
Suara langkah kaki makin lama makin kuat terdengar di telinga Ef. Gadis yang sedang dia dekap menekukkan kepalanya ke bawa dagu dengan tubuhnya bergetar, Lin benar-benar sedang ketakutan.
Perlahan Ef memutar kenop volume radio hingga posisi off, dia juga mematikan radio Lin. Sebuah antisipasi jika nanti Maya atau Hamish kembali berbicara menggunakan radio mereka, suara itu akan membongkar posisi Ef dan Lin kepada musuh.
Suara langkah itu makin mendekat dan berputar-putar di jarak lebih kurang lima meter dari mereka. Siapa pun orang yang sedang mendekat itu, saat ini sedang menyibak pohon-pohon bunga matahari di sekitarnya.
“Apapun yang terjadi, kau jangan bergerak. Tetap tiarap di tanah.” Ef berbisik sepelan mungkin tepat di depan telinga Lin.
“Jika terjadi sesuatu kepadaku, kau tembak mereka dengan senjataku. Kemudian berlari ke arah hutan secepat mungkin.” Tangan Lin merespons bisikan dengan mencengkeram baju Ef.
Perlahan Ef melepaskan senjatanya dan senjata Lin yang tadi dia panggul. Dia tidak mencabut pistol dari pinggang namun memilih menarik belati yang tergantung di paha kanan. Semua gerakannya nyaris tanpa suara.
Suara langkah makin mendekat. Ef mengencangkan genggamannya, urat dan pembuluh darah tampak bermunculan dari dahi dan lengan. Dia berkonsentrasi penuh untuk merespons segala kemungkinan.
Ef sudah bisa melihat sepatu pria yang mendekat dari celah batang bunga, hanya beberapa langkah lagi dia akan menemukan mereka.
Dia menghitung dalam hati,
Lima...,
Empat...,
Tiga...,
Dua...,
Satu!
Dengan gerakan yang sangat cepat, Ef menyambar kaki pria itu dan menarik dengan keras. Pria itu roboh seketika dan Ef tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Cepat dia naik ke atas tubuh pria itu, dan membekap mulutnya dengan tangan kiri. Sedangkan belati di tangan kanan Ef terarah ke mata Kiri pria itu. Matanya membelalak, memerah. Posisi sudah berbalik arah, buruan menjadi pemburu.
“FREDDY, WHERE ARE YOU!”
Ada suara lain yang berteriak tak jauh dari mereka. Ef merasa harus meniadakan lawan yang satu ini sebelum lawan yang lain. Sambil terus membekap mulut si pria, Ef mengarahkan belati ke Leher. Namun belatinya menyentuh benda Metal. Ternyata Pria itu juga mengenakan Kalung yang sama seperti dirinya, namun lampu kalung pria itu masih berwarna biru.
“Kau peserta Hell Game?”
Pria itu mengangguk. Suara lain yang tadi memanggil-manggil makin lama makin mendekat. Ef menarik pria untuk berdiri, namun belatinya masih tertempel di leher lawan.
Gerakan tiba-tiba Ef membongkar posisinya. Pria satu lagi langsung menoleh ke arah mereka, seketika menodongkan pistol ke arah Ef yang bersembunyi di balik temannya.
Cara pria itu memegang pistol sangat amatir, mereka bukan lawan yang seimbang untuk Ef.
“Turunkan senjatamu maka temanmu ku lepaskan!” Tapi peringatan Ef tidak di respon positif oleh lawan, dia masih saja menodongkan pistol ke depan. Ef menekan belatinya, dan membuat goresan di leher pria yang sedang dia sandera.
“Bro, please! Turunkan senjatamu!” pria yang Ef sandera menghiba ke temannya.
“Kalian salah jalan, cek poin satu di sebelah sana. kami sudah mendapatkan kode.”
Ketegangan di wajah pria yang sedang menodongkan pistol memudar, perlahan dia menurunkan senjatanya.
__ADS_1
“Benarkah?”
Ef memunculkan kepalanya dan memperlihatkan lampu kecil di lehernya yang sudah berubah kuning. Ef memberi kode agar pria itu menjatuhkan senjata dan mundur. Pria itu menurut. Kemudian Ef membawa sanderanya bergerak ke arah pistol. Pria satu lagi bergerak menjauh.
Saat Ef sudah menginjak pistol lawan, dia mendorong sanderanya ke depan.
“Kami sudah melewati cek poin, posisinya ada di mercusuar. Tempelkan jari kalian ke sensor maka kode akan muncul!”
Kedua pria itu tampak tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Seorang lawan baru saja menjelaskan cara mendapatkan kode kepada mereka.
“Kenapa kau beritahu cara itu kepada kami, kita semua adalah lawan?” ucap pria yang tadi menjadi sandera Ef.
“Kita semua adalah orang yang di paksa jadi peserta. Sebisa mungkin kita harus mendapatkan celah untuk bertahan tanpa saling membunuh. Sebaiknya kalian cepat ke sana, sebelum kode itu di dapatkan tim lain.”
“Apakah kau akan menyerang kami saat berbalik?”
“Heh, aku sudah katakan, saat ini lawan kalian bukan kami, tapi tim lain yang belum mendapatkan kode.”
“Baiklah, terima kasih. Kami akan berbalik.” Kedua pria berbalik badan.
“Hei!” Teriakan Ef membuat mereka menoleh, Ef menendang pistol yang tadi dia injak ke arah mereka.
“Aku sarankan kalian berbegas sebelum tim lain datang. Good Luck, Dude!”
“Thank you”
Pria itu berjongkok mengambil senjatanya, kemudian bergerak menjauh. Setelah mereka menghilang di balik batang bunga, Ef kembali ke posisi Lin.
Mendengar suara Ef, Lin langsung memeluk pria itu erat.
“Aku sangat ketakutan. Syukurlah kau telah kembali!” ujar Lin lirih. Kemudian dia seperti tersadar sesuatu. Dia melepaskan pelukannya.
“Kau bunuh mereka?”
“Tidak, mereka aku lepaskan. Mereka juga tidak berbahaya.”
“Oh, Syukurlah.”
Ef kemudian mengaktifkan radionya kembali.
“Maya, Hamish, kalian mendengarku?”
Suara radio Ef dan Lin bergerisik,
“Oh tuhan, syukurlah kalian selamat. Aku mengira kalian telah mati. Tadi radio kalian tidak ada respon.” Maya menjawab dari sambunganya.
“Nanti kami ceritakan, sekarang kalian awasi. Kami akan melintasi padang rumput!”
***
Setelah berhasil melintasi padang rumput, tim lima belas memilih hutan belantara sebagai jalur menuju cek poin dua. Formasi sudah kembali ke bentuk awal, Maya berjalan paling depan dan Ef berjalan paling belakang.
__ADS_1
Berjalan dalam kondisi tegang membuat waktu tidak terasa berjalan, mereka sudah bergerak selama 9 jam tanpa istirahat. Cahaya matahari yang masuk ke dalam hutan makin sedikit, suasana semakin gelap.
“Kita cari tempat istirahat!” Ef memberi komando lewat radio.
“Oh tuhan, syukurlah. Aku merasa engkel lututku sudah hampir lepas!” Hamish langsung duduk dan melepaskan ranselnya. Dia juga meneguk bekal air hingga kosong.
“Aku bilang kita ‘akan’ beristirahat, bukan berarti akan beristirahat di sini!” Ef terus berjalan melewati Hamish untuk menyusul Maya yang sudah jauh berjalan di depan. Lin yang tadi sempat berhenti ikut menyusul. Merasa akan di tinggal, Hamish kembali menyandang ranselnya sambil menggerutu.
“Ada mata air di sini!” Maya berbicara lewat radio.
“Baiklah, kita istirahat di sana!”
Mereka menemukan mata air yang membuat genangan kecil dari balik batu. Kali ini tidak ada gua atau tempat lain yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi.
“Kita akan beristirahat di sini?” Hamish baru saja berhasil menyusul dengan napas tersengal-sengal.
“Ya, kalian beristirahatlah. Aku akan menyiapkan tempat.”
Sembari Ef sibuk menyiapkan tempat persembunyian mereka, Maya sudah memborbardir Lin dengan pertanyaan perihal radio mereka yang sempat mati. Lin menceritakan semua adegan dengan antusias dan detail. Hamish dan Maya berkali-kali berucap ‘oh my God’ sambil menutup mulutnya.
Hanya dalam beberapa menit Ef sudah membuat sebuah kubah darurat dengan mengandalkan cekungan yang tertutup oleh dua buah batu besar yang berdekatan. Dia telah menutupi celah itu dengan ranting dan dedaunan, sekarang cekungan tadi telah siap menjadi persembunyian setelah Ef ubah benar-benar tampak seperti semak yang alami.
Sebelum malam, mereka menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkan makanan dan menuntaskan semua hajat. Setelah malam mereka mematikan api dan masuk ke dalam cekungan.
Celah yang sempit membuat mereka harus duduk berdekatan. Bagi yang bertubuh kecil seperti Lin dan Maya masih bisa tidur dengan posisi berbaring.
Tak butuh waktu lama dengkuran Hamish sudah terdengar, Maya juga sudah tidak bersuara lagi. Lin meringkuk di sebelah Ef yang duduk bersandar di batu. Pria itu masih terjaga.
“Terima kasih tadi telah melindungiku,” Lin berbisik menggunakan Bahasa Indonesia. Sepertinya dia tidak mau percakapan ini di ketahui oleh dua rekan yang lain.
Telinga Ef mendengar suara gerakan Lin yang beringsut duduk. Rambut gadis itu terasa menggelitik lengan kiri Ef.
“Apa kau masih melakukannya demi tugas?”
Ef mengangkat tangan kirinya, dan mencoba meraba posisi kepala Lin.
“Sepertinya kali ini bukan karena tugas,” balas Ef sambil mengusap kepala Lin. Kemudian dia mengarahkan gadis itu untuk kembali berbaring, hanya saja kali ini dia memosisikan kepala Lin untuk tidur di pangkuannya.
***
Halo semua, terima kasih sudah mengikuti kisah Hell Game hingga saat ini.
Mohon dukungan like dan share untuk cerita ini. jangan lupa tinggalkan komentar di setiap Bab.
mari berteman di sosial media.
Fb. Densa
ig. @densa015
Terima Kasih
__ADS_1