Hell Game

Hell Game
Bintang di Ujung Lorong


__ADS_3

Sudah dua kali tim lima belas menyusuri lorong buntu. Namun kebuntuan yang mereka temui bukan berarti tak ada hasil. Lorong ini seperti surga bagi peserta. Mereka sudah dua kali bertemu dengan peti logistik yang berisi kebutuhan dan perlengkapan. Dari dua peti logistik ini, seluruh Tim mendapatkan pakaian karet sintetis yang baru dan nyaman. Sepatu safety, kevlar level tiga. Berbagai makanan, minuman dan obat-obatan juga mereka dapatkan. Selain itu di oeti kedua ada alat komunikasi dengan jangkauan makin luas, binocular pencitraan malam dengan lensa penentu jarak, telescope untuk senapan serbu dan drone. Mereka benar-benar menjadi tim kaya raya.


Penemuan logistik ini tentu tidak untuk di bagi kepada Steven Hawk dan rekannya. Mereka berdua hanya bisa melihat saat tim lima belas tertawa riang sambil membagi logistik sesuai kebutuhan. Stevent Hawk dan Rekannya di berikan ransel berisi makanan kaleng penuh yang harus mereka bawa.


Menjelang tengah malam, tim lima belas kembali mendapat karunia. Mereka tiba di ujung lorong yang berbentuk seperti gerbang batu besar dan luas.


“Kita beristirahat di sini. Kalian berdua cari kayu bakar. Tinggalkan kedua ransel!” Perintah Ef kepada Steven Hawk dan rekannya. Tak bisa membantah, kedua tawanan itu berjalan menuju pintu gua sesuai perintah.


“tidak apa-apakah menyuruh mereka pergi seperti itu, Ef?” Lin berdiri di sebelah Ef sambil menatap ke arah kedua tawanan mereka yang mulai menjauh.


“Tak apa, mereka hanya memiliki kita sebagai harapan. Mereka pergi tak masalah, mereka kembali juga tak masalah.”


“Bagaimana jika mereka membocorkan persembunyian kita kepada peserta lain?” Lin menengadah menatap Ef yang berdiri di sisi kirinya.


“Tidak akan ada tim lain yang mau menolong mereka, sayang. Mereka juga peserta Hell Game. Dan semua peserta itu bermusuhan. Bisa-bisa tim lain akan langsung menghabisi mereka jika bertemu.”


Lin mengangguk-angguk.


“Dan, kalau kita mendengar suara tembakan, berarti ada tim lain di sekitar kita. Mereka berdua akan menjadi indikator keamanan tempat ini.” Lanjut Ef.


“Kau tak usah cemas, sekarang beristirahatlah. Aku kan mengumpulkan kayu bakar.” Ef mengusap puncak kepala Lin dan bergerak ke arah lain pada terowongan ini.


“Hei mom, istirahatlah sini. Biarkan Dady bekerja.” Hamish menepuk-nepuk tanah yang ada di sebelahnya.


“Berhenti memanggilku seperti itu, aku dan Ef tak punya hubungan apapun.” Lin mengikuti dan bergerak mendekati Maya dan Hamish yang sudah duduk di sisi lorong.


“Aku jadi teringat saat kita di kapal, suasanya gelap seperti ini. Hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat.” Maya memulai obrolan.


“Betul, aku juga merasa demikian. Hei maya, kau ingat tidak waktu di kapal ada orang yang mencari-cari gadis bernama Erlin Hanako! Dan sekarang mereka jadi satu tim. Jodoh memang sudah di atur, hahaha” Gurauan Hamish di timpali Lin dengan pukulan ringan ke pria gemuk itu.


“Jika kita selamat, segera kau ikat dia dengan pertunangan. Orang seperti capt, pasti banyak yang mengincar.”


“Aku setuju sengan hamish untuk kali ini. Kalian itu saling suka, tapi masih berusaha untuk memperlihatkan kalau semuanya tidak terjadi apa-apa.”


Mendengar ucapan Maya, Lin jadi teringat akan kejadian di gua balik air terjun beberapa hari lalu. Dia ingin sekali bertanya apa yang terjadi, namun Lidah Lin menjadi kelu.

__ADS_1


“Dan sebenarnya aku memergoki kalau ada yang berciuman di balik selimut malam tadi?” Ucapan Hamish tentu membuat telinga Lin terasa panas. Untung saja suasana saat ini gelap, jadi tak ada yang menyadari kalau wajahnya memerah.


“Benarkah? Ada yang berciuman?” Maya menimpali.


“Benar, aku hendak ke dapur. Dan ternyata ada yang sedang duduk berduan saling merangkul. Aku jadi tak enak hati dan kembali ke depan.”


“Waaaah, benarkah? Itu saat kita di desa itu ya?”


“Iya.”


“Kemajuan ini harus di rayakan. Mom, panggil Dady untuk makan malam bersama.”


“Sudahlah, kalian membuatku benar-benar malu.” Lin tak lagi mampu menahan rasa yang dia tahan. Sontak saja kedua anggota lain tertawa dan makin menggoda Lin.


***


Ef kembali membawa potongan kayu kering, dan seperti biasa dia juga yang menyalakan Api. Setelah api menyala barulah giliran Hamish yang bertugas memanggang kaleng kornet. Juga memanaskan air untuk memasak kopi.


Setelah perut mereka terisi, dan masing-masing mendapat secangkir kopi Ef membagi tugas untuk berjaga. Dia akan berjaga di awal, sambil menunggu kemungkinan Steven Hawk dan temannya kembali.


Kopi ini terasa begitu nikmat setelah seminggu puasa kafein. Apalagi meminum kopi di malam yang cerang sambil menatap langit penuh bintang. Ef menoleh sejenak saat sebuah langkah mendekat dari belakang. Lin muncul sambil juga memegang cangkir kopi.


“Kenapa belum tidur?” tanya Ef saat Lin bergabung duduk di sebelahnya.


“Aku belum mengantuk, dan juga ingin menatap bintang-bintang.”


Tak ada obrolan antara kedua insan itu selama beberapa menit. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing sambil menatap kerlip ribuan bintang yang menghiasi langit malam.


“Aku sudah mengambil keputusan!” Ef tiba-tiba berbicara dan membuat Lin menoleh kepadanya.


“Keputusan tentang apa?”


“Tentang rencana kalian yang mau berkeliling dunia.”


“Oh itu, apa keputusanmu?”

__ADS_1


“Aku akan membawa kalian berkunjung ke Indonesia sebelum mengunjungi negara lain.”


“Ya, aku juga mau mengunjungi Indonesia. Sudah lama sekali sejak terakhir aku datang ke sana!”


“Indonesia negara yang sangat indah, dan akan menjadi obat terbaik untuk mental setelah melewati Hell Game.”


“Kau yakin kita akan lolos dari sini?”


Ef menoleh kepada Lin, dan menatap lekat wajah gadis itu. Dengan bantuan cahaya bulan, pendar kecantikan Lin mampu di tangkap lensa mata Ef.


“Saat ini aku sangat yakin. Apalagi kita telah mendapatkan alatnya. Kita hanya butuh momentum untuk membuat rencana ini berjalan sempurna.”


LIn membalas tatapan Ef. Tak ingin bertanya, tak ingin membantah. Gadis itu merebahkan kepalanya kedalam pelukan sang kapten.


“Aku sangat bersyukur kau yang di pilih Dady menjadi pengawalku”


“Bukankah kau marah-marah awalnya, Nona?” Ef menggoda Lin, namun tangannya terus membelai rambut gadis itu.


“Aku marah karena Daddy mencampuri privasiku. Namun sekarang aku ingin berterima kasih kepadanya. Karena menghantarkan kau kepadaku.”


Ef tidak memberikan respon kata, dia hanya terus membelai rambut gadis yang sedang bersandar kepadanya.


“Bentar!” Gerakan Ef membuat Lin mengangkat kepalanya.


“Kenapa?”


“Posisinya tak enak.” Ef merangkul tubuh Lin dan membuat gadis itu duduk membelakangi Ef. Kemudian dia menarik tubuh Lin agar kembali bersandar kepadanya. “Nah, begini lebih baik. Aku bisa memelukmu”


“Kau tau Ef, aku suka di peluk dari belakang seperti ini.” Lin mengambil tangan Ef dan menciumi punggung tangan pria itu.


“Aku juga suka memelukmu dari belakang, karena...” Ef tak menyudahi kalimatnya. Namun tangannya bergerak ke arah depan tubuh Lin. Dan parkir di atas bukit kenyal bagian kanan.


“Dasar mesum!” Gerutu Lin sambil memutar wajahnya ke belakang.


Beberapa detik saling tatap, dan bibir kedua insan itu kembali bertemu.

__ADS_1


__ADS_2