish mengangkat Obeng, Tank dan seperangkat kunci pemutar baut berbagai ukuran.


“Bagus, benda itu sangat kita butuhkan. Kalian tidak makan?” Ef bertanya kepada kedua wanita yang hanya diam menghadap meja makan.


“Aku belum lapar, Lin juga.”


“Baiklah. Kita makan di perjalanan saja.”


Sebelum berangkat, Hamish masih sempat memasukkan roti dan ayam ke dalam kantong dan membawanya. Dia memang begitu konsen dengan kebutuhan perut.


Tim lima belas meninggalkan desa pukul sembilan pagi. Mereka memilih jalan belakang melintasi perkebunan daripada melalui jalan poros desa.


Cek poin dua ada di arah utara berjarak dua puluh kilometer dari desa. Jika tidak berhenti terlalu banyak, mereka bisa tiba ke lokasi itu sebelum gelap.


Tapi pergerakan mereka kali ini lebih lambat dari sebelumnya. Karena kondisi Lin yang lemah akibat beban mental. Padahal kemarin, setelah percobaan perkosaan dia tidak tampak terpukul. Kali ini mentalnya benar-benar kacau.


Setelah melewati area perkebunan mereka kembali masuk ke hutan belantara. Jika biasanya orang akan takut jika harus berlama-lama di dalam hutan, berbeda dengan yang di rasakan oleh tim lima belas. Mereka merasa lebih aman saat berada dalam kerimbunan pohon-pohon besar. Kemungkinan terlihat oleh musuh lebih kecil daripada berada di area terbuka.


Ef harus menghentikan gerakan timnya beberapa kali karena kondisi Lin yang tak kunjung membaik bahkan makin lemah. Apalagi dia belum meneguk sepotong roti pun sejak malam tadi. Kondisi mental yang buruk dan fisik yang kelaparan membuatnya makin lemah.


Hari sudah hampir gelap tapi perjalanan mereka masih cukup.jauh dari tujuan. Waktu mundur di kalung mereka tinggal 48 jam lagi sebelum menjad 0.


“Kita beristrahat di bukit itu. Perjalanan kita lanjutkan esok.” Ef menunjuk bukit yang berada di hadapan mereka. Pilihan ini harus di ambil untuk memulihkan kodisi Lin yang makin lemah.


Tanpa di duga, puncak bukit itu adalah perkebunan kopi yang terlantar. Pohon-pohon kopi sudah tumbuh tinggi hampir lima meter. Ada sebuah pondok bambu di pangkal perkebunan. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sana.


Pondok itu belum lama di tinggal. Masih ada satu karung biji kopi yang telah kering di dalam pondok. Juga peralatan masak sederhana di sekitar tungku kayu.


“Kalian beristirahat di sini. Aku akan mencari sumber air.”


“Lebih baik kali ini kau tinggal di sini menjaga Lin. Biar kami yang mencari air.” Maya langsung berdiri setelah menawarkan diri


“Kami?” tanya Hamish.


“Ya, kau dan aku. Apakah kau segitu pengecutnya hingga membiarkanku pergi seorang diri?” Maya memelototkan matanya mengancam Hamish.


“Nanti sajalah. Kita duduk dulu.”


“Kau kalau duduk pasti langsung tidur. Ayo!” Menarik tangan Hamish agar bangkit.


“Jangan jauh-jauh dan selalu jaga komunikasi,” ujar Ef saat Maya dan Hamish melangkah keluar.


Sepeninggalan Maya dan Hamish, Ef mulai menghidupkan api di tungku pembakaran dan menggoreng biji kopi dengan alat goreng yang ada di sana. Setelah kering dia menumbuknya hingga halus dan menyeduh dengan air panas.


“Kopi adalah obat penenang alami. Minumlah.” Ef menyodorkan gelas kopi kepada Lin. “Awas panas,”


Lin menerima gelas tadi dan meniupnya beberapa kali. Gadis itu mengernyit setelah minum seteguk.


“Pahit,” keluh Lin.


“Sekarang minum kopi pahit dulu. Nanti kita beli gula dan susu di warung depan ya, sayang.”


Akhirnya, setelah seharian diam membisu. Kali ini Lin tertawa.


***


Halo semua,


malam senin nih sekarang. Vote jangan lupa ya.


kalau tidak klik Vote, Lin bisa ngambek berminggu-minggu.


*mari berteman di sosial media.


fb. Densa


ig. Densa015


terima kasih*

__ADS_1


__ADS_2