Hell Game

Hell Game
Menuju cek poin kedua


__ADS_3

“Dari cek poin satu menuju cek poin dua jaraknya 4 centi di peta. Berarti kita harus berjalan sejauh lebih kurang 40 kilometer.” Ef membuat tiruan gambar peta di tanah. Membuat beberapa titik yang dia tandai dengan kerikil. “Kita sekarang berada di sini dan akan menuju ke sini.” Dia menujukkan titik-titik yang di tandaia dengan kerikil.


“kita akan tetap bergerak saat siang hari sejauh 20 kilometer, mulai dari matahari terbit hingga tenggelam. Setelah itu kita baru akan beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok harinya.”


“Rute mana yang akan kita lalui?” tanya Hamish sambil tetap fokus melihat peta yang Ef gambar di tanah.


“Kita akan mencari rute memutar, sebisa mungkin kita hindari area yang dekat dengan base camp tim lain.”


“Menurutmu apakah perjalanan kita nanti akan semudah saat ini, Capt?”


Ef menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi aku cenderung merasa perjalanan kita akan semakin sulit. Selain itu tim yang juga lolos ke cek poin berikutnya berarti sudah memiliki pengalaman. Aku masih tetap berharap kita tidak perlu melakukan pertempuran untuk mendapatkan kode berikutnya.”


“Bagaimana jika kita harus berhadapan dengan tim lain?” pertanyaan Maya ini sudah bisa Ef prediksi. Memang kecil kemungkinan mereka bisa melenggang dengan tenang sampai akhir.


“Kita akan hadapi dengan sungguh-sungguh.” Ef menatap wajah semua anggotanya. Wajah mereka mulai memucat, letih fisik dan mental sudah jelas tergambar di sana. “Sebaikanya kita beristirahat sekarang. Besok kita berangkat setelah sarapan.”


“Oh iya, apakah kalian ada yang terluka?” Maya menggeleng, begitu juga dengan Hamish. “Baiklah, selamat beristirahat.” Ef beranjak dari depan api unggun terlebih dahulu, dia berjalan menuju peti kayu dan duduk menyandarkan punggungnya di sana.


“Kau mau tidur di sini?” Lin berdiri di depan Ef yang sudah memejamkan mata. Posisi yang di tempati Ef saat ini adalah posisi Lin tidur sebelumnya, dengan adanya Ef di sana, berarti Lin harus berpindah posisi.


“Kau tidur di sini saja. Aku pengawalmu, jadi tidak boleh jauh-jauh.” Ef membuka matanya saat Lin baru saja hendak melangkah menjauh. Ef menangkap gelagat Lin yang ragu, ekor matanya beberapa kali melirik Maya. Ef berdiri dan mengambil ransel yang Lin pegang. Kemudian Ef membentangkan matras Lin di sebelahnya. Tak lupa ransel lin diposisikan sebagai bantal.


“Kalau kau berdiri terus, aku saja yang tidur di matras ini.”


Lin mencibir dan berjalan ke arah matras, matanya masih melirik Maya yang sudah berbaring di sisi depan.


“Kau masih berfikir kami memiliki hubungan khusus?”


Lin tidak menjawab. Gadis itu sibuk meniup-niup matrasnya untuk menghalau debu.


“Dia bukan tipe ku” lanjut Ef sengan suara yang sangat pelan.


“Kalau bukan tipemu, kenapa kau tiduri dia?”


“Adegan yang kau lihat murni kecelakaan. Aku hanya sedang membantunya berdiri , dia tergelincir kembali dan menimpaku.”

__ADS_1


“Aku sudah mendengar penjelasan itu, dan aku tetap tidak percaya. Lagipula tidak ada gunanya kau bersusah payah menjelaskan kepadaku.” Lin duduk di atas matras, bersandar di dinding seperti Ef yang duduk di sebelahnya. “kenapa kau senyum-senyum?” Hardik Lin jengkel saat dia melihat Ef yang mengulum senyum sambil melihatnya.


“Saat awal membaca profilmu, aku menebak kau gadis lempeng tanpa emosi. Ternyata kau sangat ekspresif.”


Lin memutar bola matanya, bibirnya bergerak seolah mengucapkan ‘ya-ya-ya’ tanpa suara.


“Kalau ngomong, Tolong bibir-nya biasa saja, mbak!” Ujar Ef dengan bahasa Indonesia.


“Kenapa dengan bibirku, ada yang salah?” Lin menjawab dengan bahasa yang sama. Cukup lancar, meskipun dialegnya masih terasa aneh.


“Bibir kamu tolong jangan di buat menggemaskan seperti itu, aku takut terbawa mimpi.”


Lin malah merespon dengan makin memonyongkan bibirnya.


***


Seperti hari sebelumnya, pagi itu mereka sarapan makanan kaleng setelah membersihkan diri. Ef juga memangggang kembali daging rusa asap yang dia bawa dari base camp. Saat harus bekerja keras dengan tekanan tinggi, otak harus mendapatkan asupan protein yang cukup. Akan sangat berisik jika membuka kaleng kornet saat mereka kelaparan dan belum menemukan lokasi yang aman. Daging kering ini bisa menjadi alternatif cemilan yang mengenyangkan.


Ef kembali membawa anggotanya menyusuri lubang menuju kebun bunga mathari. Tapi setelah mereka berhasil keluar kali ini, mereka berbelok ke arah berlawanan dari cek poin satu.


Radio komunikasi yang mereka dapatkan di cek poin satu benar-benar membantu, Maya tidak harus menoleh kebelakang atau menunggu Ef menghampirinya jika meminta petunjuk arah, dia cukup menekan tombol on dan berbicara lewat radio.


“Bagaimana ini?” Maya berhenti tak jauh dari pinggir kebun sambil menatap ke depan.


Mereka semua berhenti berjalan dan memperhatikan kemungkinan cara melintasi padang rumput.


“jarakanya tidak terlalu jauh. Kita akan gunakan bom asap.” Ef kemudian mengambil sebuah Bom tangan berwara hijau yang dia gantung di rompinya. “Tarik kunci pengaman hingga terlepas, kemudian lempar ke arah yang akan di lalui. Asap akan muncul dalam 20 detik, saat asap mengepul kita berlari secepatnya ke arah hutan.”


“Hamish dan Maya bergerak lebih dulu. Aku dan Lin akan mengawasi dari sini.”


Hamish menenguk air terlebih dahulu sebelum memasang ancang-ancang untung berlari. Hamish dan maya masing-masing membawa sebuah bom asap.


“Lemparkan bom itu setiap 30 meter. Jangan melangkah sebelum asapnya mengepul!”


Setelah memastikan Hamish dan Maya siap, Ef melemparkan bom asap pertama dari tepi kebun. Dalam sekian detik asap mulai muncul dari kaleng silinder itu, makin lama makin tebal hingga radius sepuluh meter.

__ADS_1


“Sekarang!” komando Ef langsung di respon oleh Hamish, dia berlari ke arah kepulan asap dan berhenti di sana. Saat maya menyusul, Hamish melemparkan bom kedua dan kembali berlari, Maya melemparkan bom ketiga dan mereka akhirnya berhasil melintasi padang rumput dalam waktu yang singkat.


Radio milik Ef dan Lin mengeluarkan suara gemerisik.


“Kami sudah tiba di hutan,” Suara Hamish terdengar dari earphone yang tersemat di telinga Ef dan Lin.


Ef menekan tombol on untuk menjawab Hamish. “Kalian awasi kami, aku dan Lin akan bergerak.”


“Biar aku yang bawa senjatamu. Beratnya akan menghambat langkahmu”


Ef menyandang senjata Lin di bahunya, sedangkan senjatanya sendiri tetap dia pegang.


“Berlari di hitungan ke tiga. Satu..., dua..., tiga!”


Lin baru beberapa langkah keluar dari tepi kebun saat suara tembakan terdengar keras di dekat mereka. Sigap EF menarik ransel Lin untuk menghentikan laju gadis itu dan kembali membawanya ke dalam kerimbunan kebun bunga matahari.


Ef mendekap Lin sambil tiarap di tanah. Tanpaknya gadis itu merasa canggung, tapi Ef menempelkan jari telunjuk ke bibir tanda agar dia tidak bergerak hingga menimbulkan suara.


Suara tembakan makin keras, kemudian terlengar langah kaki yang makin lama makin mendekat. Ef bisa merasakan kalau Lin makin merapatkan tubuhnya saat suara langkah makin jelas terdengar. Mereka berdua mematung, bunyi langkah itu makin lama makin dekat, seperti hanya beberapa meter di sebelah kiri mereka.


Tiba-tiba, radio Lin dan Ef bergemerisik. Maya berbicara lewat radio. Suaranya cukup keras. Langkah tadi berhenti.


“Hei, ada orang di sini!”


***


Halo teman-teman.


terima kasih telah sudi mampir ke sini. cerita Hell Game ikut lomba menulis Fiksi kategori pria.


jadi mohon bantuan teman-teman untuk Like, Favorit dan selalu meninggalkan komen di tiap chapter.


mari berteman di sosial media.


fb. Densa

__ADS_1


Ig. @densa015


terima kasih


__ADS_2